Wanita Kedua Suamiku

Wanita Kedua Suamiku
Meninggalkan rumah Ibu


__ADS_3

"Ayo sayang, kita masuk." Ajak Austin masuk kedalam rumah. Ia mengunci pintu rumah lalu merangkul bahu Istrinya menuju kamar.


"Aku kesel banget sama Rihana, bisa-bisanya dia menuduh gw janda." Kesal Anastasya mengerucutkan bibirnya. Ia sangat lelah berdebat dengan perempuan macam Rihana yang nggak mau kalah meskipun sudah bersalah.


"Sudahlah sayang..! yang penting kan kamu bukan janda beneran. Sudah punya suami yang tampan dan kaya kayak aku." Goda Austin mengedipkan sebelah matanya. Lalu menarik Anastasya menuju tempat tidur.


"Ah, kamu nakal sayang..!"


"Nakal sama istri pahala sayang, sekarang giliran kamu yang menyenangkan hati suami biar dapat pahala juga. Aku ingin kamu pakai baju yang di belikan Mommy. Yang warnah merah itu." Tunjuk Austin kearah lemari.


"Hah..?"


"Ayolah sayang, Cepetan! Udah nggak tahan nih..!" Melas Austin dengan napas yang mulai memburu.


Anastasya berdiri lalu mengambil lingerie merah dan memakainya. Dengan perlahan ia berjalan bak model seksi diatas catwalk menghampiri Austin.


"Kamu membuatku gila sayang, kamu sangat cantik!" Puji Austin pangling melihat pemandangan indah di depan matanya.


Austin langsung berdiri mengelus pipi Anastasya yang merona. Ia menahan tengkuk Anastasya lalu menciumnya dengan lembut dan semakin dalam. Tidak lupa tangan Austin sudah bergerak ke area favoritnya, hingga pada titik yang mampu membuat Anastasya mengeluarkan suara erotis. Austin berhenti sejenak lalu kembali menatap tubuh istrinya dari atas kebawah, keatas kembali lalu membaringkannya di atas tempat tidur.


Kini Anastasya di bawah kungkungannya. Wajah Anastasya merona saat Austin kembali menatap tubuhnya yang hanya berbalut kain tipis.


"Kamu sangat seksi sayang.." Lirih Austin.


Keduanya saling menikmati dan saling berbagi peluh. Biarlah mereka berdua yang mengetahui apa yang terjadi selanjutnya.


"Night my love." Ujar Austin mengeratkan pelukannya saat Istrinya mulai tertidur karena kelelahan.


Pagi hari yang cerah, Anastasya dan Austin menikmati sarapan. Austin sudah siapa ke kantor dengan setelan jas mahalnya.


"Sayang, kamu nggak apa-apa sendirian di rumah?" Tanya Austin.


"Nggak sayang..! aku harus membereskan barang-barang kita. Kita akan pindah ke apartemen." Jawab Anastasya.


"Baiklah, kamu bereskan semuanya, nanti siang aku menjemputmu untuk pindah. Seandainya nggak ada meeting pagi ini, aku akan membantumu di sini." Ujar Austin menyelesaikan makanannya.


"Nggak usah sayang, aku bisa melakukannya sendiri. Tuh, sepertinya Jack sudah datang." Ujar Anastasya saat mendengar suara klakson mobil.


"Aku pergi dulu, hubungi aku jika terjadi sesuatu atau jika ada yang datang mengganggu mu, termasuk Rihana itu." Kesal Austin.


"Ia, aku tau sayang..!" Anastasya menggandeng lengan Austin keluar dari rumah.


Austin mencium kening Anastasya, lalu Anastasya mencium tangannya.


"Bye-bye sayang..!" Ujar Anastasya melambaikan tangannya.


Jack melajukan mobilnya membelah ibu kota menuju perusahaan.


Sedangkan Anastasya memasukkan barang-barangnya ke dalam koper. Ia menatap sekeliling rumah dengan seksama. Rasa rindunya pada kedua orang tuanya sedikit terobati.


Setelah semuanya beres, ia membawa kopernya menuju ruang tamu, lalu masuk ke kamar untuk istirahat.


Tak terasa waktu sudah siang, Anastasya bangun dari tidurnya lalu membersihkannya diri. Setelah mandi dan pakaian ia mengambil ponselnya lalu menghubungi Austin.


"Halo" Jawab Austin di layar ponsel. Ia tersenyum menatap wajah istrinya yang tampak segar dengan rambut yang belum terlalu kering.


"Kamu habis mandi ya?" Tanya Austin.


"Kok kamu tau?" Tanya Anastasya.

__ADS_1


"Tuh, rambut kamu masih basah. Jadi pengen langsung pulang dan ajak kamu main." Puji Austin menggoda.


Jack yang lagi menyetir mendelik kesal pada bosnya yang arogan itu.


'Dasar bos sialan! omongannya membuatku ikut ingin bermain. Ah, tapi aku main dengan siapa? Sepertinyabnanti malam gw harus ke Club deh!' Batin Jack.


"Kamu di jalan ya?"


"Iya sayang."


"Sudah makan?" Tanya Anastasya kembali.


"Belum sayang, aku pengen makan kamu aja." Goda Austin kembali.


Jack yang mendengarnya langsung mengeluarkan lidahnya ingin muntah. 'Dasar gombal.' Batin Jack.


"Ih, mulai deh..!" Anastasya merona lalu tersenyum.


"Sebentar lagi aku sudah sampai, kamu siap-siap aja." Ujar Austin tersenyum lebar.


