
Beberapa saat kemudian, makanan mereka datang. Tirta dan Amanda saling melirik saat melihat Anastasya mengambil sedikit makanan ke piringnya.
"Kenapa Lo makan dikit?" Tanya Amanda.
"Gw nggak selera." Jawab Anastasya.
"Sudah sayang, biarkan aja yang penting dia makan." Sela Tirta.
Amanda pun mengangguk kemudian menikmati makanannya.
"Sayang, kamu ambilkan makanan ke piring Tasya sedikit demi sedikit." Bisik Tirta kemudian melanjutkan makannya.
Saat makanan Anastasya hampir habis. Amanda mengambilkan menu yang lain lagi.
"Kata orang nasi goreng di restoran ini enak banget lho, udang tepungnya juga enak, Lo harus cobain Sya.." Amanda mengambilkan 2 sendok ke piring Anastasya kemudian mengambil untuknya. Setelah Anastasya memakannya ia kembali menambahkan makanan yang lain ke piring Anastasya.
"Lo sengaja buat gw kekenyangan ya? perut gw sudah hampir meledak karena Lo nggak pernah berhenti tambahin makanan gw." Kesal Anastasya, Amanda dan Tirta berhasil membuatnya makan banyak.
"Hehehe, biarpun Lo lagi ada masalah. Lo harus tetap makan untuk tetap bertahan. Lo mau madu Lo tertawa diatas penderitaan Lo? Kalo gw mah ogah! enak bener dia, sudah ngerampas suami Lo dan menghancurkan hidup Lo. Dan Lo terima begitu aja? Lo harus bangkit dan buktiin ke Damian kalo Lo jauh lebih baik dari madu Lo! kalo perlu buat dia bertekuk lutut karena menyesal karena telah menikahi perempuan itu." Cecar Amanda tidak mau Anastasya terpuruk.
"Gw bingung, gw nggak tau harus bagaimana. Menurut Lo, apa yang harus gw lakukan?" Tanya Anastasya pada Amanda yang juga sudah selesai makan.
Amanda menghela napas sebelum bertanya, "Apa yang Lo rasain selama beberapa hari nggak tinggal dengan Damian?" Tanya Amanda.
"Sekarang gw agak sedikit tenang di banding sebelumnya." Jawab Anastasya.
"Seandainya Lo bertemu dengan Damian, apa yang akan Lo lakukan?" Tanya Amanda kembali.
Anastasya berpikir sejenak, "Aku akan berusaha bersikap seperti biasa aja." Jawab Anastasya.
"Lo yakin bisa? bukannya Lo satu kantor dengannya?" Tanya Amanda kembali.
"Iya, gw memang satu kantor dengannya." Jawab Anastasya.
"Kenapa Lo nggak resign aja? jika kalian sering bertemu, itu akan membuatmu susah untuk move on." Ujar Amanda.
"Itu akan aku pikirkan, sepertinya memang aku harus resign dan mungkin aku akan pergi ke kota lain. Ayo kita pulang, aku sudah lelah. Aku ingin istirahat." Ajak Anastasya kemudian mengambil tasnya.
"Aku akan antar kamu pulang." Tirta juga beranjak bersama Amanda.
Tirta menuju kasir kemudian membayar makanan mereka, setelah itu mereka menuju mobil dan mengantar Anastasya kembali ke hotel.
Di dalam mobil, Anastasya hanya diam menatap kaca jendela mobil.
__ADS_1
"Sya.. gw pengen ajak Lo ke Bandung pekan depan. Ada keluarga gw yang menikah di sana, Lo mau ikut nggak? sekalian Lo refreshing di sana." Tanya Amanda membuat Anastasya mengalihkan pandangannya.
"Sorry Manda..! gw nggak kepengen ke Bandung. Rencananya gw mau ke Bali sampai sidang putusan perceraian gw. Tirta, aku minta tolong ambilkan surat cerai aku ya?" Pinta Anastasya.
"Kapan kamu mau berangkat? kok mendadak!" Tanya Tirta.
"Besok, aku butuh liburan untuk menenangkan pikiran ku." Ujar Anastasya.
"Baiklah, urusan surat perceraian kamu.. kamu bisa serahkan semuanya padaku." Ujar Tirta.
Tidak lama kemudian, mereka tiba di depan lobi hotel. Anastasya turun dari mobil setelah berpamitan pada Tirta dan Amanda. Tidak lupa dia juga menanda tangani surat kuasa untuk Tirta, agar Tirta dapat mengambil surat perceraiannya di pengadilan Agama nanti.
