
"Mah, kenapa Mama selalu mengungkit masalah perceraian. Harus berapa kali aku katakan kalo aku nggak akan menceraikannya Mah." Kesal Damian, emosinya sudah tidak bisa ia tahan jika mamanya meminta menceraikan Anastasya.
"Benar apa kata Mama kamu. Untuk apa mempertahankan perempuan seperti aku. Maafkan aku Mas. Ini lah jalan yang terbaik. Aku tidak ingin terlalu membencimu jika terus-menerus di sisimu. Aku memilih pergi dan mengakhiri semuanya. Aku sudah mengurus surat perceraian kita." Jelas Anastasya meneteskan air mata.
Deg!
Damian tertegun, ia tidak menyangka Anastasya akan menggugat cerai dirinya.
"Tasya! jangan becanda. Kamu tidak sungguh-sungguh melakukannya kan?" Tanya Damian.
Kanaya dan Weni saling melempar senyum dan itu dilihat jelas oleh Anastasya.
"Hikss, hikss, Aku serius Mas. Kamu akan mendapatkan surat panggilan Minggu ini. Maaf karena aku menyerah dengan pernikahan kita. aku sudah memberimu kesempatan untuk menceraikan Naya tapi sepertinya kamu tidak akan melakukannya. Jadi, aku memilih untuk menyelesaikan semuanya. Mulai hari ini aku tidak tinggal di sini lagi. Terima kasih sudah menjadi suami yang baik untuk ku mas! terima kasih untuk cinta yang kau berikan meskipun akhirnya kau menghianati ku." Ujar Anastasya sambil menangis.
Anastasya menghapus air matanya kemudian berbalik menatap Kanaya.
"Untuk kamu Naya, aku pastikan! kamu akan mendapatkan apa yang telah kau lakukan pada keluargaku. Bukan aku yang akan membalas mu tapi Tuhan sendiri yang akan menghukum mu. Nikmatilah kepergian ku selagi masih bisa. Nikmatilah kebahagiaan mu yang entah sampai kapan pasti akan berakhir." Ujar Anastasya.
"Untuk Mama, terima kasih sudah menjadi Mama mertua yang tidak pernah menerimaku. Aku harap suatu saat nanti Mama tidak menyesal karena telah memisahkan aku dengan Mas Damian." Ujar Anastasya.
"Tasya, tidak sayang...! aku tidak mau kita bercerai, aku tidak bisa hidup tanpamu." Melas Damian. Ia memeluk Anastasya dengan erat.
"Kamu tidak bisa hidup tanpa ku, dan kamu juga tidak bisa hidup tanpa Naya dan Radit! Maaf mas, aku tidak ingin kita saling menyakiti lebih dalam. Ini jalan terbaik untuk semua. Berbahagialah dengan keluargamu dan aku pergi untuk mencari kebahagiaan ku sendiri." Tolak Anastasya, berusaha melepaskan pelukan Damian.
"Sayang...! biarkan dia pergi. Ingat Radit buah cinta kita, kami membutuhkan kamu dari pada dia." Bujuk Kanaya merasa diatas angin. Ia sengaja mengatakan Radit buah cintanya dengan Damian agar Anastasya semakin sakit hati dan tetap memilih pergi.
"Buah Cinta? jangan pernah katakan itu Naya! Aku menikahimu bukan karena aku mencintaimu, seandainya saja kamu tidak setuju dengan permintaan Mama, ini semua tidak akan terjadi." Sesal Damian.
"Ini memang yang terbaik Nak! Biarkan dia pergi dari rumah ini." Bujuk Weni agar Damian melepaskan Anastasya.
"Mah, Mama tega mengusir mantu Mama? kenapa bukan Naya saja yang Mama usir? Jangan Tasya ku Mah! aku sangat mencintainya. Kenapa Mama tidak pernah memperlakukan dia seperti Mama memperlakukan Naya? Apa salahnya pada Mama?" Kesal Damian dengan sikap Weni selama ini.
"Karena dia wanita mandul yang tidak bisa memberi mu anak dan keturunan untuk keluarga kita." Bentak Weni.
Anastasya semakin menangis mendengar ucapan Weni. Hati siapa yang tidak sakit jika dianggap wanita mandul dan tidak bisa melahirkan seorang anak. Bagi kaum wanita, melahirkan adalah sesuatu yang harus untuk membahagiakan suami dan keluarganya. Sedangkan dia tidak bisa mewujudkan itu.
__ADS_1
"Hikss, hikss, aku tidak mandul Mah! Dokter mengatakan rahimku sehat dan tidak ada masalah. Jika kami belum di karuniai seorang anak, itu bukan salahku." Anastasya membela dirinya.
"Kalo bukan kamu yang mandul, lalu kenapa kamu tidak hamil-hamil? liat Damian, buktinya dia bisa menghamili Kanaya dan punya Radit." Cecar Weni.
