
Setelah beberapa menit, akhirnya mereka tiba di pengadilan Agama. Dengan langkah cepat Damian masuk ke dalam, pada saat itu juga Tirta keluar dari ruangan bersama Anastasya. Sedangkan Hakim baru saja meninggalkan tempatnya.
Damian menggeleng tidak terima. Satu-satunya harapannya untuk bersama Anastasya sirna dalam sekejap. Ia menghampiri Tirta dan Anastasya yang sedang tertegun melihatnya.
"Tasya..! kenapa tidak menunggu ku sayang...? sekarang aku di sini untuk memperbaiki semuanya. Ayolah sayang... kita sama-sama berjuang memperbaiki rumah tangga kita. Aku terlambat karena Mama masuk rumah sakit. Aku sudah berusaha menelpon mu tapi ponselmu tidak aktif." Bujuk Damian menggenggam tangan Anastasya.
Air mata Anastasya seketika berderai, ia tidak dapat menahan rasa kecewanya. Tadinya ia masih berharap Damian akan datang membatalkan perceraiannya, namun ternyata dia terlambat. Anastasya menundukkan kepalanya, ia tidak sanggup menatap mata Damian. Ia Takut jika menatapnya, maka hatinya akan luluh.
"Hikss, hikss, Aku sudah tau Mas pasti akan datang, Mas akan berjuang untuk aku tapi itu percuma, aku yakin ada orang lain yang menghalangi kedatangan Mas kesini. Mereka tidak akan membiarkan Mas membatalkan perceraian kita. Jadi Maaf aku juga nggak bisa berjuang lagi Mas! ini jalan yang terbaik untuk kita." Lirih Anastasya.
Damian menoleh ke Tirta. "Tirta! masih ada jalan kan untuk membatalkan perceraian ini?" Tanya Damian sambil memohon.
"Maaf Damian, tidak ada lagi yang bisa anda lakukan! Sidang sudah selesai, pekan depan sidang putusan. Karena Anda tidak bisa hadir hari ini, maka kemungkinan besar kalian akan resmi bercerai." Jelas Tirta.
Damian berbalik ke Anastasya, ia duduk bertumpu dengan kedua lututnya sambil memegang tangan Anastasya.
"Tasya...! Aku mohon tetaplah bersamaku. Aku janji kita akan pindah dan hanya akan tinggal berdua. Kita akan pergi dari sini dan menetap di Bandung." Mohon Damian.
"Hikss, hikss, Tidak Mas! Aku nggak mau tinggal bersamamu di Bandung, tapi saat kamu ke Jakarta kamu akan bersama Kanaya bukan? Lepaskan aku Mas! Kita sudah tidak mungkin bersama." Tolak Anastasya.
"Tasya... aku tidak bisa hidup tanpamu, aku sangat mencintaimu." Bujuk Damian kembali.
"Hikss, hikss, aku juga mencintaimu Mas! karena aku terlaku cinta membuat ku tidak bisa berbagi suami dengan wanita lain. Kamu tau betapa sakitnya hatiku? hatiku hancur Mas! ternyata suami yang selama ini aku sayang dan cintai memiliki seorang anak dari wanita lain. Hati siapa yang sanggup menerimanya? Hikss, hikss..." Anastasya semakin tersedu-sedu.
"Semuanya sudah selesai, Ikhlaskan aku seperti aku mengikhlaskan mu. Maafkan aku, sebagai seorang istri aku tidak sempurna karena aku tidak bisa memberimu anak. Aku tau kamu sangat menginginkan anak dariku begitupun juga dengan aku. Tapi aku juga nggak bisa berbuat apa-apa jika Tuhan tidak berkehendak. hikss, hikss..." Ujar Anastasya menghapus air matanya kemudian melepaskan genggaman tangan Damian.
"Tasya...! jangan pergi. Jangan tinggalkan aku." Lirih Damian mengeluarkan air matanya. Air mata yang sedari ia tahan akhirnya lolos juga tak bisa terbendung lagi.
"Maafkan aku Mas! Sebaiknya Mas pulang.bukankah Mama sedang di rumah sakit? Mama lebih butuh Mas di sana. Sedangkan di sini kita sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Aku juga sudah tidak mungkin membatalkan perceraian kita, karena tinggal menunggu keputusan hakim. Keputusannya juga kita sudah sama-sama tau, kita akan bercerai." Ujar anastasya.kemudian segera pergi menuju mobil Tirta, sedangkan Tirta sudah menunggunya di dalam.mobil.
"Tasya..! Ayo masuk!" Ajak Tirta.
Anastasya segera masuk ke dalam mobil agar Damian tidak mengejarnya. Dia melirik ke spion mobil dan benar melihat Damian sedang berlari mengejarnya.
__ADS_1
"Cepat jalan Tirta! Pinta Anastasya.
Dengan segera Tirta menginjak gas mobilnya.meninggalkan Pengadilan Agama.
