
Chapter 417 Dimulainya Pencarian Monumen.
Bottlomless Gap.
Di suatu tempat.
Terdapat dua siluet hitam yang menyerupai sesosok manusia yang tengah memperhatikan akhir medan pertempuran dari atas tebing jauh di sana.
"Sayang, lihat ... Lich itu kalah ...." salah seorang dari mereka yang memasang wajah penuh kekesalan yang suaranya menyerupai seorang wanita dewasa.
Satu orang lain yang merupakan seorang pria juga ikut kesal. "Cih, dasar tidak berguna! Padahal kita sudah bersusah payah memberikan dia pengorbanan, tapi malah ini hasil yang kita dapatkan. Dasar tidak becus, menghadapi sekumpulan manusia seperti itu saja masih tidak mampu. Seharusnya kita tidak mempercayai dia sejak dulu."
"Semua ini gara-gara manusia yang bernama Lyon itu. Kalau saja dia tidak ada di sini, maka kejadian seperti ini tidak akan pernah terjadi. Rencana yang telah kita bangun sejak lama, pasti akan membuahkan hasil."
"Sekarang apa yang harus kita lakukan, Sayang. Satu-satunya Aliansi yang kita punya telah lenyap? Apakah kita masih tidak bergerak?" tanya sang wanita itu.
"Hm, begitulah. Kita tidak akan bergerak untuk sementara ini. Tapi, setidaknya kita harus memberikan sebuah pelajaran bagi manusia itu." Lalu dia pun berbalik. "Baiklah, mari kita kembali dan bersiap untuk memberi dia pelajaran. Dia akan menerima akibatnya karena telah mengacaukan rencana kita."
"Hm, baiklah. Saya juga tidak sabar untuk menyiksanya."
Secara misterius, kedua siluet itu menghilang dari sana. Mereka telah pergi kembali ke tempat yang mereka maksud.
**
Beberapa saat berlalu. Kini Lyon tengah berjalan menuju ke tempat anggotanya berada. Sembari terus berjalan, tidak lupa dia menyuruh mereka untuk berkumpul di suatu tempat di Bottlomless Gap, supaya nanti dia lebih mudah untuk menemui mereka. Selama di perjalanan itu, dia melihat keselilingnya. Para Undead yang berada di sana, terus-terusan berkurang. Awalnya dia bingung mengapa mereka menghilang begitu saja, tapi setelah dipikirkan lagi dia mengerti. Para Undead adalah monster yang telah diciptakan oleh Lich itu sendiri yang digunakan sebagai pasukannya. Karena Lich sudah kalah, secara otomatis, sihir penciptaan serta pengendaliannya menghilang sehingga berdampak menghilangnya Undead-Undead ini secara misterius.
Yang membuat Lyon bingung tadi, karena dia pernah berhasil mengalahkan raja Goblin, Matrius. Para goblin yang merupakan bawahannya segera pergi lari memasuki hutan kembali hingga akhirnya tidak terlihat lagi. Jadi dia sempat berpikir kalau seharusnya Undead ini juga berlari, mundur dari medan pertempuran. Namun setelah A da mendapatkan pencerahan ini, dia menjadi lega. Setidaknya tidak ada perlawanan lagi yang terjadi di antara mereka. Perang ini pun dapat berakhir dengan baik.
Tibalah sudah Lyon di tempat anggota guild-nya berada. Tapi, dia berhenti sejenak ketika melihat keanehan yang tengah terjadi.
Tunggu dulu ... bukannya tadi aku hanya menyuruh anggota Guildku saja yang berkumpul di sini, tapi kok malah mereka semua yang berkumpul.
Tidak hanya anggota Guild-nya saja yang berada di sana, tapi sepertinya semuanya. Mulai dari Guild-nya sendiri, Sun and Moon, Purple, Red Rose, dan juga tidak luput seluruh pasukan kerajaan Heaven yang berbaris rapi di sepanjang lapangan. Lalu, di depan barisan itu, ada beberapa orang yang tengah berkumpul. Semua ornag-orang itu adalah orang yang Lyon kenal. Tapi, wajahnya tidak senang ketika melihat mereka semua.