"Itu karena Tuhan belum ngasih rejekinya Mah! sudahlah aku nggak mau berdebat. Lebih baik mas urus keluarga Mas, dan jangan mengganggu aku." Ujar Anastasya, "Satu lagi Mas, yang menculik aku saat itu adalah Naya dan Mama. Mereka membayar orang lain untuk membunuhku." Ungkap Anastasya kemudian berlari keluar dari rumah. Dia sudah tidak perduli lagi, Damian mempercayai ucapannya atau tidak. Satu hal yang pasti, dia sudah mengungkapkan yang sebenarnya.
Kanaya dan Weni tersentak kaget. Mereka tidak menyangka Anastasya akan mengatakan semuanya pada Damian. Sedangkan wajah Damian memerah karena amarahnya semakin bertambah.
"Kita akan bicarakan masalah ini setelah aku.oulang dari kantor." Ujar Damian kemudian segera menyusul Anastasya.
Anastasya menghela napas panjang kemudian masuk ke dalam mobilnya. Ia berbalik menatap rumah yang selama ini ia tinggali setelah menikah dengan Damian. Rumah yang di belinya bersama Damian setelah mereka menyelesaikan beberapa proyek.
Anastasya menghapus air matanya yang terus mengalir kemudian melajukan mobilnya mencari hotel. Ia tidak ke rumah orangtuanya karena Damian pasti akan mencarinya di sana.
Hari ini ia tidak mau ke kantor. Ia sangat yakin, jika bertemu dengan Damian, pasti Damian akan membujuknya untuk mengubah keputusannya. Tapi tekadnya sudah bulat, keputusan untuk bercerai adalah jalan yang terbaik untuknya saat ini.
Satu jam kemudian, dia masuk ke dalam hotel. Ia menuju tempat Resepsionis kemudian memesan satu kamar untuknya. Hotel yang dipilihnya adalah satu hotel yang berada di pinggiran kota dan berada di pinggir laut. Ia masuk ke dalam kamar kemudian merebahkan tubuhnya untuk istirahat sejenak. Semalam ia tidak bisa tidur memikirkan keputusannya. Ia memantikan ponselnya kemudian menutup mata.
.........
Damian kembali menuju ruangan Anastasya, mungkin saja Shintia tahu di mana anastay sekarang ini.
"Shin, Kamu tau dimana Tasya nggak?" Tanya Damian.
"Tidak Pak." Shintia menggeleng.
"Jika dia menghubungi mu, katakan kan padanya untuk pulang." Pesan Damian.
"Baik Pak, saya akan membujuknya untuk pulang." Jawab Shintia.
'Enak aja suruh pulang. Gw ngga bakalan biarin sahabat gw pulang ke rumah Lo lagi. Rumah Lo banyak nenek sihirnya.' Batin Shintia menganggap Kanaya dan Weni seperti nenek sihir yang mampu memutar balikkan fakta.
Setelah kepergian Damian dari ruanganya. Shintia mengambil ponselnya lalu menghubungi Anastasya, tapi dia juga tidak bisa menghubunginya.
"Kamu dimana sih Sya.." Gumam Shintia ikut khawatir.
__ADS_1
Tidak lama kemudian sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya.
"Shin, gw lagi di hotel, jika ada berkas yang harus gw periksa, kirim ke email ku aja. Aku ingin menenangkan diri dulu. Males banget gw ketemu Damian di kantor." Isi pesan Anastasya.
"Hati-hati. Ingat jangan melakukan hal bisa melukai dirimu sendiri." Isi Pesan Shintia.
"Lo nggak usaha khawatir! gw baik-baik aja." Isi pesan Anastasya.
Saat itu juga Damian membuka pintu ruangan Shintia. "Shin, aku mau ke rumah ibunya Tasya. Mungkin dia sedang ada di sana. Urusan kantor aku serahkan ke Geri dan kamu." Ujar Damian.
"Baik Pak." Sahut Shintia.
"Bapak sudah menghubungi ibu lagi?" Tanya Shinta.
"Nomornya tidak aktif, Mungkin dia sengaja untuk menghindar dariku." Jawab Damian kemudian pergi.
Damian masuk ke dalam mobilnya kemudian melaju ke rumah orang tua Anastasya. Saat sampai di sana, ia tidak menemukan mobil Anastasya, dia sudah yakin jika Anastasya tidak di sana dan akhirnya memilih untuk mencarinya di luar.
Damian mengambil ponselnya kemudian menyuruh anak buahnya mencari keberadaan Anastasya.
"Sya... kamu di mana sayang...? jangan membuatku khawatir." Lirih Damian.
Damian kembali menghubungi Anastasya namun Anastasya tidak mengangkatnya dan langsung mematikan ponselnya.
.
.
.
Bersambung....
Sahabat Author yang baik ❤️
Jika kalian suka dengan cerita ini, Jangan lupa, Like, Komen, Hadiah, Dukungan dan Votenya ya! 🙏🙏🙏
__ADS_1