
...🤍Selamat Membaca 🤍...
Mereka asyik menikmati ice krim di kedai.
"mau lagi Mei?" tanya Zaf
Mei menggeleng.
Setelah itu mereka lanjut jalan jalan. Mei menghentikan langkahnya dan duduk di bangku taman
"kenapa Mei?" tanya Zaf
Mei hanya memijit kakinya karena merasa sangat lelah."Apa kau capek?" tanya Zaf. Mei kembali mengangguk.
Lalu Zaf membopong Mei dan membawa ke dalam mobil. "kita pulang ya." ujar Zaf
Mei kembali mengangguk. dan mereka pun segera pulang.
Sampai di depan rumah Zaf kembali menggendong Mei. Lalu membaringkannya di sofa. Zaf memijat mijat kaki Mei. Hingga sang empunya tertidur.
Zaf segera berdiri pergi ke dapur. dan membuatkan makan siang buat bertiga.
Mei berdiri di belakang Zaf.
Zaf yang tidak tau adanya Meiri pun jadi kaget saat menoleh ke belakang
"Ya Ampuunn Mei.. jantungku serasa mau copot. Ada apa?" tanya Zaf
Mei menunjukkan ponsel Zaf yang sejak tadi berdering.
"oohhh.. " Zaf langsung mengambil ponsel nya.
Lalu menonaktifkan ponselnya.
Mereka tengah duduk di ruang makan.
"Mei.. besok kita ke dokter ya ." ucap Zaf
Mei menoleh dan melihat wajah Zaf. "Kita ke dokter psikiater Mei." ucapnya
Mei diam lalu melanjutkan makanya
"Apa Aku gila?" Tanya Mei
Mendengar ucapan yang terlontar dari bibir Mei. membuat Zaf berhenti dari aktifitas mengunyah.
"Tidak Mei.. Kau hanya kehilangan sebagian Memory." jawab Zaf
"Tapi Mereka pada mengataiku. aku gila." balasnya
"Tidak.. itu tidak benar." sahut Zaf
Mei kembali terdiam.
Zaf mendekat ke Mei dan menyentuh bahunya.
"Kita hanya akan konsultasi. Pada dokter psikiater saja Mei. kau jangan takut." ucap Zaf
Mei mengangguk dan kembali menikmati makananya.
"Maafin Aku Mei.. aku akan berusaha selalu ada sampingmu. sampai kau benar benar pulih." ucap Zaf dalam hati
...🍃...
__ADS_1
Malam sudah tiba.
Seperti hari hari biasanya Zaf akan menemani Mei tidur.
Zaf merasa dirinya Seperti seorang bapak. Zaf tersenyum sendiri. mengingat tingkah Wanita yang ada di sampingnya. Zaf membelei lembut pipi Mei yang kurus.
Mei menggeliat saat merasakan ada yang menyentuh pipinya. lalu membuka matanya. Zaf tersenyum pada Mei saat pandangan mereka bertemu.
Entah dorongan dari mana. Zaf mulai mengecup bibir Mei. membuat Mei merasa tegang dan gemetar. takut jika kejadian waktu itu terulang lagi.
Mei menggelengkan kepalanya.
Zaf tau yang di takutkan Mei. Zaf segera menarik tubuh Mei dalam pelukanya.
"Aku tidak akan mengulang kesalahan lagi Mei. tidurlah." ucapnya. sambil menarik Mei dalam dekapanya.
Mei kembali lega. dan ahirnya bisa kembali tidur dengan nyaman.
...🍃...
pagi sudah tiba.
Zaf dan Mei sudah berangkat menuju Rumah sakit.
Zaf sudah membuat janji pada dokter psikiater.
Dokter membawa Mei masuk ke ruanganya. Namun Mei nggan mengikutinya. Mei malah menggandeng tangan Zaf begitu kencang dan menempelkan tubuhnya pada Zaf.
"Silahkan Tuan. tuan boleh menemaninya." ucap Dokter
Zaf pun ikut masuk. dan duduk di samping Mei.
Mei mampu menjawab semua yang dokter tanyakan. Dokter hanya menanyakan 'Nama' Dan juga Tanggal lahir Mei.
Dokter sudah bisa mendeteksi tingkat Depresinya pada Mei.
"Dia hanya butuh pendekatan dan Kenyamanan pada lingkunganya. Tidak perlu di tambah obat obatan lagi. Cukup di beri perhatian dan usahakan untuk di ajak ngobrol. biar pasien tidk merasa sendiri." ucap Dokter.
