
Chapter 426 Adu perasaan.
Guild Soul Wings, wilayah Madrian.
Sejak kejadian penangkapan Lyon yang dilakukan oleh pihak kerajaan, kini semua pemain berkumpul di markas Guild Soul Wings yang terletak di Wilayah Madrian. Mereka semua sangat penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi. Mereka menunggu berita lebih lanjut mengenai masalah ini.
Sementara itu, ada beberapa orang yang sudah berada didalam markas Guild. Mereka adalah para pemimpin dari Red Rose dan Sun and Moon, serta beberapa anggota Soul Wings. Mereka kali ini akan melakukan rapat guna membahas soal penangkapan Lyon. Untuk beberapa saat mereka semua terdiam. Tidak ada kata yang keluar dari mulut mereka sehingga menyebabkan suasana di sana menjadi sunyi. Tapi, tidak lama setelah itu, kesunyian itu telah hilang. Sinon segera angkat bicara dan memulai rapat. Dia melirik ke arah Ruby dan Snowly, berbicara kepada mereka.
"Jadi, apa pesan yang dititipkan oleh Pemimpin kepada kalian berdua??"
Sesaat, Ruby pun menjawab, "Jadi begini, sebelum kakak ditangkap oleh mereka, dia memberikan ini kepada kami." Mengambil sebuah lencana dari balik tasnya. "Setelah itu dia berkata, gunakanlah benda ini dan bicarakan soal hal ini dengan Putri Isabella soal keanehan raja dan ratu. Begitulah kira-kira."
"Jadi begitu yah ...." Sinon kembali diam ketika dia sudah mendengarkan ucapan Ruby. Karena tidak ada lagi yang berbicara, Armegon pun yang memulai pembicara.
"Kalau itu yang dia katakan, berarti Putri Isabella pasti mempunyai sebuah solusi untuk menyelesaikan masalah ini. Lencana yang dia berikan itu adalah lencana yang sama dengan yang aku punya. Itu adalah lencana perizinan untuk masuk ke dalam istana. Lyon telah memberikan sebuah petunjuk. Bagaimana kalau kita langsung saja pergi menuju istana."
Lencana yang mereka berdua Terima dari Lyon adalah lencana istimewa yang membuat seseorang bisa masuk dan keluar dari istana tanpa adanya halangan. Lyon memberikan petunjuk jika untuk menyelamatkannya, mereka harus bertemu dengan putri Isabella dan membiarkan hal ini. Mereka hanya memiliki kemungkinan jika Lyon sudah tahu tentang semua ini dan memberikan petunjuk jika Isabella lah kunci untuk menyelamatkannya.
"Tapi ..." Sinon kembali berbicara, membalas ucapan Armegon. "Aku rasa saat ini masih belum tepat untuk pergi ke istana mengingat kejadian ini baru saja terjadi. Mungkin saja kita tetap tidak diizinkan untuk masuk walaupun kita sudah memiliki lencana ini."
"Hmm kamu ada benarnya." Armegon menyetujui pendapatnya. "Kemungkinan selatan kejadian itu, Algoritma para NPC mulai berubah. Mereka semakin sensitif akan sesuatu yang berhubungan dengan penangkapan Lyon. Mungkin dalam beberapa hari, mereka sudah kembali netral lagi.
Sinon merasa ragu untuk pergi ke istana karena ini bukan saat yang tepat. Lagian Lyon baru saja ditangkap. Pasti ada suatu perubahan yang telah terjadi. Para prajurit akan semakin waspada atau mungkin saja tidak ada satu orang pun dibolehkan untuk masuk.
Armegon juga baru sadar setelah Sinon mengatakan hal itu. Di dalam pikirannya juga terbesit hal yang sama dengan Sinon. Akan ada perubahan pada NPC di sekitar kerajaan setelah kejadian ini terjadi. Itu berarti mereka membutuhkan waktu agar suasana dapat kembali netra kembali. Itu berarti mereka tidak dapat menemui Isabella dalam beberapa hari ini.
