
Cha'pter 430 Sosok Misterius.
Di dalam Istana kerajaan.
Asgar pun memutuskan untuk menutup panel layarnya dan bergerak dengan cepat. Pertama, aku harus menjauh dulu dari tanda merah misterius ini! gumamnya dalam hati.
Dia mengaktifkan keterampilan Killer Shadow dan berubah menjadi hitam. Asgar kemudian berpindah tempat dengan sangat cepat, melompat-lompat ke sudut ruangan tanpa memedulikan apapun, termasuk musuh yang saat ini mengancamnya.
Killer Shadow adalah kemampuan untuk merusak yang dapat memberikan kerusakan yang besar serta kejutan dari serangan itu dalam waktu tertentu. Prosesnya, pemain yang menggunakan keterampilan ini akan memperoleh buff berupa Kelincahan mereka akan naik beberapa kali lipat sesuai dengan level keterampilan itu. Selain itu, kerusakan serta Penghindaran juga meningkatkan drastis. Ini adalah serangan langsung yang simpel dan juga mematikan.
Akan tetapi, Asgur menggunakan keterampilan itu untuk berlari. Durasi dari keterampilannya adalah empat menit. Kesempatan untuk memberikan ke kerusakan adalah tiga kali. Jika dia sudah menggunakan semua stok serangan dari keterampilan ini, maka secara otomatis keterampilan itu akan dinonaktifkan, walaupun masih banyak waktu yang tersisa.
Asgur terus berlari dan berlari. Sembari berlari, dia juga menyempatkan diri untuk melihat panel layarnya, untuk memastikan kalau tanda merah yang tadi dia lihat sudah hilang dari areanya. Dan benar saja, tanda tersebut sudah menghilang. Asgur dapat bernafas lega untuk saat ini.
"Huff, sepertinya aku dapat bebas untuk saat ini."
Tidak terasa Asgur sudah menaiki beberapa lantai sampai dia lupa di mana letak pasti dia berada. Durasi dari Killer Shadow-nya masih tersisa satu menit lebih beberapa detik. "Ah, gara-gara kekacauan ini aku sampai dibuat nyasar. Sekarang aku dimana?!"
Asgur kembali berjalan pelan di sekitar lorong istana secara pelan dan waspada. Dia terus memantau area sekitarnya degan keterampilan Sense Area untuk memastikan kalau hal yang kayak tadi sudah tidak ada. Sampai saat ini dia masih belum menemukan tanda merah itu.
Kurasa saat ini aku sudah aman ....
Setelah cukup berpikir, Asgur menyimpulkan kalau dia sudah tidak diikuti oleh tanda merah itu. Asgur pun beralih ke peta yang merupakan peta dalam istana. Ketika dia memperhatikan lokasi dia berada, dia memastikan jaraknya dengan kamar tuan Putri. Asgur agak terkejut ketika mengetahui jika jaraknya sudah dekat, Hanya perlu melewati beberapa belokan, dan dia pun sudah sampai.
"Hehe, ini sangat bagus. Aku pasti bisa pergi ke ruangannya tuan Putri."
Asgur merasa senang akan nasibnya yang dibilang beruntung. Dengan cepat dia melesat pergi menuju ruangan yang dimaksud. Tapi, baru setengah jalan dia lalui, ada pemberitahuan lain yang muncul. Itu adalah pemberitahuan jika Delta sudah mati. Asgur kembali terdiam dan memasang wajah panik.
"Delta-!"
Dia tahu jika Delta mati, maka musuh yang sedang mengincarnya, akan pergi ke arahnya, ditambah lagi dengan tanda merah misterius yang saat ini tidak diketahui keberadaannya. Kali ini dia dalam bahaya.
Cih, sekarang tinggal aku sendirian saja! Tidak ada waktu, aku harus segera menemuinya.
Asgur kembali melesat maju dan terus berlari secepatnya mungkin. Kedua matanya telah melihat sebuah pintu yang dimana itu adalah pintu kamar Isabella. Ada seseorang yang sedang menjaga pintu yang tidak lain itu adalah Helias. Dia bersama dengan beberapa orang prajurit sedang menjaga pintu kamar.
Aku pasti bisa, Ya! Aku pasti bisa!
Namun, semua itu tidak sesuai dengan yang diharapkan. Pada saat jarak Asgur sudah semakin dekat, Tiba-tiba saja ada sesuatu yang membawanya dan melemparnya ke bawah. Asgur pun terjatuh dibuatnya.
Agh! Apa-apaan itu tadi?!
