
"Kurang ajar! ini pasti ulah Austin dan Tasya. Mereka tidak akan puas sebelum mas Damian benar-benar hancur. Baiklah gw bakalan bales Lo Sya!" Geram Kanaya.
Kanaya memutuskan untuk istirahat dan berencana akan ke perusahaan Austin nantinya.
........
Beberapa hari kemudian.
Anastasya dan Austin menuju kantor. Austin sengaja membawa Anastasya ke kantornya agar dia tidak bosan di Apartemen sendiri.
Anastasya juga senang karena di kantor ada Shintia yang bisa diajaknya ngobrol. Bahkan mereka sering makan siang bersama. Jika tidak makan diluar, mereka kadang memesan makanan melalui aplikasi online.
"Sayang, aku laper." Melas Anastasya.
Anastasya sedang duduk di sofa memandang wajah suaminya yang sedang serius memeriksa berkas-berkas di atas meja kerjanya.
Austin langsung mengalihkan perhatiannya. "Laper? ini baru dua jam setelah makan siang sayang, dan sekarang kamu lapar lagi?" Tanya Austin memastikan.
"Iya sayang, entahlah! beberapa hari ini, aku merasa cacing di perut ku sering berdemo meski sudah di isi." Jawab Anastasya sedikit bercanda.
"Kamu mau makan apa? biar aku pesankan." Ujar Austin lalu mengambil ponselnya diatas meja kerjanya.
"Aku ingin makan asinan yang ada di depan kantor." Jawab Anastasya.
"Asinan?" Tanya Austin mengernyitkan keningnya.
"Ia, sayang, wajahnya biasa aja dong..!" Sindir Anastasya melihat raut wajah Austin tidak seperti biasanya.
"Baiklah, aku suruh Jack belikan untukmu."
"Nggak usah, aku ingin makan di sana. Kamu mau nggak? kalo mau aku bungkus satu porsi untuk mu." Tawar Anastasya.
"Nggak usah sayang, aku nggak suka makanan seperti itu." Tolak Austin.
"Baiklah, aku pergi dulu, aku janji hanya sebentar."
"Ajak Shintia menemani mu ke sana." Ujar Austin.
"Nggak usah di temenin, Shintia pasti sibuk. Lagian cuma di depan kok, tinggal nyeberang doang sampai." Ujar Anastasya.
Austin menghela napas pasrah. "Ya sudah, terserah kamu." Ujar Austin.
"Bye-bye sayang..!" Anastasya mencium pipi Austin kemudian segera keluar dari ruangannya.
Austin kembali mengerjakan pekerjaannya setelah Anastasya keluar. Tidak lama Dodi dan juga Jack masuk ke dalam ruangannya.
"Bos! sebentar lagi ada meeting di restoran Fuxu, saya sudah menyiapkan semua berkasnya." Lapor Dodi.
"Baiklah, Jack temani aku pergi." Ujar Austin.
"Siap bos!" Balas Jack.
Beberapa menit kemudian Austin menelepon Anastasya karena belum juga kembali.
"Halo." Jawab Anastasya.
"Kamu masih lama nggak? aku akan keluar meeting dengan Jack." Tanya Austin.
"Sudah selesai sayang..! Ini aku lagi di kasir." Jawab Anastasya.
__ADS_1
"Oke, kamu mau ikut aku nggak?" Tanya Austin."
"Nggak usah, aku menunggu di kantor aja." Tolak Anastasya.
"Baiklah, kita temu di lobi, aku juga sudah mau pergi." Tutur Austin menutup telponnya.
Austin dan Jack dan Dodi keluar dari ruangan CEO, mereka memasuki lift khusus kemudian menuju lobi.
"Jack, perasaan gw kok nggak enak ya?' Tanya Austin.
"Bos, lagi laper kali?" Canda Jack.
"Gw masih kenyang, bukan perasaan seperti itu Jack! seperti terjadi sesuatu tapi apa ya?" Pikir Austin.
"Jangan terlalu dipikirin. Mudah-mudahan semuanya baik-baik aja bos." Ujar Dodi
"Aku harap juga begitu Dod!" Lirih Austin.
Mereka pun keluar dari lift dan menunggu kedatangan Anastasya di lobi.
............
Kanaya menuju perusahaan Royal Group. Ia baru saja ingin masuk ke dalam area perkantoran, namun tiba-tiba melihat Anastasya menyeberang jalan.
"Kesempatan emas, gara-gara Lo kehidupan gw dan Mas Damian jadi susah. Maka rasakanlah pembalasanku." Monolog Kanaya lalu menginjak gas mobilnya dengan kecepatan penuh.
Brakk!
