
Anastasya mengambil ponselnya lalu menghubungi Tirta.
"Halo." Jawab Tirta lewat saluran telpon.
"Tirta, sekarang gw sudah di Jakarta. Lo atur waktunya kapan kita bisa bertemu." Ujar Anastasya.
"Oke, gw ada waktu besok siang. gw akan hubungi pembeli rumah Lo juga. Suami Lo juga ada di Jakarta?" Tanya Tirta.
"Tentu saja, masa ia aku ke Jakarta sendirian. Dia nggak bakalan biarin gw pergi sendiri." Jawab Anastasya.
"Baiklah, jangan lupa ajak suami Lo juga datang. Gw pengen liat, sehebat apa pria itu sehingga bisa menggantikan posisi Damian di hati Lo." Ujar Tirta penasaran.
"Dia pria yang sangat baik, gw bersyukur karena dia dan keluarganya menerima gw dengan segala kekurangan gw."
"Emangnya Damian nggak?"
"Boro-boro nerima kekurangan gw, dia hanya memanfaatkan gw di perusahaannya. Sudahlah gw nggak kepengen ngebahas sampah itu." Kesal Anastasya baru menyadari jika kesuksesan Damian tidak luput dari perjuangannya mengembangkan perusahaan.
"Baiklah, sampai ketemu besok."
"Oke Tirta, Terima kasih." Anastasya menutup telponnya kemudian beranjak menuju kamar.
Anastasya membersihkan diri kemudian keluar ke ruang tamu menunggu kedatangan Austin. Sambil menunggu, ia menyalakan tv di depan sofa panjangnya.
Tidak lama kemudian Ibu Rita datang mengetuk pintu.
Tok.. tok.. tok..! Suara ketukan pintu mengagetkannya.
Anastasya segera berdiri membuka pintu. Ia tidak menyangka ternyata ibu Rita yang datang mengunjunginya.
"Assalamualaikum." Sapa Ibu Rita.
"Waalaikumsalam Bu! mari, silahkan masuk." Sahut Anastasya.
"Kapan kamu datang?" Tanya Ibu Rita setelah duduk di kursi berdampingan dengan Anastasya.
"Baru saja Bu, bagaimana kabar ibu?"
"Ibu baik-baik aja nak! Oiya, apa kamu sudah makan? jika belum ayo kita ke rumah ibu. Kebetulan Hilman juga ada di rumah, kita bisa makan malam bersama." Ajak Ibu Ratih.
"Maaf Bu, sebenarnya aku sudah masak, dan sekarang menunggu suamiku pulang kantor." Tolak Anastasya. Ia tidak ingin Austin kecewa jika dirinya makan malam terlebih dahulu.
"Oo.. jadi kamu kesini dengan suami kamu? Ia Bu Tasya sudah menikah lagi." Ujar Anastasya.
"Maksudnya..? Ibu nggak ngerti nak." Ibu Rita mengernyitkan keningnya.
"Sebenarnya waktu aku ke sini beberapa bulan yang lalu. Aku dan Mas Damian sudah dalam proses cerai. Dan sekarang aku sudah menikah dengan Austin Bu. Kami hanya beberapa hari di sini. Aku kangen dengan Ibu dan Ayah, makanya aku mengajaknya menginap di sini." Ungkap Anastasya.
__ADS_1
"Ibu nggak tau nak, ternyata saat itu kamu dalam masalah. Kenapa nggak cerita ke Ibu? kamu bisa berbagi duka ke ibu. Tapi tidak apa-apa jika sekarang kamu sudah mendapatkan laki-laki yang tepat, ibu doain semoga keluarga kalian bahagia dan segera di berikan momongan." Ujar Rita dengan tulus.
"Amin... makasih Bu doanya. Tasya buatkan minim dulu." Anastasya ingin beranjak namun ibu Rita menahan tangannya.
"Nggak usah nak, Ibu juga sudah mau pulang. Ini kue untuk kamu dan suami kamu, anggap saja sebagai perkenalan ibu dengan menantu ibu." Ibu Rita menyerahkan kotak kue ke Anastasya.
Diluar terdengar suara mobil Austin.
"Sebentar ya Bu, sepertinya Austin sudah pulang." Ujar Anastasya kemudian keluar dari rumah.
Austin keluar dari mobil menuju pintu dan di sana sudah ada Anastasya yang menunggunya. Austin langsung memeluknya lalu mengecup keningnya.
"Maaf baru pulang sekarang sayang, banyak pekerjaan kantor yang menumpuk." Ucap Austin melepaskan pelukannya.
"Ia sayang, aku ngerti. Di dalam ada ibu Ratih, tetangga sebelah yang sudah aku anggap seperti ibu sendiri." Anastasya mengambil alih tasnya lalu membawanya masuk ke dalam.
"Bu, kenalin ini Austin suami Tasya." Anastasya memperkenalkan Austin.
Austin mengulurkan tangannya begitupun dengan Ratih yang kini sudah berdiri di depannya.
"Masya Allah...! Suami kamu tampan sekali nak! Kayak bule." Puji Ibu Ratih.
