Wanita Kedua Suamiku

Wanita Kedua Suamiku
Pemakaman


__ADS_3

"Eh, gimana kerjaan Lo, mereka berdua nggak ngeropotin Lo kan?" Tanya Anastasya.


"Ngerepotin banget! kayaknya gw harus memiliki stok kesabaran yang lebih banyak deh. Mereka itu selalu ribut, kadang gw pusing sendiri melihatnya." Sintia mendelik ke arah Jack dan Dodi.


Sementara yang di lirik hanya tersenyum seolah tak berdosa.


"Jangan hiraukan mereka, Lo fokus aja dengan kerjaan Lo, tapi sepertinya mereka suka dengan Lo? kira-kira yang cocok dengan Lo siapa?" Goda Anastasya.


"Lo apaan sih! nggak ada." Uajr Shintia dengan wajah memerah karena malu.


"Alahhh..! nggak usah bohong deh Lo."


"Beneran nggak ada Sya..!"


"Kalo nggak ada, kenapa wajah Lo jadi merah kayak gitu? baiklah, gw tebak aja, Lo suka Dodi ya? soalnya gw liat-liat kalian sering keluar bareng." Tebak Anastasya.


"Itu karena ada meeting di luar kantor." Elak Shintia mencoba menghilangkan rasa gugupnya.


Anastasya tidak henti-hentinya menggoda Shintia.


"Kok gw nggak yakin kalo Lo lagi sakit ya Sya..?" Kesal Shintia.


"Hehehe, gw memang udah sembuh, besok juga boleh pulang. Rasa bahagia gw mengalahkan rasa sakit di tubuh gw. Eh, Lo laper nggak? gw pengen banget makan bakso." Tanya Anastasya.


"Boleh juga tuh, Lo mau bakso yang dimana? biar gw beliin."


"Yang di dekat bandara. Lo ingat nggak, saat kita pulang dari Surabaya, kita mampir di salah satu warung bakso. Nah, gw maunya yang itu." Jelas Anastasya.


"Hah? yang bener aja Lo, itu jauh banget Sya..! bisa sejam perjalanan ke sana, belum lagi pulangnya. Nggak ah! bakso yang lain aja, yang lebih dekat." Kesal Shintia dengan nada tinggi.


Ketiga pria yang sedang duduk di sofa, sontak berbalik melihat Shintia.


"Ada apa sayang?" Tanya Austin pada Anastasya.


'Mampus gw! suaminya denger lagi.' Batin Shintia.


"Lo kenapa pukul jidat Lo?" Tanya Anastasya.


"Nggak apa-apa."


"Oh, gw tau, pasti Lo takut dengan Austin kan?" Ejek Anastasya.


Anastasya berpikir sejenak, jika Austin yang menyuruh Shintia, pasti dia tidak akan menolak.


"Sayang... aku pengen makan bakso, tapi Shintia nggak mau beliin." Adu Anastasya.

__ADS_1


Austin menatap Shintia dengan tatapan yang dingin. Seolah memintanya mengikuti kemauan istrinya.


"Bukannya gw nggak mau beliin Tuan, tapi tempatnya sangat jauh, di dekat bandara." Ujar Shintia gugup. Semenjak bekerja di perusahaan Austin, Shintia masih selalu saja takut dengn aura yang di keluarkan Austin.


"Jack, temenin Shintia beli, masa ia dia pergi sendiri." Perintah Anastasya.


"Siap bucan." Jack memberi tanda hormat denga jari tangan di pelipisnya.


Shintia mendelik tajam pada Anastasya. Ia tidak mau jika berduaan dengan Jack.


"Sudah, berikan Jack kesempatan untuk PDKT." Bisik Anastasya.


....................


Di pemakaman Radit Kanaya tidak pernah berhenti menangis dan bersedih. Ia sangat sedih kehilangan anak semata wayangnya begitupun dengan Weni dan Damian.


Damian yang baru saja mengetahui jika Radit bukan anak kandungnya juga merasa sangat kehilangan. Betapa hancur dan sakit hatinya menghadapi kenyataan. Selama ini Radit sudah menjadi penyemangat hidupnya setelah dia kehilangan Anastasya.


Kini Radit pergi untuk selamanya, meninggalkan kenangan dan tanda tanya di hati Damian dan Weni. Siapa ayah kandung Radit sebenarnya? Kenapa Kanaya menutupinya selama ini, itulah yang ada di benak mereka.


Weni masih tidak ingin kehilangan Radit, ia sangat menyesal menyuruh Kanaya membawa Radit ke taman. Seandainya mereka tetap di rumah, mungkin semua ini tidak akan terjadi. Meskipun tidak mau menerima kenyataan Radit bukan anak kandung Damian tapi ia sangat menyayangi Radit.


Weni menatap sendu wajah Damian yang sedang diam dalam kesedihannya. Walaupun dia tidak menangis, tapi dia sangat tahu jika Damian sangat sedih kehilangan Radit. Ia kembali mengingat apa yang Austin katakan. Jika Radit bukan anak kandung Damian dan Anastasya sekarang hamil, apa mungkin yang madul itu sebenarnya adalah Damian?