Setelah beberapa menit di dalam mobil. Tirta mengajak Anastasya ke restoran dimana istri Tirta sudah ada di sana. Tirta sengaja mengajak istrinya untuk makan siang bersama agar bisa menghibur Anastasya. Menurut Tirta saat ini Anastasya sangat butuh teman sebagai teman curhatnya, Ia butuh seseorang yang bisa menenangkan pikirannya.
Tirta tidak ingin Anastasya sendiri di hotel. Apalagi Tirta tahu Anastasya pernah mencoba bunuh diri saat mengetahui Damian memiliki istri dan anak.
Tirta melirik Anastasya yang sedang menangis. Semenjak meninggalkan Damian air matanya.tidak berhenti mengalir, hingga tissue yang ada di mobil Tirta hampir habis untuk menghapus air mata dan ingus Anastasya.
"Air mata Lo masih banyak nggak?" Tanya Tirta.
"Hikss, hikss... kenapa tanya seperti itu?" Tanya Anastasya kembali sambil menangis.
"Kalo masih banyak, gw mampir dulu beli tissue yang lebih gede. Lo sudah hampir menghabiskan satu bungkus tissue. Lo nggak nyadar sekarang mobil gw seperti tempat sampah." Canda Tirta mencoba mengalihkan perhatiannya Anastasya.
Anastasya mengedarkan pandangannya, ia malah semakin menangis melihat mobil Tirta.
"Tasya... Gw laper banget, kita mampir makan siang ya? aku tau kamu juga sudah lapar kan? Sekalian beli tissue yang banyak." Ujar Tirta membuyarkan lamunan Anastasya.
Anastasya tersenyum terpaksa lalu mengangguk, "Terserah kamu saja." Lirih Anastasya.
"Jangan terlalu larut dalam kesedihan. Aku tau ini sangat berat untuk kamu. Anggap ini sebagai ujian dalam hidup kamu untuk menjadi wanita yang lebih kuat. Aku yakin kamu mampu melewati ini semua." Nasihat Tirta.
"Kamu bicara seperti mengerti perasaan ku saja." Anastasya melirik Tirta.
"Aku sudah sering mendapatkan kasus seperti ini. Aku taulah bagaimana perasaan klien yang baru saja bercerai. Ada perasaan sedih karena kehilangan orang yang di cintai. Ada perasaan lega karena sudah tidak saling menyakiti lagi. Ada perasaan khawatir karena tidak tau harus berbuat apa selanjutnya, mengingat sudah terbiasa hidup berdua sebagai pasangan yang saling membutuhkan. Ada penyesalan mengapa harus berakhir dengan perceraian. Pokoknya rasanya seperti nano-nano lah. Benar kan? itu yang sedang kamu rasakan?" Tanya Tirta.
"Kamu benar, itu yang sedang aku pikirkan." Jawab Anastasya.
"Seiring dengan berjalannya waktu semuanya akan baik-baik saja. Kamu akan melupakan masa itu ketika kamu sudah mulai bangkit dan menata hidup kamu kembali. Sekarang turunlah! Aku sangat lapar, aku juga butuh tenaga untuk menasihati kamu." Ujar Tirta membuka kunci pintu mobil.
"Aku lagi serius dengerin kamu, kamu malah bercanda." Anastasya memukul lengan Tirta.
__ADS_1
"Hehehe, ayo kita masuk. Ada seseorang yang menunggumu di dalam, kamu akan senang jika bertemu dengannya." Ajak Tirta.
"Siapa? kamu janjian dengan orang lain?" Tanya Anastasya.
"Aku ajak Manda makan siang. Kamu nggak keberatan kan?" Tanya Tirta.
"Ya nggak lah! aku malah senang, sudah lama aku nggak ketemu dengan Manda." Semangat Anastasya.
Mereka kemudian masuk ke dalam restoran. Amanda sudah duduk menunggu mereka.
Amanda tersenyum saat melihat keduanya masuk menghampiri mejanya.
"Maaf sayang, kamu sudah lama ya?" Tanya Tirta mengecup kening Amanda.
"Baru aja sayang! aku belum sempat pesan makanan." Jawab Amanda kemudian beralih menyapa Anastasya.
"Hai Tasya, apa kabar? sudah lama ya kita nggak ketemu." Sapa Amanda memeluk Anastasya.
"Baik, seperti yang Lo liat! Dia selalu menguatkan gw." Sahut Anastasya membalas pelukan Amanda.
Tirta memesan makanan setelah mereka duduk. Tirta sengaja memesan banyak makanan agar Anastasya bisa makan. Ia tahu jika dia tidak mengajaknya makan bersama, pasti Anastasya nggak akan makan di hotel.
.
.
.
Bersambung....
Sahabat Author yang baik ❤️
Jika kalian suka dengan cerita ini, Jangan lupa, Like, Komen, Hadiah, Dukungan dan Votenya ya! 🙏🙏🙏
__ADS_1