
Chapter 427 Rencana Baru.
Kerajaan Heaven.
Beberapa saat setelah kejadian itu, Snowly dan Silvana telah tiba di depan pintu gerbang. Terlihat ada beberapa prajurit yang sedang berjaga di sekitar pintu masuk. Tanpa membuang banyak waktu, mereka segera mendatangi para prajurit itu. Ketika mereka sudah berdiri di sana, Silvana pun melangkah maju dan bertanya kepada salah satu dari mereka.
"Permisi, apakah boleh kami memasuki istana. Kami adalah kenalan dari tuan putri." Kemudian memperlihatkan sebuah lencana, begitu juga dengan Snowly yang juga ikut memperlihatkannya. "Kami ingin masuk dan bertemu dengannya! Ada sesuatu yang harus kami sampaikan kepadanya," lanjutnya yang meminta izin kepada mereka.
Salah satu dari mereka pun menjawab, "Maaf, tidak bisa. Raja sudah memberikan perintah kepada kami agar tidak mengizinkan sesorang yang bukan bagian dari bangsawan kerajaan yang masuk ke dalam istana beberapa hari ini. Walaupun kalian mempunyai lencana istimewa kerajaan, namun kalian bukanlah bangsawan. Jadi, silakan kembali di lain hari."
Seusai dengan dugaan yang diucapkan oleh Sinon, mereka sedang tidak mengizinkan siapapun untuk masuk ke dalam istana.
"Tapi, apakah memang tidak boleh??" Tiba-tiba Snowly maju dan bertanya kepada mereka. "Kami sangat ingin bertemu dengan Tuan putri. Ada sesuatu yang penting yang harus kamu sampaikan kepadanya."
"Iya, izinkanlah kami masuk, walaupun itu sesaat. Kami hanya ingin bertemu dengan Tuan putri," lanjut Silvana yang mencoba untuk meminta sekali lagi.
"Maaf, tetap tidak bisa. Ini adalah perintah mutlak dari raja. Kami harus mematuhinya. Jadi kamu tidak dapat mengizinkan kalian untuk masuk."
Dan sekali lagi mereka tidak mendapatkan apa yang diinginkan. Prajurit tersebut sangat keras kepala tidak mengizinkan mereka untuk masuk. Dengan berat hati, Snowly dan Silvana pergi beranjak meninggalkan tempat itu.
**
"Huhh ... ternyata apa yang mereka katakan itu benar. Para prajurit itu sangat keras kepala," ucapan Silvana dengan nada kesal.
"Yah, itu benar. Sekarang, bagaimana cara agar kita bisa masuk ke sana? Semua pintu masuk telah kita tidak bisa masuk lewat pintu gerbang."
Mereka sudah tidak dapat masuk melalui pintu gerbang karena larangan untuk masuk dan harus mencari cara lain lagi agar bisa bertemu dengan Isabella.
"Hmm, bagaimana yah?"
Snowly dan Silvana memutar otak, mencari cara atas masalah ini. Dan sesaat, Silvana membuka matanya. Dia mendapatkan sebuah ide.
"Hei, Snowly. Kan di istana ini memiliki empat pintu masuk dan kita baru memeriksa satu saja. Mungkin saja ada satu di antara ketiga pintu masuk yang dapat membuat kita masuk ke dalam. Bagaimana kalau kita mencoba memeriksanya?"
"Hm, kurasa itu ide yang bagus. Tidak ada salahnya untuk mencoba."
Mereka pun segera bergegas pergi mengelilingi istana. Sekarang, mereka ingin memeriksa keempatnya pintu masuk gerbang dengan harapan salah satu dari mereka dapat membuat jalan untuk masuk ke dalam.
Satu persatu dari pintu gerbang mereka datangi. Mereka bertanya dan meminta izin kepada prajurit setempat. Namun, selalu saja jawaban yang mereka terima tidak beda jauh dengan jawaban sebelumnya. Dengan alasan keterbatasan orang masuk ke istana, mereka tidak diperbolehkan untuk masuk. Hal ini membuat mereka kesal. Pada akhirnya perjalanan mereka sia-sia. Tidak mendapatkan izin untuk masuk, malah mendapatkan rasa lelah karena terlalu banyak berjalan.
"Huh, capeknya ... aku lelah. Semua pintu gerbang yang kita datangi tidak memberikan respon yang bagus. Rasanya sia-sia kita memeriksanya," ucap Silvana dengan kesal.