Heh, ku kira mereka telah kembali ke kerajaan dan melaporkan hal ini, tapi malah asik berkumpul di sana. sepertinya aku harus menceramahi mereka nanti.
Lyon pun terus berjalan hingga akhirnya dia sudah berada di jarak yang cukup dekat dengan mereka semua. Di saat bersamaan, orang-orang yang tengah berkumpul, merasakan hawa kehadiran seseorang yang mendekati tempat mereka, satu persatu dari mereka pun memalingkan wajahnya menuju ke sumber tersebut. Mereka pun melihat Lyon yang telah muncul.
"Ah, Kakak! Akhirnya kakak telah datang! Hei kalian semua, lihatlah! Kakak telah kembali."
"Lyon. Syukurlah kamu kembali dengan selamat. Aku sangat senang."
"Pemimpin, selamat datang, dan selamat atas kemenangan Anda. Anda dapat selalu diandalkan."
"Hahaha, Tuan Lyon, Anda kembali juga. Selamat atas kemenangan Anda."
"Lyon, akhirnya kamu menang juga. Kalau tadi kamu malah lagi, aku akan memukulmu."
"Aku ke sini bukan ingin memberikanmu selamat yah! Aku hanya ikut bersama kakakku saja. T-tapi ... Karena kamu sudah berusaha ... aku akan memberikanmu ucapan selamat. Jangan salah paham yah. Selamat atas kemenanganmu, hmp!"
"Pemimpin, selamat atas kemenangan Anda."
"Tuan Lyon, selalu atas keberhasilan Anda memenangkan perang ini. Tidak waktu itu, dan waktu ini juga, Anda selalu terlihat hebat."
"Tuan Lyon, Anda memang terbaik."
"Tuan Lyon, Huf ... ku kira tadi Anda telah berubah menjadi iblis. Tapi Anda dapat mengendalikannya dan berhasil mengalahkan monster itu. Jadi selamat yah."
"Lyon, selamat yah."
"Nak, Saya sangat bangga akan usahamu. Keberhasilanmu ini harus dirasakan dengan begitu meriah, iyakan kalian semua??"
""Em, em!!""
Orang orang yang ada di sana adalah, Ruby, Snowly, Sinon, Ardes, Armegon, Silvana, DeathNight, Vincle, Viergo, Liseas, Chatilyn, dan Gordon. Mereka semua memberikan ucapan selamat kepada Lyon atas keberhasilannya mengalahkan Lich Legendaris. Yah, ada berbagai jenis respon yang dia terima. Tapi semua itu menjelaskan satu makna, yaitu pemberian penghargaan atas usahanya.
Ini adalah hal yang mengejutkan bagi Lyon. Dia tidak terbiasa akan penghargaan ini. Rasa pujian untuknya terasa berlebihan. Padahal dia hanya berharap bisa menguasai barang jarahan dari monster itu saja, tapi malah mendapatkan hal sebagus ini.
"I-iya ... iya ... iya, terimakasih, terimakasih, hehe ...." ucapnya dengan nada terbata, membalas ucapan mereka semua. Setelah itu, dia pun kembali diam sejenak, menghilangkan rasa gugupnya, dan kembali berkata, "Oh yah, kenapa kalian semua berkumpul di sini. Perasaan aku tadi hanya berencana untuk mengumpulkan anggota Guild-ku saja. Kok malah kalian semua yang berkumpul di sini??" Kemudian melihat sekilas banyaknya pasukan yang berbaris rapi di sepanjang lapangan.
"Tentu saja untuk menunggu kedatangan pahlawan kita lah!" ucap Gordon dengan semangat. Dia pun berjalan mendekati Lyon, dan merangkulnya. "Mana mungkin kami meninggalkan seorang pahlawan yang telah berhasil memenangkan berperangan ini. Kami akan mengantar kalian dengan hormat hingga ke kerajaan Heaven."
"Oh, begitu yah."
__ADS_1
Lyon mulai mengerti. Sekarang posisinya adalah seorang pahlawan yang berhasil menumpaskan kejahatan, dan seorang pahlawan akan diperlakukan dengan hormat selayaknya seorang raja. Namun, ada satu hal yang membuatnya kepikiran.
