World Online The Forgotten Legend : Next Stage!!!

World Online The Forgotten Legend : Next Stage!!!
Chapter 435 Identitas Asli


__ADS_3

Chapter 435 Identitas Asli.


Di rumah Ganta.



Desi pun membuka pintu rumah. Pada saat dia berada di dalam, dia melihat beberapa pasang sepatu yang nampak asing di matanya. Dia berpikir kalau semua sepatu-sepatu itu merupakan milik tamu yang datang. Desi lanjut berjalan, meletakkan sepatunya di rak sepatu dan masuk ke dalam lagi.



Desi sekarang berada di ruang tamu. Sebelum dia masuk ke sana, dia mendengar pembicaraan orang-orang. Mereka sepertinya berada di ruang tamu, dan terdengar cukup ramai.


Pasti hari ini banyak orang yang datang.



Mendengar suara suara dari mulut mereka yang terdengar banyak, membuat Desi berpikir jika rumah ini akan ramai dalam waktu dekat ini. Dia hanya spontan memikirkan hal itu dan tidak mempermasalahkannya. Dia pun lanjut berjalan memasuki ruang tamu. Ketika dia di sana. Dia melihat ada beberapa orang yang mengenakan setelah kemeja rapi berbolak balik dari kamar, tempat mereka bermain game, dan ada juga orang yang tengah duduk di sofa beserta kedua orang tuanya.



"Aku pulang."



Secara refleks dia menyapa orang-orang yang ada di sana. Mereka pun secara bersamaan menatap dirinya. Ayah Desi langsung bangkit dari tempat duduknya, lalu pergi menghampiri dia.


"Desi, ada yang ingin ayah tanyakan kepadamu."


Ucapan itu membuat Desi bingung. "Hah,. bertanya ...?"



**



Desi dan ayahnya kemudian kembali bergabung dengan yang lainnya, duduk di sofa ruang tamu. Desi saat ini masih bingung dengan apa yang terjadi karena dia tidak mendapatkan penjelasan apapun. Jadi, dia akan tetap dia menunggu sampai dia ditanyakan. Beberapa saat berlalu, ayahnya pun akhirnya bertanya.



"Desi, apakah kamu tahu kalau kakakmu itu tidak bisa keluar dari permainan?"



Saat pertanyaan itu terlontar, dia sudah mulai paham. Kedua orang tuanya ternyata sudah tahu soal soal Ganta yang sampai saat belum keluar dari permainan. "Eh, kakak tidak bisa keluar dari permainan? Ku kira dia sedang sibuk mengerjakan Questnya sehingga tidak ada waktu untuk keluar dari permainan." Hal itu juga mengejutkan dia pasalnya dia baru tahu ternyata Ganta bukannya tidak mau keluar dari permainan, tapi tidak bisa.



Melihat ekspresi kaget yang diperlihatkan oleh Desi, membuat dia paham. "Oh, rupanya kamu belum tahu soal hal ini yah." Karena Desi tidak tahu soal ini berarti dia tidak bisa bertanya lebih banyak lagi.



"Iya, aku juga baru tahu soal hal ini. Setelah kejadian yang menimpanya di dalam permainan itu, dia tidak pernah lagi memberikan kabar. Biasanya dia akan memberikan kabar melalui pesan atau panggilan, tapi sampai terkahir kali aku bermain, dia masih belum mengirimkan kabar apapun," ucap Desi yang masih lanjut berbicara.



Ada satu hal yang menarik perhatian ayahnya. "Sesuatu yang menimpanya di dalam permainan? Bisa kamu jelaskan kepada ayahmu ini?" Sesuatu hal yang menimpa Ganta sebelum akhirnya dia tidak bisa keluar dari permainan. Mungkin ini yang dimaksud oleh pegawai tadi yang dimana dia menyebutkan kalau Ganta tengah menyelesaikan Tantangannya. Dia ingin mengetahui lebih rinci soal tantangan itu.



Desi pun menjawabnya, "Jadi sebelum kakak terjebak di sana, kami terlibat di dalam perang. Ayah tahu kan jenis permainan di World Online yang dimana itu merupakan permainan fantasy. Nah, pada saat itu kami tengah berperang melawan monster berjenis Undead. Jumlah mereka sangat banyak, mungkin garis besarnya ratusan ribu-an."



