World Online The Forgotten Legend : Next Stage!!!

World Online The Forgotten Legend : Next Stage!!!
Chapter 428 Tamu Yang Mengejutkan


__ADS_3

Chapter 428 Tamu Yang Mengejutkan.


Di rumah Ganta.


Saat ini Desi dan Aisley sedang diperjalanan menuju ke pintu masuk, guna memeriksanya tamu yang baru saja membunyikan bel. Akan tetapi itu bukanlah maksud sebenarnya. Mereka berdua hanya pergi melarikan diri dan menggunakan hal itu sebagai alasan agar mereka tidak semakin dicurigai.



"Ahh, akhirnya kita dapat bebas juga," ucap Desi dengan perasaan lega.



Tidak jauh di belakangnya, ada Aisley yang berlari kecil mencoba untuk menyusulnya. Dia meneriaki Desi sembari terus mendekatinya. "Desi, tunggu sebentar ..." Aisley akhirnya sudah tiba di sana.



Desi pun kembali berbicara, "Tapi, siapa yang datang malam-malam begini yah?? Hei, Aisley, apakah kamu mengundang seseorang ke sini??" Bertanya kepada Aisley.


Aisley menggeleng-gelengkan kepalanya dan berkata, "Bukan, aku tidak mengundang siapapun. Aku kira itu teman-temanmu, Desi."


"Heh, aku pun tidak ada mengundang orang untuk ke sini. Itu juga pasti bukan teman dari ayah dan ibu. Kalau memang benar, mereka pasti yang sadar duluan ketika bel dibunyikan."


Desi bertanya-tanya mengenai siapa tamu yang datang di malam seperti ini sebab ini bukan berasal dari teman mereka, maupun kedua orang tua Desi.


"Yah, dari pada kita penasaran, lebih baik kalau kita periksa saja."



Desi tidak ingin membuat kepalanya lebih pusing. Jadi dia pun memutuskan untuk pergi memeriksanya sendiri. Dia pun segera lanjut berjalan. Sementara itu, Aisley hanya diam dan ikut di belakangnya. Beberapa saat kemudian, mereka sudah berdiri di depan pintu masuk. Desi terus berjalan hingga sampai di pintu masuk dan mulai menarik gagangnya. Pintu itu mulai bergeser hingga akhirnya terbuka penuh.



Pada saat pintu itu terbuka, terlihat dua orang, lelaki dan perempuan yang sudah berdiri di sana. Desi tidak sempat melihat kedua orang tersebut dan secara refleks berbicara.


"Yah, Selamat malam, siapa yang datang berkunjung??"


Sesaat, dia membuka matanya dan melihat kedua orang yang berada di hadapannya. Desi mengenali salah satu dari mereka. Dia pun sedikit terdiam, lalu berkata, "Eh, Armegon?! Maksudku Andreas, Itu kamu kan??" Lelaki yang berdiri itu rupanya Andreas atau yang biasa di sebut Armegon. Secara tidak diduga-duga tamu yang datang adalah dia.


Andreas hanya tersenyum sembari melambaikan tangannya beberapa saat dan kemudian diganti dengan mulutnya yang berbicara,


"Oh, Selamat malam Desi. Ini memang aku Andreas."



**



Beberapa saat setelahnya, Desi membawa Anderas masuk bekerja dengan perempuan yang ikut dengannya. Baik itu Desi maupun Aisley tidak mengenali gadis itu. Seorang Gadis yang memakai sebuah sweater abu abu gelap yang menutupi hampir setengah tubuhnya. Tingginya tidak jauh beda dengan mereka berdua. Wajahnya yang terlihat manis dengan kacamata yang terpasang, di tambah Iris matanya berwarna abu-abu dan berambut hitam yang di twintail sedikit yang menghiasi orang itu.



Mereka pun tiba di ruang tamu dan duduk bersama untuk saling berbincang.


Andreas pun memulai pembicaraan, "Maaf yah, malam-malam begini kami mengunjungi kalian."


Desi secara spontan langsung menjawab, "Eh, tidak apa-apa, tidak apa-apa. Jangan terlalu dipikirkan. Malahan berkat kedatanganmu malah membuat aku sangat senang." Yang dimaksud Desi kedatangan Andreas adalah sebuah keberuntungan darinya, sebab dia bisa kabur dari kecurigaan ayahnya.


