Wanita Kedua Suamiku

Wanita Kedua Suamiku
Kecelakaan Beruntun


__ADS_3

Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Shintia beranjak dari duduknya kemudian pamit pulang dengan Anastasya.


"Sya... gw pulang dulu ya? gw mau istirahat." Pamit Shintia.


Anastasya mengangguk, sebenarnya ia masih ingin di temani, tapi dia juga mengerti jika Shintia butuh waktu untuk istirahat. Apalagi sekarang Shintia bekerja di perusahaan Austin yang besar, pasti pekerjaannya lebih banyak dan menguras tenaga dan pikiran.


Setelah Shintia berpamitan dan keluar dari kamar rawat inap, Jack juga berdiri ingin ikut pulang. Jack tidak lupa janjinya untuk mengajak Shintia makan malam.


"Mau kemana Lo?" Tanya Dodi menatap curiga.


"Mau anterin Shintia pulang lah! masa ia sahabat bucan yang cantik pulang sendiri, harus ada yang jagain tuh! kalo dia kenapa-napa di jalan bagaimana? ia kan bucan?" Jack mencari pembelaan pada Anastasya saat melihat tatapan mata Austin yang tajam.


"Lo bener juga Jack! ya sudah, anterin Shintia pulang, tapi ingat! Lo nggak boleh macem-macem." Ancam Anastasya menunjuk Jack dengan mata melotot.


'Widih.. sadis juga bucan jika mengancam, pantesan bos menurut kayak kucing manis jika bucan bicara. Sekarang gw tau kelemahan bos.' Batin Jack dengan seringai licik di wajahnya.


"Ngapain Lo bengong menatap istri gw? sudah, sana! anterin Shintia pulang. Sebelum gw mencongkel mata Lo." Kesal Austin.


"Jika Lo yang mengantarnya itu lebih bahaya." Sindir Dodi.


Dengan cepat Jack menyusul Shintia yang sudah lebih dulu keluar.


"Sayang, tunggu!" Panggil Jack.


Shintia sontak berbalik memastikan itu suara Jack.


"Kamu mau kemana?" Tanya Shintia.


"Antar kamu pulang sayang..! masa aku antar suster yang di sana." Jack asal menunjuk seorang suster yang kebetulan keluar dari kamar pasien.


"Kamu ada-ada aja." Shintia geleng-geleng kepala.


Hatinya begitu senang mendapatkan sedikit perhatian dari Jack. Baru kali ini dia membuka hati dengan seorang pria setelah patah hati selama bertahun-tahun.


Shintia dan Jack sudah berada di dalam mobil. Jack melajukan mobilnya menuju salah satu restoran mewah. Restoran yang sebelumnya sudah Jack teservasi saat masih berasa di rumah sakit. Bagi Jack mengurus hal semacam ini sangatlah mudah, yang penting ada ponsel di tangan maka semua akan beres.


Saat tiba di restoran, Jack memarkirkan mobilnya di basement kemudian masuk ke dalam lift menuju tempat yang sudah ia persiapkan.

__ADS_1


Disini lah mereka, di rooftop restoran yang sudah di rancang khusus untuk candle light dinner romantis yang Jack sudah persipkan.


Mata Shintia berbinar, baru kali ini dia diperlakukan sangat romantis, ia menatap satu meja bundar diatasnya terdapat bunga dan lilin sebagai penerang, serta dua buah kursi yang sudah di hias dengan pita yang cantik. Di bawah rembulan dan bintang serta angin malam menjadi saksi bisu kisah awal cinta mereka.


Jack memang paling pandai menyenangkan hati seorang wanita. Jika biasanya dia ahli memanjakan wanita di atas tempat tidurnya, kali ini dia mencoba memanjakan Shintia dengan cinta. Ini yang pertama kali Jack mengajak seorang wanita berkencan hingga ia tidak mau mengecewakan Shintia.


Sambil menunggu makanan datang, mereka duduk saling berhadapan. Jack menggenggam satu tangan Shintia yang ada diatas meja.


"Apa kamu suka?" Tanya Jack.


Shintia hanya tersenyum kemudian mengangguk, entah bagaimana dia menjabarkan perasaannya sekarang, rasa haru, senang, bahagia dan hatinya berbunga-bunga. Seandainya mereka sudah lama pacaran, mungkin Shintia langsung menciumnya saat itu juga. Tapi dia juga tidak mau terlalu jauh sebelum mengenal Jack lebih dalam.


Tidak lama kemudian, pelayan datang dan menata makanan di atas meja. Setelah selesai mereka meninggalkan sepasang kekasih yang sedang merayakan hari jadi mereka.


