
"Sorry." Singkat Jack merasa bersalah mengganggu mereka. Ia kembali berbalik dan membuka pintu.
"Mau kemana lagi Lo? masuk nggak ketuk pintu." Kesal Austin melihat Jack ingin keluar kembali.
"Maaf bos! lebih baik gw keluar aja, takut ganggu." Ujar Jack menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Masuk." Perintah Austin.
Jack masuk kemudian duduk di sofa.
"Lo sudah urus semuanya?" Tanya Austin.
"Sudah." Singkat Jack.
"Jack, Dodi mana?" Tanya Anastasya karena biasanya melihat mereka selalu bertiga.
"Dodi sudah kembali ke Jakarta." Jawab Jack melihat Anastasya.
Anastasya mengangguk kemudian memperbaiki posisi tidurnya.
............
Di tempat Lain.
Kanaya dan Radit ikut menyusul tinggal di Jakarta bersama Damian setelah seminggu Anastasya menghilang. Kanaya membujuk Weni untuk mengizinkannya tinggal di sana dengan alasan untuk mengurus Damian karena Anastasya tidak mungkin kembali.
Damian hanya pasrah dan sudah tidak perduli dengan apa yang dilakukan oleh Weni dan Kanaya karena fokus mencari keberadaan Anastasya.
Mobil Anastasya yang berada di Bandung juga sudah ada di Jakarta dan Kanaya lah yang sering memakainya.
Meskipun tidur di kamar terpisah tapi Kanaya tidak pernah lelah untuk mendekati Damian. Bagi Kanaya tidak masalah jika dia diabaikan yang penting dia sudah berada di rumah utama layaknya istri satu-satunya.
"Mas sarapan dulu yuk! Mbok Siti sudah meyiapkan sarapan untuk kita." Ajak Kanaya dengan nada manja saat melihat Damian keluar dari kamar.
"Aku sarapan di kantor saja." Tolak Damian dengan wajah datarnya kemudian menuju kamar Radit. Setiap hari ia sempatkan bermain dengan anaknya sebelum berangkat kerja. Hanya Radit satu-satunya yang bisa menghiburnya saat ini. Semuanya terasa hampa tanpa kehadiran Anastasya di sisinya. Tubuhnya mulai kurus dan rambut halus mulai tumbuh di dagu dan pipinya.
Setelah puas bermain dengan Radit, Damian keluar dari kamar.
"Kamu mau berangkat kerja?" Tanya Weni.
"Ia Mah!" Singkat Damian. Semenjak kepergian Anastasya ia hanya bicara seperlunya saja dan tidak pernah mengawali obrolan dengan orang lain.
"Mas, aku ikut ya?" Melas Kanaya.
"Ngapain ikut? lebih baik kamu di rumah jaga Radit dari pada menggangguku di kantor." Kesal Damian, dia sudah tahu maksud Kanaya menemaninya ke kantor.
Kali begitu akhir pekan kita ajak Radit jalan-jalan ke Mall ya? Selama di Jakarta kamu nggak pernah ajak kami jalan-jalan." Bujuk Kanaya.
"Kamu saja yang pergi dengan Radit, sekalian ajak Mama." Ujar Damian kemudian keluar meninggalkan Kanaya dan Weni.
__ADS_1
"Kamu harus sabar sayang..! Dia pasti akan jadi suamimu satu-satunya, Tasya nggak mungkin kembali lagi kan? buktinya sudah sebulan lebih dia belum juga pulang." Ujar Weni.
"Ia Mah, aku juga yakin, Tasya pasti tidak bisa menerima semuanya dan memilih untuk pergi." Ujar Kanaya.
Damian menyalakan mesin mobilnya kemudian menuju perusahaan dan berharap suatu saat Anastasya akan mencarinya di kantor. "Kamu dimana sayang! kenapa menghukum ku seberat ini? aku tau aku salah, maafkan aku!" Monolog Damian menggenggam setir mobil dengan kuat.
Setelah beberapa menit, Damian masuk ke dalam perusahaan seperti biasanya dengan wajah penuh wibawa dan dinginnya fokus melangkah. Ia masuk ke ruangannya kemudian memulai pekerjaannya.
Saat jam makan siang, Damian mengajak Geri keluar dari kantor menuju salah satu Cafe & resto di depan kantornya. Mereka memesan makanan kemudian menikmatinya karena tidak sempat sarapan. Setelah makan, ia mengambil ponselnya lalu menghubungi Kemal anak buahnya.
"Halo Tuan." Jawab Kemal di seberang sana.
"Apa sudah ada kabar dari Istri ku?" Tanya Damian.
"Maaf Tuan, belum." Jawab Kemal.
"Bodoh! apa saja kerjaan kalian? Kenapa
mencari istriku saja kalian tidak becus? Jika kalian tidak segera menemukannya. Pekan depan kalian aku pecat!" Kesal Damian. Entah sudah ke berapa kalinya Damian memaki anak buahnya yang menurutnya tidak bisa diandalkan lagi.