Namun, kayaknya itu menjadi kesalahpahaman bagi Andreas. Dia sedikit memerah. "Oh, iya kah? Kalau kamu senang, yah tidak apa-apa."


Desi mulai mengajukan pertanyaan, "Jadi, ada keperluan apa kamu datang ke sini, Andreas?"


Andreas menggaruk belakang kepalanya dengan sedikit tawaan, dan berkata, "Yah, aku hanya ingin melihat Ganta dan juga ..." Lalu dia melirik ke arah gadis yang berada di sampingnya, yang menempel erat bagaikan lem. "katanya dia penasaran dengan sosok Lyon di dunia nyata. Jadinya dia memaksaku untuk pergi ke sini. Padahal masih banyak urusanku di game, tapi untung saja aku dapat menyelesaikan setengahnya. Itulah kenapa kami datangnya malam-malam begini."


""Oh, begitu yah."" ucap mereka berdua yang mulai paham.



Desi dan Aisley sudah paham mengenai maksud kedatangan Andreas ke sini. Akan tetapi, ada satu yang masih belum mereka pahami. Yap, itu adalah orang yang berada di samping Andreas. Dia itu siapa? Desi dan Aisley sempat bertatap pandang, berbicara melalui telepati kemudian kembali menghadap ke Andreas.



"Anu Andreas, kami dari tadi penasaran. Siapa sebenarnya orang yang berada di sampingmu itu??" ucap Desi yang mencoba bertanya kepada Andreas.



Andreas sedikit menatap ke arah gadis itu lalu berbalik kepada mereka. "Astaga, hampir saja aku lupa memperkenalkannya. Yah, kenalkan dia adalah Adikku, Felia. Kalau di permainan kalian mengenalnya dengan sebutan Silvana." Dan setelah itu, gadis yang bernama Felia menundukkan kepalanya beberapa kali dan kembali ke posisi semula. Dia tidak berbicara sedikitpun.


Akhirnya mereka sudah tahu siapa gadis itu. Perasaan mereka mulai lega karena tidak perlu merasa penasaran lagi.


"Oh, jadi dia adikmu yah ...." ucap Desi dengan lega.


__ADS_1


Tapi, tidak berapa lama, Desi dan Aisley secara tiba-tiba menyadari suatu hal. Wajahnya mereka menjadi pucat. Mereka pun kembali saling memandangi dan mulai berbisik.


"Aisley, aku tidak salah dengarkan? Dia itu adiknya Andreas, si Silvana itu kan?"


"Iya, aku pun mendengarnya begitu juga."


Secara bersamaan mereka kembali melihat Felia, gadis yang merupakan Silvana itu. Mereka menatapi Felia dari atas hingga ke bawah dan membandingkannya dengan Silvana. Semakin mereka mencoba mencocokkan, semakin eror otak mereka.



""Ehhh!!!""



**



Setelah perkenalan yang cukup mengejutkan itu, Desi dan Aisley segera pergi bersembunyi di balik sofa. Andreas yang melihat hal itu merasa bingung. Apa yang sedang mereka bicarakan? Setidaknya itulah yang dia pikirkan ketika melihat kelakuan aneh dari kedua gadis itu.


Di tempat Desi dan Aisley berada, mereka saat ini mulai memperdebatkan soal Silvana yang hampir tidak mereka percayai.


"Aisley, kamu lihat itu kan. Andreas bilang kalau itu adalah Adiknya yang si Silvana itu. Tapi, tidak diduga kalau dia sangat berbeda sekali. "


"Iya, aku juga terkejut. Bagaimana yah bilangnya ...." Aisley pun mencoba mengintip Silvana dan bersembunyi lagi. "Dia sangat berbeda jauh dengan kakaknya, apalagi dengan avatarnya di game yang sangat aktif, tapi di sini terlihat sangat kalem bahkan bisa dibilang pendiam sekali."


Desi kembali berbisik, "Aisley, kamu pernah bilang kan kalau dia itu juga menyukai kakak. Apa jangan-jangan dia memiliki niat untuk menyatakan perasannya?"



