
Chapter 436 Kebenaran Awal.
Road Valley Ruins.
Lyon tidak percaya dengan apa yang dia lihat saat ini. Namun, mau tidak mau dia harus mempercayainya karena status tidak pernah berbohong. Tepat di depannya terdapat dua sosok monster tingkat tinggi yang menyembunyikan identitas mereka. Satu persatu teka-teki mulai terbuka.
Jika dilihat dari semua keanehan ini, semuanya terasa masuk akal. Ternyata mereka bukanlah raja dan ratu asli, melainkan palsu!
Melihat Identitas asli mereka, membuat semua keraguan dari kecurigaannya serta semua keanehan bersatu menjadi satu. Mulai dari pertemuan pertama dia yang dimana dia sudah mulai berasa ada sesuatu yang ganjal, ditambah sifat mereka yang berubah drastis yang dia dengar dari Isabella membuat semuanya menjadi jelas.
Ada banyak pertanyaan baru muncul di benaknya ketika sudah mengetahui kebenaran baru ini di antaranya ialah bagaimana bisa monster setingkat mereka tidak dapat dideteksi oleh orang-orang di kerajaan. Aura yang mereka perlihatkan saja dapat membuat dia merinding. Tetapi, bagaimana bisa mereka yang di istana tidak mengetahui tentang keberadaan mereka? Padahal mereka harusnya sudah curiga dengan tingkah mereka yang terasa mencurigakan.
Yang kedua, itu adalah pertanyaan mengenai dimana raja dan ratu asli berada? Jelas mereka sedang menyamar menjadi raja dan ratu seolah semua tidak terjadi apa-apa yang dapat mencurigai mereka. Dia tidak dapat membuat kesimpulan yang pasti apakah mereka sedang ditahan ataukah sudah mati.
Di sisi lain, karena Lyon yang sibuk mencari jawaban atas pertanyaan yang telah dia buat sendiri, membuat ekspresi wajahnya yang begitu terkejutnya, tidak berubah. Hal itu membuat si Emertas tersenyum kecil.
"Pfft! Kamu bahkan tidak berkutik setelah melihat diriku yang sebenarnya ini dan membuat ekspresi wajah yang sangat pucat. Sungguh lucu. Hahaha, Kamu adalah orang yang menarik."
Di situlah Lyon tersadar dan dengan cepat mengubah ekspresi wajahnya. Dia langsung menatap mereka dengan penuh kewaspadaan sembari memegang pedangnya dengan erat, berjaga-jaga bila diperlukan.
Si Emertas pun berbicara, "Oh yah perkenalkan, nama saya adalah Emertas, raja dari segala Vampir sekaligus penguasa dari kerajaan Invredart, kerajaan para Vampir." Sesudah perkenalkan yang singkat itu dia lanjut ke pembicaraan penting. "Kamu pasti bingung kenapa kami bisa berada di sini? Jadi dengarkan cerita saya sejenak sebelum kamu dijemput oleh sang ajal. Ras kami telah bersembunyi dari dunia luar semenjak perang besar berakhir. Namun, saya merasa muak akan tempat yang kami tinggalin karena tidak ada perubahan. Jadi saya pun mulai berniat memulai invasi untuk menguasai dataran ini dan tentu saja memperluas kekuasaan saya."
Apa, invasi?!
Satu kata yang membuat Lyon terkejut. Yap, itu adalah 'invasi'. Tujuan dari si Emertas ini adalah ingin memulai lagi invasi. Padahal baru saja invasi Undead telah berakhir, tapi sebentar lagi invasi Vampir akan dimulai. Dia tidak dapat menebak seberapa kacaunya suasana nanti apabila invasi ini sudah terlaksana karena masih belum dapat ditebak tingkat kekuatan mereka. Berperang melawan pasukan Undead saja, membuat mereka begitu repot, apalagi jika nanti harus melawan para Vampir. Ini akan sangat merepotkan.
"Tumpuan awal saya untuk memulai invasi dimulai dari kerajaan ini." Lalu dia bertanya kepada Lyon. "Apakah kamu tahu mengapa saya memilih kerajaan ini sebagai awal mula invasi saya?"
