
*Ch 419 Keberuntungan Yang Masih Tersisa.
Bottlomless Gap*.
Pembicaraan Lyon dan Winster masih berlanjut.
"Anu ... Tuan Winster, saya ingin bertanya lagi, apakah Anda sudah berhasil mengingat nama dari pewaris saya?" tanya Lyon.
Kali ini Lyon kembali mengorek pertanyaan dimasa lalu, yaitu nama dari pewaris kelasnya. Petunjuk Quest mengenai pencarian identitas orang yang dilupakan masih terjebak di Winster. Lyon tidak dapat menemukan petunjuk lain yang bisa membuat tujuan Quest kembali berubah. Tapi, di sisi lain, mungkin saja Winster lah yang memang tahu soal nama itu. Dia dulu sempat kesal karena. dia memperkirakan kalau para Pengembang memang sengaja menghapus data Winster mengenai identitas orang yang dilupakan dengan alasan umurnya yang rentan. Tapi, setelah mendapatkan pemberitahuan hubungan dia dan Winster berada di bar maksimum, ada sedikit harapan baginya untuk bisa mengungkapnya.
Yah ,kurahap ada sedikit perubahan setelah aku meningkatkan hubunganku dengan Winster ....
Winster pun terdiam, lalu berpikir sembari menempelkan jari telunjuk di dahinya. Sesaat, dia bergumam, "Ah ... namanya yah ...." Sepertinya Winster masih mencoba mencari tahu.
Di sisi lain, kedua mata Lyon semakin terbuka lebar. Harapan yang ada di hatinya, semakin membesar tiap kali melihat Winster terus berpikir. Ayolah ... Ayolah ... Tuan Winster, kamu pasti tahu ... ingatlah.
Akhirnya Winster pun menjawab, "Maaf Tuan Lyon ... sepertinya saya memang tidak ingat."
Itu adalah jawaban yang dapat membuat mental seseorang terjatuh. Yah, dengan rasa penuh pengharapan jika keajaiban dapat terwujud, namun semua itu hanyalah sebuah mimpi belaka. Lyon, pemuda biasa ini merasakan hal itu. Wajahnya berubah drastis menjadi sejelek-jeleknya Dia sudah tidak dapat mengerjakan Quest itu lagi. Harapan yang telah jatuh ke jurang, kemudian jurang tersebut menyemburkan amarah dan kekesalan. Itu adalah kekesalan Lyon kepada para Pengembang Game.
Sialan kalian, para Pengembang ... lagi-lagi kalian mempersulit hidupku. Lihat saja nanti ....
Winster menyadari jika Lyon tidak bisa menerima jawabannya. Tidak perlu pakai firasat, cukup melihat wajahnya yang berubah saja sudah memperlihatkan hal itu. Winster pun mencoba untuk menghiburnya.
"Tuan Lyon, Anda tidak perlu bersedih seperti itu. Mungkin takdir Anda untuk mengetahui Identitas bukan untuk saat ini, tapi percayalah di masa depan nanti, pasti takdir itu sudah berada bersama dengan Anda."
Lyon membalas ucapan Winster dengan nada yang begitu lesu, tidak ada semangat yang tergambar dari kata-katanya.
"Yah, saya pun berharap begitu ...."
Lalu, tidak berapa lama, tiba-tiba mereka berguncang. Ardes secara mendadak bergerak dari tempatnya sehingga membuat Lyon dan lainnya terkejut.
"Kenapa tiba-tiba Ardes bergerak?!" tanya Lyon dengan bingung.
"Tuan Lyon, sebenarnya apa yang terjadi?" Winster pun ikut bingung dengan kejadian ini.
Sementara itu Daniar ... "Ahhh, gempa bumi!!" Dia malah kewalahan tidak jelas di sana.
Karena hal aneh ini, Lyon pun segera berdiri dari tempatnya, lalu terus berjalan hingga keluar. Dia ingin melihat apa yang sedang terjadi pada Ardes. Beberapa saat, dia sudah keluar, tepatnya dia lagi berdiri di atas kepala Ardes. Untuk sejenak dia terdiam ketika pandangannya tengah melihat sesuatu.
**
Mari beralih ke seluruh penjuru Bottlomless Gap.
Sudah sekitar satu jam lebih para pemain dan NPC bersama-sama menyusuri tanah Tandus ini. Kali ini sebagian besar dari mereka sudah berada di lokasi yang telah di tentukan, ada juga sebagian lainnya yang tengah dalam perjalanan.
Di bagian timur, tepatnya di sekitar jurang, sudah ada kelompok yang terdiri dari Gordon, Armegon, dan Silvana yang pergi memeriksa area itu. Mereka yang bertugas untuk memeriksa seluruh penjuru di pinggir jurang. Para pemain menyebar, memperluas area pencarian.