Dia juga menerima kerusakan dan membuat hampir 20℅ darahnya. Padahal tadi dia merasa kalau dirinya di dorong oleh sesuatu, namun entah kenapa itu membuat barnya banyak berkurang. Untung saja dia cukup gesit dan berpegang pada sesuatu yang membuatnya tidak terjatuh. Setelah itu, dia pun pergi ke tempat yang berpijak. Dia berada satu lantai di bawah kamar Isabella.
Lalu, Sense Area nya mendeteksi sesuatu, dan itu tepat dibelakangnya. Dengan durasi dari Killer Shadow yang kurang dari 20 detik, Asgur segera berbalik dan menyerang sosok itu. Empat serangan hitam nan mematikan telah dia buat yang membuat efek bekas sayatan hitam beraura ungu.
...-37.472...
...-37.373...
__ADS_1
...-38.283...
...-37.928...
Keempat serangan itu mengenai telak. Tetapi bukannya senang, Asgur malah semakin panik. Dia langsung menjauh begitu sudah selesai mengayunkan pedangnya hingga jarak sekitar lima meter, lalu berhenti.
Bagaimana bisa kerusakanku serendah itu?! Seharusnya aku bisa memberikan ratusan poin untuk setiap serangan ku. T-tapi, ini ...!
Dia terkejut sebab serangan yang baru saja dia lancarkan tidak sesuai dengan yang dia harapkan. Hanya sekitar 150 ribu poin-an saja yang dia hasilkan dari sembari serangannya. Seharusnya dia bisa memberikan lebih banyak kerusakan lagi. Pasti pertahanan sosok yang dia hadapi sekarang sangatlah tinggi.
Di saat itu juga, keterampilannya pun berakhir. Aura hitam yang nenyelimutinya juga ikut menghilang. Tapi, Asgur tidak menyadari sebab dia terlalu fokus kepada musuh yang saat ini ada di depan dia. Asgur tidak dapat melihat statusnya. Entah kenapa dia tidak bisa melihatnya. Padahal dia sudah berada cukup dekat dengan sosok itu. Dia sedang berdiri dibalik bayangan tiang yang hanya menampilkan sepasang mata merah yang bersinar terang.
Asgur mencoba untuk berbicara, dengan maksud mencari tahu tentang identitasnya serta yang lain.
"Apakah kamu yang tadi menjatuhkanku?!" tanyanya dengan suara lantang.
Sejenak, sosok itu terdiam tidak membalas ucapannya. Namun, Asgur masih tetap menunggu jawabannya. Hingga beberapa detik berlalu, dia pun menjawab, "Iya, itu memang benar." Suaranya terdengar seperti suara seorang wanita dewasa.
Tidak berapa lama, sosok itu melangkah maju, menghampiri Asgur. Dia menampilkan wujudnya yang ditutupi oleh gelapnya bayangan tiang. Sosok itu membuat Asgur tercengang. Selain wujudnya, statusnya juga secara otomatis terpampang jelas dan itu membuat Asgur takut. Dia merinding dengan hebatnya. Kedua kalinya secara refleks bergetar menunjukkan kalau dirinya sangat ketakutan.
Sosok tersebut berhenti di tempat, dia melihat tubuhnya yang sudah memiliki beberapa sayatan di dadanya. "Kejam sekali Anda. Menyerang wanita cantik seperti diriku dan melukai area sensitifnya, sungguh memalukan." Tidak berapa lama luka yang diberikan oleh Asgur tadi, hilang tak berbekas. "Huf ... untung saja luka ini bisa saya hilangkan seketika."
Sosok yang menyebutnya sebagai Wanita segera menyodorkan pandangannya, dan memberikan tatapan tajam ke arah Argus. "Sudah cukup berbasa-basinya, saya tidak ingin membuang banyak waktu. Sekarang, katakan siapa yang menyuruh Anda menyusup ke istana ini, dan apa tujuan Anda datang ke sini? Sebaiknya kamu menjawabnya saja karena tadi satu rekanmu yang sudah kubunuh tidak menjawabnya karena keras kepalanya dia."
Sosok tersebut bertanya kepada Asgur dengan nada yang begitu anggun, tapi di sisi lain terdengar sadis. Asgur tidak menjawab pertanyaan itu dan memilih perlahan menjauhinya. Sosok itu tersenyum kecil mengetahui niat Asgur yang ingi lari darinya.
"Jadi, Anda memilih untuk kabur yah?"
Dan sesaat dia menghilang, lalu berdiri di belakang Asgur dengan tangan yang sudah dilengkapi oleh kuku tajam berwana merah tua, di area lehernya. Perlahan, dia mendekatkan wajahnya, lebih tepatnya bibirnya ke telinga Asgur dan memberikan bisikan manja.