Bukannya seharusnya aku mendapatkan semacam judul 'Pahlawan' untuk kerjaan Heaven, sama seperti waktu sebelumnya di kerjaan Reihant. Kenapa aku tidak mengatakannya yah? Apakah waktu itu sedang ada event ataukah memang tidak ada judul semacam itu untuk kerajaan ini. Heh ... kalau itu benar, aku hanya akan mendapatkan status pahlawan sementara di sini?
Sewaktu dia berhasil mengalahkan Lich Legendaris, dia hanya memperoleh satu judul saja, dan itu judul yang berefek kepada para monster sejenis Undead. Padahal pada perang sebelumnya dia memperoleh banyak judul dan keuntungan lainnya. Dia sempat berpikir jika sepatu dulu judul mudah didapatkan karena itu adalah judul yang jarang didapatkan seseorang. Namun ada satu judul yang seharusnya ia dapatkan. Itu adalah judul seorang pahlawan. Sama seperti di Reihant, Lyon telah mengantongi judul tersebut dan mendapatkan reputasi yang layak serta keuntungan yang telah menakjubkan. Jika saja dia mendapatkan judul yang sama di sini, dia bisa saja memperluas keuntungannya. Kalau dia tidak mendapatkan judul itu, maka status pahlawannya saat ini hanya bersifat sementara.
Tidak lama kemudian, datanglah seorang yang mendekati kemuruman mereka. Orang itu adalah Heraces. Sepertinya dia baru saja tiba di sana. Gordon yang melihat kedatangannya segera memberikan sapaan, berupa lambaian tangannya sembari menyebutkan namanya.
"Oi, Heraces!! Sini ...! Kamu telat."
Heraces bergabung bersama mereka. Saat ini dia melihat Lyon yang tengah dirangkul oleh Gordon, begitu pula sebaliknya Lyon juga menatapnya ketika menyadari kalau ada orang yang mendatangi mereka lagi.
Gordon yang masih merangkulnya, kini menguatkan rangkulannya sehingga membuat Lyon tersadar. Dia menoleh ke arah Gordon dan mendengar lagi ucapannya. "Kalau begitu, mari Tuan Lyon, kita kembali ke kerajaan. Sudah pasti mereka semua telah menunggu kedatangan seorang pahlawan seperti Anda." Lalu menariknya
Lyon mencoba menolak ajakannya. "Eh, Tuan Gordon, tunggu sebentar!" Mereka pun kembali berhenti. Gordon pun mencoba ternyata, "Tuan Lyon, ada apa?"
Lyon mencoba melepaskan rangkulan tangan tersebut. Dia sudah keluar dari sana, kembali membalasnya, "Yah, sebenarnya saya masih mempunyai sebuah urusan yang harus di selesaikan di sini. Jadi saya rasa, setelah urusan ini selesai, saya baru bisa kembali ke kerajaan. Ini urusan yang penting."
"Urusan penting yah ..." ucap Gordon. Tidak berapa lama dia pun berkata, "Yah, kami juga tidak merasa enak kembali ke kerajaan tanpa membawa sang pahlawan perang ini. Kalau boleh tahu, apakah kami dapat membantu Anda untuk menyelesaikan urusan yang Anda ingin lakukan. Jadi ketika urusan Anda selesai, kita dapat sama-sama kembali ke kerajaan."
"Membantu ...?"
Lyon sedikit terdiam pada saat dia mendengar ucapan Gordon. Dia mencoba untuk mencerna ucapannya. Hmm, kurasa ini tidaklah buruk. Dengan adanya tambahan bantuan yang akan membantumu mencari monumen batu itu, pasti tidak akan membutuhkan waktu yang lama untuk menemukannya. Hehehe, kali ini aku bisa memanfaatkan mereka semua.
Niat baik yang akan menguntungkannya. Ini bisa menjadi kesempatan baginya untuk memangkas waktu pencarian batu monumen itu. Yah, status pahlawan sementara ini ternyata cukup berguna juga. Jadi, setelah Lyon cukup berpikir, dia pun memasang senyum, lalu membalas ucapan Gordon.
"Sebenarnya saya tidak ingin merepotkan kalian semua hanya karena urusan kecil ini, tetapi apa boleh buat. Kalau kalian memang ingin membantu, maka saya akan mengizinkan kalian untuk membantu menyelesaikan urusan saya."