"Eh, itu ...." Aisley teringat akan kata-kata yang pernah diucapkan oleh Silvana di dalam permainan kalau dia tidak ingin kalah dalam mencintai Lyon. Bisa saja dia nekat untuk mengunjungi Lyon dan menyatakan perasannya. Wajah yang bingung itu berubah drastis menjadi penuh kepanikan. Aisley segera mengayunkan tubuh Desi dengan begitu kuat sehingga membuat Desi terkejut. "Desi, apa yang harus kita lakukan?? Kalau dia benar-benar sampai melakukan hal itu, apa yang harus aku perbuat?"



Hal itu membuat Desi kesal. Dengan cepat dia menghentikan Aisley dan memegangnya dengan erat. "Aisley, berpikirlah dengan jernih dulu. Saat ini kakak masih belum keluar dari permainan, kan? Itu berarti kamu masih ada kesempatan untuk menyatakannya." Aisley yang mendengarnya merasa sedikit lega. Apa yang dikatakan oleh Desi itu ada benarnya. Kepanikannya mulai mereda. Tapi di sisi lain Desi masih kesal dengan dia. "Makanya, cepat nyatakan perasaanmu kepada dia atau gak nanti kakakku akan diambil orang, aku tidak mau tahu loh."



"Tapi, kan ... aku masih belum siap," ucap Aisley dengan begitu pelan.



Desi memandanginya dengan tatapan datar seakan sudah tahu apa jawaban yang akan dia ucapkan. Dia mendorong kepala Aisley dengan jarinya dan berkata, "Heh, belum siap, belum siap, belum siap. Inilah kenapa aku sangat kesal kepadamu. Sampai kapan kamu belum siap, hah?" Aisley hanya terdiam mendengarkan ceramah yang dilakukan oleh Desi kepadanya.



Tiba-tiba saja ada suara yang memanggil mereka. Itu adalah suara yang berasal dari Andreas. Sedari tadi dia hanya melihat Desi dan Aisley yang berada di balik sofa di seberang mereka dan melakukan pembicaraan yang aneh. Dia tidak dapat mendengarnya dengan jelas. Karena mereka sudah cukup lama bersembunyi di sana, jadi Andreas mencoba memanggil mereka. Desi dan Aisley juga tersadar kalau mereka malah berlama-lama di sini dan mungkin saja menganggap kalau Andreas dan Felia diabaikan.



"Yah, maaf-maaf, kami kelepasan dan hampir saja melupakan kalian."


"Iya, kami minta maaf."


Jadi Desi dan Aisley segera meminta maaf karena secara tidak sengaja mengabaikan mereka. Andreas merasa tidak apa-apa dan memaklumi kelakuan mereka.


Setelah itu Desi mulai berbicara, "Kami sangat terkejut dengan adikmu itu. Dia terlihat sangat berbeda jika dibandingkan di dalam permainan dan juga kalian terlihat berbeda, seperti bukan saudara. Sejujurnya tadi kami sempat tidak percaya."



Andreas membalasnya dengan senyum ringan, "Tidak apa-apa, itu sudah biasa terjadi. Sering kali kami dibilang tidak mirip sama orang-orang. Yah, mungkin saja karena dia ini tidak suka memperlihatkan dirinya yang sebenarnya. Adikku orangnya cukup tertutup. Tapi, beda lagi jika dia di World Online. Sifat aslinya keluar dengan bebas. Jadi biasakan saja kalau kalian melihat dia diam dan terus menempel sedari tadi."



""Oh, begitu.""



Lalu, Andreas melanjutkan pembicaraannya, "Tapi, aku sangat kaget ketika dia mengatakan kalau dia ingin pergi ke sini. Biasanya dia selalu mengurung diri dan tidak mau pergi ke mana-mana, bahkan pergi ke halaman rumah saja dia tidak mau. Namun, hari ini dia mengejutkan semua orang ketika dia keluar dari rumah. Entah apa yang memasuki dia, tapi melihat perkembangan yang semakin baik, aku sangat senang." Andreas mengatakan hal itu dengan penuh ketulusan dan membuat mereka yang mendengarnya ikut terbawa suasana. Hal itu pun membuat suasana menjadi sunyi.



