
Deg!
Austin tertegun, ia tidak menyangka akan memiliki anak bersama Anastasya secepat ini.
"Tuan, Anda baik-baik saja?" Tanya dokter.
"Ia dok, saya baik-baik aja. Apa benar istri saya hamil?" Tanya Austin kembali.
"Ia, saya yakin, tapi untuk lebih pastinya anda harus memeriksanya." Yakin Dokter.
"Kapan saya bisa melihat istri saya dok?" Tanya Austin berbinar.
Perasaannya sekarang campur aduk, ada rasa bahagia karen Anastasya hamil, lega karena Anastasya baik-baik saja, dan juga khawatir karena Anastasya belum juga sadar.
"Sebentar lagi suster akan memindahkannya di kamar rawat inap, Permisi." Jawab Dokter kemudian kembali masuk ke dalam ruangan IGD.
"Jack, kamu denger apa kata dokter?" Tanya Austin antusias.
"Denger bos!." Jawab Jack.
"Syasya ku hamil! sebentar lagi aku akan jadi Daddy." Ujar Austin.
"Aku juga akan jadi paman bos!" Semangat Jack.
"Nggak sia-sia gw bercocok tanam tiap malam, ternyata secepat ini membuahkan hasil." Lirih Austin berbinar menyunggingkan senyum di bibirnya.
Jack langsung mendelik, untung saja di sana tidak ada orang lain selain mereka berdua. "Jangan mulai deh bos! ini rumah sakit." Kesal Jack.
"Hehehe. Hebat juga gw, Damian menikah dengannya selama tiga tahun tapi tidak bisa membuatnya hamil, sedangkan gw, hanya dalam hitungan bulan dia sudah hamil." Ujar Austin.
"Kok bisa ya bos? " Penasaran Jack.
"Iya juga ya? tapi dia bisa memiliki anak dari Kanaya." Pikir Austin.
"Iya, heran gw. Ah..! kenapa kita memikirkan Damian?" Kesal Jack.
Tidak lama kemudian, perawat memindahkan Anastasya ke kamar rawat inap VVIP rumah sakit. Perawat keluar dari kamar setelah semuanya selesai dan pamit pada Austin dan Jack.
Setelah kepergian perawat, Austin mengambil kursi lalu duduk di sisi brankar.
"Sayang..! sadarlah sekarang kamu akan menjadi seorang ibu. Itu yang selalu kita impian sayang. Sekarang bangunlah demi anak kita. Jangan biarkan dia ikut merasakan sakit. Maafkan aku tidak tau jika kamu hamil. Seandainya aku tau aku tidak akan membiarkanmu pergi sendiri meskipun kamu melarangku. Ayolah sayang buka mata mu." Lirih Austin membelai puncak kepala Anastasya lalu mencium keningnya, ia juga mencium perut rata Anastasya lalu menggenggam tangannya.
Satu jam berlalu, Anastasya membuka mata dengan perlahan. Ia melihat Austin sedang duduk tertunduk menggenggam tangan kirinya.
"Sayang..! aku haus." Lirih Anastasya sambil menggerakkan tangannya.
Austin mengangkat kepalanya lalu tersenyum melihat Anastasya. "Kamu sudah sadar sayang?" Tanya Austin. Hatinya sangat senang dan bahagia melihat wanita yang sangat di cintainya telah sadar.
Austin segera berdiri lalu mengambil air minum dan memberinya pada Anastasya.
"Sudah cukup." Ujar Anastasya mendorong pelan gelas yang di pegang Austin.
"Kamu mau makan sayang?" Tanya Austin.
__ADS_1
"Ia, rasanya aku sangat lapar. Aku ingin makan nasi padang, yang sambelnya ijo." Ujar Anastasya.
"Jack, pesankan makanan untuk Tasya. Nasi Padang sambal ijo. Pesan tiga sekalian." Perintah Austin.
"Aku ingin Jack yang pergi beli sayang..!" Ujar Anastasya.
"Kenapa harus Jack sayang? kan sama saja di pesan langsung atau Jack yang beli, sama-sama di bungkus kan?" Tanya Austin.
Anastasya menggeng "Aku tidak mau makan jika bukan Jack yang beli." Anastasya mengerucut bibirnya.
Austin terdiam sejenak, 'apa ini karena dia hamil? makanya permintaannya harus Jack yang beli? kenapa bukan aku yang di suruh beli?' Batin Austin cemburu pada Jack.
"Kamu dengar Jack?" Ujar Austin.
"Dengar Bos! Baiklah tunggu sebentar bucan, Nasi Padang dari abang Jack akan datang." Ujar Jack lalu berbisik di telinga Austin, "Bos sepertinya ponakan ku akan mirip dengan ku." Canda Jack kemudian secepatnya keluar dari ruangan sebelum Austin mengamuk padanya.
