
Setelah kepergian ibu Rita mereka menuju meja makan. Austin sangat menikmati setiap makanan yang di sajikan oleh Anastasya.
Mereka kembali ke ruang tamu untuk menghabiskan waktu sambil bercanda.
"Kamar yuk?" Melas Austin menyandarkan kepalanya di baku Anastasya.
"Kamu sudah mau tidur?" Tanya Anastasya.
"Tentu tidak sayang. Aku mau bercocok tanam dulu." Melas Austin langsung mengangkat Anastasya menuju kamar lalu meletakkannya diatas peraduan.
Kamar yang kecil serta tempat tidur yang sangat biasa, serta AC yang sudah lama tidak di ganti, menjadi saksi percintaan mereka berdua. Keduanya saling menghangatkan penuh gairah hingga saling mengeluarkan pelepasan bersama-sama. Keduanya berpelukan setelah melakukan pergulatan dua kali malam ini.
"Makasih sayang, aku suka gaya yang tadi. Kamu sangat seksi dan menggairahkan." Goda Austin mengedipkan sebelah matanya.
Seketika Anastasya merona menarik selimut menutupi seluruh wajahnya. Bagaimana tidak, Austin menyuruhnya berada diatas dan dia sangat menikmati itu.
"Dasar mesum!" Kesal Anastasya.
"Tapi kamu suka kan?" Balas Austin.
Mereka saling berpelukan menutup mata hingga pagi hari menjelang.
Suara kicau burung mulai terdengar di telinga Anastasya. Anastasya bangun dari tidurnya lalu segera menuju kamar mandi.
Setelah berpakaian, Ia menuju dapur untuk mempersiapkan sarapan. Untung saja kemarin ia memesan beberapa bahan makanan lewat aplikasi online. Dengan bahan itu, ia membuat roti panggang isi telur, keju, dan sosis serta secangkir kopi untuk Austin, sedangkan untuknya roti dan segelas susu.
Anastasya kembali ke kamarnya untuk membangunkan Austin.
"Sayang bangun!" Anastasya menepuk lengan Austin lalu mencium keningnya.
Austin terbangun melihat bidadari kesayangannya berada di sisi tempat tidur. Ia segera menariknya lalu mendaratkan ciuman di bibir manis istrinya.
"Morning kiss sayang..! biasakan melakukan itu tiap pagi sayang." Ujar Austin lalu beranjak menuju kamar mandi.
"Iya sayang, cepat mandi." Saahut Anastasya.
"Kamu sudah mandi?" Tanya Austin sebelum menutup pintu kamar mandi.
"Sudah kenapa?"
"Aku kira belum, baru aja aku mau ajak kamu mandi." Jahil Austin.
"Sudah sayang..! mandilah! pakaianmu sudah aku siapkan di atas tempat tidur." Ujar Anastasya di depan cermin.
Setelah beberapa menit Austin mandi, ia keluar dengan lilitan handuk di pinggangnya. hanya sebagian bagian tubuhnya yang tertutupi. Anastasya seketika bengong melihatnya.
"Jauhkan pikiran kotormu jika tidak ingin aku memakanmu sebagai sarapan pagi ku." Ujar Austin menenggelamkan wajahnya di leher Anastasya.
"Sayang..! aku ikut ya? aku ada janji dengan Tirta nanti siang." Bujuk Anastasya.
"Boleh, tapi ada syaratnya." Jahil Austin.
"Apa." Tanya Anastasya.
__ADS_1
"Aku ikut." Tegas Austin tak
"Aku memang mau ajak kamu, sayang." Anastasya mencium pipi Austin.
"Ada urusan apa dengan Tirta. Dia pengacara kamu waktu itu kan?" Tanya Austin.
"Aku menyuruhnya menjual rumahku yang di tempati Damian dan keluarganya." Ungkap Anastasya.
"Untuk apa berurusan dengan mereka lagi sayang..? aku bisa membelikanmu seratus kali lipat dari harga rumah itu." Kesal Austin.
"Bukan masalah nilainya, sayang..! Rumah itu hasil keringatku, hasil kerja kerasku selama bekerja di perusahaan Damian. Aku tidak rela hasil keringatku dinikmati oleh para penghianat seperti mereka." Jelas Anastasya.
"Kamu masih dendam dengan mereka?" Selidik Austin.
"Sedikit." Singkat Anastasya.
"Kamu yakin akan membalas mereka?" Tanya Austin kembali.
"Ya." Yakin Anastasya.
"Baiklah, aku akan membantumu menghancurkan Damian. Mari kita mulai permainannya. Sudah lama aku tidak menghancurkan perusahaan orang lain."
"Apa kamu mampu?" Tanya Anastasya menatap mata Austin.
"Jangan anggap remeh kemampuan suamimu ini, sayang..! Aku bisa menghancurkan perusahaannya dan membuat Damian bertekuk lutut minta maaf padamu." Tegas Austin dengan seringai licik di wajah tampannya.
