World Online The Forgotten Legend : Next Stage!!!

World Online The Forgotten Legend : Next Stage!!!
Chapter 420 Memeriksa Gua


__ADS_3

Chapter 420 Memeriksa Gua.


Bottlomless Gap.


Bagian Selatan Bottlomless Gap.


Di sebuah tempat yang sebagian besar isinya rawa-rawa sunyi dan sepi dengan kabut tebal yang melayang layang di sekitarnya. Kesepian Rawa itu seketika hilang ketika langkah kaki yang bergerumuh terdengar, menginjak tanah yang rawan. Tanda dari ribuan orang yang tengah berjalan diikuti dengan satu langkah kaki besar yang berjalan di bagian terdepan memimpin mereka.


"Baiklah, hanya tinggal sebentar lagi dan kita akan sampai."


Orang tersebut tengah memperhatikan panel layar yang berisikan peta dengan satu tanda merah yang merupakan tujuan perjalanan dia. Wajahnya menunjukkan kegirangan pada saat melihat jika posisi mereka sudah semakin mendekat. Orang itu segera menunduk sedikit lalu berbicara,


"Tuan Ardes, percepat langkah Anda, tepat di depan sana kita akan sampai."


"Tapi Tuan Lyon, tanah di sekitar tempat ini sangat rawan. Ada di antara mereka yang merupakan tanah hidup. Bisa-bisa saja kita terserap oleh tanah ini."


"Hah ... tanah yang merepotkan. Kalau begitu jalan saja. Intinya kita harus tiba di sana."



Orang itu adalah Lyon. Kini mereka tengah dalam perjalanan menuju lokasi Monumen itu berada. Tidak hanya Lyon yang ada, para pemain dan pasukan juga ikut bersama dengan dirinya, berjalan melewati rawa itu.



Sebelumnya, pada saat harapannya telah hampir hilang, kemudian datanglah sebuah kesempatan yang kembali mengembalikan harapan itu. Pesan yang datang dari adiknya sendiri, Ruby yang mengatakan jika mereka telah menemukan lokasi Monumen itu serta memberikan letak koordinatnya. Pada saat Lyon membaca pesan itu dia sempat tidak percaya, namun dia kembali membaca lagi dan lagi hingga akhirnya dia sadar jika pesan itu adalah benar. Kini dia telah kembali ceria dengan semangat yang membumbung tinggi.



Lyon pun segera menyuruh Ardes agar segera bergerak sebelum matahari terbenam sepenuhnya. Di sisi lain, dia juga mengirimkan pesan ke semua orang kalau Monumen itu telah ditemukan dan pencarian itu pun berakhir. Dia segera mengirimkan letak titik koordinat lokasi yang kan mereka datangi.



Beberapa saat kemudian, Lyon dan lainnya telah berdiri di Wilayah Selatan Bottlomless Gap. Pada saat dia sudah berada di sana, dia juga bertemu dengan pemain lain, mereka berasal dari bagian pencari di bagian timur. Letak lokasi yang paling mendekati bagian wilayah ini adalah bagian timur.


Mereka pun bergegas memasuki area rawa bersama-sama.



**



Beberapa saat berlalu. Setelah melakukan perjalanan yang cukup panjang, akhirnya rombongan Lyon telah sampai di tempat tujuan. Terlihat dari pandangannya sudah ada ribuan pemain yang berdiri di seberang sana, walaupun saat ini terhalang oleh kabut yang agak sedikit menghalangi penglihatan. Mereka pun meneruskan perjalanan hingga mereka pun berkontak dengan rombongan tersebut.


"Kak ...!"


"Lyon ...! Sini ...!"



Terlihat ada dua orang yang penuh semangat melambai-lambaikan tangan ketika melihat kedatangan Ardes beserta yang lainnya. Ardes pun terus berjalan hingga sampai ke tempat mereka. Sesudahnya, Lyon turun, lompat dari atas kepala diikuti yang lainnya yang pergi turun lewat samping. Lyon yang sudah berada di bawa, menyapa kedua orang tersebut dengan santai.