Di bagian barat, ada kelompok Sinon, Liseas, Madsword, dan Viergo yang mengurus wilayah itu. Tempat yang berada di perbatasan Death of Barren. Awalnya mereka berkumpul dalam satu lingkaran besar, untuk melakukan beberapa diskusi mengenai tempat pemilihan lokasi dari masing-masing mereka. Setelah melalui cukup diskusi, mereka telah mengambil kesepakatan, lalu bergerak menyebar sesuai dengan bagian yang telah mereka terima.
Di bagian Utara, terdapat sejumlah pasukan besar yang dipimpin oleh Heraces, Ruby dan Snowly, DeathNight, dan Chaitlyn. Mereka mulai berpencar di pertengahan jalan, menuju ke tempat masing-masing.
Waktu pun terus berjalan, mereka tidak menemukan Monumen ataupun hal-hal yang berhubungan dengan Monumen itu. Satu persatu pesan masuk di pemberitahuan pesan milik Lyon, dan hampir semua memberikan laporan yang serupa, 'tidak menemukan Monumen'. Jelas ini menambah rasa gelisah Lyon. Di sisi lain waktu terus berjalan, dan sementara itu mereka masih belum mendapatkan hasil.
Mereka sudah menelusuri berbagai tempat di mulai dari di bagian timur, bagian jurang Bottlomless Gap yang hanya terlihat hamparan tanah kosong dan jurang yang begitu dalam, kemudian di bagian utara yang terhubung dengan Death Valley Road yang dimana juga tidak ada satu pun tanda-tanda.
__ADS_1
Di bagian barat, area perbatasan Death of Barren, termasuk benteng tua yang pernah ditempati oleh Dark Elf. Sejauh mata memandang, mereka tidak menjumpai sesuatu yang mencurigakan. Di sekitar Benteng juga mereka tidak menemukan apapun yang berhubungan dengan Monumen yang dicari.
Di bagian selatan, tanah tandus dan juga rawa-rawa yang memenuhi tempat itu. Mereka kesulitan untuk menelusuri tempat itu lebih dalam. Jadi, hanya ada sedikit laporan yang diterima dari sana. Mereka masih mencoba untuk mencari.
Yah, hasil yang tidak dapat, tapi malah mendapatkan hal buruk lain. Selama pencarian itu, mereka mendapatkan gangguan dari para Monster yang menjadi penghuni tempat ini. Yah, wilayah Bottlomless Gap juga termasuk wilayah perburuan.
Awalnya mereka tidak bermunculan sebab adanya kekuatan dari pasukan Lich beserta dengan Lich itu sendiri yang mendominasi tanah ini. Tetapi sekarang, Lich telah berhasil dikalahkan. Aura yang mendominasi tempat ini telah hilang sehingga memicu kembali kemunculan monster penghuni tetap untuk keluar dari tempat persembunyian mereka. Akibat dari kemunculan mereka, para pemain dan NPC harus memperlambat pergerakan mereka sebab mereka juga harus mengurus monster-monster itu.
Tidak luput juga di lokasi Lyon berada. Pada saat mereka lagi sibuk berbincang-bincang, secara tiba-tiba lokasi mereka dipenuhi oleh monster. Ardes pun segera berpindah tempat dari sana secara refleks menghindari mereka. Hal itu membuat Lyon dan lainnya terkejut. Pada saat mereka melihat keluar, segerombolan monster yang entah dari mana sudah bersedia mengepung mereka dari segala sisi.
"Tuan Ardes, apa yang terjadi? Kenapa tiba-tiba monster ini muncul mengepung kita?" ucapnya yang bertanya sembari menarik pedangnya
Ardes membalas ucapannya, "Sepertinya mereka adalah monster penghuni tetap tanah ini. Mereka semua kembali muncul ke permukaan karena sudah tidak merasakan aura hitam dari Lich yang sempat mendominasi tempat ini. Oleh sebab itu mereka semua muncul dalam jumlah yang besar."
"Monster penghuni tetap?" Untuk sesaat Lyon kebingungan, namun setelah dipikirkan lagi, dia mulai mengerti. Oh yah! Aku baru sadar kalau tempat ini adalah area perburuan. Heh, karena Aura Lich itu yang membuat mereka bersembunyi, dan sekarang mereka keluar karena Aura itu sudah menghilang. Argh! Kenapa aku sampai lupa dengan mereka.
Akhirnya Lyon paham. Mereka saat ini masih berada di area perburuan. Tentunya di area perburuan selalu saja ada monster penghuni tempat itu kembali respawn. Sebelumnya, mereka tidak muncul disebabkan oleh Aura yang dipancarkan oleh Lich beserta seluruh Undead yang mendominasi tempat ini. Namun, sekarang mereka sudah tidak ada. Otomatis aura itu juga hilang sehingga memicu mereka untuk kembali respawn seperti biasa.
"Baik, mari kita lakukan!"
