
Chapter 392 : Dataran Es di Tengah Medan Pertempuran
Bottlomless Gap.
Lyon merasa jika mereka sudah terlambat. Soalnya, gunung-gunung es yang runcing sudah mulai bermunculan, dan jumlahnya juga tidak main-main. Mereka begitu banyak. Mau tidak mau mereka pun terhempas oleh es yang terus bermunculan.
Akibat es yang terus-terus bermunculan, Ardes tidak mampu mempertahankan pinjamannya lagi, dan pada akhirnya juga ikut terseret bersamaan dengan es-es yang ada. Seluruh orang yang ada di punggungnya juga merasa panik ketika melihat es yang sudah mengelilingi mereka dan terombang-ambing. Mereka mencoba untuk berpegang kepada sesuatu yang bisa menahan mereka agar tidak terlempar. Tentunya teriakan kepanikan terus terdengar di sana. Keadaan di sana saja sudah sangat panik. Coba saja kalau mereka tadi tidak segera diambil oleh Ardes, mungkin ada di antara mereka tidak selamat.
Ya, Lyon juga termasuk orang yang ada di sana. Dia berpegang dengan batang pohon yang ada di dekatnya dan terus memperhatikan keadaan sekitar.
Sial! Kalau begini terus, bisa-bisa kita menjauh darinya! Apakah ini adalah rencana dari Lich itu untuk lari? Kalau itu benar, tidak bisa dibiarkan. Aku harus memikirkan sebuah cara agar bisa sampai di sana.
Lyon mendapatkan sebuah kesimpulan pribadi dari semua bencana ini kalau sebenarnya semua ini ditujukan kepada mereka agar bisa menjauh dari si Lich. Sudah terlihat dari posisi gunung-gunung es, yang melingkar dengan ujung yang berada di luar, mencoba untuk menekan sesuatu yang ada di dalam (seperti mereka) agar menjauhi dari pusat lingkaran. Bentuk dari es ini adalah lingkaran.
Sepertinya aku harus menggunakan cara ini .... Ya, aku harus mengalahkannya sendirian.
Tidak ada pilihan lain, Lyon menemukan sebuah cara, namun cara ini akan membuatnya berada di sana sendirian. Itu adalah pilihan utamanya untuk segera bertarung dengan Lich satu lawan satu. Dia juga mendapatkan sedikit pencerahan pada saat melihat semua es ini kalau memang dia harus berhadapan dengan Lich itu sendirian.
Lyon pun menguatkan tekadnya dan memutuskan untuk menggunakan cara itu. Dia pun segera melihat ke arah Ardes, dan memberikan sebuah perintah,
"Tuan Ardes, apakah Anda dapat melemparku ke depan sana, tempat Lich itu berada!"
"Hah!? Melempar Anda ke sana?"
"Iya, lempar aku ke sana!!"
"Tetapi, untuk apa? Apakah Anda ingin melawannya sendiri??" tanyanya lagi.
"Mm, itu benar. Saat ini dia pasti sedang kelelahan karena telah mengeluarkan kekuatan sebesar ini, Jadi akan menjadi kesempatan untuk mengalahkannya. Saya berniat untuk menghadapinya satu lawan satu sekalian mengukur waktu hingga kalian tiba di sana."
Inilah pencerahan yang dia dapat. Lyon sempat berpikir jika Lich menggunakan kekuatan sebesar ini hanya untuk mengusir mereka, pasti ada efek sampingnya, misalnya dia akan melemah. Ini adalah kesempatan yang bagus untuk mengalahkannya.
__ADS_1
"Baiklah, kalau begitu. Bersiaplah, Tuan Lyon, Saya akan segera melempar Anda ke sana."
Ardes pun setuju dengan perkataan Lyon. Memang ada benarnya jika saat ini keadaan Lich pasti tidak baik karena mengeluarkan kekuatan sebesar ini.
Jadi, Sesudah itu Ardes mulai meraih tubuh Lyon yang berada di atas kepalanya sembari menyeimbangkan diri di antara berbatuan es yang terus-terusan bermunculan di sana. Dia bergerak berpijak ke tempat yang menurutnya pas dan melompat ke area tersendatnya. Pada saat dia menemukan tempat yang begitu pas, Ardes pun segera melompat setinggi mungkin. Lompatan yang melewati tingginya gunung es. Dan pada saat itu juga dia dapat melihat area yang ada di tengah, tempat yang menjadi pusatnya. Tanpa berbasa-basi, Ardes segera melempar Lyon.
"Wushh!!"
Lyon melesat dengan begitu cepat, terbang di bawah tumpukan es. Dia berusaha untuk kembali fokus walaupun saat ini dia sangat sulit untuk mengendalikan kefokusan karena masih dalam keadaan melayang di atas langit. Beberapa saat setelah cukup berusaha, akhirnya dia telah berhasil mengungkapkan semua kefokusannya. Dan sesaat, kemampuan Prediksinya kembali aktif. Lyon segera melihat di mana tempat dirinya terjatuh dan juga bagaimana keadaan setelah terjatuh. Itu semua dilakukan demi antisipasi agar dapat meminimalisir kerusakan yang terjadi.
Dan sesaat, Lyon akhirnya menemukan momentumnya. Dia terus melesat hingga pada jarak tertentu dia langsung merubah gayanya dan bersalto beberapa kali. Alhasil, Lyon melayang dengan selamat. Pendaratan ini patut untuk disyukuri. Akan tetapi, saat ini bukanlah hal yang tepat untuk hal itu karena saat ini hal yang berbahaya sedang berdiri di hadapannya.