Anastasya tertabrak, tubuhnya terpental ke sisi trotoar. Tubuhnya luka dan kepalanya berdarah.
Kanaya yang melihatnya dari kaca spion mobil tersenyum puas. Ia segera melajukan mobilnya meninggalkan Anastasya dan kembali ke rumah.
"Tolong..! tolong..!" Teriak salah satu pengguna jalan yang melihat kejadian itu.
Saat ingin masuk ke dalam mobil, Austin melihat keramaian di seberang jalan.
"Jack, ada apa di sana?" Tunjuk Austin.
"Saya akan periksa bos." Ujar Jack.
Sebelum Jack melangkah, satpam berlari menghampiri mereka. "Tuan, ibu Tasya kecelakaan." Lapor satpam sambil mengatur napasnya.
Deg!
Austin langsung berlari menghampiri kerumunan. Sedangkan Jack langsung masuk ke dalam mobil lalu menyusul Austin.
"Minggir!" Teriak Austin.
Mereka yang tadinya mengelilingi Anastasya sontak menyingkir satu-persatu.
Austin mengangkat tubuh Anastasya yang pingsan masuk ke dalam mobil.
"Sayang, bangun! jangan membuatku khawatir." Panik Austin setelah mereka duduk di dalam mobil.
"Jalan Jack, cepet..!" Bentak Austin.
Jack melajukan mobilnya menuju rumah sakit terdekat. Ia juga sangat khawatir melihat keadaan Anastasya.
"Jack lebih cepat lagi bisa nggak sih!" Kesal Austin sudah tidak sabar ingin cepat sampai di rumah sakit.
__ADS_1
"Ia bos! ini sudah paling cepat." Jawab Jack ikut panik.
"Syasya sayang, ayo buka matamu." Lirih Austin, ia memeluk tubuh Anastasya yang masih berada di pangkuannya.
Setelah beberapa menit, mereka tiba di rumah sakit.
Austin segera keluar membawa Anastasya menuju IGD.
"Dokter, tolong istri saya." Pinta Austin sambil meletakkan Anastasya diatas brankar.
"Iya Tuan, Tuan tunggu di sini. Kami akan menangani pasien." Ujar dokter kemudian masuk ke dalam ruangan IGD bersama perawat yang sedang mendorong brankar Anastasya.
Austik sangat khawatir dengan istrinya, ia mengusap wajahnya dengan kasar. Ia sangat menyesal tidak menemani Anastasya keluar dari kantor.
Jack yang melihat kekhawatiran bosnya, lebih memilih diam dan berdoa. Sekali saja ia salah bicara, maka dia akan menjadi tempat pelampiasan Austin.
"Jack, selidiki siapa yang menabrak Syasya." Perintah Austin dengan wajah datar dan dingin.
"Sudah, anak buah kita sementara mencari pemilik mobilnya." Jawab Jack.
"Dodi? apa dia yang menggantikan kita meeting?" Tanya Austin.
"Ia, jangan memikirkan pekerjaan, biar itu jadi urusanku dan Dodi." Jawab Jack.
Austin mengangguk lalu diam sejenak.
"Jack, Syasya akan baik-baik aja kan?" Lirih Austin menunduk duduk berdampingan dengan Jack.
"Iya bos, aku yakin bu Tasya baik-baik aja." Jack berusaha meyakinkan Austin tapi sebenarnya dia juga cemas.
Sudah satu jam lebih dokter di dalam menangani Anastasya tapi belum juga keluar.
"Jack kenapa dokternya lama skali? apa perlu kita cari dokter lain untuk menangani Syasya?" Kesal Austin sudah merasa lelah menunggu.
"Sabar bos, kita tunggu saja. Sebentar lagi mereka juga pasti keluar." Hibur Jack.
Ceklekk!
Bunyi pintu ruangan IGD.
Dokter keluar dari pintu kemudian Austin segera beranjak mendekatinya.
"Dok, bagaimana keadaan istri saya?" Tanya Austin.
"Kami sudah membersihkan luka-lukanya, ada sedikit jahitan di kepalanya, mungkin akibat benturan benda tumpul. Tapi itu tidak berbahaya karena lukanya tidak terlalu dalam." Jelas dokter.
Austin bernapas lega. "Baik dokter, terima kasih." Ujar Austin.
"Oiya, sepertinya istri anda sedang hamil, anda harus membawanya periksa ke dokter obgyn setelah dia sadar." Ujar dokter kembali.
Deg!
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1
Sahabat Author yang baik ❤️
Jika kalian suka dengan cerita ini, Jangan lupa, Like, Komen, Hadiah, Dukungan dan Votenya ya! 🙏🙏🙏