"S-saya tidak tahu." Lyon pun menjawab sebisanya saja agar dia dapat melanjutkan ceritanya.
Emertas melentangkan kedua tangannya memberikan tanda menunjuk ke tempat yang saat ini mereka tempati, lalu berkata, "Karena tempat ini." Dia pun lanjut berbicara, "Tempat ini merupakan reruntuhan yang dimana terdapat gerbang teleportasi massal yang mampu membawa ratusan ribu hingga jutaan orang dalam sekali jalan. Ini sangat cocok sekali dengan tujuan saya yang berniat memulai invasi."
"Namun, gerbang teleportasi itu tidak aktif karena ditinggalkan begitu lama. Gerbang tersebut kekurangan pasokan sihir karena terlalu lama ditinggalkan. Untung saja ada sumber sihir besar di kerajaan Heaven dan untuk itu saya harus menghancurkan kerajaan itu. Salah satu cara untuk menghancurkannya adalah dengan membawanya pada malapetaka yang kami buat dari pasukan Undead yang seharusnya datang. Tapi sialnya rencana itu harus berantakan karena ulah darimu." Tiba-tiba ekspresinya berubah. "Mengingatnya saja sudah membuat kepalaku sakit."
Emertas pun berjalan menghampiri jendela tempat Lyon melihatnya, dan melanjutkan pembicaraannya. "Jadi kami akan membunuhmu setelah itu kami akan memulai invasi dan meratakan kerajaan itu."
Rencana dari Emertas ialah membawa pasukan vampirnya keluar dari dunia bawah tanahnya menuju dunia atas dalam jumlah yang besar, dan di reruntuhan inilah dia akan melakukannya. Karena kemampuan dari gerbang teleport yang mempu membawa banyak orang menjadikannya prioritas utama dalam memulai invasi. Akan tetapi sayangnya rencana itu harus sedikit kacau karena kehadiran Lyon yang dimana dia memberantas Lich, yang merupakan salah satu kunci keberhasilannya.
Lyon pun mulai berpikir, Ini akan sangat buruk. Jika mereka membunuhku sekarang, pastinya sebentar setelah ini mereka akan segera menyerbu kerajaan Heaven. Aku tidak dapat menunggu lebih lama untuk kembali masuk. Pasti nanti ketika aku sudah masuk kedalam permainan, situasi kerajaan akan sangat kacau. Aku pun belum sempat memberitahukan mereka soal hal ini. Ahh, bagaimana ini?? Lalu dia mendapatkan ide. Kurasa aku harus memberikan gertakan kepada mereka. Yah, semoga saja nanti mereka bisa mengubah dulu rencananya.
"Apakah kalian bisa menghancurkan kerajaan Heaven untuk saat ini? Di kerajaan itu terdapat banyak pasukan apalagi dengan orang-orang saya yang selalu berjaga di sana," ucapnya yang bertanya kepada mereka.
__ADS_1
Namun, apakah mereka bisa mengambil alih kerajaan? Pasalnya, di kerajaan itu terdapat banyak pasukan yang baru beberapa hari telah selesai mengikuti perang. Jika ditambah dengan orang dari empat Guild, totalnya akan mencapai satu juta orang. Walaupun Lyon tidak tahu tingkat kekuatan dari musuh-musuhnya, namun setidaknya dia bisa memberikan gertakan supaya mereka mengubah rencananya.
"Hahaha," Emertas malah tertawa ketika mendengar pertanyaannya. Lyon dibuat heran olehnya. Setelah itu dia membalas pertanyaan Lyon, "Itu tidak masalah. Mungkin saja kamu tidak tahu, tapi dimana hari-harimu di penjara, saya telah membuat banyak rencana untuk hari ini. Kekuatan yang kamu maksud itu tadi. Aku telah menguranginya."
"Hah? Apa maksudmu?" Lyon malah semakin bingung dan ingin tahu lagi.
