WANITA PELAMPIASAN 2

WANITA PELAMPIASAN 2
Memperjuangkan


__ADS_3

...šŸ¤ Selamat Membaca šŸ¤...


"Zaf.. Mei sedang mengandung anakmu. nanti kalo terjadi sesuatu padanya bagaimana?" tanya Marlena


"Haahh..." Zaf mend*sah kesal. "Baru saja sampai sudah kena usir." gerutu Zaf


"Jika kau mencintainya. maka kau harus berjuang untuk mendapatkan hatinya. tapi jika kau hanya ingin bersenang senang. dan menebus kesalahanmu. maka kau jangan pernah membuat hati Mei jatuh cinta padamu." ucap Marlena. lalu meninggalkan putranya sendiri.


Zaf menatap punggung Marlena hingga tak terlihat.


Zaf merebahkan tubuhnya di atas sofa. Zaf berusaha memejamkan matanya. namun tak bisa.


"Mei.. apakah dia sudah tidur?" batinya


Zaf baru ingat jika Mei belum bisa tidur. jika tak ada dirinya.


"aahh.. biarlah. sekali kali dirinya tidak tidur." ujar Zaf dalam hatiĀ  .


Malam semakin larut. suara kokok Ayam sudah mulai bersahutan. namun Zaf belum juga bisa memejamkan matanya.


Dirinya juga tak bisa tidur jika tidak ada Mei.


Lalu Zaf segera keluar dan mengendarai mobilnya.


Zaf mengemudi dengan santai. karena jika pagi begini jalanan menuju Rumah Mei sangat ramai. Orang orang yang berlalu lalang di jalanan. ada yang berangkat ke pasar untuk bejualan. ada juga yang baru pulang dari mencari ikan.


...šŸƒ...


Mei tengah terduduk di kursi terasnya. setelah mengantar ibunya berangkat ke pasar. yaa walau hanya sampai depan rumah saja. tapi itu sangat berarti buat ibu Mei.


"Zaf kemana Mei? kok belum kelihatan jam segini?" tanya Safia


Mei bingung harus menjawab apa. karena dirinya tidal tau Zaf pergi ke mana tadi malam.Ā  karena Zaf tidak bilang apa apa pada Mei.


"Pagi pagi jangan bengong. kalo di tanya itu di jawab Mei." ujar ibunya.


"hem.. ituu buu.. Zaf sedang ada pekerjaan mendadak tadi malam." jawab Mei


"ohh perginya sudah dari malam." sahut ibunya. Mei menganggukĀ 


"yaa sudah. ibu berangkat dulu. kalo lapar makan saja. nggak usah nunggu bapak. bapak pulang nya agak siang. karena ada yang harus di perbaiki kapalnya." ucap Safia


Mei kembali mengangguk. Dan Mei kembali masuk dan duduk di teras. Mei menatap jalanan yang begitu ramai. banyak bu ibu yang sedang berbejanja di depan rumah Mei. Rumah Mei memang di pinggir jalan utama. makanya setiap hari Mei bisa melihat orabg orang berlalu lalang.


Mei menatap gundukan tanah yang masih basah. sehabis di siram tadi. Mei mengambil salah satu bunga kesukaan sang kakak dulu.


"Kak.. bagaimana kabar kaka di sana. ini bungan kakak tumbuh subur di sini." ujar Mei


Mei terduduk sambil memegang bunga yang di petik.


"Mei.." panggil seorang pria yang familiar di telinga Mei


Mei mendongak dan menatap Pria itu.

__ADS_1


"Zaf.." panggil MeiĀ  lalu bediri dan memeluknya.



"Kau dari mana?" tanya Mei


"Maaf.. aku ada urusan sebentar di kantor " jawaban Zaf. tentu saja itu bohong .


Lalu Zaf menggandeng tangan Mei dan membawanya masuk.


"Apa kau sudah makan?" tanya Zaf. Mei menggeleng.


"Ayo kita makan." ajak Zaf


Merekapun masuk ke ruang tengah dan menikmati makananya.


Tidak ada obrolan di ruang ini. yang terdengar hanya suara dentingan sendok.


Setelah selesei makan. Zaf membawa piringnya ke belakang . dan Zaf pun mencucinya seperti di rumahnya.


Mereka kembali duduk di ruang depan. Zaf memegang tangan Mei. dan Meipun menandarkan kepalanya di bahu Zaf.