"Saya bisa saja langsung membunuhmu dalam sekali sayatan. Tapi, jika Anda menjawab pertanyaan saya tadi, maka saya akan memberikan sedikit ampunan, membiarkanmu hidup."
Sementara itu di dalam benak Argus. Dia masih shok dengan kehadiran sosok ini yang secara tiba-tiba berpindah tempat ke belakangnya. Dia, cepat sekali! Dan dadanya-! Dia merasakan sepasang gumpalan besar yang langsung mendorong punggungnya serta pedangnya untuk bangkit. Tapi untung saja Asgur segera menghilangkan pemikiran buruknya itu dan kembali ke jalan semula. Orang ini ... dia cepat sekali. Aku bahkan tidak bisa merasakan hawa keberadaannya. Lalu, Asgur pun mendengar bisikan dari sosok itu kalau dia akan memberikan tawaran hidup atas informasi yang dia berikan. Heh, dia pasti berbohong soal tawaran itu. Aku sudah sering melihatnya di film-film, dan pasti Terima atau tolak, mereka pasti mati. Tapi, tunggu dulu .... Kurasa ini bisa menjadi kesempatan ku untuk menghubungi mereka sebelum aku mati. Yah, aku akan mencoba untuk menurutinya.
Asgur tahu kalau dirinya pasti akan mati sebab skenario semacam ini sudah banyak bertebaran di film-film. Persentase terbesar antara 'hidup' dan 'mati', adalah 'mati'. Namun, dia mendapatkan ide. Dia akan menggunakan kesempatan ini untuk mengirimkan pesan kepada mereka yang berada dj luar sana soal hal ini. Dia akan menuruti kemauan sosok ini.
"B-baiklah ... baiklah ... saya akan memberitahumu. Tapi sebelum itu bisa lepaskan aku dulu. Soalnya aku kesulitan untuk berbicara, apalagi dengan dua bola besar yang mendorong terus punggungku. Itu membuatku sulit bernafas."
Namun, tidak ada respon yang keluar dari sosok itu. Dia malah menatap tajam Asgur, menyatakan ketidakpercayaannya. Agsgur pun juga ikut menatapnya, namun dengan sedikit gemetaran.
"Setidaknya lepaskan saja aku. Aku juga tidak bisa kabur dari sini karena saking cepatnya Anda, bahkan tadi saja aku tidak bisa melihat pergerakanmu. Jadi, apakah boleh?"
__ADS_1
Asgur berusaha untuk membujuknya. Tapi, yang dia dapat sama seperti tadi. Tidak ada balasan. Dia tetap berharap dan terus menunggu. Hingga pada akhirnya, sosok tersebut merespon.
"Baiklah, saya akan lepaskan. Tapi, setelah ini jangan-jangan coba-coba untuk melarikan diri atau semacamnya. Dengar?"
Asgur merasa lega karena sudah dilepas, tapi dia juga tidak rela berpisah dengan sepasang gumpalan hangat itu. Namun, dia harus melakukannya demi misi. Beberapa saat setelah itu, mereka kembali berhadapan di jarak yang sama seperti sebelumnya.
Sekarang Waktunya untuk mengirimkan pesan!
Asgur pun lalu membuka panel layar dan diletakkan di sebelah kanannya. Panel layar sistem hanya bisa dilihat oleh sesama pemain saja. Para NPC, bahkan monster tidak dapat melihat panel tersebut. Hal ini dijadikan kesempatan bagi Asgur untuk mengirimkan pesan. Jadi, dia mulai mencari tabel pesan. Dan sementara itu, tangan kirinya mulai bergerak diikuti dengan mulutnya, berbicara.
Yah, jadi sebenarnya Asgur melakukan dua kegiatan dalam satu waktu. Yang satu adalah mengirimkan pesan, tepatnya di sebelah kanan, dan yang kiri mulai memperagakan penjelasan yang dikeluarkan oleh mulutnya.
"Jadi, sebenarnya tujuan kami ke sini ialah ..."Asgur mulai memberikan penjelasan soal tujuan kedatangan mereka. Tapi, itu bukanlah penjelasan yang sebenarnya. Dia sedang berbohong. Dan selama itu juga, tangan kanannya mulai mengetik pesan. Huruf demi huruf, kata demi kata dia ketikkan di panel tersebut. Ini adalah kali pertamanya dia mencoba hal ini, jadinya agak sulit untuk dilakukan. Terkadang mulutnya sampai melilit tidak karuan dan membuat penjelasan tersendat karena sisi lainnya. Hal itu membuat Sosok itu menjadi bingung. Selain bingung, dia juga merasa aneh dengan tangan kanan Asgur yang terlihat ingin meremas sesuatu. Padahal sebenarnya dia lagi mengetik, tapi gerakan jarinya malah membuatnya menjadi aneh. Dia juga melihat ke dadanya yang besar itu dan memastikan kalau itu memang benar.