Ardes segera mempersiapkan dirinya, untuk memulai penyerangan, begitu pula dengan Winster dan Daniar. Mereka sudah menyediakan senjata mereka, dan mempersiapkan diri jika saja ada sesuatu yang akan terjadi. Lyon juga melemparkan pedangnya ke atas langit lalu berubah menjadi belasan pedang kecil. Mereka akan memulai pembersihan lingkungan.
Di saat itu, sebuah pikiran terbesit di kepala Lyon. Pasti para monster ini respawn di semua tempat. Kuharap mereka tidak kewalahan dengan hal ini ....
**
Hari sudah sore.
Tidak terasa jika waktu berjalan cepat. Hari yang tadinya siang, kini berubah menjadi sore yang sebentar lagi akan kucari memasuki malam. Pertarungan yang dilakukan oleh Lyon beserta yang lainnya juga telah selesai sedari tadi, dan mereka kadang membunuh beberapa monster yang kembali Respawn. Tapi, sampai saat ini Lyon masih belum menerima pesan yang dia harapkan. Mereka masih belum menemukan petunjuk atau bahkan tempat dari Monumen itu berada.
Perasaan Lyon mulai memburuk. Dia mulai lesu. "Heh, aku masih belum menerima satu pun informasi dari mereka, dan hari sudah mau malam. Kurasa semua keberuntungan ku telah kugunakan untuk hari ini. Setelah nanti hari sudah malam, akan kuberi tahu mereka untuk segera kembali ke istana. Aku akan mencarinya di lain hari."
Karena hari sudah mulai berakhir, jadi Lyon juga berencana untuk mengakhiri pencarian. Dia merasa jika keberuntungannya telah habis digunakan untuk hari ini. Dia berencana untuk menarik semua orang dan kembali ke Kerajaan Heaven. Dia harus mengurungkan niatnya dan akan melakukan pencarian di lain hari.
__ADS_1
Tidak lama kemudian, Winster pun datang. Dia melihat wajah Lyon yang sedang tidak baik. Pasti ada sesuatu yang membebani pikirannya. Jadi, dia pun datang dan duduk di sebelahnya.
"Tuan Lyon, ada apa? Saya melihat wajah Anda tidak seceria yang sebelumnya."
"Oh Tuan Winster," ucap Lyon yang menoleh sejenak ke arahnya, lalu kembali ke arah semula memandangi matahari yang akan terbenam. "Tidak ada apa-apa. Saya hanya sedang merenungkan ketidakberuntungan saya hari ini sembari menikmati matahari yang sebentar lagi akan tenggelam."
"Hm ..." Winster terdiam sejenak. "apakah Anda masih belum menerima laporan tentang Monumen batu itu?"
"Yah begitulah," jawabnya singkat.
Winster pun mengarahkan telapak tangannya ke pundak belakang Lyon, lalu menepuk-nepuk secara lembut. "Sudah, yang sabar saja. Masih ada hari esok. Mungkin saja takdir masih belum mempertemukan Anda."
Pada saat matahari semakin terbenam, mereka bertiga terus menikmati pemandangan itu. Lyon sejenak menghela nafasnya, lalu membuka panel layarnya. Dia pun beralih ke pesan dan mulai memberitahukan untuk melakukan penarikan pasukan. Akan tetapi, ketika dia baru saja mengetik, tiba-tiba ada pesan masuk.
Heh, siapa lagi yang mengirimkan pesan? Mengganggu ....
Lyon pun mengurungkan niatnya dan mulai memeriksa pesan yang masuk tadi. Dengan muka lesunya dia membuka dan mulai membaca isinya. Awalnya dia membaca pesan itu secara datar. Namun ketika Lyon sudah selesai membaca, dia merasa ada sesuatu yang aneh. Ekspresi wajahnya berubah. Dia sekali lagi membaca pesan tersebut. Dan benar saja, apa yang dia lihat itu tidaklah salah. Ekspresi wajahnya berubah secara drastis.
**
Secara tiba-tiba Lyon keluar dari balik semak yang tembus secara langsung ke kepala Ardes. "Tuan Ardes!" Lyon berteriak dengan lantang sehingga mengejutkan Ardes yang tengah bersantai.
"Tuan Lyon, Anda membuat saya terkejut saja ... Kenapa Anda terburu-buru begitu?"
Lyon dengan cepat membalas, "Sudahlah tidak usah bertanya. Sekarang cepat bergegas kita akan segera bergerak."
"Bergerak?" ucapnya dengan bingung. "Apakah Anda sudah tahu di mana Monumen itu berada??"
Lyon tersenyum, lalu menjawab, "Mm, itu benar. Sekarang kita akan pergi ke sana. Cepat, sebelum hari menjelang malam."
"Baik!"
Ardes pun memulai pergerakan, pergi ke tempat yang telah di tentukan oleh Lyon. Rupanya masih ada keberuntungan yang masih tersisa untuk hari ini. Lyon sangat senang dan menjadi sangat penasaran bagaimana bentuk dari Monumen itu. Dia tidak sabar lagi.
__ADS_1