"Baiklah, aku percaya padamu. Ayo kita sarapan, cacing di perut ku sudah pada demo." Anastasya menggandeng tangan Austin menuju meja makan.
Diluar Jack ternyata sudah menunggu mereka dengan mobil yang lain.
"Kok ada Jack sayang?" Tanya Anastasya.
"Kamu tau sendiri kan, kalo aku kemana-mana bersam Jack, kalo mobil yang itu sengaja aku simpan di rumah untuk kamu." Jelas Austin lalu menunjuk mobilnya yang ada di halaman rumah.
"Kalo tau gini, aku perginya nanti siang aja." Anastasya mengerucutkan bibirnya.
"Nggak apa-apa sayang..! Sekalian temenin suamimu kerja." Ujar Austin sambil masuk ke dalam mobil di ikuti Anastasya. Jack menutup pintu mobil kemudian menuju Royal Group.
Setelah tiga puluh menit, akhirnya.mereka tiba dia perusahaan. Jack memarkirkan mobilnya di depan pintu lobi lalu membukakan pintu untuk Austin dan Anastasya.
Austin dan Anastasya masuk ke dalam perusahaan sambil bergandengan tangan, sedangkan Jack mengikuti langkah mereka dibelakang hingga memasuki lift khusus untuk CEO.
Pandangan seluruh karyawan tertuju pada pasangan suami istri itu. Baru kali ini bos mereka datang ke perusahaan membawa seorang wanita yang cantik, anggun dan elegan. Apa lagi wanita itu dengan beraninya menggandeng tangan bos mereka dengan mesranya.
"Sayang, kamu nggak liat bagaimana mata karyawan mu menatap ku? Aku seperti ingin diterkam oleh mereka." Ujar Anastasya saat mereka sudah berada di dalam lift.
"Mereka pasti cemburu karena aku memilihmu menjadi istriku." Sahut Austin.
Ting..!
Lift terbuka dan mereka segera keluar menuju ruangan Austin.
Tanpa memperdulikan tatapan karyawan yang lain mereka memasuki ruangan Austin sedangkan Jack kembali ke ruangannya.
__ADS_1
Anastasya duduk di sofa menunggu Austin menyelesaikan pekerjaannya. Pria tampan dan sempurna dengan sejuta pesona kini menjadi miliknya. Ia menatap Austin dengan kagum, ia baru menyadari bahwa sekarang dirinya sudah menjadi seorang nyonya Austin saat melewati karyawan yang entah berapa banyak jumlahnya.
"Kenapa menatap ku seperti itu sayang?" Tanya Austin.
Anastasya tersenyum sambil geleng-geleng kepala.
"Kamu pasti kagum dengan ketampanan suamimu ini, iya kan?" Tebak Austin.
"PD amat!" Ketus Anastasya lalu tersenyum setelahnya.
"Sini! bantu aku menyelesaikan kerjaan ku." Panggil Austin agar Anastasya mendekat ke mejanya.
Anastasya berdiri mendekati meja. Belum sempat ia duduk di kursi, Austin segera menariknya duduk di pangkuannya. Austin memeluknya dari belakang lalu mengerjakan pekerjaannya dengan satu tangan, sedangkan tangan yang lainnya melingkar di pinggang Anastasya.
Tok.. tok.. tok..!
Dodi mengetuk pintu kemudian langsung masuk kedalam. ia sempat menghentikan langkahnya lalu kembali berbalik membuka pintu untuk keluar.
"Masuk! Nggak usah keluar." Perintah Austin tanpa melepaskan Anastasya.
Dengan langkah kesal, Dodi menghampiri mereka, meletakkan berkas yang menumpuk diatas meja kerja Austin.
"Ini berkas yang harus anda tanda tangani bos." Ujar Dodi.
"Tinggalkan di situ saja."
"Baiklah, aku permisi bos." Pamit Dodi, ia melihat sekilas kearah Anastasya yang sedang tersenyum malu padanya.
Tidak lama setelah kepergian Dodi, Austin dan Anastasya keluar dari ruangan menuju lift.
Ting!
Pintu lift terbuka, mereka keluar dari lift menuju lobi.
"Sayang, aku ke toilet sebentar ya? aku udah kebelet, kamu duluan aja ke mobil." Ujar Anastasya kemudian berlari kecil menuju toilet.
Bug!
Anastasya menabrak tubuh seseorang.
Maaf aku buru-buru, udah nggak tahan." Ucap Anastasya lalu segera masuk ke dalam toilet tanpa melihat jelas siapa yang sedang ia tabrak.
"Hei! dasar kurang ajar, keluar Lo!" Kesal Rihana menggedor pintu toilet sambil berteriak.
"Iya, tunggu sebentar." Teriak Anastasya dari dalam.
.
.
.
Bersambung....
__ADS_1