Di sisi lain, Ruby dan Snowly yang berada di sana, mulai berbisik satu sama lain, mengomentari perkataan yang keluar dari Lyon barusan. Sepertinya mereka juga Saya telah sadar akan niat baiknya.
Jadi, setelah mendengarkan respon yang telah Lyon keluarkan, Gordon pun segera melepaskan rangkulannya, kemudian berkata, "Baiklah Tuan Lyon, tolong ceritakan urusan apa yang harus Anda kerjakan."
**
Semua orang tengah berkumpul, mengelilingi Lyon yang berada di tengah. Saat ini dia akan menceritakan tentang urusan yang membuat dia harus berada di tanah tandus ini lebih lama lagi.
"Jadi begini ..." Dia mulai menjelaskan. "Sebenarnya setelah saya berhasil mengalahkan Lich itu, saya mendapatkan sebuah petunjuk yang entah itu dari mana. Itu adalah sebuah Monumen batu. Saya disuruh untuk menemukan batu itu yang katanya terletak di sekitar area ini. Jadi oleh sebab itu saya masih tetap berada di sini."
Lyon menjelaskan tentang urusan yang harus mereka kerjakan. Dia menjelaskan dengan cara simpel, menutup hal sebenarnya jika itu berasal dari Quest-nya agar tidak membuat kebingunan diantara NPC ini.
"Sebuah Monumen batu yah ..." gumam Heraces yang kemudian berjalan keluar dari sana. Dia memandangi seluruh tanah lapang yang ada di hadapannya. "Dari yang kamu tahu, dan juga dari sejarah kerajaan ini, tempat ini dari dulu bukanlah tempat yang layak untuk dihuni, bahkan sempat dulu para pendahulu kami mencoba untuk tinggal di sini, mereka tidak nyaman akan suasana dan memutuskan untuk pergi. Monumen Batu yang Anda katakan rasanya sulit untuk dipercaya ada di tempat seperti ini."
Setelahnya, Gordon pun datang ke arahnya. "Heraces, catatan mengenai sejarah tempat ini sangat sedikit. Belum tentu batu Monumen itu tidak ada. Kemungkinan saja petunjuk misterius yang Tuan Lyon dapatkan bisa menjadi awal bagi kita mengungkap lebih banyak sejarah."
Diikuti dengan Liseas yang juga ikut ke dalam pembicaraan mereka. "Kurasa apa yang dikatakan oleh Gordon itu benar. Saya juga merasa penasaran bagaimana tanah tandus ini bisa tercipta hingga sekarang dan sebenarnya masih banyak lagi yang harus dikuak di sini."
Heraces kembali berbicara, "Hm, saya sangat mengerti dengan rasa kepenasaran kalian berdua, dan hal ini juga menarik perhatianku. Jika kita bisa menemukan Monumen itu, maka akan ada hal baru yang akan terungkap. Ini akan menjadi sebuah pengetahuan baru bagi kerajaan Heaven."
Di saat bersamaan ketika mereka bertiga sibuk berbincang, di sisi pemain juga tidak kalah sibuknya. Ruby dan mereka lainnya juga mulai berkumpul membahas hal yang dibicarakan Lyon.
__ADS_1
"Hm, apakah mungkin Monumen batu itu berhubungan dengan Quest kelasnya kakak lagi?" ucap Ruby yang memulai pembicaraan dengan sebuah pertanyaan.
Sinon pun segera membalasnya, "Kurasa itu benar deh. Yang dia maksud soal petunjuk misterius itu pasti Quest kelasnya."
Lalu, Snowly bertanya, "Tapi, apakah mungkin kalau di tempat seperti ini ada benda yang dimaksud. Yang kulihat di sepanjang jalan tadi, hanyalah sebuah hamparan tanah tandus saja."
Sinon kembali membalasnya, "Sudah pasti itu ada, tapi kayaknya tidak diperlihatkan sampai Quest itu terpicu."
"Oh, begitu yah ..." Snowly pun mengerti.
Di saat mereka sedang berbincang, muncullah satu orang lagi yang memang berada di sana. Dia pun berbicara, "Apakah si Lyon itu sedang mengerjakan Quest kelasnya?"