"Sebagian besar pasukan di kerajaan Heaven telah pergi. Saya telah menugaskan mereka untuk dengan alasan membantu kerajaan yang sedang dalam masalah. Semua Jenderal besar telah saya tugaskan. Kerajaan saat ini sedang disituasi yang rawan. Dan untuk Guild kalian, itu hanyalah urusan yang mudah untuk kami singkirkan. Selama rencana ini tidak terbongkar, maka kemenangan ada ditangan kami."
Tidak ada harapan. Ternyata selama dirinya terjebak di dalam penjara, mereka telah membuat rencana yang mencegah apapun terjadi. Pantas saja ada yang aneh pada istana. Tidak ada tanda-tanda pergerakan berlebihan yang para prajurit lakukan. Rupanya sebagian besar telah bergerak keluar dari kerajaan.
Cih! Tidak ada jalan keluar. Mereka telah merencanakan semuanya. Sekarang, aku harus bagaimana??
Pada saat mereka masih dalam perbincangan, tidak disangka akan ada orang yang datang. Dua orang asing yang bersetelan jubah hitam muncul dari balik reruntuhan dan berjalan mendekati tempat Lyon dan lainnya. Mereka tidak ada yang menyadari kehadiran dari kedua orang tersebut hingga pada akhirnya mereka telah berada di jarak yang cukup dekat untuk berbicara lantang.
"Ayah, ibu, apa yang kalian lakukan di sini?"
Kesunyian yang tadi mulai tercipta kini mulai pecah akibat sebuah pertanyaan yang keluar dari mulut orang itu. Suara itu adalah suara seorang perempuan. Hal itu membuat semua pandangan tertuju kepadanya. Lyon yang juga menoleh ke sumber suara itu, melihat dua orang asing yang menutupi dirinya dengan jubah hitam memanjang hingga ke kaki.
Siapa mereka? ucapnya dalam hati bertanya.
Emertas dan Selestical berbalik dan menatap orang itu. Ketika mereka sudah memperlihatkan penampilan mereka, sepertinya orang itu shok. Terlihat ada sedikit getaran yang berasal dari rasa gugup dan kaget disertai langkah kaki yang melangkah mundur secara tiba-tiba dan tentu saja diiringi suara aneh.
Ekspresi wajahnya menunjukkan ketidakpercayaan dia dengan apa yang dia lihat saat ini. Dar pertanyaan yang dia keluarkan sudah jelas ini mengenai kedua orang tuanya yang ternyata bukan.
Emertas, segera bertanya kepada Selestical, "Sayang, apakah kamu tadi sudah memastikan dia berada di kamarnya? Kenapa dia bisa berada di sini?"
Selestical menggelengkan kepala dan berkata, "Iya, saya sudah memastikan soal itu. Tapi entah mengapa dia bisa berada di sini. Eh, tapi kenapa kita tidak merasakan aura keberadaannya yah, Sayang? Seharusnya kita kan dapat merasakan aura dari jarak jauh."
"Hm, saya pun tidak merasakannya. Ah, itu tidak masalah. Dia bukanlah ancaman besar."
Di sisi lain, Lyon begitu terkejut ketika mengetahui jika orang itu ialah Isabella. Entah kenapa dia malah bisa berada di tempat ini. Eh, apakah aku tidak salah lihat? Itukan Isabella. Ngapain dia ada di sini? Tidak berapa lama dia pun mulai berspekulasi, Jangan-jangan dia menguntit mereka berdua hingga sampai ke tempat ini? Lyon hanya bisa memikirkan kemungkinan soal itu saja. Mereka pasti menguntit kedua orang ini hingga sampai di sini.
Pada saat dia mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Isabella, dia juga merasa penasaran. Oh yah! Sebenarnya dimana yah kedua orang Isabella berada? Apakah mereka menyembunyikan mereka di suatu tempat?
Tiba-tiba aura hitam menyebar dengan sangat cepat memenuhi seluruh ruang. Bahkan hal itu membuat efek angin kejut yang terhempas ke segala penjuru. Jubah kepala orang yang satunya hampir saja terbuka, akan tetapi dia dengan cepat menahannya. Identitasnya masih tertutup.