"Masuk melalui pintu gerbang tidak ada gunanya ... kita harus memikirkan cara lain untuk masuk."
Snowly dan Silvana kembali berpikir mengenai cara lain agar bisa masuk. Pada saat mereka sibuk berpikir, sebuah panggilan masuk berbunyi. Panggilan yang muncul dihadapan Snowly. Mereka pun teralihkan oleh panggilan itu dan mulai mengangkatnya. Panggilan itu berasal dari Sinon.
Sesaat, suara Sinon terdengar. "Snowly, bagaimana perkembangannya di sana? Apakah kalian bisa masuk ke dalam istana??"
"Itu ... belum. Kami tidak mendapatkan izin untuk masuk. ucap Snowly dengan nada pelan. Lalu dia pun melanjutkan ucapannya. "Semua pintu gerbang sudah kami periksa dan tidak ada satupun dari mereka yang mengizinkan kami masuk."
"Huf, sudah kuduga. Kan sudah ku katakan kalau itu tidak akan berhasil, Eh?! Kalian pergi mendatangi semua pintu masuk?" tanya Sinon dengan keheranan.
Dengan polosnya Snowly meng-iyakan pertanyaannya. Hal itu pun membuat Sinon pusing. Dia sampai menepuk jidatnya karena kekreatifan mereka.
"Kenapa kalian malah melakukan hal yang tidak berguna seperti itu? Kalau kalian sudah tidak bisa masuk ke istana, berarti kalian tidak dapat masuk, tapi kalian malah pergi ke semua pintu masuk."
Snowly dan Silvana yang mendengar ocehan Sinon merasa malu. Ternyata itu adalah ide yang konyol dan lebih konyolnya lagi, mereka secara sukarela melakukannya. “Yah, kami pikir kalau kami akan beruntung kalau memeriksa salah satu dari semua pintu masuk. Oleh sebab itu kami mendatangi mereka semua, hehe.”
“Yah, yah, yah Sekarang kembalilah kalian berdua. Kita akan membuat rencana lain lagi."
“”Ya, baiklah.”” Ucap mereka berdua.
Sinon menyuruh mereka untuk kembali ke markas Guild untuk membuat rencana baru lagi. Itu berarti mereka akan mencari cara agar bisa masuk ke dalam istana. Jadi dengan perasaan hati yang berat sekaligus malu, mereka berdua berjalan kembali ke markas Soul Wings.
__ADS_1
**
Beberapa saat, semua orang telah berkumpul lagi di markas Soul Wings, guna membahas lagi soal pembebasan Lyon. Sinon berdiri di depan mereka dan memulai rapat.
“Baiklah, apa kalian mendapatkan sebuah ide agar kita dapat mendapatkan informasi dari tuan putri ataukah ada sesuatu yang lain yang bisa membebaskan Pemimpin??”
DeathNight pun mengangkat tangannya dan berkata, “Kalau kita tidak dapat masuk ke istana, apakah kita bisa mengorek informasi dari Lyon di dunia nyata? Yah, barangkali dia sudah keluar dari permainan dan berada diluar sana menunggu kita juga keluar.“
Semua pandangan seketika menuju ke DeathNight. Hal itu membuatnya terkejut pasalnya dia hanya menjawab apa adanya, namun secara tiba-tiba mendapatkan tatapan tajam dari semua orang di dalam ruangan.
Sinon tersenyum, lalu membalas ucapannya, “Itu adalah ide yang bagus, DeathNight. Pasti saat ini Lyon sudah keluar dari permainan. Kenapa kita tidak menyadarinya sih.” Tidak lama kemudian, pandangan Snowly segera teralihkan kepada Snowly dan Ruby. “Kalian berdua. Tahu kan apa yang harus kalian lakukan?? “
Ruby dan Snowly sudah paham dengan apa yang dimaksud oleh dia. Mereka berdua berdiri secara serentak. “Baiklah, serahkan saja kepada kami,” ucap Snowly, lalu pergi meninggalkan ruangan.
Tidak lama setelah kepergian mereka berdua, Armegon mengangkat tangannya dan memberikan sarannya. “Nona Sinon, aku memiliki sebuah saran walaupun ini agak berisiko, apakah Anda mau mendengarkannya?”
“Hm, mari kita dengarkan.”
