
...🤍 Selamat Membaca 🤍...
Mentari pagi begitu indah menyinari.
Meiri menemani sang ibu di pasar. karena di rumah tidak ada yang jaga. Bapak Meiri belum pulang dari melautnya.
Safia masih hawatir dengan putrinya. takut jika terjadi sesuatu lagi padanya.
Kemarin Meiri sempat ingin salah minum. untung Safia segera datang.
🍂Flasback of🍂
Siang itu bapak Meiri beli bahan bakar untuk Mencari ikan nanti malam.
dan menaruh BBM itu di meja.
Mei yang habis mencuci piring dari dapur lantas langsung menuang Bbm tersebut. untung saja sang ibu melihat dan mencium sesuatu. saat mendengar seseirang tengah menuang air ke dalam gelas.
🍂Flasback on🍂
Mei duduk di samping sang ibu. Sesekali Mei melirik pembeli satu persatu. Meiri melihat Ada sesuatu yang menarik baginya. lantas Mei pun berdiri dan segera mendekat.
Namun Mei kembali berhenti saat melihat ada mobil yang berhenti tepat di depanya.
"Nona.. apa kau tau alamat ini?" tanya Seorang wanita
Mei menatap wanita itu. begitu juga dengan wanita itu, wanita itu juga menatap Mei.
"Seperti pernah melihat " gumam Marlena
Sedangkan Mei. mengamati penampilan wanita yang ada di depanya.
"Bukan.. Bukan.. saya bukan pembunuh.. lepaskan saya.. saya tidak membunuhnya." teriak Meiri saat melihat pria gagah di belakang wanita itu. 'Ansel' nama pria itu.
"Mei.. apa yang terjadi nak." teriak safia saat mendengar teriakan Mei.
Marlena ternganga. "mungkin gadis ini yang Zaf Ceritakan. bukanya gadis itu juga namanya Mei" gumanya
"Sayang.. tenang yaa. tidak akan terjadi sesuatu padamu." ucap Safi
"apa yang telah Zaf lakukan. kenapa gadis ini begitu ketakutan?" tanya Marlena dalam hati. Lalu menoleh ke suaminya. dan Ansel menatap sembari mengangguk tenang. Zaf memang tidak menceritakan keadaan Mei saat ini.
"maaf nyonya. ada perlu apa?" tanya Safia
"maaf bu.. saya mencari alamat ini." ujarnya sembari menyerahkan Identitas Mei.
"Ini nama putri saya. dan ada urusan apa anda mencari putri saya?" tanya Safia
"Saya ada perlu sebentar dengan Anda dan putri Anda bu." ujar Marlena
'Saya sedang jualan nyonya. jadi bisa di sampaikan sekarang. maksud anda datang kesini. dan mencari putri saya." ungkap Safi
"Bagaimana ini Ans?" tanya Marlena pada suami yang berada di sampingnya.
__ADS_1
"Ibu.. cuma sebentar. atau biar ikanya saya beli saja ya." ujar Marlena lagi
Lalu Safi pun membereskan daganganya. dan segera membawa tamunya ke rumah.
Tak butuh waktu lama. Merekapun sampai di rumah kecil Meiri
"Silahkan masuk nyonya." Safia mempersilahkan masuk tamunya
Ternyata bapak Mei sudah di rumah. sedang merapikan karing nya
"Ada apa bu?" tanyanya
"Ini pak ada tamu. mencari putri kita." jawabnya
Lalu mereka pun masuk dan mempersilahkan duduk tamunya.
Marlena menatap wajah Mei. yang sedikit tidak terawat.
"Apa kabar Mei?" tanya Marlena
"Baik nyonya." jawabnya
"Apa kau ingat dengan saya?" tanya Marlena lagi
"Saya pernah melihat. tapi lupa." jawabnya
"Saya pasien dari dokter Gilbert." jawab Marlena. Mei mengangguk mencoba mengingatnya.
"Sebenarnya apa tujuan anda ke sini nyonya?" Tanya Safia yang tidak ingin bertele tele
Ansel membalas pegangan tanga sang istri.
'Begini bu.. Saya.. saya orang tua dari ayah bayi yang ada di perut putri ibu. Meiriska kan yaa?" tanya Marlena sedikit gugup.
"Ada apa anda kesini? anda ingin melihat kehancuram putri saya karena ulah putra anda?" tanya Safia
"Buu.. tenang yaa.. kita dengarkan dulu penjelasanya." ucap suami Safia menenangkan sang istri.
