Wanita Kedua Suamiku

Wanita Kedua Suamiku
Resmi Bercerai


__ADS_3

Di rumah Damian, Kanaya sedang tertawa puas. Ia sangat bahagia dan senang akhirnya yang sudah lama sangat ia impikan kini menjadi kenyataan. Menjadi satu-satunya Istri dari Damian adalah cita-citanya sejak Weni memperkenalkan mereka di Bandung. Dia sudah jatuh cinta pada Damian sejak pertama kali bertemu.


"Mah...!" Teriak Kanaya dengan girang.


"Iya, kamu kenapa? jangan teriak-teriak, nanti penyakit jantung Mama kumat lagi." Ujar Weni duduk bersandar di sofa ruang tamu.


"Mah, Mas Damian dan Tasya sudah resmi bercerai. Tidak ada lagi penghalang dalam rumah tanggaku dengan Mas Damian. Kita berhasil Mah! kita berhasil!" Semangat Kanaya menggenggam tangan Weni sambil tersenyum.


"Baguslah, akhirnya mereka cerai juga. Mama sudah lama menunggu saat-saat ini." Weni tersenyum puas.


"Aku sangat senang Mah, Jatah belanja kita juga nggak di batasin Tasya lagi." Ujar Kanaya.


"Apa rencana kamu selanjutnya." Tanya Weni.


"Nggak ada lagi Mah, aku sudah mendapatkan Mas Damian. Aku akan menjadi istri yang baik untuknya." Seru Kanaya.


"Baiklah! Nikmatilah kebahagiaan mu. Mama mau istirahat." Weni berjalan menuju kamarnya.


"Radit..!" panggil Kanaya setelah masuk kedalam kamar Radit. Radit sedang bermain dengan baby sitternya berjalan menghampiri Kanaya lalu memeluknya.


"Sayang... sekarang Papa cuma milik kita. Milik Mama dan Radit." Kanaya memeluk Radit dengan erat.


....


Di Bandung Anastasya sedang duduk di taman depan rumah. Semalam ia tidak bisa tidur dengan nyenyak memikirkan nasib pernikahannya, matanya bengkak dan sembab. Ia baru ingat jika hari ini adalah sidang petusan perceraiannya. Ia mengambil ponselnya lalu menghubungi Tirta.


"Halo." Jawab Tirta di balik telepon.


"Halo, gimana sidangnya?" Tanya Anastasya.


"Tasya..? kamu ganti nomor? kami di mana?" Tanya Tirta Balik.


"Iya kamu bisa menghubungi ku di sini. Sekarang aku di Bandung." Singkat Anastasya.


"Sidangnya berjalan lancar sesuai keinginan kamu. Surat cerainya juga Sudah di tanganku." Jawab Tirta.


"Tirta boleh aku minta tolong lagi?" Tanya Anastasya ragu-ragu.


"Boleh, apapun untuk kamu Sya.." Jawab Tirta.

__ADS_1


"Rumah yang di tempati Damian dan ibunya atas namaku. Aku ingin menjualnya. Kamu bisa nggak cariin pembeli?" Tanya Anastasya.


"Bisa. Surat-suratnya gimana? apa sekarang ada padamu?" Tanya Tirta.


"Aku menyimpannya di tempat yang aman. Aku akan mengambilnya nanti." Ujar Anastasya.


"Oke, kabari aku saat kau di Jakarta. Kita akan bertemu." Ujar Tirta.


"Makasih Tirta, salam buat Amanda dan anak kamu." Anastasya mematikan ponselnya.


Air matanya tiba-tiba menetes. Tubuhnya melemas tak bertenaga, kehancuran rumah tangganya adalah pukulan terberat dalam hidupnya. Perceraian yang tidak ingin dia lakukan kini sudah terjadi. Gagal, ia merasa gagal sebagai seorang wanita mempertahankan rumah tangganya.


"Hiks, hiks, ya Tuhan...! biarkan aku menangisi pernikahanku untuk yang terakhir kalinya, biarkan aku meluapkan segala rasa sedih dan kecewaku, hikss, hikss.. Kenapa semua ini terjadi padaku? apa salahku? Ujian mu begitu berat, aku nggak sanggup menanggungnya." Anastasya menatap langit sambil memegang dadanya yang begitu sesak.


Mayang yang sejak dari tadi mencarinya kini menemukannya di depan rumah karena Bi Imah yang memberitahukannya.


"Sya.. kenapa kamu menangis nak? apa Austin menyakitimu?" Tanya Mayang membelai rambut Anastasya


Anastasya langsung berhambur memeluk Mayang. "Hiks, hiks.. Mom, aku gagal mempertahankan rumah tanggaku. Sekarang aku seorang janda, aku sudah bercerai dengan Damian. Hiks, hiks, aku tidak berguna Mom, aku lemah, aku kalah." Ujar Anastasya dalam tangisnya.


Mayang membalas pelukan Anastasya, hatinya ikut sakit melihat penderitaan Anastasya. Ia juga ikut menangis saat Anastasya menangis tersedu-sedu. Sekuat tenaga ia berusaha menguatkan dirinya agar Anastasya juga kuat.