"Tasya.... kamu dimana sih!" Damian mengusap wajahnya dengan kasar.
"Sabar Bos! Ibu Tasya pasti ketemu. Aku yakin dia baik-baik saja, dia wanita yang kuat dan pintar." Nasihat Geri.
Damian menghela napas kemudian mengambil ponselnya "Ayo kita kembali ke kantor." Ajak Damian lebih tenang. Hanya Geri yang bisa diajaknya bicara dan mampu menenangkan sedikit pikirannya.
Damian menuju kasir kemudian membayar makanannya lalu kembali ke kantor.
"Maaf Pak, ada Tuan Dodi ingin bertemu." Lapor sekertaris Anastasya bernama Shintia. Namun karena tidak ada Anastasya, Damian memintanya menggantikan Anastasya sebagai sekertarisnya.
"Tuan Dodi?" Damian mengernyitkan keningnya merasa tidak mengenalnya dan tidak memiliki bisnis dengan Dodi.
"Tuan Dodi asisten pribadi Tuan Austin dari perusahan Royal Group." Jelas Shintia.
"Ada urusan apa orang itu ingin bertemu denganku?" Tanya Austin.
"Katanya tentang Ibu Anastasya." Jawab Shintia.
Mendengar nama istrinya, Damian langsung bangkit dari kursinya "Suruh dia masuk." Perintah Damian.
Shintia keluar dari ruangan Damian kemudian mempersilahkan Dodi untuk masuk.
"Selamat siang Tuan Damian." Sapa Dodi mengulurkan tangannya.
"Siang, Silahkan duduk." Sahut Damian membalas uluran tangan Dodi.
"Langsung saja Tuan, Saya kesini atas permintaan bos saya, untuk menyampaikan bahwa saat ini istri Anda dirawat di rumah sakit Medical Center Bandung." Ucap Dodi.
"Anastasya di rumah sakit? apa anda yakin itu istri saya?" Tanya Damian penuh semangat.
__ADS_1
"Iya Tuan saya sangat yakin." Ini Istri Tuan kan?" Tanya Dodi memperlihatkan foto Anastasya sedang tidur yang baru saja dikirim Austin padanya.
"Tasya!" Lirih Damian, ia mengusap wajahnya dengan kasar, istri yang selama ini di carinya ternyata masuk rumah sakit dan dia tidak mengetahuinya.
"Kenapa Istriku bisa masuk rumah sakit?"Tanya Damian.
"Istri Tuan mencoba bunuh diri." Ujar Dodi.
Deg!
Damian tersentak kaget, ia tidak menyangka jika Istrinya akan nekad mengakhiri hidupnya karena mengetahui pernikahan keduanya dengan Kanaya.
"Bagaimana keadaannya?" Tanya Damian.
"Seperti yang Anda liat, dia sudah lebih baik, tapi dia mengalami amnesia, dia tidak mengingat siapapun termasuk Anda. Untuk lebih jelasnya Anda bisa bertanya pada dokter yang menanganinya." Jelas Dodi.
Damian terdiam, dia merasa semakin bersalah dengan keadaan Anastasya.
"Baiklah, hanya itu yang ingin saya sampaikan, Permisi Tuan." Dodi sedikit membungkuk.
"Terimakasih, aku akan ke sana menjemputnya." Ujar Damian.
Dodi keluar dari ruangan Damian kemudian kembali ke Royal Group. Dodi lebih dulu kembali ke Jakarta karena harus menghadiri meeting dengan klien menggantikan Austin yang tidak mau meninggal Anastasya. Meeting yang memberinya keuntungan puluhan milyar namun ia abaikan karena masih ingin bersama Anastasya.
Setelah kepergian Dodi, Damian langsung mengambil tas dan ponselnya kemudian keluar menuju ruangan Geri.
Geri langsung menatap Damian karena masuk ruangannya dengan tergesa-gesa.
"Gw sudah menemukan Tasya, gw akan menjemputnya di Bandung. Lo urus kantor bersama Shinta, mungkin gw akan lama di sana karena dia masih di rumah sakit." Jelas Damian berbinar.
"Ibu Tasya masih di Bandung? Pantesan aja kita kesulitan menemukannya, ternyata dia di rumah sakit." Tanya Geri mengernyitkan keningnya.
"Iya, makanya sekarang gw mau ke sana. Jika Mama dan Kanaya menanyakan gw, jangan bilang kalo gw ke Bandung. Bilang aja gw ke Surabaya karena ada masalah proyek di sana." Jelas Damian.
"Oke bos!" Ujar Geri.
Setelah meninggalkan pesan pada Geri, Damian meninggalkan kantornya. Ia duduk di dalam mobil memasang seat belt kemudian melajukan kendaraannya menuju Bandung saat itu juga.
...........
.
.
.
Bersambung...
Sahabat Author yang baik ❤️
__ADS_1
Jangan lupa, Like, Komen, Hadiah, Dukungan dan Votenya ya! 🙏🙏🙏