Orang yang bertanya itu adalah Chaitlyn. Pada saat dia berbicara, semua pandangan mereka seketika tertuju kepada Chaitlyn. Seperti biasa, wajah penuh rasa intimidasi dia pancarkan sehingga membuat bulu kuduk mereka berdiri.
"Eh, bukannya itu si wanita menyeramk-!" Ruby secara spontan berbicara sehingga tidak sempat memfilter ucapannya. Tapi untung saja Snowly dengan sigap menutup mulutnya. "Husst, Husst ... jangan berbicara lagi."
Sinon berbicara dengan sedikit tergagap. "Oh, Ha-lo Nona Chaitlyn, sejak kapan Anda mendengarkan pembicaraan kami ....?"
"Itu ... Sejak si dia bertanya kepada kalian mengenai soal Quest kelas itu." Menunjuk ke arah Ruby. "Oh yah, apakah dia ini adalah adiknya Lyon?" Chaitlyn pun berjalan mendekat ke Ruby. Pada saat dia sudah semakin mendekat, Ruby dan Snowly secara refleks melangkah mundur dengan kaki yang bergetar. Hal itu pun membuatnya agak kesal. "Oi kalian, kenapa kalian malah menjauh??"
"T-tidak apa ... kami hanya ingin berjalan mundur, iya kan Ruby?" tanya Snowly kepadanya. Ruby pun dengan segera mengangguk-anggukan kepalanya.
Secara tidak langsung, mereka pun seperti saling kejar-kejaran. Sinon yang melihat tingkah mereka merasa lega. Dia menghela nafas sembari berkata, Kalian berdua, tetap seperti itu ... buat dia lupa soal yang tadi.
Sementara itu, Silvana yang juga ikut di dalam rombongan mereka, berbicara dengan dirinya sendiri. Hm, jadi Lyon juga mempunyai Quest kelas yah. Apakah dia juga sama seperti kamu yang mempunyai kelas rahasia. Kalau itu benar .... Wajahnya pun memerah. Ah, apa yang kuikirkan di saat seperti ini! Sadarlah akan posisimu Silvana, sadarlah ...!
Di tempat para lelaki, terdapat DeathNight, Armegon, Viergo, Vincle, dan Ardes.
"Hei Tuan DeathNight, apakah petunjuk misterius itu adalah petunjuk mengenai Quest yang Lyon punya. Kalau boleh tahu seperti apa Quest-nya itu??" tanya Viergo.
"Hm, yang kamu katakan itu mungkin benar. Akan tetapi saya juga tidak tahu apa maksud dari Quest itu. Yah, kita bisa menunggu sampai melihatnya sendiri."
"Heh, jadi dia juga mempunyai Quest dia sendiri, menarik ...." ucap Armegon sembari menyiratkan sesuatu di senyumnya.
**
Sesudah Lyon memberikan penjelasannya, mereka semua malah sibuk berbincang-bincang dan malah tidak mengacukannya. Tentu perasaan kesal muncul di dalam dirinya. Lyon pun segera menepuk tangannya dengan keras beberapa kali hingga mereka semua terdiam.
"Baiklah, sudah cukup berbincang-bincangnya. Kalau diterusin, kapan kita akan memulainya?"
Mereka semua kembali terdiam. Suasana dapat dikendalikan lagi. Lyon cukup lega karena mereka cukup menurut. Jadi, setelah itu dia pun mulai mengatur orang-orang untuk berpencar dengan beberepa orang yang akan memimpin banyak orang. Mereka akan menjelajahi seluruh area tanah tandus ini. Para prajurit dan pemain mulai bergerak dari tempatnya, pergi menuju ke lokasi yang telah di tentukan. Membutuhkan waktu setengah jam lebih agar semuanya siap.
Lyon Kembali berdiri di hadapan semua orang, kemudian berteriak dengan suara yang kencang.
"Baiklah kalian semuanya! Kita akan segera pergi mencari sebuah batu Monumen di atas tanah tandus ini! Batas waktu kita hanya sampai pada matahari terbenam. Semuanya, bergerak!!"
""Ooo!!""
Mereka semua bergerak secara serentak, pergi berpencar ke segala penjuru. Perang berakhir, dan kemudian pencarian Monumen telah dimulai.
__ADS_1