Sinon tidak langsung menolak saran yang akan diberikan oleh Armegon walaupun tadi dia sudah diberitahu kalau itu cukup berisiko. Semua saran harus didengar, kemudian dibicarakan dan dipertimbangkan apakah itu layak atau tidak untuk dipergunakan. Jadi, setelah itu Armegon segera menyampaikan sarannya. Tidak sampai berlangsung lima menit untuk dia menjelaskannya apa yang ada di pikirannya.
Ketika semuanya telah selesai, Sinon pun memberikan jawabannya, “Itu kedengerannya sangat berisiko, tapi layak untuk dicoba. Akan tetapi sebelum kita melakukannya, kita harus memilih orang yang tepat dan mampu menjalankan tugas ini dengan baik. Yah, aku mempunyai beberapa kandidat kenalan dari Guild ku. Kurasa mereka bisa berguna.”
Armegon pun membalasnya, “Untuk kandidat, aku juga punya. Kita bisa memilih di antara mereka dan menyuruh mereka untuk menjalankan tugas ini. Yah, kalah saja Lyon ternyata belum keluar dari permainan, maka kita bisa mendapatkan informasi dari rencana ini.”
“Baiklah, mari kita persiapkan saja.”
Sesaat, secara tiba-tiba Silvana berbisik kepada Armegon. Dia mengatakan suatu hal yang membuat Armegon terkejut. “Eh, apa yang kamu bicarakan. Aku masih sangat sibuk di sini.”
Silvana memohon kepadanya. “Kak, ayolah. Nanti aku jelaskan apa yang aku mau.” Jelas ada sesuatu yang ingin Silvana lakukan, tapi itu masih belum jelas diketahui.
"Yah, tapi sebentar lagi yah. Aku akan menyelesaikan hal ini terlebih dahulu, habis itu baru urusanmu. Tidak apakan kamu untuk menunggu??"
Silvana hanya mengangguk tidak mengeluarkan suara di sana. Dia sudah memberikan tanda jika dia meng-iyakan ucapan Armegon. Setelah ini, mereka mulai membubarkan diri dan pergi untuk menjalankan rencana yang telah mereka buat.
**
Di dunia nyata, di rumah Ganta.
Dua dari tiga kapsul game telah terbuka, lalu muncullah dua orang gadis. Mereka adalah Desi dan Aisley yang baru saja kekuar dari permainan. Mereka secara bersamaan mengeluarkan kepala dari kapsul kemudian melirik ke arah tengah yang merupakan kapsul tempat Ganta berada. Kapsul Lyon terlihat tertutup dan sistemnya masih berjalan. Itu berarti Ganta masih berada di dalam permainan.
“Heh, kakak masih bermain?” ucap Desi dengan nada heran.
Mereka pun segera mendekati kapsul Ganta dan memeriksanya. Tidak ada tanda-tanda jika dia keluar dari permainan. Terlihat waktu dari durasi kapsul aktif juga masih berjalan sekitar tiga jam. Tapi mereka belum mendapatkan kesimpulan pasti.
“Coba kita bertanya kepada ibu, apakah kakak tadi keluar atau tidak.”
“Hm.”
Aisley setuju dengan saran Desi. Mereka berdua berjalan kekuar dari ruangan pergi mencari ibunya. Tidak berapa lama, mereka sudah berada di ruang makan. Tidak jauh dari sana, sudah ada ibu Desi yang keluar dari dapur membawa sebuah makanan. Desi pun segera pergi menghampiri ibunya sembari meneriakinya.
“Ibu, Ibu, Ibu~”
Si Ibu mendengar suara putrinya yang memanggil dirinya. Secara refleks dia membalas. “Ahh~ Desi. Kamu sudah selesai bermain yah. Ayo sini, ibu sudah menyiapkan cemilan manis. Kalian pasti suka.”
Desi langsung teralihkan oleh cemilan manis yang dipegang oleh ibunya dan juga yang sudah tersedia di meja. “Whoa, cemilan. Asik~~ ada cemilan.” Dia telah melupakan soal kakaknya. Tapi untung saja Aisley tidak melupakannya. Ketika Desi sedang sibuk membawa masuk cemilan itu ke dalam mulutnya, Aisley segera mendekati Ibunya dan bertanya, “Tante, apakah Ganta tadi ada keluar dari ruangan?”
Ibunya pun berpikir sejenak. “Hmm, dia terakhir kali keluar sekitar 2-3 jam yang lalu. Sejak saat itu dia masih belum keluar.”
“Oh, begitu yah.”