"Yah, Halo Ruby, Snowly ..." Lyon menyapa mereka dengan santai. Tapi, beberapa detik, Lyon Kembali terdiam. Ada yang mengganjal di pikirannya. Dia pun kembali bertanya, "Tunggu dulu ... bukannya kalian berdua seharusnya sedang melakukan pencarian di bagian utara? Kok kalian malah ada di sini??" Otak Lyon tersentak dan terhenti pada saat melihat kedua gadis ini. Dari ingatan beberapa jam yang lalu, mereka berdua pergi mengurus bagian utara, bersama dengan Armegon dan lainnya. Jadi dia pu segera



Ruby menjawab pertanyaan Lyon, " Yah anu kak ... kata mereka, wilayah di sini sangat luas, jadi, entah mengapa mereka tiba-tiba melempar kami berdua ke sini sebagai bala bantuan. Heh, padahal kami sudah enak-enak berada di sana sedang bersant-!" Tiba-tiba Ruby menggigit lidahnya dengan kuat. Saking kuatnya bahkan air matanya keluar dengan sendirinya.


"Woi Ruby, apa yang kamu lakukan?! Kenapa Kamu malah mengigit lidahmu??"


Sembari menahah perih yang timbul dari lidahnya, Ruby pun menjawab, "Hwaah ... gwak papa, Kak ... ayku tidak sengaja tadi ...." Tapi, di batinnya berbeda Hua ...! Hampir saja. Kalau tadi aku keceplosan, pasti kakak akan memarahiku habis-habisan. Tapi sial, aku terlalu kuat menggigit lidahku. Argh, sakitnya ....


"Jadi, apa tadi yang ingin kamu katakan tadi??" tanya lagi Lyon.


"Yah itu ... kami sedang sibuk mencari Monumen yang kakak maksud, Iya kan, Snowly??" langsung menoleh ke arah Snowly sembari memberi tatapan ancaman.


Snowly pun secara refleks mengangguk-anggukan kepalanya.



Beberapa jam sebelumnya, tepatnya sejam setelah pencarian, Ruby dan Snowly tidak mengindahkan tugas yang telah diberikan. Mereka malah bersantai-santai di antara para pemain yang ada, mungkin lebih tepatnya si Ruby yang bersantai. Snowly hanya ikut-ikutan saja. Tidak lama setelah itu, secara tiba-tiba mereka diperintahkan untuk memimpin pasukan kecil untuk membantu pasukan yang ada di bagian Selatan. Perintah itu datang dari Heraces. Mereka tidak bisa berbuat lebih banyak dan akhirnya harus pergi ke Selatan.



"Hm, jadi begitu yah." Lalu, Lyon menatap mereka lagi. Kali ini ada sesuatu yang menggangu penglihatannya. "Eh, dan kenapa kalian penuh dengan lumpur?" Terlihat kalau mereka berdua saat ini penuh dengan lumpur. Sepertinya mereka mengalami suatu hal hingga semua ini terjadi.


__ADS_1


"Ini semua karena tempat ini," jawab Ruby dengan nada kesal."Kami sangat kesulitan untuk melakukan pencarian karena semua rawa-rawa ini, bahkan kami hampir terhisap di lumpur hidup tadi. Aku sangat menyesal datang ke sini."



"Hahaha ...!" Lyon tertawa mendengar cerita Ruby. "Coba saja aku ada bersama kalian tadi, pasti akan sangat menyenangkan melihat ekspresi kalian yang panik."


"Hmp! Kakak ...! Bukannya kasian, kamu malah ngetawain kami."


"Yah ... yah ... aku minta maaf. Jadi nanti setelah ini bersihkan diri kalian."


Topik pembicaraan mereka berganti.


"Jadi Ruby, dimana letak pasti dari Monumen itu?"


Ruby terlihat diam saja, matanya melirik ke kiri dan ke kanan seperti sedang memirkkan sesuatu. Ada beberapa keringat yang muncul dikeningnya. Tidak ada jawaban yang dia terima, Lyon pun kembali bertanya,


"Ruby, aku tanya, dimana lokasi Monumen yang kamu maksud tadi??"


Perlahan, Ruby pun kembali bertanya, "Ee, anu ..."



**



Tidak berapa lama rombongan Lyon telah berpindah tempat. Kali ini mereka telah berdiri di depan gua dengan beberepa rombongan pencari yang sedari tadi sudah berada di sana.


"Itu ... aku memiliki firasat kalau di dalam gua inilah Monumen itu berada?" ucap Ruby dengan pelan sembari menunduk.