"Makasih Tirta, Manda. Kalian memang teman ku yang sangat baik. Kapan-kapan gw yang traktir kalian makan. Sampai jumpa lagi." Pamit Anastasya kemudian segera masuk ke dalam hotel.
Saat masuk kedalam, Langkahnya terhenti saat melihat Damian sedang duduk di lobi menatapnya. Ia segera berlari kecil menuju lift, namun langkahnya terhenti saat Damian menarik tangannya dan ikut masuk kedalam lift.
"Apaan sih Mas! kok kamu tau aku di sini?" Tanya Anastasya dengan kesal.
"Itu nggak penting! Ayo tekan dilantai mana kamu nginap." Bentak Damian.
"Tidak aku nggak mau Mas! lebih baik Mas pulang. Kita sudah selesai, jangan membuat masalah." Sentak Anastasya menarik tangannya.
Damian tidak perduli di dalam lift bukan hanya mereka berdua. Ada 3 orang lagi di sana. Lift membawa mereka naik ke lantai atas, namun Anastasya tidak menekan di lantai mana ia akan keluar. Sekarang di dalam lift tinggal mereka berdua.
Dengan terpaksa Anastasya menekan lantai 22. Mereka keluar dari lift kemudian Damian memaksa Anastasya membawanya ke kamar.
"Mas, Aku mohon pergilah. Kita buka suami-istri lagi yang bisa berduaan di kamar." Ujar Anastasya.
Damian menyeringai licik, "Kita belum resmi bercerai, cepat tunjukkan dimana kamarmu atau aku akan mempermalukan mu di sini." Bentak Damian.
Anastasya membuka pintu kamarnya lalu masuk ke dalam di ikuti Damian.
"Bereskan barang kamu dan ikut denganku." Perintah Damian.
"Aku nggak mau Mas! kita sudah bercerai." Tolak Anastasya.
"Belum sayang..! kita nggak akan bercerai." Bentak Damian frustasi, ia mengusap kepalanya dengan kasar
"Kamu sudah gila mas! kamu harus terima kenyataan." Teriak Anastasya.
"Tidak Tasya.. jangan membuatku marah!" Bentak Damian kembali.
Tidak lama kemudian anak buah Damian masuk kedalam.
__ADS_1
"Bawa kopernya ke mobil." Perintah Damian.
"Ayo ikut aku, kita akan pergi" Damian menarik tangan Anastasya keluar dari kamar menuju lift.
"Kamu akan membawaku kemana Mas? aku nggak mau ikut denganmu." Berontak Anastasya. Ia berusaha melepaskan genggaman Damian dari pergelangan tangannya.
"Lebih baik kamu diam dan jangan banyak nanya." Damian menarik paksa tangan Anastasya dan Anastasya tetap berusaha memberontak.
Beberapa tamu dan pegawai hotel sedang memandang mereka, hingga seorang pria mendekati Damian.
"Bro! jangan terlalu kasar dengan perempuan." Ujar Darwin salah satu tamu hotel yang baru saja masuk ke dalam hotel. Ia menahan tangan Damian yang masih mencengkram tangan Anastasya.
"Diam kamu! dia istri saya dan sedang selingkuh dengan pria lain. Apa aku salah jika memaksanya untuk pulang?" Teriak Damian agar tidak ada lagi yang berani mendekat.
"Tuan tolong aku, aku bukan lagi Istrinya." Melas Anastasya.
"Kalian bisa kan, menyelesaikan masalah kalian secara baik-baik." Ujar Darwin.
"Lebih baik kamu diam dan jangan ikut campur dalam masalah keluargaku." Bentak Damian.
"Tolong aku." Lirih Anastasya.
Dengan segera Damian mengangkatnya seperti mengangkat karung beras menuju mobil yang sudah menunggu mereka di depan pintu lobi.
Darwin hanya bisa diam melihat tingkah Damian yang seenaknya. Tadinya dia ingin menahannya, tapi saat melihat Anak buah Damian empat orang yang mendekatinya, dia kembali mundur dan membiarkan Damian membawa Anastasya.
"Lepaskan Mas!" Berontak Anastasya terus menerus memukul pundak Damian.
Damian tidak perduli meski pundaknya sudah kesakitan. Ia terus melangkah hingga menurunkan Anastasya di dalam mobil.
Damian melajukan mobilnya menuju Villa di Bandung.
.
.
.
Bersambung....
Sahabat Author yang baik ❤️
Jika kalian suka dengan cerita ini, Jangan lupa, Like, Komen, Hadiah, Dukungan dan Votenya ya! 🙏🙏🙏
__ADS_1