Hal itu pun membuat Snowly khawatir, apalagi setelah mendengar jika mereka akan melakukan pergerakan dalam beberapa hari ini. "Apakah kita tidak bisa menyelamatkan Lyon secepat mungkin??" ucapnya yang bertanya kepada mereka berdua.
Armegon dan Sinon sama-sama menggeleng-gelengkan kepala, menyatakan ketidakbisaan serta ketidaktahuan.
"Kami juga kurang yakin bisa menyelamatkannya secepat mungkin," ucap Sinon.
Silvana yang menyimak pembicara mereka, sekarang mulai merasakan khawatir, apalagi setelah mendengar kalau akan butuh waktu lama untuk Lyon bebas dari sana.Dia hanya tertunduk sembari memikirkan Lyon di benaknya.
Lyon ....
Snowly masih belum menyerah. Dia masih ingin menyelamatkan Lyon. "Tapi, apakah kita tidak bisa mencobanya dulu? Siapa tahu kita bisa mendapatkan izin masuk ke dalam sana."
"Hasilnya sangat kecil kalau sampai mereka mengizinkan kita untuk masuk, dan orang yang masuk mungkin cuman satu dua orang saja," balas Armegon.
__ADS_1
"Yah, walau itu hanya satu atau dua orang, kurasa itu sudah cukup untuk mendapatkan informasi dari tuan putri."
Mereka pun saling menatap satu sama lain, lalu memberikan anggukan kepala. Sebuah keputusan telah dibuat.
"Kalau begitu mari kita coba."
Jadi, setelah itu dimulailah pembentukan kelompok yang akan pergi ke istana kerajaan. Dan di dapatlah dua orang. Dia adalah Snowly dan Silvana. Setelah melalui perdebatan yang tidak lama, kedua orang inilah yang mendapatkan bagian itu. Snowly memang sedari awal sangat ingin menyelamatkan Lyon, jadi wajar saja jika dia sudah berada di sana.
Sementara itu, Silvana yang juga termasuk di dalamnya, entah mengapa dia juga ingin ikut dan mengajukan diri. Dia bahkan sampai ribut dengan Armegon sembari merebut lencana milik Armegon. Pada akhirnya dia pun berhasil.
Mereka semua yang berada di ruangan itu segera berdiri, menghadap ke Snowly dan Silvana.
"Baiklah, sekarang kalian dapat pergi dan mencoba untuk masuk ke sana," ucap Sinon kepada mereka berdua, kemudian diikuti yang lainnya yang memberi penyemangat kepada mereka.
Snowly dan Silvana memberikan anggukan paham terhadap ucapannya. Mereka berdua segera meninggalkan ruangan, bergerak menuju ke Istana Heaven.
**
Di luar Guild, jalan raya menuju istana kerajaan Heaven.
Saat ini Snowly dan Silvana sudah keluar dari markas Guild dan terus berjalan menuju ke istana. Mereka berdua hanya terdiam saja, tanpa ada dari salah satu mereka yang berbicara. Ini sudah sewajarnya bagi mereka berdua yang sama-sama memiliki perasaan terhadap satu orang yang sama, apalagi mereka sudah saling mengetahui. Ada perasaan janggal yang membuat mereka merasa gengsi. Tujuan awal mereka berdua adalah menyelamatkan Lyon sehingga tidak terpikirkan hal yang lain. Namun, setelah beberapa saat mereka berdua telah menyadari hal ini. Oleh sebab itu mereka hanya diam saja, berjalan memalingkan pandangan mereka ke arah yang berbeda.
"Anu ... S-silvana." Silvana hanya merespon dengan sedikit mengeluarkan suara di mulutnya, tetap berjalan. Snowly pun lanjut berkata, "Ada yang ingin aku tanyakan. Apakah kamu sungguh-sungguh memiliki perasaan kepada Lyon??"
Pertanyaan itu seketika membuat langkah kaki Silvana terhenti. Jelas, Snowly pun ikut menghentikan langkah kakinya dan terus melihatnya.
Silvana yang terdiam mencoba untuk berbicara. "Emangnya untuk apa kamu tahu, hah?" Tapi dia malah bertanya balik dengan nada yang lumayan tinggi.