"Jangan menangis sayang, ini yang terbaik untukmu. Percuma mempertahankan rumah tangga jika sudah tidak ada kebahagiaan di dalamnya. Keputusan yang kamu ambil ini sudah tepat agar kamu tidak seterusnya menderita. Mama tau pasti rasanya sakit kehilangan orang yang kita cintai dan selama ini hidup bersama kita. Tapi jika Damian menghianati mu, Mommy juga nggak rela melihat mu terus menangis." Jelas Mayang.


"Menangislah jika ingin menangis, Mommy ada di sini sebagai tempat bersandar untukmu." Ujar Mayang.


"Hiks, hiks,.."


"Sabar sayang, ini pasti akan berlalu. ambil hikmah dari setiap ujian dalam hidupmu, itu akan membuatmu jauh lebih kuat." Nasihat Mayang.


Anastasya melepaskan pelukannya. "Maafkan Tasya karena sering merepotkan Mommy dan Austin. Besok Tasya akan kembali ke Jakarta." Ujar Anastasya.


"Tidak sayang. Mommy nggak ijinin kamu ke Jakarta sendirian. Kamu putri Mommy! Mulai sekarang kamu tanggung jawab Mommy. Kamu akan tinggal bersama Mommy, kemanapun Mommy pergi kamu akan selalu ikut bersama Mommy. Termasuk kembali ke Jerman." Tegas Mayang tak terbantahkan.


"Tapi Tasya masih banyak urusan di Jakarta Mom." Tolak Anastasya.


"Tidak sayang, urusan kamu di Jakarta sudah selesai. Kamu harus melupakan semuanya termasuk Damian, dia hanya masa lalu yang harus kamu kubur dalam-dalam. Kamu tetap harus tinggal bersama Mommy. Jika kamu nggak mau menikah dengan Austin, Mommy nggak masalah. Mommy bisa carikan jodoh yang lain yang tidak seperti Damian penghianat itu." Jelas Mayang.


"Mom, Tasya mohon berikan Tasya waktu sebulan untuk menyelesaikan masalah ku di Jakarta, setelah itu terserah mommy mau bawa aku kemana, aku ikut." Melas Anastasya memperlihatkan wajah penuh iba.

__ADS_1


"Baiklah, Mommy kasih waktu 1 bulan, jika kamu nggak nyusul Mommy ke Jerman, Mommy akan datang sendiri menjemput mu. Mommy takut terjadi sesuatu denganmu jika kamu hidup sendirian. Siapa lagi yang akan menjagamu jika bukan Mommy, setidaknya sampai kamu menikah bari Mommy melepas mu." Tegas Mayang.


Ia sangat sayang dengan Anastasya. Baginya Anastasya adalah putri kesayangannya. Dulu ia pernah hamil anak perempuan tapi tidak bertahan lama, ia mengalami keguguran saat usia kandungannya memasuki lima bulan. Sejak saat itu ia tidak bisa memiliki anak lagi.


Pada saat Austin membawa Anastasya ke Mansionnya di Jerman, ia sangat senang dan bahagia. Entah mengapa ia merasa jika putrinya masih hidup dan kini berada di dekatnya. Setelah mengenal Anastasya dengan baik, ia semakin menyayanginya karena Anastasya anak yang penurut dan bisa diajak berbagi dalam suka dan dukanya. Itulah sebabnya mengapa ia berniat membawa Anastasya tinggal bersamanya.


"Ia Mom, Makasih sudah sangat sayang dengan Tasya. Aku juga sangat sayang dengan Mommy." Ungkap Anastasya kembali memeluk Mayang.


Mereka melepaskan pelukannya saat beberapa mobil memasuki halaman rumah.


Jack turun dari mobil lalu membuka pintu mobil untuk Austin. Austin keluar dari mobil dengan setelan jas hitam melekat pas di tubuhnya.


"Tuh..! Austin. Kamu sedang merindukannya kan?" Ejek Mayang agar Anastasya melupakan kesedihannya.


"Ihh..! Mommy apaan sih! siapa yang merindukannya." Elak Anastasya dengan mengerucutkan bibirnya.


"Tuh.. wajah kamu memerah, malu-malu ya ketahuan Mommy." Goda Mayang kembali.


"Mommy sok tau!" Kesal Anastasya ketahuan.


"Austin anak kesayangan Mommy?" Teriak Mayang menyambut kedatangan Austin. Ia langsung berhambur memeluk putra kesayangannya. Sedangkan Anastasya hanya diam ragu-ragu untuk menyapanya.


'Salah tingkah gw! kenapa juga gw ada di sini pas dia datang? jadi nggak enak kan jika tidak menyambutnya.' Batin Anastasya kesal.


"Gimana kabar Mommy?" Tanya Austin.


"Sehat dong sayang, kan ada Syasya yang nemenin Mommy." Jawab Mayang.


Austin sekilas melirik Anastasya yang hanya diam tanpa menyambutnya.


"Kamu nggak mau memelukku?" Tawar Austin.


.


.


.


Bersambung....

__ADS_1


Sahabat Author yang baik ❤️


Jika kalian suka dengan cerita ini, Jangan lupa, Like, Komen, Hadiah, Dukungan dan Votenya ya! 🙏🙏🙏


__ADS_2