
Chapter 402 : Ayah Anak.
Di suatu rumah, tepatnya di dalam ruangan yang terletak di lantai satu. Hanya ruangan kosong yang berisi tiga buah kapsul game. Kemudian, salah satu kaca dari kapsul game itu terangkat ke atas dan setelahnya, muncul seseorang dari dalamnya, duduk termenung. Orang tersebut adalah Ganta.
Dia baru saja keluar dari game secara paksa karena ketidakberdayaan dirinya untuk bisa bertahan hidup di sana. Dan yang lebih parahnya lagi, dia tidak dapat memasuki permainan hingga esok hari. Untuk sejenak, Dia terdiam saja. Beberapa detik kemudian, Ganta mulai mengacak-acak rambutnya.
"Ternyata ini benar. Aku tadi mati."
Walaupun dia sudah memasrahkan dirinya untuk mati, namun tetap saja dia tidak mempercayainya. Melihat kenyataan yang sudah terpampang jelas di depan matanya, membuat dia kesal. Dia mengacak-acak rambutnya karena merasakan panas dari otak yang sudah terbakar emosi.
"Dasar monster sialan! Dia malah membawa kartu-kartu andalannya dan membuatku tidak berdaya di sana," lanjuti ucapnya kesal. "Tunggu saja pembalasanku nanti!"
Ganta pun melihat ke sisi kanan dan kiri, melihat kapsul-kapsul game yang saat ini masih menyala. Itu adalah kapsul game yang ditempati oleh Desi dan Asley. Jika kapsul game itu masih menyala, itu berarti mereka masih berada di medan pertempuran.
"Ku harap mereka masih bisa bertahan, setidaknya sampai aku kembali bermain lagi."
Dia hanya bisa berharap jika mereka berdua, serta mereka yang lain bisa bertahan menghadapi Undead, setidaknya hingga dirinya bisa masuk ke dalam game. Ganta tidak mengharapkan jika mereka memenangkan perang ini sebab kalau mereka menang, maka seluruh barang jarahan miliki Lich akan diambil. Dia tidak mau itu terjadi. Sudah kalah, terus dia tidak mendapatkan apa-apa lagi, itu merupakan kerugian yang mendalam.
Ganta pun berjalan keluar dari kapsul gamenya. Ketika telapak kakinya baru saja menyentuh lantai, secara tiba-tiba pandangannya menjadi kabur.
Eh, kenapa ini?
Ganta sempat shok karena tiba-tiba saja merasakan hal seperti ini. Namun, itu hanya sesaat. Dia baru tersadar jika dirinya saat ini sangat kelelahan. Bermain game Virtual seperti World Online bisa dibilang sangat menguras fisik, mental, dan psikologi.
Heh, kurasa aku bermain terlalu lama.
Yah, pasti mereka berpikir jika mereka jika perlu tertidur di kasur atau di kapsul game tidak akan membuat mereka kelelahan. Padahal itu juga adalah hal yang tidak baik. Serat-serat otot yang ada pada tubuh, biasanya digunakan untuk melakukan berbagai aktivitas, akan melemah seiring kegiatan yang menggerakkan tubuh juga ikut berkurang. Dalam skenario terburuk, seseorang bisa saja catat. Sementara itu, untuk mental dan psikologi. Karena ini adalah game yang melibatkan otak yang dijadikan sebagai sarana penghubung, maka tentu saja di sini mental dan psikologi seseorang akan digunakan. Di dalam game, mereka akan melakukan berbagai hal, mulai dari berjalan-jalan, berburu, bertarung, hingga berperang. Suasana yang diberikan di setiap kejadian pasti akan terus berubah-ubah bagaikan ombak. Secara otomatis mental dan psikologi akan berperan aktif. Dan hal itu akan menyerang energi yang ada pada tubuh. Sebagian besar nutrisi akan dialirkan ke otak supaya otak bisa bekerja secara maksimal.
Jadi, Ganta pun segera melanjutkan langkah kakinya, walaupun saat ini cara berjalannya cukup sempoyongan. Dan beberapa jam berlalu, Ganta mulai melakukan beberapa aktivitas yang bisa mengembalikan semua energi tubuhnya. Setidaknya dia sudah merasa lebih baik. Tidak terasa juga jika hari sudah menjelang sore.
Saat ini dia berada di area belakang rumah, tepatnya di teras yang terhubung langsung dengan taman kecil. Ganta hanya menatapi sekumpulan bunga berjejer rapi di atas taman, yang tertiup oleh angin senja.
Kini, dia merasa bosan. Tidak ada sesuatu yang menarik untuk dilakukan. Yah, selama ini dia hanya berfokus kepada World Online. Untuk anak rumah sepertinya yang hobi mengurung serta bermain game, suasana seperti ini akan menjadi membosankan. Di dalam kepalanya hanya terpikirkan bagaimanakah jalannya perang yang sedang terjadi di sana.
__ADS_1
Ganta pun merebahkan dirinya di atas lantai kayu dan menatap langit-langit teras. "Kenapa hari ini terasa begitu lama ..." Kebosanan ini terasa begitu lama. Waktu seakan berjalan begitu lambat. Dia mulai merasa aneh dengan hal ini. "Coba saja aku tidak memilih untuk bertarung sendiri tadi, mungkin saat ini aku masih bersama dengan mereka dan levelku tidak berkurang...." Ada kalanya dia juga berpikir jika keputusannya pada saat itu salah. "Akan tetapi, aku ingin mengalahkannya sendiri. Cih!" Dia mulai berdecap kesal. Kurasa setelah aku kembali ke game, aku akan pergi berburu seharian dan meningkatkan level sebanyak mungkin."