Ucapan Desi pun terhentikan oleh pertanyaan baru yang dilontarkan oleh ayahnya lagi. "Tunggu dulu Desi, maksudmu monster Undead, itu monster seperti apa?"



"Itu, ee ... bagaimana aku menjelaskannya yah. Mereka itu adalah monster mati yang kembali dihidupkan. Ada banyak jenis sih, mulai yang berjenis tengkorak, mayat hidup seperti zombie hingga roh, dan yang mereka semua itu mengerikan."



Ayahnya mulai mengimajinasikan bagaimana bentuk rupa dari monster-monster itu. Tentu saja imajinasinya memberi suatu hal lebih dan membuat mereka semua kelihatan girang dan menakutkan. Apalagi dia lanjut memikirkan soal jumlah mereka yang ada sekitar ratusan ribu. Salah satu imajinasinya menggambarkan barisan zombie yang membanjiri lapangan. Dia agak merinding dengan imajinasinya sendiri.



"O-oke, oke. Sekarang lanjutkan ceritamu lagi."



Setelah mendapatkan izin, Desi pun lanjut bercerita, "Sampai dimana tadi yah ... Ah! Jadi, singkatnya kami pun berperang dengan mereka dan itu terjadi selama berhari-hari. Aku masih mengingat kalau itu adalah peperangan yang melelahkan. Mereka seakan tidak ada Habis-habisnya, apalagi bos yang memimpin mereka semua, dia sangat kuat, bahkan kakak saja dibuat mati olehnya."



"Namun, dengan usaha yang terus kakak lakukan akhirnya perang itu pun berakhir dengan kemenangan kami. Kakak berhasil mengalahkan bos mereka."



Desi kemudian menjadi agak murung dan kembali berbicara melanjutkan ceritanya. "Masalah pun di mulai setelah perang itu selesai. Ketika kami kembali ke kerajaan, tiba-tiba saja kakak menerima tuduhan sebagai orang jahat dari raja sana. Dia mengatakan kalau kakak lah dalang dibalik perang itu dan merencanakan semua itu. Kami pun tidak bisa melawan dan akhirnya dia di tangkap, Semenjak saat itu hingga hari ini aku tidak mendapatkan kabar apapun tentang kakak."


__ADS_1


Dari penjelasan itu ada sesuatu yang tidak beres, yang tentunya membuat ayahnya bertanya-tanya. Sebuah hal yang ganjal. "Itu sangat aneh. Seharusnya kan Ganta menjadi pahlawan di sana, tapi kenapa dia malah dijadikan penjahatnya, dan lagi dituduh sebagai dalangnya?"



Desi juga merespon ucapan ayahnya dengan nada yang sama. "Itulah yang juga membuatku bingung. Tapi, menurutku semua itu gara-gara Quest yang sedang dia kerjakan sehingga hal ini terjadi. Dia mana mungkin bisa melewatkan Quest itu begitu saja. Padahal dia bisa lolos dari sana, walaupun risikonya sangat besar, namun menerima penangkapan itu."



Bagi mereka pengatas tuduhan Ganta sangatlah ganjal. Padahal dia sudah memenangkan perang dan berhasil memukul mundur bencana yang akan menimpa kerajaan mereka. Bukan gelar pahlawan yang dia dapatkan, tapi malah gelar penjahat yang harus dia terima. Sudah jelas ada udang dibalik batu. Ada sesuatu yang mereka sembunyikan.



Tatapan ayah Ganta segera berpindah arah ke tempat pegawai itu duduk. "Pak, apa yang sebenarnya kalian rencanakan dengan membuat tantangan yang penuh konspirasi semacam ini? Saya sangat khawatir kalau saja dia tidak bisa bertahan di sana."



Pegawai itu memberikan jawaban yang serupa berupa ucapan permintaan maaf. "Maafkan saya, saya tidak tahu apa-apa mengenai hal ini. Hanya sebagian kecil saja orang di perusahaan yang tahu tentang tantangan ini."