Pesan Dokter. "Jangan buat pikiranya kosong. karena jika pikiran kosong. maka pikiranya akan kembali ke masa masa yang begitu membuat dirinya trauma."
Zaf merasa lega dengan keterangan dokter. Trauma Mei tidak begitu parah. dan bisa di sembuhkan dengan Terapi interaksi. Zaf akan semakin berusaha selalu ada di dekat Mei.
Merekapun kembali pulang. dan mampir dulu ke Restaurant. karena pagi tadi Zaf tidak sempat masak.
Mei tidak mau turun karena sangat lelah.
Setelah pesanan selesei, Zaf segera kembali ke mobil. Zaf melihat Mei tengah menekan tombol audio dan mencari cari musik yang membuat dirinya nyaman
"Mei.. kau cari apa?" tanya Zaf
"Mau dengerin musik." jawabnya.
Zaf tersenyum mendengar jawaban dari Mei. Suara itu suara yang sangat Zaf rindukan.
Lalu Zaf memilihkan musik yang di suka Mei. "ini mau Mei?" tanyanya
Mei kembali mengangguk. Sambil dengerin musik dan sesekali suara Mei keluar. mengikuti alunan musik yang Mei dengar.
Zaf sangat bersyukur. setelah dari Dokter psikiater tadi Mei sedikit berubah. sudah mulai bicara walau hanya sepatah kata.
Zaf coba memancing Mei dengan musik musik yang Membuat Mei terbuai.
__ADS_1
Namun Seketika Zaf kesal karena melihat Mei sudah teetidur lagi. "Mei.. apa kau tak bisa menahan kantukmu?" tanya Zaf dalam hati.
Sesampainya di rumah Zaf segera mengangkat Mei. kedalam rumah dan membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Zaf kembali keluar untuk mengambil Makanan yang tadi habis di beli.
Zaf menyiapkan makananya di meja makan.
Sambil nunggu Mei bangun, Zaf mengecek laporan dari kantor yang baru saja masuk.
Mei terbangun dan segera pergi ke kamar mandi. dirinya merasa sangat panas siang ini.
Dirinya melepas semua pakaianya dan masuk ke dalam bathup. yang sudah Mei isi Air.
Mei Merasa begitu nyaman di dalam air.
Setelah selai denga laporanya. Zaf segera Masuk melihat Mei.
"Mei.. kau di mana?" teriak Zaf
Zaf mendengar ada suara air yang mengalir. dan mendapati pakaian Mei teegeletak di depan pintu.
Zaf segera menghampirinya.
"Mei.. apa yang kamu lakukan?" tanya Zaf panik.
"Mandi." jawabnya
"Ayo sudah." ajak Zaf.
"Panas." jawab Mei
"Kalo merasakan tubuh panas. jangan Mandi seperti ini Mei. nanti sakit." ucap Zaf. Lalu membawa Mei ke kamar. dan segera mengeringkan tubuh Mei.
Zaf mengambil kan pakaian Mei. Saat Zaf mau memakaikan bra. Mei menggeleng.
"Kenapa?" tanya Zaf
Mei memperlihatkan punggungnya yang memerah. dan ada cetakan Bra nya.
Zaf ingat. jika payu*ara Mei sudah mulai membesar. "Astaga.. Aku bisa lupa begini." batin Zaf
Lalu Zag tidak jadi memakaikan bra. Zaf hanya menelan salivanya. saat Melihat gundukan dada Mei yang seolah menggoda Zaf minta di hi*ap.
Zaf segera mengalihkan pandanganya. "Bersama dengan Mei di dalam satu rumah. sungguh sangat menyiksa dirinya. Selalu saja menelan saliva dengan kasar." batinya
Mei mengibas ngibaskan Rambut yang terurai.
Zaf tau Mei sangat risih jika rambutnya itu mengganggu dirinya. Zaf segera mencari sisir dan mengikat rambut Mei.
"Sudah.. ayok kita makan Mei." Ajak Zaf
Mei menurut seperti anak kecil yang sedang di manja oleh orang tuanya.
Zaf mengambil beberapa obat. dan meminta Mei untuk menghafal obat mana saja yang di minum untuk siang ini.
Mei memilih obat yang berwana putih 2 dan obat yang berwana peach satu.
Zaf tersenyum "pinter.. di hafali ya Mei.." ucapnya sambil mengacak rambut Mei. yang membuat sang empunya mengerucutkan bibirnya.
Melihat tingkah Mei. Zaf kembali tertawa. "sudah ayok. kita mulai makan." ajak Zaf
__ADS_1
...Bersambung...