Wanita Kedua Suamiku

Wanita Kedua Suamiku
Gaun Pesta


__ADS_3

Setelah menikmati dissert sebagai makanan penutup, Dodi mengatur napas terlebih dahulu sebelum memulai misinya, ia menggenggam tangan Tirani lalu menatap matanya dengan tatapan lembut.


"Tira, jujur aku tidak tau cara merayu wanita, tapi aku ingin mulai sekarang kamu jadi pacar aku. Kamu mau kan jadi pacar aku?" Ungkap Dodi tanpa berbasa-basi.


Menurutnya merayu adalah kata-kata keramat yang sulit keluar dari mulutnya. Jika di suruh memilih merayu seorang wanita dengan merayu seratus klien untuk menanam saham di perusahaan, maka dia akan memilih pilihan yang kedua.


Tirani menatap netra hitam Dodi dan mencari kejujuran di sana.


"Dasar kaku, Apa ini pertanyaan atau pernyataan?" Tanya Tirani kesal.


"Terserah kamu menganggapnya apa, yang pastinya aku sudah ungkapkan keinginanku, aku ingin kita pacaran." Ujar Dodi.


"Apa aku boleh menolak? karena aku tidak mau jadi pacar kamu." Tolak Tirani.


"Tidak ada kata penolakan, jika kamu tidak mau jadi pacarku, maka sekarang juga kamu akan jadi pengangguran. Kamu tau kan? aku bisa melakukan apa saja? termasuk membuatmu di pecat?" Ancam Dodi.


"Heh, kenapa kamu suka mengancamku. apa mengancam juga salah satu dari pekerjaanmu?" Kesal Tirani. Dia tidak tau apa pekerjaan Dodi yang sebenarnya, menurutnya pekerjaan Dodi adalah pegawai kantoran karena tidak pernah lepas dari setelan jas kerjanya.


Dodi menghela napas kasar, mengungkapkan perasaan sangatlah berat menurutnya. Apalagi untuk perempuan seperti Tirani. Jika di Club dia hanya menunjuk wanita yang dia inginkan, tapi tidak dengan Tirani.


"Oke, Tirani aku cinta padamu, maukah kamu menjadi pacarku?" Ungkap Dodi kembali.


Tirani tampak berpikir, menuruti keinginan Dodi untuk saat ini tidak ada salahnya. Dia juga butuh Dodi untuk menghindari juragan tanah di kampungnya. Dengan keberadaan Dodi yang menurutnya arogan dan tegas, dia bisa menghindari juragan Heru yang selalu memintanya menjadi istri ke tiga. Selama mereka di kampung, Heru sering membantu perekonomian mereka setelah ayahnya meninggal dengan alasan sahabat ayahnya. Tapi ternyata niatnya lain, Heru menghitung semua bantuan yang dia berikan dengan balasan Tirani harus menikah dengannya. Tirani dan Ibunya tidak setuju, makanya mereka pindah ke kota dan berniat mengganti semua uang yang Heru telah berikan.


"Baiklah, Aku mau tapi dengan tiga syarat." Ujar Tirani.


"Tidak, banyak banget, aku tidak mau menerima syarat!" Kesal Dodi rencananya hampir saja berhasil namun Tirani membuatnya kembali kesal.


"Kalo nggak mau ya sudah, kita tidak usah ketemu lagi." Ujar Tirani.


"Arghh, terserah kamu. Katakan apa syaratnya." Kesal Dodi mengusap wajahnya dengan kasar. Baru kali ini ada orang yang membantahnya bahkan mengajukan syarat padanya.


"Kamu harus melindungi aku dari Juragan Heru." Ujar Tirani.


"Juragan Heru? siapa dia? kenapa meminta perlindungan dariku? apa hubunganmu dengannya?" Cecar Dodi.


"Ah, pertanyaanmu banyak sekali." Gerutu Tirani, "Dia juragan di kampung aku, dia meminta aku menjadi istri ketiganya." Kesal Tirani.


"Prmmhh..."


Dodi menahan tawanya dalam beberapa menit, saat melihat mulut Tirani semakin mengerucut, tawanya pun keluar tak tertahankan.

__ADS_1


"Hahaha..." Tawa Dodi akhirnya menggema di dalam ruangan, "Kenapa kamu nggak mau? kamu nggak perlu capek-capek kerja, tinggal tunggu giliran menemami Heru diatas ranjang, masalah selesai, hehehe.." Ejek Dodi.


"Enak aja, aku nggak mau berbagi suami apa lagi jadi istri ketiga. Mendingan aku jadi perawan tua dari pada menikah dengan juragan Heru." Kesal Tirani.