Mereka menikmati makan malam dengan suasana romantis. Senyum terancam di bibir keduanya sekali-kali membuka pembicaraan untuk saling mengenal satu sama lain. Setelah beberapa menit, akhirnya mereka selesai makan.


Jack mengambil kalung di saku jasanya yang entah sejak kapan di simpannya, mungkin karena dia sudah menebak ini akan terjadi, makanya ia selalu membawa kalung itu kemana-mana.


Jack meletakkan kotak merah itu diatas meja. "Ini untuk kamu." Ujar Jack.


Shintia mengernyitkan keningnya, "Apa ini?" Tanya Shintia.


Shintia membuka kotak itu, matanya seketika membulat melihat kalung dengan liontin satu berlian bulat. Model yang sederhana tapi sangat indah dan tetap terlihat mewah.


Jika di tanya bagaimana Jack membeli barang mewah, tentu jawabannya dari hasil kerjanya sendiri. Bahkan kekayaan Jack dan Dodi hampir sama. Menjadi asisten Austin selama bertahun-tahun membuat mereka tidak pernah bermasalah dengan ekonomi. Gaji yang bernilai ratusan juta tiap bulan selalu masuk di rekening tanpa ia tarik sedikitpun.


"Apa ini tidak berlebihan?" Tanya Shintia setelah membuka kotak dan melihat isinya.


"Tidak, kamu pantas mendapatkannya," Ujar Jack tersenyum.


Shintia mengambil lalu ingin memakainya.


"Sini, aku pakaikan." Jack mengambil alih kemudian memakaikannya di leher Shintia.


Shintia tersenyum lalu memegang liontin kalung yang begitu indah di lihatnya.


"Cantik, kamu sangat cantik memakainya. Cocok dan pas untuk orang yang istimewa." Puji Jack.

__ADS_1


"Terima kasih." Ujar Shintia dengan wajah bersemu merah karena malu.


"Sama-sama, ayo kita pulang!"


Jack mengajak Shintia untuk pulang, dia juga ingin istirahat karena lelah. Untung saja setelah membereskan Kanaya, mereka sempat mandi dan mengganti pakaian di gudang tempat penyekapan Kanaya. Di samping gudang, ada satu ruangan yang biasa mereka tempati untuk menyimpan segala keperluan mereka jika tiba-tiba tidak sempat untuk pulang, termasuk pakaian dan alat-alat mandi, makanan dan lainnya.


............


Pagi hari Kanaya sudah bangun dari tidurnya. Dokter memeriksa keadaannya dan hari ini sudah boleh pulang.


Sebelum baranjak dari tempat tidur ternyata beberapa polisi sudah datang menjemputnya. Mereka masuk ke dalam dan langsung melakukan penangkapan atas tuduhan tabrak lari dan penculikan terhadap Anastasya.


"Maaf bu Kanaya, anda harus ikut kami ke kantor polisi. Ini surat penangkapan Anda." Ujar salah satu anggota polisi yang memakai seragam lengkap.


Kanaya memberontak, saat petugas memegang tangannya agar ikut.


"Untuk apa saya ikut kalian? saya tidak melakukan kesalahan apapun." Tolak Kanaya. Ia tidak mau di bawa ke kantor polisi karena takut menderita di dalam penjara.


Polisi memaksanya ke luar menuju mobil yang akan membawanya pergi. Saat polisi sedang lengah, Kanaya menginjak kaki dan menggigit tangan polisi yang memegangnya, dengan segera ia berlari sejauh mungkin agar polisi tidak menangkapnya.


Polisi terus mengejarnya dari arah belakang. Sambil berlari Kanaya sesekali menoleh ke belakang, ia ingin memastikan polisi masih mengejarnya atau tidak. Namun tak di sangka saat menyeberang jalan, satu mobil truk dengan kecepatan sedang tiba-tiba menabraknya.


Brakk!


Pengemudi truk yang sedang mengantuk pun kaget, ia juga tidak bisa menghentikan mobilnya karena remnya tiba-tiba macet dan stir mobil tidak terkendali. Terjadilah kecelakaan beruntun di jalan raya yang menyebabkan kemacetan parah.


Tubuh Kanaya terpental ke sisi jalan, seluruh tubuhnya termasuk kepala penuh dengan luka dan darah. Matanya perlahan tertutup dan tidak sadarkan diri.


.


.


.


Bersambung....


Sahabat Author yang baik ❤️

__ADS_1


Jika kalian suka dengan cerita ini, Jangan lupa, Like, Komen, Hadiah, Dukungan dan Votenya ya! 🙏🙏🙏


__ADS_2