Anastasya hanya geleng-geleng kepala melihat wajah sumringah ibu Ratih, sedangkan Austin hanya tersenyum.
"Silahkan duduk Bu, aku masuk dulu." Pamit Austin.
"Suami kamu sangat tampan dan romantis Tasya. Kamu nggak salah pilih kali ini nak. Ibu lihat orangnya juga sangat sopan dan bertanggung jawab." Puji Ibu Ratih.
"Ah, ibu bisa aja!" Ujar Anastasya menunduk menyembunyikan wajahnya yang memerah karena malu.
"Suami kamu kerja di mana nak?" Tanya Ibu Rita.
"Di Royal Group Bu." Jawab Anastasya.
"Wahh... di perusahaan besar itu? ibu denger-denger susah Lo bekerja di sana karena seleksi penerimaan karyawannya sangat ketat, yang bekerja di sana juga rata-rata lulusan terbaik dari universitas ternama. Gaji pegawainya juga gede-gede. Kamu tau nggak anak Pak RT sekarang bekerja di sana. Baru bekerja 2 bulan aja gajinya sudah 10 jutaan. Berarti suami kamu juga orang hebat Sya." Jelas Bu Ratih.
"Yang ibu maksud Rihana?" Tanya Anastasya.
"Ia, siapa lagi anak pak RT selain Rihana. Selama dia bekerja di sana dia makin sombong dan selalu memerintah warga seenaknya." Ujar Ibu Ratih.
"Siapa yang sombong?" Tanya Austin saat keluar dari kamar dengan rambut yang masih sedikit basah dengan setelan pakaian casual nya.
"Itu lho, anak pak RT namanya Rihana. Semenjak bekerja di Perusahaan besar Royal Group tingkahnya makin semena-mena dengan warga. Percuma saja cantik dan pintar jika kelakuan seperti itu, tidak menghargai orang lain." Jelas Ibu Rita.
"Oya?"
"Apa nak Austin mengenalnya? kalian kan satu perusahaan, pasti kenal dong?" Tanya Ibu Ratih.
__ADS_1
Austin menatap Anastasya seolah minta penjelasan.
"Rihana baru bekerja 2 bulan, sayang..!" Sela Anastasya.
"Oo... maaf Bu, aku tidak mengenalnya, karena 2 bulan terakhir aku di Jerman bersama Syasya. Aku baru masuk kantor hari ini." Jelas Austin.
"Nak, Austin di tugaskan di Jerman? wah.. hebat dong, berarti jabatan nak Austin sudah tinggi ya?" Semangat Ibu Ratih.
"Bu, sebenarnya aku.." Ucapan Austin terpotong karena Anastasya melotot padanya.
"Sebenarnya apa?" Tanya Ibu Ratih.
"Pemilik perusahaan Royal Group." Ujar Austin dengan santai.
"Haah.. Kamu tidak bercanda kan nak?" Mulut ibu Rita terbuka saking terkejutnya. Matanya menatap Anastasya dan Austin secara bergantian meminta penjelasan.
Anastasya menghela napas panjang. Memang suaminya ini tidak suka berbohong. Tapi jika orang sekompleks tau jika Austin adalah pemilik Royal group, dia bisa kerepotan karena mereka pasti meminta untuk di terima bekerja di sana meskipun tidak memenuhi syarat penerimaan karyawan. Jika mereka menolak maka akan dianggap sebagai orang yang sombong.
"Bu, Tasya mohon, cukup ibu saja yang tau." Pinta Anastasya memelas memegang tangan Ibu Rita.
"Kamu kenapa sih sayang..? Apa kamu malu suamimu CEO Royal Group?" Tanya Austin.
"Bukan begitu sayang, aku punya alasan tersendiri. Aku bangga apapun pekerjaan mu. Tapi tidak di daerah ini. Jika mereka tau kamu pemiliknya, maka kamu sendiri yang akan bermasalah dengan mereka." Jelas Anastasya.
"Ya Bu? jangan ngomong ke siapapun. Biarkan orang-orang tau Austin hanya karyawan biasa di sana." Melas Anastasya.
"Baiklah, ibu akan merahasiakannya. Tapi apa itu memang benar nak?" Tanya Ibu Rita kembali.
"Iya Bu! Suamiku pemiliknya." Ungkap Anastasya.
"Kamu membuat ibu syok, tapi ibu bersyukur karena kamu mendapatkan suaminya yang tepat. Baiklah sekarang ibu pamit pulang. Jangan lupa kuenya dimakan nak Austin, itu buatan ibu mertua kamu." Ujarnya tersenyum.
"Iya Bu, pasti kue buatan ibu mertua sangat enak." Puji Austin.
"Makasih banyak Bu." Anastasya tersenyum mengantar ibu Rita keluar dari rumah.
.
.
.
Bersambung...
Sahabat Author yang baik ❤️
Jika kalian suka dengan cerita ini, Jangan lupa, Like, Komen, Hadiah, Dukungan dan Votenya ya! 🙏🙏🙏
__ADS_1