"Berhenti!" ucapnya dengan nada lantang.
Aura yang dikeluarkan oleh sosok itu menyebar ke sekeliling mereka, tapi tidak meluas. Berbagai status buruk pun muncul. Asgur seketika berhenti menjelaskan dan juga mengetik. Dia langsung terpaku kepada sosok itu dengan perasaan takut gemeteran akibat aura yang dikeluarkan tadi.
"I-iya ... kenapa? Apakah ada sesuatu yang salah??" tanyanya dengan gugup
Sosok itu menjunjuk ke tangannya, dan berkata, "Sebegitunya Anda bernafsu dengan dada saya sehingga memikirkan untuk meremasnya?"
"Eh-?!"
Asgur terkejut dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh sosok itu. Dia mengira jika dia sedang memikirkan hal itu, padahal dia saat ini lagi mengetik. Dia segera melihat tangannya yang masih melayang. Memang benar, gaya tangannya seperti sedang ingin meraba-raba gitu.
Tapi, belum selesai dia menjelaskan, sosok itu kembali berbicara, "Anda tahu, kalau kelakuan Anda sampai dilihat oleh dia, bisa-bisa dia akan mengamuk. Tapi, kalau dia tidak ada, ya~" Dia mulai memberikan tatapan yang bernafsu. "Nanti, setelah Anda selesai memberikan semua informasi ini, Anda saya izinkan untuk meremas salah satunya sebagai bonus tambahan." Dan menjulaikan sepasang gumpalan dadanya ke atas dan ke bawah.
Sesaat, itu membuat efek Stun, yang membuat Asgur terdiam ditempat. Kedua matanya menatap tajam ke dua gumpalan tersebut hingga mereka kembali terdiam. Itu juga yang mengembalikan kesadarannya. Apa yang sebenarnya aku pikirkan?! Fokus, fokus! Tenangkan dirimu Argus, dan kamu juga Juniorku. Setidaknya kematianku akan berkenang sampai di luar sana.
Secara tiba-tiba terdengar suara hentakan besar yang terdengar oleh mereka berdua. Mereka pun segera memalingkan pandangan mereka ke sumber suara tersebut. Ada sosok asing yang tengah memperhatikan mereka dari kejauhan. Terlihat juga aura hitam merah gelap yang membara disekitar sosok itu. Itu adalah aura kemarahan.
Sosok yang berada di dekat Asgur langsung berbicara, "Ah, Sayang, kamu ternyata ada di sana. Kenapa tidak bilang dari tadi??" Suaranya menjadi lembut dan manja.
Sesaat, dia menerima balasan, "Saya baru saja tiba di sini. Namun, nampaknya tadi saya mendengar si makhluk sialan ini ingin memegang dadamu?" Dan menatap tajam ke arah Asgur. Rasanya seperti ada sebuah pisau yang langsung menusuk ke hati Asgur dan membuat dia semakin takut. Sosok itu lanjut berbicara, "Berani-beraninya kamu bernafsu kepada kekasihku selagi aku ada di sini. Tidak ada ampun bagimu." Dan melangkah maju mendatanginya.
"Eh?"
Asgur kebingungan sejenak. Secara refleks jarinya menekan pesan tersebut untuk dikirim, tapi pesan itu belum dia tulis sepenuhnya. Namun, itu adalah pilihan yang tepat baginya karena sesaat ketika jarinya menjauh dari panel, Sosok tersebut sudah berada di hadapan Asgur dan menyerang. Kepalanya terpisah dari badannya, begitu juga dengan bar-nya yang seketika habis.
Ah, aku mati ....
Asgur pun mati. Dia mati dengan perasaan lega karena dapat mengirimkan pesan kepada mereka dan penuh penyesalan karena tidak mendapatkan kesempatan langka seperti ini dihidupnya.
Jadi, jangan sampai kalian bernafsu pada kekasih orang lain, apalagi istri orang lain atau durasi hidup kalian akan semakin singkat.
Banyaknya pekerjaan di bulan ini dan mungkin juga di bulan depan, semakin mempersempit waktu untuk menulis, apalagi di tambah kesehatan saya yang juga mulai memburuk gara-gara pergantian musim. Yah, pergantian musim terkadang bisa menjadi sesuatu yang buruk bagi seseorang, maupun banyak orang, termasuk saya. Semoga saja pekerjaan dan sakit saya diringankan, serta nantikan update-an lain dari W.O
__ADS_1