Isabella dapat merasakan aura mencekam yang barusan dikeluarkan oleh Emertas. Rasa ingin membunuh dapat dirasakan dari aura yang dikeluarkan. Isabella sempat ketakutan karena hal itu. Akan tetapi, dia mencoba untuk berani dan berkata, "K-katakan ... siapa kalian sebenarnya, dan apa yang terjadi dengan ayah dan ibuku!? Di mana mereka!?"
Tapi tidak ada yang menjawab. Emertas terus berjalan pelan tidak membuka mulutnya. Ketika sudah dipertengahan jalan, dia sudah mulai menunjukkan sebuah senyuman. Itu adalah senyuman yang mencurigakan.
__ADS_1
"Isabella~ Apa yang sedang kamu lakukan di sini? Bukannya seharusnya kamu berada di dalam kamar, sesuai dengan perkataan ibumu tadi?"
"Jangan mengalihkan Pembicaraan! Di sini saya bertanya, dimana ayah dan ibu!? Katakan cepat!"
Isabella tetap bersekiras bertanya kepada Emertas perihal soal ayah dan ibunya. Namun, sebelum dia menjawab, Orang yang berada di sampingnya, menariknya mundur. Dia mencoba untuk melindunginya.
"Tuan Putri, tetap dibelakang saya!" ucapnya dengan suara lantang.
"Sebelum saya menjawabnya, saya ingin bertanya. Bagaimana kamu bisa berada di tempat ini dan caranya kamu menyembunyikan aura keberadaanmu itu?"
"Saya tidak akan memberitahukan soal hal ini kepadamu!" Isabella malah menolaknya secara mentah-mentah.
Kedua mata Emertas bercahaya terang, namun hanya sesaat sebelum kembali seperti semula. Setelah itu, dia tersenyum dan lanjut berjalan. "Sepertinya saya sudah tahu jawbannya, pasti jubah yang kamu kenakan itu yang menyembunyikan aura keberadaan dirimu."
Emertas langsung menghilang dari tempatnya dan mendadak muncul di hadapan mereka berdua. Dia segera mengarahkan jari yang dilapisi oleh kuku tajamnya, melesat cepat ke wajah Isabella.
"Tang!!"
Tapi, serangannya ditangkis oleh orang disebelah Isabella. Terlihat dua kapak yang membentuk sikap bertahan, mencoba menghalau serangannya. Di saat bersamaan, jubah kepalanya terlepas yang membuka identitasnya. Yap, orang itu adalah Helias.
"Tuan Putri, mundurlah! Dia ini bukan orang yang bisa kita kalahkan. Saya akan memberikan waktu agar Anda bisa kabur."
Hanya sesaat setelah dia berbicara, dia langsung merasakan sebuah serangan kuat yang mengenai samping pinggangnya. Emertas ternyata menendangnya. Secara telak Helias terlempar ke samping, terseret-seret di atas tanah.
Ketika dia sudah menendang, dia menyadari ada sesuatu yang datang. Itu adalah ujung dari sebuah tombak. Tombak itu melesat dengan sangat cepat sehingga membuatnya berhenti sejenak.
Sementara itu di tempat Lyon berada yang tidak jauh dari tempat pertarungan. Selestical yang tengah melihat pertarungan yang sedang dilakukan oleh Emertas, merasa ingin ikut juga. Dia pun berbaik sejenak dan melihat Lyon.
"Sepertinya kematianmu akan tertunda sejenak. Tapi, tidak usah khawatir, itu tidak akan lama. Nanti setelah mereka berdua mati, maka kamu akan menyusul mereka."
Selestical lalu mengarahkan tangannya ke arah kereta kuda dan mulai melalukan sesuatu. Itu adalah sebuah sihir penyegel.
"Cursed blood bond."
Muncul ukiran pola sihir berwarna merah darah yang menyelimuti seluruh permukaan kereta kuda. Setelah sihir itu selesai diaktifkan, Selestical kembali berbicara, "Untuk sementara kamu tidak akan bisa keluar dari kereta itu. Jadi tetaplah menjadi anak baik dan nikmati saja kematian yang akan mereka alami dari balik jendela." Dan dia pun pergi dari sana.
__ADS_1