Ayah Ganta langsung berdiri dari tempatnya dan menghampiri orang itu. Dia pun berkata, "Kalau begitu bawa aku ke sana. Aku ingin bertemu dengan orang yang telah membuat tantangan semacam ini." Rupanya ayah Ganta ingin segera menemui orang yang merupakan dalang dibalik semua ini. Dia membutuhkan penjelasan yang lebih pasti.



"Tenang, Pak, tenang ..." Pegawai itu mencoba memenangkan dia sembari memberikan penjelasan. "kami tidak bisa begitu saja mengantarkan Anda untuk menemui mereka kare-" Namun, ucapannya terputus ketika mendengar suara teriakan dari pegawai lainnya yang berasal dari ruang permainan.



"Gawat, Pak, gawat!"



Pandangan semua orang di ruang tamu langsung tertuju kepada pegawai tersebut. Dia melihat jika pegawai itu nampak panik sembari menunjuk-nunjuk ke dalam ruangan. Pegawai yang ada di ruang tamu masih belum mengetahui maksud dari tanda yang diberikan oleh orang itu. Dia pun secara refleks bertanya,


"Ada apa? Apa yang terjadi?"



**



Kembali ke dalam permainan.


Kali ini Lyon telah membuka peta dan melihat posisinya saat ini. Ternyata dia berada di suatu tempat yang bernama Road Valley Ruins. Yap, ini merupakan daerah tempat reruntuhan lama yang telah ditinggalkan. Lokasinya berdekatan dengan Death Valley Road. Mungkin bergeser sekitar satu kilometer dari tempatnya berada. Sekarang ini kereta yang membawa dirinya tengah terus berjalan ke pusat dari daerah ini yang itu berarti mereka akan memasuki reruntuhan. Dia tidak asing dengan tempat ini karena melihat tanah tandus yang merupakan bagian dari pintu masuk ke Death Valley Road.




Hukuman yang raja maksud pada waktu itu tidak seperti yang dia ekspetasikan. Dia berpikir dia akan dipenggal atau dihukum gantung, dan pengusiran atas kejahatan yang dia lakukan. Itu adalah hal umum sih jika seseorang mempunyai reputasi buruk di Kerajaan itu, apalagi sudah mendapatkan julukan perang. Hukuman semacam itu pantas baginya. Namun dia malah dibawa ke tempat semacam ini. Ada yang sedang mereka rencanakan. Lyon tentunya mempunyai firasat buruk.



Lyon kembali berpindah tempat, menuju ke bagian depan kereta. Di situ ada jendela yang berlapis jeruji besi. Dia ingin mengorek sedikit informasi dari para prajurit yang sedang mengemudikan kereta kuda ini. Ketika Lyon sudah berada di depan, dia segera bertanya.



"Anu, Tuan-Tuan Prajurit. Kalian akan mengantarkan saya kemana?"



Setelah Lyon bertanya, tidak ada satupun jawaban yang datang. Para prajurit itu hanya terdiam, terus fokus mengendalikan kuda mereka. Lyon pun mengulangi lagi pertanyaan, tapi mendapatkan hasil yang sama pula, tidak ada dari mereka yang menjawab.



Aneh, kenapa mereka tidak ada yang bicara yah? Lyon pun melihat mereka lebih lanjut. Ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Ketika dia melihat wajah mereka, dia bisa melihat pancaran merah yang berasal dari mata mereka. Kayaknya itu bukanlah pancaran biasa. Ada yang aneh pada mata mereka. Apakah mereka sedang dikendalikan? Hal yang paling mendekati dari keanehan mereka, bahwa mereka saat ini tengah dikendalikan. Walaupun itu belum pasti, tapi dari ciri-ciri ini sudah dapat dipastikan.Tapi, intinya Lyon tidak menemukan jawaban. Dia pun kembali ke tempatnya semula dengan hasil kosong.



Ketika Lyon duduk, dia kepikiran akan sesuatu, "Oh yah! Coba aku cek dulu panel layar ku, siapa tahu pinaltinya sudah menghilang."



Lyon pun segera membuka panel layarnya. Dia berharap jika pinalti yang mengunci beberapa bagian dari panel layarnya sudah menghilang. Terkahir kali ketika di istana dia melihat jika pinalti itu masih terpasang. Dan pada saat dia mengeceknya, ternyata masih sama saja. Panel layarnya masih terkunci.



