Wanita Kedua Suamiku

Wanita Kedua Suamiku
Rumah Ibu


__ADS_3

Keesokan harinya Anastasya dan Austin langsung menuju Bali. Meskipun Mayang sangat sulit melepaskan kepergian Anastasya, tapi dia tetap harus rela karena Anastasya sudah menikah dengan Austin dan harus ikut kemanapun suaminya pergi.


Austin menyelesaikan masalah proyeknya selama 3 hari dan telah mencebloskan pihak yang bertanggung jawab atas kecelakaan karyawan proyek di sana.


"Masalah perusahaan sudah selesai sayang. Apa kamu mau kembali ke Jakarta atau tinggal seminggu di sini untuk bulan madu?" Austin memeluk tubuh Anastasya di balkon.


"Apa yang selama ini kita lakukan itu bukan madu?" Tanya Anastasya balik.


"Itu nggak di hitung sayang, selama di sini waktuku lebih banyak di proyek. sekarang aku ingin waktuku lebih banyak bersamamu. Bagaimana kalau kita mencobanya di sini." Austin menyadarkan dagunya di bahu Anastasya. Mencium wangi tubuh Anastasya di leher yang menjadi candu baginya.


"Di sini?" Pekik Anastasya.


"Ia sayang, kita akan mencobanya dimanapun pasti sensasinya akan berbeda dan luar biasa." Ujar Austin dengan lembut, "Wangi skali Istriku ini." Austin mulia mencium leher Anastasya dengan kecupan-kecupan lembut.


Deru napas Austin yang terasa di kulit leher Anastasya, membuatnya merasakan getaran di seluruh tubuh Anastasya.


Langit malam menjadi saksi bisu, di bawah cahaya rembulan, angin bertiup menerpa kulit. Anastasya mulai membalas, menerima, dan ikut menikmati permainan Austin dan akhirnya pertempuran berakhir diatas sofa balkon.


"Ternyata enak juga melakukannya di sini. Kamu capek?" Ujar Austin dengan puas.


Anastasya mengangguk lemah. Ia tidak bisa mengimbangi permainan suaminya yang selalu membuatnya melayang.


"Baiklah, malam ini cukup, ayo kita istirahat." Ujar Austin tersenyum lalu mengajak Anastasya masuk menuju tempat tidur.


Austin menutup pintu balkon dan jendela Villa yang mereka tempati selama di Bali. Setelah itu ikut berbaring di samping Anastasya. Ia mengambil kepala Anastasya diatas lengannya sedangkan tangan yang satu lagi memeluknya hingga mereka tertidur dalam balutan selimut.


Seminggu telah berlalu mereka menghabiskan waktu bulan madu di Bali. Hari ini mereka kembali ke Jakarta dan Jack telah menunggu kedatangan bosnya di bandara.


"Selamat datang di Jakarta bos!" Sapa Jack pada keduanya.


"Makasih Jack." Ujar Austin saat Jack mengambil alih koper dari tangannya.


'Apa gw nggak salah denger? Bos bilang makasih? uhh... manis sekali. Satu kata keramat lagi keluar dari mulutnya.' Batin Jack.


Baru kali ini Jack mendengar Austin mengucapkan kata terima kasih sejak mereka bersahabat selama lebih dari 9 tahun. Sungguh ajaib menurutnya jika Austin mengeluarkan kata itu.


"Sama-sama bos." Ujar Jack tersenyum mengejek.


Austin mendelik menatapnya sedangkan Jack berjalan menuju mobil lalu memasukkan ke dalam bagasi koper mereka.


Jack membuka pintu untuk mereka lalu menuju kursi kemudi dan melajukan mobil dengan kecepatan rata-rata.


"Kita kemana bos?" Tanya Jack memastikan ingin kemana mereka.


"Ke apartemen saja Jack." Perintah Austin.

__ADS_1


"Sayang..! boleh kita tinggal di rumah Ibu selama beberapa hari? aku merindukan ibu." Melas Anastasya sambil menyandarkan kepalanya di bahu Austin.


"Boleh sayang, kamu ingin ke sana sekarang?" Tanya Austin.


"Iya." Singkat Anastasya.


"Apapun untukmu sayang, asal kamu senang dimanapun kita tinggal nggak masalah buatku." Ujar Austin mengelus pipi Anastasya.


Jack melirik ke arah kaca spion tengah mobil. Sekilas senyum terpancar di bibirnya hingga ia menyadari sepasang mata tajam juga sedang menatapnya.


'Sial!' Batin Jack.


"Fokus liat ke depan Jack, kita ke rumahnya Syasya sekarang." Perintah Austin dengan tatapan mematikan.