"Maafkan kami dan maafkan putra kami bu." ucap Marlena
"Kami datang ke sini. mau minta pada Meiriska untuk memberi kesempatan sekali lagi untuk putra kami. agar bisa merawat bayi yang ada di rahimnya. putra kami sangat menyesal dengan segala yang terjadi." ucap Marlena
"Nyonya Marlena. jadi anda ibu dari pria brengsek yang menghancurkan hidup saya. Saya tidak tau apa kesalahan saya padanya. tapi putra anda selalu memaksa dan berbuat kasar pada saya." adu Mei. Meiri kembali teringat dengan wajah yang pernah bertemu di rumah sakit.
"Maafin Zaf sayang.. Zaf tidak tau cara memperlakukan cinta. Sebenarnya dia sangat mencintaimu. tapi lagi lagi karena Dia tidak bisa cara memperlakukan nya." ucap Marlena. yang sudah mulai menangis.
"Mei.. bisakah kau memberi kesempatan sekali lagi untuk Zaf.?" tanyanya
"TIDAK.. SAYA TIDAK AKAN PERNAH SETUJU PUTRI SAYA MENGINJAK KAN KAKINYA KE DALAM RUMAH MEWAH ITU." teriak Safi.
🍂Ibu mana yang tega mengirim putrinya ke dalam kandang singa lagi. yang bisa suatu saat akan memakanya🍂
"Buu.. Maafkan atas sikap putra kami. putra kami sangat hancur saat ini. dirinya hanya ingin memperbaiki semuanya." ucap Marlena
__ADS_1
Sedangan bapak Meiri hanya diam.
Lalu Marlena membawa tangan ke tangan Meiri. "Sayang.. jika kau berkenan. kau bisa hubungi kami." ucap Marlena
"Walaupun putri kami mau. saya tidak akan izinkan nyonya. Saya sebagai orang tua sangat sakit melihat anak kami menderita." ucap Safi
Marlena mendekat safia dan menundu berlutut di depan Safi. "saya juga seorang ibu. Saya juga merasakan sakitnya melihat putra saya juga hancur. makanya saya kesini. siapa tau mereka bisa saling mengobati trauma mereka bu." ucap Marlena lagi.
"Jangan hukum putra kami bu.. saya juga hancur melihat anak anak kita hacur hikkzz." Marlena kembali menangis.
"Sudah sayang.. jika Mei tidak bisa. kita tak bisa memaksanya." ujar Ansel. Lalu membantu istrinya berdiri.
Safia hanya diam sambil memeluk Mei dari sampingnya.
"kita permisi bu.." pamit Marlena. lalu merekapun pergi dari rumah.
Di perjalan pulang. Marlena kembali menangis.. "Ans.. bagaimana jika Meiri tidak mau?" tanya nya
"kita yang akan merawat Zaf. dia putra kita." jawabnya
...🍃...
Meiri duduk termenung di dalam kamarnya. Dirinya kembali teringat kelakuan buruk Zaf. namum juga kelakuan baiknya.
Kelakuan buruknya muncul di saat emosinya begitu naik. karema ulah Mei.
Tapi kelakuan baiknya. Datang sendiri dari hatinya. "Sebenarnya dia baik." batinya.
"Haruskah aku memberi kesempatan padanya? tapi bagaimana jika dia kembali berperilaku kasar?" tanya Mei dalam hati.
Mei merebahkan tubuhnya di dalam kamar yang sempit. Dirinya bahagia bisa bertemu lagi dengan wanita yang telah melahirkannya. "Ibu... mungkin ibu sangat terluka dengan kejadian ini. Aku tak mungkin mengutarakan keinginanku untuk memberi kesempatan pada Zaf." gumamnya
Mei pun kembali terlelap. Namun sebentar sebentar dirinya terjaga karena ucapan Ibunya Zaf. jika Zag juga sangat terluka.
...🍃...
Pagi sudah tiba.
Safia tengah duduk di kursi ruang makan bersama suaminya . dirinya mengamati putrinya. perutnya semakin hari semakin memnesar.
"Anak itu juga butuh kasih sayang dari ayahnya. apakah pantas aku menjauhkanya?" Tanya Safia dalam hati
"Mei.. sini sayang." psnggil Safia
Mei pun duduk di sebelah sang ibu. Safia mengelus kepala anaknya dengan lembut.
"Bapak dan ibu sudah memikirkanya." ucap bapak safia
"Maksud bapak?" tanya Mei.
"Jika kamu ingin memberi kesempatan untuk ayah dari cucu bapak dan ibu. kami tidak keberatan." ucapnya kemudian
"Bapak dan ibu hanya ingin kamu hidup Bahagia dan damai. itu saja." sahut Safia
__ADS_1
...Bersambung...