"Kami pulang~"
Terdengar dari telinganya jika ada seseorang yang masuk ke dalam rumahnya. Suara seorang pria yang terdengar agak berat. Ganta sangat familiar dengan suara itu. Dia pun bangkit dari tidurnya, dan duduk berbalik mengarah ke dalam rumah.
"Ah, mereka pulang."
**
Di pintu masuk rumah, sudah terlihat dua orang pasturi, yaitu ayah dan ibu Ganta. Sepertinya mereka baru saja pulang dari toko.
Pada saat ayahnya membuka pintu dan memberi salam untuk masuk, dia melihat jika suasana di rumah ini sepi. Dia tidak terkejut atau apa mengenai suasana ini karena hampir tiap hari suasana-suasana seperti ini sudah dirasakan.
"Heh, seperti biasa, mereka semua sedang sibuk," ucap si ayah pelan sembari menghela nafas.
"Hm,"
Mereka pun masuk ke dalam rumah. Namun, pada saat mereka baru saja melepaskan alas kaki mereka di dekat pintu masuk, tidak jauh di seberang mereka sudah berdiri seseorang. Orang itu adalah Ganta.
"Ayah, ibu, Kalian sudah pulang yah ...." ucapnya.
Perkataan itu mengejutkan mereka berdua. Secara bersamaan mereka menoleh ke arah Ganta. Dan sesaat terjadi keheningan, yang kemudian keheningan itu hilang setelah ayahnya berbicara.
"G-Ganta...?"
**
Di ruang keluarga.
Setelah kejadian itu, Ganta dan kedua orang tuanya, berpindah tempat menuju ke ruang keluarga. Ganta dan ayahnya duduk bersama di atas sofa sembari menonton TV. Sementara itu, Ibunya terus berjalan ke arah dapur untuk pergi memasak makan malam.
__ADS_1
"Ganta, tidak kusangka kamu yang pertama kali muncul dan pergi menyambut kami," ucap ayahnya dengan santai, yang kemudian bertanya, "Jadi, ke mana adikmu dan juga Aisley, apakah mereka masih bermain game?"
Ganta memberikan anggukan disertai dengan jawaban, "Iya, mereka masih bermain game." Namun, dapat dilihat dari nada bicara yang terdengar datar di tambah ekspresi wajah yang terlihat kurang baik. Hal itu disadari oleh ayahnya.
"Ganta, ada apa denganmu? Kelihatannya kamu sedang tidak baik," tanyanya.
Ganta hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. "Hm, tidak apa-apa." Dia menjawabnya dengan begitu singkat.
"Tapi, kenapa jawaban itu tidak sesuai dengan nada bicaramu. Apakah kamu ada masalah? Coba ceritakan sini."
Jawaban yang penuh kepalsuan. Dia tahu kalau Ganta sedang menyembuhkan suatu masalah. Tapi jika dipikir, masalah yang dipendam tidak akan berakhir baik. Lebih baik kalau dia menceritakannya agar dia bisa melepaskan masalah yang membebani dirinya.
"Tidak apa-apa ayah, tidak ada masalah yang serius. Aku cuman kepikiran tentang game yang kumain, itu saja."
"Ternyata cuman game yah ... Ku kira ada sesuatu." Nah, sekarang dia bisa melihat kejujuran itu. Rupanya ini soal permainan yang Ganta mainkan. Si Ayah pun langsung menyandarkan dirinya di sofa, lalu berkata, "Ayah mungkin tidak tahu apapun soal game yang sedang kamu geluti dan apa masalah yang kamu alami di sana, tapi jangan sampai hal semacam itu membuatmu galau. Ayah tidak ingin melihat ada anak ayah yang tidak semangat."
Dia hanya bisa memberikan bantuan sebatas nasehat untuk anaknya.
"Hmm, baiklah Ayah."
"Dan ingat, jangan selalu memaksakan dirimu. Beberapa hari belakangan ini ayah melihat kalau kamu itu semakin kurus. Mungkin kamu terlalu banyak menghabiskan waktu bermain game, dan lupa untuk makan. Jadi, selepas ibumu selesai memasak, kamu harus makan lebih banyak," lanjutnya.
Ganta hanya terdiam, tidak membalas lagi perkataan ayahnya. Tapi dia mulai tersenyum. Orang tuanya masih memberikan dukungan positif untuknya. Dia agak senang dengan hal itu. Dan setelah itu mereka kembali berbincang.
"Ngomong-ngomong soal game, eh, kalau tidak salah namanya itu World Online, kan? Ada salah satu pekerja ayah yang juga bermain game yang sama sepertimu. Dia adalah pekerja paruh waktu. Heh, kalau tidak salah namanya adalah Dimas."
"Dimas?"
"Yah, Dimas. Ayah memberitahunya kalau anak ayah juga bermain game yang sama dengannya. Jadi dia pun mencoba bertanya ... Ee, kalau tidak salah, dia menanyakan nama id mu dan juga Guild-mu. Nanti kayanya dia ingin bertemu denganmu."
"Kalau begitu katakan saja namaku adalah Lyon. Itu saja, katakan saja namaku, nanti dia juga pasti tahu sendiri."
"Lyon? Apakah itu namamu di sana?"
"Iya, emangnya kenapa??"
"Hmm, itu terdengar cukup keren."
"Iyalah, kan aku yang memberikan nama itu. Jadi pastilah keren."
"Jadi, ayah hanya memberitahu namamu saja, kan?"
"Iya, Iya, iya, itu saja. Dia pasti akan tahu."
"Oh yah, ada yang ingin ayah tanyakan kepadamu tentang adikmu itu ...."
Pembicaraan mereka terus berlanjut hingga akhirnya makan malam telah siap.
__ADS_1