Setelah sambungan telepon seluler terputus, Austin melirik Jack. "Lo dengar kan Jack? Betapa indahnya memiliki istri, pengennya pulang ke rumah terus dan bisa main kapan aja. Nggak kayak Lo, nunggu Club buka dulu baru bisa main." Ejek Austin.


"Bos sialan Lo!" Umpat Jack.


"Makanya cari istri, jangan cari ****** terus." Ejek Austin kembali.


"Gw belum mau terikat bos! Perempuan itu ngerepotin." Kesal Jack.


"Siapa bilang? Tasya nggak!" Sergah Austin.


"Barusan gw yang bilang!" Ujar Austin kesal.


"Saya nungguin bos di sini?" Tanya Jack setelah menghentikan mobilnya di depan rumah Anastasya.


"Nggak usah, emangnya Lo mau nungguin gw bercinta dengan istri gw?" Tanya Austin dengan seringai licik di wajahnya. Ia paling senang jika melihat Jack sedang kesal.


"Brengsek Lo!" Kesal Jack memukul stir mobil dengan wajah yang memerah. Jack keluar dari mobilnya dengan kesal lalu membuka pintu mobil untuk Austin.


"Lo balik ke kantor aja. Besok pagi jemput gw di apartemen." Ujar Austin setelah turun dari mobil.


"Lo mau pindah ke sana?" Tanya Jack semangat.


"Iya" Singkat Austin.


"Baguslah." Ujar Jack menghela napas lega. Menurutnya bosnya memang tidak cocok tinggal di tempat yang seperti ini.


Austin mengetuk pintu rumah lalu masuk bersama Anastasya. Austin duduk di sofa sedangkan Anastasya menuju dapur dan mengambilkan air minum untuk Austin.


"Gimana sayang, apa semuanya sudah siap? Nggak ada yang kelupaan kan?" Tanya Austin setelah minum.


"Sudah sayang." Jawab Anastasya dengan wajah sedih. Matanya sudah mulai berkaca-kaca mengedarkan pandangannya.


"Jangan sedih, kita akan sering-sering kesini." Bujuk Austin menghapus air mata Anastasya.


"Aku sedih karena meninggalkan rumah Ibu." Lirih Anastasya lalu memeluk Austin.


"Ia sayang aku tau, tapi kita juga nggak bisa tinggal di sini. Ayo kita berangkat." Ajak Austin.


Austin mengambil koper lalu memasukkannya ke dalam mobil. Setelah semuanya beres, ia melajukan mobilnya menuju apartemen Hills.

__ADS_1


Saat sampai di apartemen Anastasya langsung masuk kamar dan menyimpan barang-barangnya. Sedangkan Austin mengambil ponselnya lalu memesan makanan untuk mereka.


Setelah beberapa menit, makan yang di pesan Austin tiba, ia mengambilnya di depan pintu lalu menyiapkannya diatas meja makan.


Austin masuk ke dalam kamar lalu mengajak Anastasya untuk makan.


"Kamu menyiapkan semua ini?" Tanya Anastasya berbinar melihat banyak makanan di meja makan.


"Aku delivery sayang." Jawab Austin.


"Oo.. aku pikir kamu yang masak semuanya." Ujar Anastasya sambil duduk di kursi meja makan.


Mereka pun menikmati makanan tanpa bersuara. Setelah selesai makan, Anastasya membersihkan bekas makanan di meja lalu mencucinya.


Austin duduk di sofa ruang sambil menghubungi Dodi membahas masalah pekerjaan.


Anastasya berjalan mendekat lalu meletakkan secangkir kopi dan cemilan di meja. Sambil menunggu Austin selesai menelpon, ia mengambil ponselnya lalu mengirim pesan pada Tirta lewat aplikasi.


[Kamu di mana?]


[Masih di kantor.]


[Jangan lupa, jam 6.]


[Iya, sekarang aku lagi menunggu Pak Mulyono.]


[Baiklah, sampai ketemu di sana.]


Saat Anastasya membalas pesan Tirta yang terakhir, kedua tangan Austin melingkar di pinggangnya.


"Serius amat!" Bisik Austin di telinga Anastasya. Ia mengecup leher Anastasya dengan lembut.


"Sayang..! jangan sekarang, kita harus ke rumah Damian, Sebentar lagi Tirta akan ke sana." Tolak Anastasya dengan lembut.


"Berhentilah sebut nama itu sayang. Aku sangat tidak suka mendengarnya, dia telah menyakiti wanita yang sangat aku cintai." Kesal Austin lalu meminum kopi latte nya.


"Ini yang terakhir kalinya aku menginjakkan kaki di sana." Ujar Anastasya.


"Hehehe, Tentu saja sayang, kamu kan sudah menjualnya." Kekeh Austin memegang pipi Anastasya dengan kedua telapak tangannya.


"Ia juga ya, maksud aku berurusan dengan mereka." Ralat Anastasya setelah berpikir.


Austin melihat jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Ayo sayang, kita berangkat sekarang. Aku jadi penasaran melihat bagaimana wajah Damian dan keluarganya saat di usir dari rumah." Semangat Austin dengan seringai licik di wajahnya.


"Ayo!" Anastasya tersenyum sambil melingkarkan tangannya di lengan Austin.


.


.


.


Bersambung.....


Sahabat Author yang baik ❤️


Jika kalian suka dengan cerita ini, Jangan lupa, Like, Komen, Hadiah, Dukungan dan Votenya ya! 🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2