Itu benar, bahaya yang sedang menunggunya adalah Lich Legendaris, yaitu Gluch. Lyon segera kembali berdiri, kemudian memasang sikap kuda-kuda serta disaat bersamaan memegang erat gagang pedangnya.
Sembari memperkokoh sikapnya, pandangan Lyon tertuju kepada tubuh Lich. Dia memandangi tubuhnya dari bawah ke atas dengan tatapan yang begitu tajam. Ya, ada sesuatu yang ingin dia pastikan sebelumnya pertandingan mereka dimulai, dan saat ini adalah saat yang tepat.
Bagus ... sekarang aku bisa lebih mudah menguasai semua barang jarahannya.
**
Di sisi lain, di saat bersamaan ketika pegunungan Es tercipta, Armegon dan Gordon ikut terseret di dalamnya. Mereka tidak sempat untuk bergabung dengan rombongan Ardes karena jarak mereka yang cukup jauh.
Setelah cukup terombang-ambing di dalam ganasnya es yang terus bermunculan, akhirnya pergerakan dari gunung-gunung es tersebut telah berakhir. Baik itu Armegon maupun Gordon mereka terjebak di celah-celah es. Ya, kabar baiknya tidak ada yang mati di antara mereka, hanya Armegon yang meski luka yang amat parah. Baru satu dia menyembuhkan diri, eh, malah dia kembali ditimpa bencana.
Dan setelah berusaha keluar dari celah es, mereka pun akhirnya dapat bebas. Armegon dan Gordon saling bertemu dan kemudian melihat ke sekeliling mereka.
__ADS_1
"Tuan Armegon, apakah Anda baik-baik saja?" tanyanya mengenai keadaan Armegon.
"I-iya ... saya baik-baik saja." Armegon membalasnya dengan singkat mengatakan kalau dia baik-baik saja, walaupun saat ini keadaan tidak sesuai dengan apa yang keluar dari dalam mulutnya. Armegon pun segera mengganti topik pembicaraan, "Ee ... sekarang kita berada di mana, sejauh mata memandang kita hanya melihat es, es, dan es. Kita sudah tidak tahu di mana lokasi dari Lich itu berada." Kemudian dia mulai meminum beberapa ramuan, untuk memulihkan bar kesehatan yang telah hilang.
"Iya, kamu benar ...." Gordon membenarkan ucapannya. "Kurasa jalan satunya-satunya ialah menaiki salah satu tebing ini dan melihat semuanya dari atas sana."
Armegon pun melihat tebing es yang berdiri di sekitar mereka. Memang benar, jika mereka ingin mengetahui letak posisi mereka secara akurat, setidaknya mereka harus berada di tempat yang tinggi karena akan sangat mudah untuk menentukan arah, tetapi itu adalah hal yang merepotkan. Armegon masih memiliki solusi atas masalah ini.
Dia pun membuka panel layarnya dan memasuki bagian peta. Secara otomatis peta muncul di hadapannya dan terlihat di salah satu lokasi peta tersebut, ada sebuah tanda titik biru dengan bagian runcing di salah satu sisinya yang merupakan tanda dari dirinya. Armegon segera berputar sejenak mencari arah yang pas. Ketika dia berputar, secara otomatis, bagian runcing dari tandanya juga ikut bergerak.
Ya, sebenarnya bagian runcing itu merupakan patokan dari suatu pemain yang menjadi arah dia berdiri. Armegon memanfaatkan ini untuk menentukan arah letak posisi mereka dan ke mana mereka akan berjalan nanti. Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk bisa menemukan arah. Armegon pun segera menutup panel layarnya dan kembali berbicara kepada Gordon.
"Tuan Gordon, saya rasa tidak perlu bagi kita untuk melihat ke atas. Saya memiliki firasat jika kita harus terus berjalan ke arah sini." Menunjuk ke belakang dirinya.
"Oh, benarkah?" tanya lagi Gordon.
"Iya, saya yakin," ucap Armegon yang mencoba untuk meyakinkannya.
"Hm, baiklah kalau begitu, saya akan percaya. Mari kita berjalan ke arah yang Anda maksud."
Gordon pun setuju dengan usulan Ardes. Dia mencoba untuk berharap jika jalan yang akan dipilih adalah jalan yang benar. Jadi sesaat setelah ini mereka pun segera berjalan.
Namun, baru saja mereka berjalan, tiba-tiba beberapa prajurit asing dengan zirah hitam lengkap muncul dari balik celah es, dan di atas tebing seakan sudah menunggu mereka. Tentu saja Armegon dan Gordon menghentikan langkah mereka.
Gordon hanya tersenyum ringan pada saat memandangi semua prajurit itu, Dia pun berbicara kepada Armegon tanpa memalingkan wajahnya, "Tuan Armegon, sepertinya firasat Anda memang benar. Arah kita dan Lich itu sudah tepat.
Ternyata Anda memiliki insting yang cukup tajam yah." Dan mengangkat palunya kembali, bersiap untuk menyerang.
Armegon pun menerima pujian Gordon dengan senang hati. "Hahaha, terima kasih atas pujiannya. Ya, kalau begitu, mari kita kalahkan mereka dahulu, baru setelah itu kita melanjutkan perjalanan lagi." Dan mengeluarkan pedangnya dari dalam sarungnya.
__ADS_1
"Tentu saja!" balas Gordon dengan nada semangat.
Perjalanan Armegon dan Gordon akan sedikit terhambat oleh para prajurit itu.