
"Jangan Mah! Damian mohon untuk kali ini dengarkan aku, jangan membuat masalah dengan Tasya lagi. Suaminya sangat berkuasa Mah! dia tidak akan tinggal diam jika Mama mengganggu Tasya. Lebih baik jauhi mereka dan biarkan Tasya bahagia dengan keluarganya." Ujar Damian.
Tidak lama kemudian Mayang dan Rainart masuk ke restoran dan duduk bersama Austin.
"Hai, cucu opa yang ganteng..! lagi makan ya?" Sapa Rainart melihat mulut Giandra penuh dengan makanan sambil memegang mainan.
Giandra hanya mengangguk dan kembali bermain.
"Dad, jam berapa Daddy berangkat?" Tanya Austin.
"Satu jam lagi, Mommy masih ingin belanja. Syasya temenin Mommy ya? Biar Gian di sini sama Opa dan Austin." Sela Mayang.
"Iya Mom, Mommy makan dulu baru kita pergi." Ujar Anastasya.
Merekapun sama-sama menikmati makanannya.
"Austin kapan kamu kembali ke Jerman?" Tanya Mayang setelah mereka selesai makan.
"Tunggu pekerjaanku selesai Mom, mungkin pekan depan." Jawab Austin.
"Baiklah, tapi jangan lewat dari pekan depan ya? Mommy nggak bisa jauh-jauh dari kalian. Apalagi Giandra dan Syasya, Mommy sangat kesepian jika mereka nggak ada." Ujar Mayang.
"Iya Mom, akan Austin usahakan secepatnya." Ujar Austin.
..............
Pada saat Weni ingin berdiri, Ia berhenti ketika Mayang dan Rainart datang. Mayang dan langsung memeluk Anastasya penuh kasih sayang karena sebentar lagi mereka akan kembali ke Jerman begitupun dengan Austin dan Giandra.
"Apa itu mertuanya?" Tanya Weni penasaran karena melihat kedekatan mereka.
"Ia Mah, Itu orang tua Austin, mereka tinggal di Jerman." Jawab Damian.
"Sepertinya mereka sangat dekat dengan Tasya." Gumam Weni tapi masih bisa di dengar Damian.
"Sudahlah Mah, Sebaiknya kita pulang sebelum mereka melihat kita. Aku nggak tau harus melakukan apa jika berhadapan dengan mereka." Ujar Damian.
"Mama ingin ke sana Damian, Mama hanya ingin minta maaf." Bujuk Weni.
"Tidak usah Mah, Tanpa Mama minta maaf, aku yakin Tasya telah memaafkan Mama." Tolak Damian, 'Seandainya Mama tau apa yang aku rasakan sekarang ini. Ingin sekali aku memeluk Tasya karena sangat merindukannya. Tapi melihatnya bahagia bersama orang-orang di sekelilingnya, aku merasa tenang melepasnya. Kamu berhak bahagia Tasya karena kamu wanita yang sangat baik.' Batin Damian.
__ADS_1
Dengan berat hari Weni mengikuti langkah Damian menuju kasir. Ia ingin meminta maaf secara langsung atas perbuatannya selama ini tapi Damian melarangnya menemui Anastasya.
"Ayo Mah." Ajak Damian setelah membayar tagihan makanannya di kasir.
Damian dan Weni keluar dari Restoran, bersamaan dengan Anastasya dan Mayang juga keluar karena Mayang ingin di temani Anastasya berbelanja.
"Tasya." Sapa Weni.
Sedangkan Damian berusaha menetralkan detak jantungnya saat menatap Anastasya begitu dekat. Ia masih menyimpan perasaan cintanya pada Anastasya di lubuk hatinya yang paling dalam.
"Tante." Lirih Anastasya.
"Bisa kita bicara sebentar?" Tanya Weni. Ada perasaan lain yang dia rasakan saat Anastasya tidak lagi memanggilnya dengan panggilan Mama.
"Maaf tante, tapi kami sedang buru-buru, Mommyku akan kembali ke Jerman satu jam lagi. Sekali lagi maaf." Tolak Anastasya dengan sopan.
"Sayang..! Mommy nggak keberatan menunggu jika itu penting, Maaf anda siapa ya?" Tanya Mayang.
"Saya.. Ibunya Damian, mantan mertua Anastasya." Weni mengulurkan tangannya pada Mayang.
"Ohh, saya Mayang Mommynya Syasya." Ujar Mayang sambil tersenyum membalas uluran tangan Weni.