"Sayang kita ke dokter obgyn ya?" Bujuk Austin.
Austin sudah tidak sabar ingin memastikan Anastasya benar-benar hamil atau hanya dugaan dokter saja.
"Untuk apa? tidak ada masalah dengan rahim ku karena kecelakaan ini kan?" Tanya Anastasya mulai khawatir.
"Tidak sayang, semuanya baik-baik aja, cuma pesan dokter yang menangani mu di IGD, kita harus periksa untuk memastikan." Jawab Austin.
"Memastikan apa?" Tanya Anastasya.
"Nanti juga kamu tau di sana, kamu mau kan di periksa?" Tanya Austin balik.
"Baiklah! jika kamu yang mintanya, mana bisa aku menolaknya." Jawab Anastasya dengan pasrah.
"Dokter, tolong periksa istri saya, apa dia beneran hamil atau tidak." Ujar Austin saat mereka sedang duduk di hadapan seorang dokter cantik.
"Hamil?" Tanya Anastasya heran.
"Baiklah, mari Bu! silahkan berbaring di sini, kita akan buktikan apa ibu hamil atau belum." Ujar dokter tersenyum.
Austin mengangkat Anastasya ala bridal style naik ke brankar.
"Hati-hati sayang..!" Ujar Austin.
Kini Anastasya sedang berbaring di brankar. Ia tidak tau apa yang akan di lakukan oleh dokter dan suster padanya.
saat suster mengangkat baju yang di pakainya, ia menahannya karena malu.
"Tidak apa-apa Bu! hanya di oleskan gel sedikit." Ujar dokter.
Anastasya pasrah dan membiarkan suster berbuat semuanya.
"Tuan, Istri Anda memang sedang hamil, kehamilannya baru memasuki minggu ke dua. Tuan bisa melihatnya di sini." Tunjuk dokter pada layar di ruangannya.
"Apa bayi saya baik-baik aja dok? istriku baru saja mengalami kecelakaan." Tanya Austin sambil melihat layar.
"Kondisi kandungannya baik-baik saja, Anda tidak perlu khawatir. Saya akan buatkan resep obat agar janinnya kuat dan sehat." Tutur Dokter.
__ADS_1
Austin dan Anastasya sangat bahagia melihatnya calon bayinya, air mata Anastasya menetes saat itu juga. Kehadiran seorang anak diantara keluarganya merupakan anugerah terindah dari Tuhan yang di berikan untuknya.
"Sayang jangan menangis..!"
Austin mengelus puncak kepala Anastasya.
"Hikss, hikss, Aku bahagia sayang, akhirnya aku akan menjadi seorang Ibu." Ujar Anastasya lalu memeluk Austin.
"Aku juga sayang, kamu harus jaga kandungan kamu denga baik." Nasihat Austin.
Dokter membuatkan resep obat penguat kandungan dan anti mual serta vitamin untuk tumbuh kembang anak di dalam kandungan.
Setelah memeriksa kandungan, mereka kembali ke ruangan rawat inap Anastasya.
Disana sudah ada Jack yang sedang menunggu kedatangan mereka.
"Kamu sudah lama Jack?" Tanya Austin.
"Lumayan, habis satu porsi nasi padang." Jawab Jack tanpa merasa bersalah makan lebih dulu.
Jack menyerahkan dua kotak nasi padang pada Austin.
"Mau di suap?" Tanya Austin.
"Nggak usah, kamu juga makan, pasti sekarang kamu juga sudah lapar."
Anastasya mengambil makanan dari tanga Austin kemudian melahapnya dengan semangat.
"Pelan-pelan aja sayang, Aku dan Jack nggak akan minta kok." Ujar Austin sambil menikmati makanannya.
"Mmm... ini enak banget Jack, kamu beli di mana?" Tanya Anastasya.
"Di depan sana, nggak jauh dari rumah sakit ini." Ujar Jack.
"Kalo nggak jauh belikan aku seporsi lagi." Pinta Anastasya.
Austin mendelik menatap Anastasya. "Sya.. kamu belum kenyang?" Tanya Austin.
"Hehehe, sekarang sih sudah. Itu hanya untuk persediaan jika aku tiba-tiba lapar." Jawan Anastasya.
"Hah, terserah kamu, Jack belikan lagi sebelum kamu pulang." Tegas Austin.
"Oke bos." Balas Jack sambil memeriksa email yang masuk di ponselnya, "Bos, hasil meeting sudah Dodi kirim, aku akan memeriksanya sebentar." Lapor Jack kemudian fokus pada ponselnya.
.
.
.
Bersambung...
Sahabat Author yang baik ❤️
__ADS_1
Jika kalian suka dengan cerita ini, Jangan lupa, Like, Komen, Hadiah, Dukungan dan Votenya ya! 🙏🙏🙏