Tentu saja hal itu membuat Snowly sedikit terkejut. Dia pun kembali berbicara. "Tidak apa-apa ... aku hanya ingin mengetahuinya saja."
Silvana membalasnya, "Aku sungguh-sungguh mempunyai perasaan terhadapnya. Aku menyukainya!" Silvana memberikan jawaban yang tegas. Semua itu telah memperjelas segalanya dan membuat Snowly paham. Jadi, dia segera menunduk dan mulai merenung.
Jawabannya telah memperjelas segalanya. Sudah wajar jika ada beberapa orang yang menyukai Lyon, bahkan aku dan dia, yang sama-sama menyukainya. Tapi, aku tidak akan membiarkan Lyon menjadi milik orang lain. Dia adalah cinta pertamaku dan akan menjadi terakhir bagiku.
Bagi Snowly, Lyon adalah cinta dari pandangan pertama dia. Sejak awal dia direkrut ke dalam pestanya hingga sampai saat ini, dia selalu bersama dengannya. Dia mencoba untuk terus membangun hubungan itu, sedikit demi sedikit hingga mencapai klimaksnya kelak.
Snowly mengangkat kepalanya dan berkata kepada Silvana, "Aku tidak akan menyerahkan Lyon kepada siapapun, termasuk kepadamu sebab dia adalah orang yang telah berhasil merebut hatiku sejak pertemuan pertama kami. Berkat dia aku sudah bisa seperti ini."
Ucapan Snowly terdengar seperti sebuah tantangan bagi Silavana. "Aku juga sudah tahu kalau kamu sangat menyukainya. Namun, aku juga sama. Aku ingin mencintai dan dicintai olehnya. Sejak hari itu, di malam itu ... aku tidak bisa menghilangkan pikiran tentang Lyon dari dalam kepala ku. Jadi, aku tidak mau kalah denganmu. Aku akan segera merebut Lyon darimu."
__ADS_1
Sifat untuk tidak mau kalah sudah ada di dalam diri Silvana. Dia tetap tidak mau kalah dari Snowly untuk mendapatkan Lyon. Ingatan mengenai Lyon sudah membekas di dalam otaknya dan tidak bisa lepas lagi Lyon sudah menjadi cinta pertamanya juga.
Silvana melanjutkan perkataannya, "Tapi, kita berdua sama-sama masih belum mengungkapkan perasaan yang kita miliki kepada dia. Untuk aku sih masih wajar sebab aku tidak lama mengenalnya. Tapi untukmu. Kamu sudah kenal dengan dia cukup lama dan menyimpan perasaan itu sejak lama, tapi kenapa kamu tidak mengungkapkannya? Apakah kamu masih ragu ataukah itu cuman perasaan palsu?"
Snowly terdiam. Ucapan Silvana membuat pikirannya kacau. Dari jauh hari, dia mempunyai perasaan kepada Lyon, namun tidak bisa diungkapkan. Dia merasa malu dan belum siap. Akan tetapi ucapan Silvana telah menggoyahkan hatinya. Dia semakin pesimis akan perasaannya sendiri. Namun, ada sekilas balik mengenai dirinya yang berada dengan Lyon, baik itu di dalam game maupun di dunia nyata. Semua kehangatan tercipta di sana dan menyapu semua rasa dingin yang berada di dalam hatinya.
Ini bukanlah kepalsuan ....
Snowly akhirnya telah menghilangkan rasa pesimisnya berkat semua kenangan dan kehangatan yang ada bersamanya. Cintanya bukanlah kepalsuan.
"Ini bukanlah perasaan palsu!" Snowly pun kembali berbicara dengan suara yang ditinggikan. Hal itu membuat Silvana terkejut. "Aku memang sudah memiliki perasaan kepadanya, sejak dulu hingga detik ini, dan itu tidak akan berubah. Hanya saja ... aku selalu tidak siap untuk mengungkapkannya mengungkapkannya. Ada di setiap kesempatan, dan kesempatan untuk mengungkapkannya, namun aku selalu merundungkan niatnya karena ketidaksiapan ini. Aku takut jika itu terjadi, jarak kami malah semakin menjauh. Perlahan-lahan, momen indah yang terbentuk ini, menjadi berantakan. Lyon pasti masih belum siap akan untuk mendengarnya, dan ... aku juga ingin dia sadar dan malah menembak ku terlebih dahulu."