Sejak Lyon kembali memasuki permaian setelah kematiannya hingga saat ini, dia masih belum keluar dari permainan. Aisley mulai khawatir kenapa Lyon tidak keluar-keluar dari sana. Seperti ada sebuah firasat buruk mengenainya.
__ADS_1
Tapi, Tiba-tiba ibunya menepuk pundaknya dan membuat Aisley tersadar. Dia pun berkata, “Kenapa kamu malah memanggil aku 'tante'? Kan sudah aku katakan panggil saja 'ibu’. Aku pasti sangat senang mendengarnya.”
“Eh, tapi kan ... aku merasa tidak enak.”
Aisley mengatakan jika dia merasa tidak enak memanggil ibu Ganta sebagai ibunya juga. Tapi, sebenarnya bukan itu melainkan dia malu. Padahal hubungannya dengan Lyon masih belum pasti, tapi rasanya mereka sudah seperti dijodohkan. Bahkan ibunya Ganta ingin mendengar dia memanggil dia ‘ibu'.
“Ayolah~ tidak apa-apa. Coba panggil saja ‘ibu', sekali saja.”
Aisley terdiam sejenak. Dia mencoba mengumpulkan keberanian. Sesaat, dia pun telah siap. Aisley membuka mulutnya dan berkata,
“I-ibu ....”
Saat mendengar dia telah mengatakan kata ‘ibu', ibunya Ganta merasa sangat senang. “Nah, begitu dong. Mulai saat ini panggil saja aku ‘ibu', yah??”
Snowly hanya mengangguk paham, tidak mengucapakan sepatah kata apapun.
**
Waktu terus berjalan dan hari pun telah menjadi gelap. Sekarang sudah menujukkan pukul tujuh malam. Mereka telah selesai makan malam. Desi dan Aisley yang duduk bersebelahan, melirik ke belakang, memastikan kalau Ganta akan muncul. Tapi sayang itu tidak seperti yang diharapkan. Tidak ada tanda-tanda kemunculan Ganta. Kira-kira sudah sekitar delapan jam berlalu. Waktu begitu sih masih cukup normal bagi Ganta untuk tidak muncul karena banyaknya urusan yang dia kerjakan di dalam permainan. Tapi, kali ini mereka merasa aneh akan ketidakhadiran Ganta. Yah, dia kan sudah di tangkap, secara otomatis dia tidak bisa bebas berbuat sesuatu. Dia seharusnya bosan dan segera keluar dari permainan, tapi ini tidak. Dia tidak muncul-muncul.
“Kakak ngapain yah sebenarnya? Kenapa sampai saat ini dia masih belum muncul??” ucap Desi dengan penuh pertanyaan di kepalanya.
“Desi, aku merasa khawatir dengan dia. Apakah terjadi sesuatu yang buruk?”
....
Percakapan mereka secara tidak disengaja di dengar oleh sang ayah. “Memangnya apa yang telah terjadi kepada Ganta. Kok kalian malah mencari-mencarinya??”
Desi secara spontan menjawab, “Tidak ada apa-apa kok, ayah .... Kami hanya sedang menunggu kakak. Ada yang ingin kami bicarakan. Iya kan Aisley??”
“Hm, itu benar.”
Namun, itu masih tidak dapat membuat ayahnya percaya. “Heh, benarkah itu?” Dan melirik mereia berdua dengan tatapan tajam. Hal itu seketika membuat mereka keringat dingin. Mereka mencoba menyembunyikan hal ini karena mereka juga tidak dapat memastikan apa yang sebenarnya terjadi. Nanti malah menimbulkan kesalahpahaman, malah ribet nantinya.
“Ding Dong~ Ding Dong~”
Tiba-tiba bell pintu rumah berbunyi. Desi pun secara spontan berdiri dari kursinya dan berjalan cepat meninggalkan ruangan sembari berkata, “Ada tamu! Aku akan membukakan pintu.” Snowly yang melihat hal itu juga ikut berdiri dan mengusulnya. “Eh, tunggu dulu Desi, aku juga ikut ....”
Melihat mereka yang secara tiba-tiba pergi membuat si ayah merasa aneh. Dia memegang wajahnya sembari menatap ke arah istrinya.
“Sayang, apakah wajahku memang menyeramkan?” tanyanya dengan nada rendah.
Sang istri hanya tertawa kecil, lalu menjawab, “Pfft, iya ... wajahmu memang menyeramkan dan sekarang semakin menyeramkan lagi. Haha ...! Aku tidak bisa menahan tawaku lagi.”
Ahhh, melewati batasan yah~
__ADS_1