Urat di kening Lyon keluar. Dia mulai merasa kesal. Yang ada di depan matanya ini hanyalah sebuah gua yang kemungkinan hanya sebatas Dungeon. Lyon sekali lagi menatap Ruby, tapi saat ini kedua matanya melotot, memperlihatkan api membara yang terpancar. Sesaat, dia pun berkata, "Ruby, kamu ini yah ..." Dia menangkap Ruby dan langsung menjitak kepalanya. "Aku capek-capek datang ke sini dengan cepat. Ku kira Monumen itu ada di sini, tapi kamu malah membohongiku! Sekarang, rasakan hukuman karena kamu telah berbohong!"


"Aaaah! Ampun kak ...! Jangan memukulku seperti itu. Coba kakak periksa dulu baru kakak simpulkan ...!"


Ruby mencoba untuk mengelak, tapi rasanya itu sudah tidak bisa dielakkan lagi. Lyon sangat kesal kepadanya. Di saat bersamaan, Snowly datang dan berbicara kepada mereka.


"Lyon, sudahlah, kasihan Ruby kalau kamu terus memukulnya seperti itu ...."


"Tidak apa-apa Snowly, sudah sepantasnya adik seperti dia harus menerima pelajaran." Lyon pun lanjut memberi pelajaran kepada Ruby.


Snowly tidak berhasil membujuk Lyon. Dia pun pergi berbicara dengan Ruby, "Maaf yah Ruby, aku rasa aku tidak bisa menolongmu. Kamu juga, padahal tadi aku sudah melarangnya, tapi kamu tidak mendengarkan."


Akhirnya Ruby keceplosan. Lyon pun semakin kesal mendengarnya. "Oh, jadi itu yah alasanmu memberitahuku soal letak Monumen itu, rupa-rupanya ada maksud buruk yah. Sudah berbohong, ditambah dengan niat buruk mu itu, kurasa aku akan menambah hukumanmu."


"Ee, Kak! B-bukan itu maksudnya. Aku bisa je-! Argh!! Sakit ...!"


Lyon memberi pelajaran lebih ke Ruby. Semua orang yang ada di sana hanya bisa melihat tingkah mereka dengan pandangan datar. Orang yang telah mengalahkan Lich, pahlawan perang, yang seharusnya terlihat keren, tapi malah bertingkah aneh.


Di saat Lyon sedang sibuk menyiksa Ruby, ada beberapa rombongan lain datang. Mereka adalah Vincle dan Evan beserta rombongan Dark Elf.


"Tuan Lyon selamat datang," ucap Vincle Winster dengan ramah. Tapi, tidak berapa lama wajahnya mulai berubah. Kalau ini dia bertanya, " Ee ... tuan Lyon. Apa yang sedang Anda lakukan??"


Lyon dengan santainya menjawab, "Yah, hai juga Tuan Vincle. Ini ... saya sedang memberi pelajaran kepada adik saya atas apa yang dia lakukan." Kemudian lanjut memukul Ruby.


Vincle menunjukkan senyum yang terlihat seakan dipaksakan. "Hehehe ... dari pada itu, lebih baik Anda memeriksa gua ini terlebih dahulu. Siapa tahu Monumen yang Anda cari benar-benar berada di dalam sana."


"Hmm ..." Lyon terlihat sedang berpikir. Tidak berada lama dia kembali menoleh ke arah Vincle. Tangan yang dia ayunkan, terhenti. "Kurasa kamu benar. Saya akan pergi memeriksanya." Lyon setuju atas usul Vincle.


Ruby pun akhirnya dilepaskan. Saat ini dia terduduk lemas tidak berdaya diikuti dengan Snowly yang mendatanginya, lalu membantunya untuk berdiri.


"Huaaa .... terimakasih Tuan Vincle. Anda adalah penyelamat hidupku, terimakasih ....!" teriaknya dengan histeris. Berkat kehadiran Vincle, kali ini Ruby dapat lolos dari cengkeraman maut Lyon. Tenis saja dia sangat lega mengetahui jika dirinya sudah lolos dari penyiksaan.


Di sisi lain, Lyon yang tengah berjalan, mendengar suara teriakan Ruby. Dia menjadi kesal. "Ruby, urusan kita belum selesai. Setelah ini selesai aku akan lanjut menghukummu." Dan kemudian lanjut berjalan.