"Ah..." Dodi menghela napas panjang. "Oke, aku akan selesaikan masalahmu dengan Heru. Cuma itu kan syaratnya?" Ujar Dodi.


"Syarat kedua.."


"Tidak ada syarat kedua dan ketiga. Masalah Herumu itu sudah lebih dari cukup syaratnya." Potong Dodi dengan seringai licik di wajahnya. Dia bisa menebak kedua syarat yang akan Tirani ungkapkan.


"Dasar pemaksa! kau bahkan tidak mau mendengar syarat keduaku." Gumam Tirani.


"Sudah kesalnya? kalau sudah, ayo kita ke butik sayang..!" Ajak Dodi.


"Ke butik? jangan bilang kalau kita akan tunangan beneran." Selidik Tirani.


"Cuma cari gaun yang akan kamu pakai ke pesta pernikahan temen aku." Ujar Dodi lalu menggenggam tangan Tirani keluar dari room VVIP restoran.


Mereka masuk ke dalam mobil lalu menuju butik langganan keluarga Austin.


Setelah tiba di sana, Tirani mencoba beberapa baju yang menurutnya bagus lalu memperlihatkannya pada Dodi.


"Jadi yang cocok yang mana?" Kesal Tirani yang sudah ke-empat kalinya berganti gaun.


"Ambil saja semuanya." Sahut Dodi dengan santai.


"Hah..?" Mata tirani melotot tidak percaya, ia mengangkat sedikit gaun yang dipakainya lalu menghampiri Dodi. Tapi tiba-tiba saja kakinya terkilir dan terjatuh, untung Dodi dengan cepat menahannya dengan posisi tangan Dodi menahan pinggangnya dan netra keduanya saling beradu manatap satu sama lain. Tersadar posisi keduanya sangatlah dekat, Tirani mencoba berdiri dengan pelan.


"Aww.." Pekik Tirani meringis karena kakinya keseleo.


Dodi membawa tirani duduk di sofa lalu mengurut kakinya dengan perlahan hingga Tirani tidak merasa kesakitan lagi.


"Dari mana kamu tau cara mengurut? apa kamu memiliki keturunan tukang urut?" Tanya Tirani polos.


Dodi menyentil kening Tirani.


"Aww.." Pekik Tirani memegang dahinya.


"Enak saja bilang aku keturunan tukang urut! aku sering mengalami kejadian seperti ini. Jadi sudah biasa." Kesal Dodi.


"Hehehe.. terimakasih." Ujar Tirani tulus.

__ADS_1


"Ia, Cepetan ganti baju, aku masih harus kembali ke kantor." Ujar Dodi mengalihkan pembicaraan.


"Tapi ini apa nggak berlebihan? " Tanya Tirani.


"Sudah, bawa semuanya ke kasir." Perintah Dodi.


"Selalu saja begitu, harga bajunyakan sangat mahal, bahkan gajiku setengah tahun saja tidak cukup membeli satu gaun di butik ini. Apa dia memang banyak uang atau karena maunya." Gumam Tirani sambil berjalan masuk ruang ganti.


Setelah selesai, Dodi ke kasir membayar empat gaun pesta yang berbeda model dan warna, menurutnya jika mereka akan ke pesta lain kali, ia tidak perlu lagi repot-repot ke butik.


Mata Tirani melotot saat melihat angka yang tertera di layar mesin kasir.


'Hah? Lima puluh juta hanya untuk empat gaun?' Batin Tirani. Sedangkan Dodi dengan santai mengeluarkan kartu miliknya lalu memberikannya pada pegawai kasir.


"Ayo, kenapa bengong? ambil belajaanmu." Ujar Dodi membuyarkan lamunan Tirani.


"Hehehe." Kekeh Tirani langsung mengambil paper bag di meja kasir lalu mengikuti langkah Dodi keluar dari butik.


Dodi membuka pintu untuk Tirani setelah meletakkan belanjaannya di kursi belakang. Ia kemudian menuju kursi kemudi lalu mengantar Tirani pulang.


Setelah mengantar Tirani pulang, Dodi kembali ke kantor menyelesaikan pekerjaannya yang sempat ia tinggalkan karena permintaan aneh bosnya.


"Wetss... ada yang lagi berbunga-bunga nih." Ejek Jack melirik Dodi setelah Dodi masuk ke dalam ruangan Austin membawa beberapa berkas.


Bugh!


Dodi memukul pundak Jack dengan berkas yang ada di tangannya.


"Diam Lo!" Kesal Dodi.


.


.


.


Bersambung...


Sahabat Author yang baik ❤️


Jika kalian suka dengan cerita ini, Jangan lupa, Like, Komen, Hadiah, Dukungan dan Votenya ya! 🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2