Para palayat bergantian pulang satu persatu setelah pamit pada Kanaya, Damian dan Weni. Mereka meninggalkan pemakaman setelah mengucapkan turut berduka cita atas meninggalnya Radit, dan semoga mereka kuat dan mangikhlaskan kepergiannya.


"Mah, ayo kita pulang." Ajak Damian.


"Kamu nggak ajak Naya pulang?" Tanya Weni.


"Tidak usah Mah, biarkan dia di sini merenungi kesalahannya. Jika dia tidak ceroboh, Radit pasti baik-baik saja." Sergah Damian kemudian mengajak Weni pulang.


Mereka berdua pulang meninggalkan Kanaya seorang diri di pemakama.


Tidak lama setelah kepergian dan Weni, Rudi datang menghampiri Kanaya. Rudi langsung berjongkok di sampingnya lalu memegang nisan Radit.


"Dia anakku kan?" Lirih Rudi.


Kanaya mendelik tidak menyadari kedatangan Rudi, "Hikss, hikss, Ini semua karena kamu! seandainya kamu tidak menelponku, Radit tidak akan kecelakaan. Sekarang juga kamu pergi dari sini!" Bentak Kanaya sambil menangis.


"Jangan menyalahkan orang lain. Aku juga sangat sedih." Ujar Rudi.


"Hikss, hikss, Radit kenapa kamu tinggalin Mama secepat ini sayang, Mama sendiri, Mama harus bagaimana sekarang?" Lirih Kanaya.


Rudi mencoba merangkul Kanaya, namun dengan segera Kanaya menepisnya.

__ADS_1


"Jangan menyentuh ku, pergi dari sini, tinggalkan aku sendiri." Bentak Kanaya kembali.


Rudi tidak bergeming, dia seolah menutup mata saat Kanaya mengusirnya. Bagiamanapun Dia juga merasa menyesal karena Kanaya menyalahkannya.


"Radit sayang, istirahatlah dengan tenang, maafkan Mama karena tidak bisa menjaga Radit dengan Baik. Mama pulang dulu, nanati Mama akan datang temenin Radit." Lirih Kanaya.


Kanaya berdiri lalu pergi meninggalkan Rudi tanpa berkata-kata. Hari ini Ia sangat letih untuk berdebat dengan Rudi.


Kanaya memesan taksi online karena Damian dan Weni lebih dulu pulang ke rumah. Setelah beberapa menit, taksi yang di pesannya datang. Ia segera naik dan menuju jalan pulang.


Saat sampai di rumah. Damian dan Weni sudah duduk di sofa tamu menunggunya.


"Naya, duduk, kita perlu bicara." Ujar Damian menahan langkah Kanaya yang ingin masuk ke dalam kamar.


Kanaya menghentikan langkahnya, menatap dua pasang mata yang juga menatapnya dengan garang.


"Nanti saja bicaranya, aku sangat lelah." Melas Kanaya kembali melangkahkan kakinya.


"Kanaya mulai hari ini aku Talak kamu dan kita bukan lagi suami istri." Tegas Damian.


Deg!


Kanaya menghentikan langkahnya, belum hilang rasa sedihnya di tinggal Radit, dan sekarang Damian menceraikannya begitu saja. Dadanya terasa sesak, hatinya bagaikan tercabik-cabik. Kanaya sangat mencintai Damian, karena rasa cintanya yang terlalu besar hingga dia melakukan apapun agar bisa bersama dengan Damian, termasuk menyerahkan dirinya pada Rudi agar Rudi selalu membantunya.


"Mas! kenapa kamu begitu tega padaku? Radit baru saja meninggal, bahkan kuburannya masih basah, dan sekarang kamu menalak ku? terbuat apa hati kamu Mas!" Bentak Kanaya.


Kanaya menatap sendu wajah Weni, seolah meminta bantuan dan belas kasih, namun apa yang ia lihat, Weni malah memalingkan wajahnya.


"Mah, kenapa Mama diam aja? Apa karena Radit sudah tidak ada, sekarang Mama juga ingin Damian dan aku berpisah? Mama memang sangat egois. Setelah apa yang aku lakukan untuk memenuhi semua keinginan Mama, dan inilah balasan Mama padaku?" Tanya Kanaya denga suara meninggi. Air matanya kembali menetes.


"Diam kamu, Mama sudah liat bagaimana denga laki-laki lain di luar sana, sangat memalukan Naya! Mama pikir kamu wanita baik-baik, makanya Mama mau menikahkan kamu denga Damian. Ternyata kamu malah selingkuh. Tidak tau malu!" Kesal Weni penuh kekecewaan.


"Sekarang juga kamu pergi dari rumah ini. Aku tidak sudi satu kamar dengan wanita tukang selingkuh seperti kamu." Bentak Damian.


.


.


.


Bersambung...


Sahabat Author yang baik ❤️


Jika kalian suka dengan cerita ini, Jangan lupa, Like, Komen, Hadiah, Dukungan dan Votenya ya! 🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2