"Tidak perlu berkata seperti itu tante. Apa yang sudah terjadi di masa lalu sebaiknya di jadikan pelajaran dimasa yang akan datang. Saya sudah memaafkan Tante dan juga Damian. Jadi tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. Permisi." Ujar Anastasya lalu berjalan lebih dulu bersama Mayang. Ia tidak mau berlama-lama di dekat Damian, Jika Austin melihatnya pasti dia akan marah dan menghampiri Damian.
"Sayang kenapa tidak memberi mereka kesempatan bicara? mungkin masih ada yang perlu mereka sampaikan." Ujar Mayang sambil berjalan menuju salah satu toko tas branded.
"Mommy lupa di sana ada Austin? Jika dia melihat Damian pasti akan ada keributan, aku nggak mau itu terjadi apalagi ini di Mall. Lebih baik mengakhiri obrolan secepatnya dari pada terjadi sesuatu yang kita tidak inginkan. Menurutku memang sudah tidak ada lagi yang perlu kami bicarakan Mom! Mereka hanya masa lalu yang tidak menginginkan aku. Dan di saat aku mendapatkan keluarga yang baru dan bahagia, mereka menyesal dan itu sudah tidak berguna." Ungkap Anastasya.
"Baiklah, maafkan Mommy karena sempat memaksamu bicara dengan mereka. Ayo kita belanja, dan habiskan sedikit uang Daddy." Ajak Mayang.
Mayang dan Anastasya mengambil tas yang mereka sukai lalu membayarnya dengan kartu milik Mayang. Setelah selesai berbelanja mereka kembali ke restoran.
"Kalian dari mana saja?" Tanya Austin.
"Mommy dan aku belanja Tas sayang." Jawab Anastasya, "Hai sayang..! kamu nggak rewel kan?" Tanya Anastasya mencium pipi Giandra.
"Giandra tidak rewel sayang, tapi Daddynya yang bawel." Sela Rainart.
"Ayo kita berangkat. Kami akan antar Daddy ke bandara." Ujar Austin lalu mengambil Giandra dalam gendongannya.
__ADS_1
Mereka keluar dari Mall lalu memasukkan barang-barang ke dalam mobil. Setelah semua beres, mereka masuk ke dalam mobil. Anastasya duduk di depan bersama Austin. Sedangkan Mayang dan Rainart serta Giandra duduk di belakang.
Austin mengemudikan mobilnya dengan kecepatan rata-rata menuju bandara.
"Jack sudah berangkat bulan madu?" Tanya Mayang.
"Ia Mom, Jack sementara waktu cuti untuk pergi bulan madu, makanya Austin kemana-mana bawa mobil sendiri." Jawab Austin.
"Kenapa nggak mencari supir baru?" Tanya Rainart.
"Tidak Dad, aku lebih nyaman dengan Jack, aku juga nggak masalah bawa mobil sendiri." Jawab Austin.
Beberapa saat kemudian, mereka tiba di bandara, pramugara pesawat membantu Austin menurunkan barang-barang dari mobil lalu membawanya naik ke dalam jet. Setelah semua barang naik, mereka berpamitan saling memeluk satu sama lain.
Austin, Anastasya dan Giandra melambaikan tangan saat pesawat mulai take off.
"Bye-bye Oma, Opa." Ujar Giandra kemudian mereka kembali masuk ke dalam mobil.
Austin melajukan mobilnya menuju apartemen. Beberapa minit kemudian Giandra tertidur di pangkuan Anastasya.
Anastasya diam sambil berpikir. Lebih baik dia berkata jujur pada Austin jika dia bertemu dengan damian dan Weni. Dia juga sangat yakin jika Austin pasti sudah mengetahuinya tapi dia hanya diam.
"Sayang..! sebenarnya aku ketemu Damian dan Tante Weni di restoran. Mereka ingin bicara denganku tapi aku menolaknya, menurutku tidak ada lagi yang perlu kami bicarakan. Tapi Tante Weni sempat meminta maaf dan aku sudah memaafkannya. Dan Aku tidak bicara sama sekali dengan Damian." Ungkap Anastasya sambil menoleh ke arah Austin, ia ingin melihat reaksi Austin saat dirinya menyebut nama Damian.
Austin tersenyum dia sangat senang Anastasya jujur dan tidak menutupi apapun darinya.
"Aku tahu sayang, aku hanya menunggumu berkata jujur, apapun yang terjadi kedepannya kita berdua harus saling jujur dan bicarakan jika ada masalah, jangan menutupi apapun itu baik atau buruk kita akan bersama menghadapinya." Ujar Austin menggenggam tangan Anastasya lalu menciumnya.
"Iya sayang, Terimakasih sudah menerima aku sebagai pendamping hidupmu. Aku sangat mencintaimu dan juga sayang dengan keluarga kita. Aku harap kebahagiaan ini tidak berakhir sampai maut memisahkan. Amin..
.......
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1