Kata-kata itu telah membuat Ruby kembali terdiam. Snowly yang berada di dekatnya seketika menyandarkan kepalanya ke dirinya dan mengelusnya dengan halus, "Yang sabar yah Ruby ...."



**



Beberapa saat Lyon dan Vincle sudah berdiri di depan gua. Lyon memperhatikan gua itu dan terus berpikir. Dari semua itu, dia hanya bisa mendapatkan kesimpulan kalau gua ini hanyalah sebatas Dungeon saja.


Dari sisi manapun aku melihatnya, tempat ini hanyalah sebatas Dungeon.


Sesaat, Vincle berbicara, "Kami masih belum memeriksa bagian dalam dari gua ini. Tapi, ada firasat kalau gua ini adalah tempat Monumen itu berada, sama seperti yang adik Anda katakan tadi."

__ADS_1


"Begitu yah .... Baiklah, mari saja kita masuk ke dalam dan memeriksanya."



Lyon pun memutuskan untuk masuk ke dalam memeriksa kebenaran itu. Jika memang benar itu adalah Tempat dari Monumen yang dimaksud, maka ini adalah keberuntungan dan jika tidak, tempat ini Dungeon, maka itu juga tidak apa-apa. Dia bisa sekalian melakukan beberapa leveling sebelum mereka kembali sekalian menunggu semuanya berkumpul di sini. Sebagian besar dari semua orang masih dalam perjalanan ke sini.



Tidak berapa lama mereka sudah berada di dalam gua. kegelapan yang tersebar di seluruh tempat, rasa lembab sekaligus dingin menggambarkan suasana dari gua ini. Lyon dan Vincle terus berjalan masuk dan lebih dalam lagi. Ketika mereka sedang berjalan, Lyon sejenak berhenti. Dia menyadari sesuatu.



Hmm, tidak ada pemberitahuan kalau tempat ini adalah Dungeon .... Ini sama seperti ketika aku bertemu dengan Gauntles dan mendapatkan kelas aneh ini .... Apakah jangan-jangan?!



Tidak ada pemberitahuan sistem yang menunjukkan kalau gua ini adalah Dungeon. Biasanya untuk Dungeon acak atau belum teridentifikasi, akan ada pemberitahuan. Biasanya orang yang memicu akan disuruh untuk melakukan raid menuntaskan Dungeon tersebut atau sampai dia mati di dalam. Kali ini tidak ada dan semua ini mirip ketika awal-awalnya dia menerima kelas aneh dari Gauntles. Ada firasat baik yang dia rasakan.



"Tuan Vincle, kita masuk lebih dalam lagi."


"Baik."


Firasat tersebut menyuruh Lyon untuk berjalan masuk lebih dalam. Jadi dia memberi tanda kepada Vincle untuk terus bergerak.



**



Di dalam gelapnya gua, mereka menemukan setitik cahaya terang di ujung jalan. Lyon dan Vincle terus berjalan mengikuti cahaya itu berharap jika ada jalan keluar yang menanti mereka. Setelah berjalan, mereka pun telah tiba di sana. Mereka terdiam sejenak menatapi apa yang saat ini mereka lihat.



""Whao~""



Mereka secara bersamaan merespon kekaguman yang saat ini mereka lihat. Dari balik bola mata mereka, terlihat pemandangan indah, sekumpulan kedua hijau cerah yang bercahaya dan berkelap-kelip memenuhi ruangan. Perlahan setelahnya, mereka berjalan melewati semua kristal-kristal itu, dan tentunya sembari menikmati pemandangan indah ini.


"Gua ini sungguh indah, iyakan Tuan Vincle."


"Anda benar. Ini mengingat saya akan suasana yang ada di Blue Craves, pemandangan yang memanjakan mata."


Lyon kemudian, berhenti pada salah satu kristal yang tertancap di sana. Ah, aku ingin menyentuhnya sekejap. Ada rasa ingin menyentuh kristal itu karena keindahan yang diperlihatkan. Perlahan, telapak tangan Lyon menyentuhnya. Pada saat dia menyentuh, tiba-tiba aura yang terpancar di kristal tersebut menyebar, memenuhi tangan Lyon. Kedua mata Lyon melebar sebab dia telah menerima suatu hal.

















__ADS_1




__ADS_2