Sudah tidak dipungkiri jika cinta Snowly adalah cinta sejati. Dia mengatakan itu dari dalam lubuk hatinya. Alasan mengapa dia sampai sekarang tidak mengungkapkannya duluan karena dia tidak ingin merusak semua momen indah yang telah mereka lewati. Ada saatnya ketika salah satu dari mereka sudah mengungkapkan perasaan mereka kepada orang yang mereka cintai, ada sebuah jarak yang terbentuk, memisahkan mereka. Apabila salah satu dari mereka tidak bisa bertahan, maka jarak itu akan semakin lebar dan pada akhirnya mereka tidak akan bisa melihat satu sama lain lagi. Itulah yang ditakutkan oleh Snowly. Belum lagi ketidakpekaan Lyon yang terlalu tinggi, dia pasti tidak siap ketika mendengarnya dan malah menjauh darinya. Sementara itu di sisi lain, Snowly ingin kalau Lyon lah yang sadar akan perasaannya dan segera menyatakan perasaanya duluan, walaupun rasanya itu cukup mustahil karena sifat yang tidak pekanya itu.
Setelah ucapan itu telah selesai dilontarkan, Silakan yang kembali terdiam. Dia sudah tahu jika perasan Snowly itu adalah perasaan yangyang serius. Dia kagum sekaligus takut. Kagum akan kehebatan Snowly yang bisa memendam perasaannya selama ini dan juga takut kalau kesempatannya untuk mendapatkan Lyon semakin kecil, apalagi dia masih belum lama mengenal Lyon.
"Ahhh! Aku tidak peduli akan perasaanmu itu. Pokoknya aku tidak akan melepaskan Lyon begitu saja. Pasti ... pasti aku akan mendapatkannya."
Silvana tidak bisa berkata apa lagi dan segera mengakhiri pembicaraan mereka dengan membuat tantangan dengan Snowly untuk mendapatkan Lyon lebih dulu.
Tiba-tiba saja ada suara panggilan yang datang dari panel layar Snowly. Panggilan itu berasal dari Sinon. Dia pun hanya membukanya. Sesaat, ada suara seorang wanita yang muncul. "Snowly, sekarang kamu sudah berada dimana? Apakah kamu dan Silvana sudah berhasil masuk ke dalam Istana??" Rupanya Sinon menanyakan perihal tugas mereka yang pergi mendapatkan izin untuk masuk ke istana kerajaan guna menyelamatkan Lyon. Silvana pun secara refleks bergerak mendekatinya, mencoba untuk menguping pembicara mereka.
Snowly terdiam sejenak, kemudian menjawabnya, "Yah, kami masih di tengah jalan menuju ke Istana."
"Eh! Kalian belum sampai?!" Sinon berteriak secara spotan ketika mendengar jawabannya. Snowly dan Silvana pun juga ikut terkejut sama seperti Sinon. Setelah itu Sinon lanjut berbicara mengomeli mereka berdua. "Kalian ini ... kemana saja kalian? Seharusnya kalian bisa sampai di istana dalam beberapa menit saja, tapi kenapa kalian masih belum sampai?? Sekarang, cepat pergi ke sana dan jangan membuang waktu lagi. Kita membutuhkan hasil dari kalian."
""Baik ...."" ucap mereka serentak.
Setelah itu panggilan itu ditutup. Snowly dan Silvana mencoba untuk menenangkan diri. Lalu, mereka menatap satu sama lain dalam beberapa detik dan kembali menghadap ke depan, kemudian beranjak pergi.
"Baiklah, kita sudahi dulu perdebatan ini. Sekarang kita fokus pada misi kita."
"Hm, kamu benar. Kita harus menyelamatkan Lyon secepat mungkin."
__ADS_1
Hehhh, kalian pasti tahu kenapa aku lambat update untuk bab ini. Bab kali ini meresahkan sekali.