Di sisi lain, Aisley yang juga mendengar cerita Andreas, semakin khawatir. Ucapan dari Silvana sewaktu di permainan itu adalah sungguh-sungguh. Dari cerita itu sudah dapat diketahui kalau dia nekat untuk pergi ke sini agar bisa bertemu dengan Ganta.



"Oh yah! Sekarang di mana Ganta? Sedari tadi aku tidak melihatnya," tanya Andreas yang mencari Ganta. Karena kesunyian itu, Andreas merasa tidak enak dan segera mencari topik lain. Yah, dia juga memang tidak melihat barang hidung Ganta.



Sesaat, Desi pun membalasnya, "Sebenarnya ...."


__ADS_1


**



Di ruang permainan.


Andreas, Desi, Aisley, dan Felia berada di dalam sana, melihat salah satu kapsul game yang masih menyala. Waktu durasi aktif sudah menunjukkan delapan jam lebih.


"Jadi, dia tidak pernah keluar dari permainan?" ucap Andreas yang mencoba memastikan lagi.


"Hmm," Desi mengangguk setuju menanggapi ucapan Andreas. "itu benar. Kemungkinan sejak masuknya dia setelah terbebas dari penalti kematian hingga saat ini, dia masih belum keluar."


Andreas berpikir sejenak dan setelah itu bergumam, "Apakah dia sedang menjalani Quest lain sehingga tidak sempat untuk keluar dari permainan?"


Desi merasa penasaran, kemudian bertanya kepada Andreas, "Andreas, apakah kamu tahu sesuatu tentang alasan kakak tidak kunjung keluar-keluar?"


Andreas sedikit menggelengkan kepalanya. "Aku pun tidak tahu, tapi untung saja hal ini sudah diantisipasi."


"Antisipasi?" ucap Desi yang kebingungan.


"Kami sebelumnya membuat rencana cadangan kalau kakakmu ternyata tidak kunjung keluar dari permainan. Dan itu sangat diuntungkan karena itu memang terjadi. Jadi kita tidak perlu merasa khawatir lagi. Kita hanya perlu berdoa agar mereka berhasil pada misinya."



**



Di dalam permainan.


Istana kerajaan Heaven di pinggir pintu masuk gerbang bagian selatan, tengah malam.


Ada beberapa prajurit kerajaan yang sedang patroli di sekitar sana. Namun, ada beberapa orang asing yang berpakaian hitam, berlarian, kemudian menghilang. Tanpa di sadari oleh para prajurit, orang-orang tersebut sudah berhasil melewati gerbang dan sekarang sudah berada di bawah jembatan.


"Lapor, Delta, Asgur. Semua orang sudah berhasil masuk. Sekarang kita bisa pergi melewati gerbang selanjutnya," ucap seseorang yang memberikan laporan.


"Baiklah kalau begitu, mari kita bergegas pergi. Pastikan untuk menemukan tuan putri secepat mungkin. Kita harus menyelesaikan semua ini sebelum matahari terbit," ucap orang yang bernama Delta.


""Baik!"" ucap merena serentak namun tetap menjaga nada suara mereka menjadi pelan.


Secara tiba-tiba mereka menghilang dari sana, bersembunyi dalam bayang-bayang menuju ke istana.



**



Sementara itu, di dalam penjara bawah tanah kerajaan Heaven.


Seseorang tengah berbaring di sel penjara terbawah, dia terkapar di atas tanah, tidak berdaya. Keadaan sangat mengenaskan. Dia seakan tidak sanggup untuk bergerak. Sesaat dia membuka panel layarnya dan menatap tanggal saat ini.


"Hah, sudah tiga hari yah aku terjebak di sini ... Itu berarti aku sudah seharian tidak keluar dari permainan." Lalu dia menatap ke arah luar jeruji dan berteriak, "Seseorang, tolong bebaskan aku. Aku sudah muak berada di sini. Seseorang .... Apakah ada yang mendengarkan! ?"


Dia tidak menerima balasan apapun, dan hanya mendengarnya suaranya berulang kali yang menggema di ruangan itu. Dia pun mencoba untuk berbaring dan menatap ke langit-langit penjara. Dia sedikit melamun sejenak, memikirkan sesuatu. Selepas itu dia pun bergumam


"Apakah aku akan menjadi gila ataukah aku akan mati di sini?"














__ADS_1


Hehh, semakin menjadi jadi.


__ADS_2