Setelah beberapa menit akhirnya mereka tiba di rumah mendiang ibu Anastasya yang sekarang menjadi miliknya. Mereka masuk kedalam dan duduk di sofa setelah Jack meletakkan dua koper di ruang tamu.


"Ini rumah orang tuamu?" Tanya Austin.


"Ia sayang, rumah yang sederhana yang selalu membuat hari-hari ku ceria dan bahagia.


Disinilah aku di besarkan dengan penuh kasih sayang." Jawab Anastasya.


Austin berdiri mengambil salah satu bingkai foto yang terdapat wajah Anastasya saat berumur 5 tahun.


"Apa yang ini kamu?" Tanya Austin memastikan.


"Kamu sangat manis dan imut. Jika kita memiliki anak perempuan, pasti dia seperti ini cantiknya." Puji Austin mengelus wajah Anastasya yang imut.


"Amin.." Ujar Anastasya tersenyum ikut membayangkannya. Dalam bayangan Anastasya, anaknya jauh lebih cantik darinya karena memiliki keturunan campuran seperti Austin.


"Sayang..! aku harus ke kantor sekarang, kamu nggak apa-apa kan aku tinggal sendiri? Aku akan usahakan pulang sebelum malam." Tanya Austin.


"Ia sayang, aku nggak apa-apa." Jawab Anastasya.


"Baiklah, Kamu hati-hati di rumah ya?" Ujar Austin mengecup kening Anastasya.


"Aku juga pengen cepet nikah bos." Sela Jack melihat keromantisan bosnya.


"Bukannya Lo nggak mau nikah karena merepotkan? untuk apa menikah jika bisa langsung main diatas ranjang." Ejek Austin mengikuti kata-kata Jack.


"Setelah kupikir-pikir, menikah seru juga." Ujar Jack.


"Ah, Terserah Lo! ayo berangkat! Dodi menunggu kita untuk meeting." Austin melangkahkan kakinya keluar dari rumah Anastasya menuju mobil.


Di luar sudah banyak tetangga mengerumuni mobil mewahnya. Para tetangga saling bertanya siapa pemilik mobil mewah yang sedang terparkir itu. Mereka bahkan rela menunggu untuk melihat pemiliknya.

__ADS_1


"Jack, ini yang gw nggak suka jika tinggal di daerah seperti ini." Kesal Austin menghentikan langkahnya.


"Gw pikir Lo sudah berubah. Ternyata sikapmu masih sama, nggak mau perduli dan berinteraksi dengan orang lain." Ujar Jack.


Para tetangga menyingkir melihat kedatangan mereka. Dua pria dengan setelan jas kerja dan kacamata hitam menuju mobil itu.


"Permisi ibu-ibu." Senyum Jack menyapa.


Jack segera membuka pintu mobil untuk Austin lalu segera menuju kemudi. Tanpa menunggu lama, Jack melajukan mobilnya menuju Royal Group.


Setelah kepergian mereka para tetangga sibuk membicarakan mereka. Berbagai pujian dan pertanyaanpun muncul dari mulut para tetangga satu persatu.


"Siapa mereka?"


"Untuk apa ke rumah Tasya?"


"Sejak kapan Anastasya kembali ke rumah ibunya?"


"Ada hubungan apa mereka dengan Tasya."


"Itukan bukan suaminya Tasya?"


"Kalo buka suaminya itu siapa? selingkuhannya?"


"Wah.. bahaya nih jika kita biarkan mereka berbuat yang tidak-tidak di kompleks kita."


"Ganteng banget..!"


"Aku mau jadi istrinya, istri kedua pun aku juga mau."


"Calon suami idaman."


Begitulah mulut para tetangga berkomentar, mulai dari ibu-ibu dan juga para gadis semua sama-sama penasaran.


Setelah kepergian Austin dan Jack, Anastasya membersihkan isi rumah, setelah itu ia beranjak ke dapur untuk memasak makan malam. Semua dilakukannya agar Austin merasa nyaman berada di rumahnya. Meskipun ia tahu jika Austin pasti merasa risih tinggal di sana, tapi ia ingin melepas rasa rindunya pada kedua orang tuanya.


Setelah semuanya selesai, ia duduk dan istirahat di sofa, ia mengingat akan menghubungi Tirta saat tiba di Jakarta. Satu bulan yang lalu Tirta memberitahukan bahwa rumahnya sudah laku terjual. Tinggal menunggu Anastasya untuk datang dan tanda tangan semuanya beres.


.


.


Bersambung....


Sahabat Author yang baik ❤️

__ADS_1


Jika kalian suka dengan cerita ini, Jangan lupa, Like, Komen, Hadiah, Dukungan dan Votenya ya! 🙏🙏🙏


__ADS_2