Zaf mengelus punggung Mei dengan lembut.


"Mei.." panggil Zaf


"Hemmm." jawabnya


"boleh aku tau. kenapa kakakmu meninggal?" tanya Zaf sangat hati hati.


Mei masih ingat bagaimana sang kakak itu meregang nyawa. pasti sangat sakit. Tak terasa mata Mei mulai basah. dan tiba tiba Mei sesenggukan.


"Mei.. apa yang terjadi?" tanya Zaf


"Zaf .. bisa nggak kalo kau tak usah menanyakan tentang mendiang kakaku." ujar Mei


Zaf terdiam. ingin sekali dirinya mengumpat. dan menjelaskan jika Clara adalah wanita yang telah membuat Zaf hancur. hingga dirinya tak percaya pada wanita yang sok suci.


Namun lagi lagi Zaf ingat. jika dirinya hanya di beri satu kesempatan pada keluarga Mei untuk merawatnya.


"kita jalan jalan Mei. lihat bapak di dermaga" usul Zaf


Mei pun mengangguk. Dan mereka segera berangkat jalan. Seperti biasa Zaf dan Mei saling menautkan kedua tangan Mereka.



Tibalah mereka di dermaga terlihat Bapak Mei tengan memperbaiki perahu yang berlubang.


"Zaf bantu ya pak." ujar Zaf saat bapak membenarkan sendiri. Bapak Mei pun mengangguk.


Mei jalan jalan sendiri di tepi pantai.


__ADS_1


Hari semakin Terik.


Matahari sidah di atas kepala. Zaf memutuskan untuk pulang. karena Mei mulai kelelahan.


Mereka kembali berjalan salng bersisian. tidak ada obrolan dalam perjalanan merekaĀ 


...šŸƒ...


Hari surah sangat Malam


Udara di sini sangat dingin. sehingga Zaf memutuskan untuk tidak keluar rumahĀ 


Mei tengah duduk di kamarnya sambil memijit kakinya. sesekali terdengar terisakĀ 


Zaf pun menghampiri kamar Mei. "kenapa Mei?" tanya Zaf


"hikkzz.." tangisnya


"capek?" tanya Zaf. Mei mengangguk.


Lalu Zaf duduk di bawah kaki MeiĀ  dan tangan mulai memijit mijit kakinya yang lelah..


Zaf membaringkan dirinya di sebelah Mei. dan mengelus rambut Mei.


"Bayi.." cicit Mei


"kenapa Mei?" tanya Zaf


"Kau tidak menyapanya?" tanya Mei


"Boleh?" tanya Zaf. Zaf tanya gitu. karena waktu itu dirinya ingin sekali Menyentuh Perut Mei. namun sang empu tidak mengizinkan karena sedang bad mood.


Mei mengangguk. Lalu Zaf menyentuh perut Mei. dan mengelus ngelusnya.


"Mei.. besok kita balik ya." ujar Zaf


Mei menoleh dan menatap Zaf.


"Besok lagi kita kesini. ada urusan yang harus aku seleseikan Mei." ucap Zaf lagi


Mei hanya mengangguk. Mei pun berusaha memejamkan matanya.Ā  namun tak bisa. Dirinya masih ingin di sini sama orang tuanya. namun dirinya memang sudah berjanji hanya sampai melahirkan bersama Zaf.


Begitu juga Zaf. ingin sekali hidup bersama Mei. dan membesarkam anak nya. namun itu tak mungkin. karena Zaf tauĀ  kebahagiaan Mei tidak dengan dirinya. Namun dengan Aldrick sang kekasih.


Zaf menatap Mei. jika dalam posisi tidur begini. Mei kelihatan sangat berbeda. lebih terlihat dewasa. di banding saat bermanja.


Zaf kembali tersenyum saat Mei merajuk dan menangis karena merasa lelah. ataupun melakukan sesuata yang tidak bisa di jangkau dirinya.


Zaf mengecup kening Mei. dan mulai untuk tidur.


šŸƒ


Mentari pagi begitu indah.

__ADS_1


Zaf dan Mei sudah bersiap untuk kembali ke kota. Sebenarnya Orang tua Mei masih rindu. namun mengingat kesepakatan itu. orang tua Mei pun melepaskan putrinya


__ADS_2