"Ah, sial! Sampai kapan pinalti ini akan berlangsung!? Kalau begini terus aku akan mati konyol." Lyon hanya bisa menggerutu kesal akan kemalangan yang terus menimpanya.



Lalu, tidak berapa lama, tidak jauh dari kereta kuda sudah mulai terlihat reruntuhan yang akan mereka datangi. Mereka sudah semakin dekat. Lyon tidak menyadari hal itu karena saat ini dia tengah berbaring di dalam sana. Dia sudah pasrah akan nasibnya. Akhirnya, kereta tersebut memasuki reruntuhan.



...[Pinalti Anda telah dihapus.]...


...[Investaris Anda telah terbuka. Anda dapat membuka inventaris Anda kembali.]...


...[Anda dapat kembali menggunakan dan mengganti senjata Anda.]...

__ADS_1


...[Pesan dan Panggilan untuk pemain dan Guild telah terbuka. Anda sudah dapat kembali mengobrol dengan rekan Anda/Anggota Guild Anda.]...


...[Fungsi sistem telah kembali normal.]...



Eh?!


Kedua mata Lyon langsung terbuka. Lebar. Dia pun langsung ke posisi duduk sila dengan kesadaran yang telah kembali sepenuhnya. "Ini sungguhan kan!?" Dia pergi memeriksa beberapa hal di panel layarnya. Dan ternyata benar, pinalti itu sudah menghilang. Dia sangat senang. "Akhirnya, penderitaan ku akan segera berakhir."



Lyon langsung mengeluarkan pedangnya. Dia melihat bilah pedangnya yang mengkilap-kilap disertai dengan aura hijau yang familiar baginya. "Ah, rasanya seperti berabad-abad aku tidak melihat keindahanmu lagi. Maaf telah membuatmu menunggu. Kita akan bertarung bersama-sama lagi," ucapnya dengan penuh gairah. Dan setelahnya, dia langsung mengelus-elus pedangnya di pipinya. Mungkin ini efek dari dirinya yang lama tidak keluar dari permainan. Mentalnya sudah mulai terkikis. Kasihan sekali dia, mana masih muda lagi.



Lyon pun pergi mengintip ke jendela kereta. Dia sedang melihat situasi saat ini apakah aman baginya untuk kabur atau tidak. Pada saat dia mencoba memantau, dia melihat sudah ada sepasang orang yang telah menunggu di depan sana. Lyon mengurungkan niatnya untuk kabur.



Beberapa saat kemudian, kereta kuda tersebut berhenti. Kedua orang asing yang sekarang berhadapan dengan kereta kuda, mulai berjalan ke samping kereta. Lyon melihat kedatangan mereka hingga akhirnya mereka sudah saling bertatap pandangan. Ekspresi wajah Lyon juga berubah menjadi serius ketika melihat mereka.



"Apa yang sebenarnya kalian rencanakan dengan membawaku kemari, Raja dan Ratu?"


Kedua orang asing itu ternyata adalah raja dan ratu.


"Jadi, bagaimana dengan perjalanmu, apakah itu terasa menyenangkan?" tanya sang Raja. Dia malah mengabaikan pertanyaan Lyon. Jelas hal itu membuatnya emosi.


"Jangan mengalihkan perhatianku! Sekarang jelaskan kenapa kalian membawaku ke tempat ini?" ucapnya dengan nada tinggi.


Si Ratu langsung berbicara, "Alamak~ Dia malah mengamuk. Apakah saya perlu menenangkanmu dengan ini?" Sambil menunjuk ke sepasang dadanya dan menunjukkan ekspresi wajah yang cabul.


Lyon langsung terdiam dibuatnya. Ucapan itu mengingatkannya pada kenangan lama yang ingin dia hapus.


"Apa yang kamu lakukan! ? Berhentilah bercanda seperti itu." Nampaknya Raja marah atas ulahnya.


Si Ratu pun mengiyakannya. "Iya, iya, iya~ baiklah, saya akan berhenti."



Sesudah itu, raja pun kembali menghadap kepada Lyon. "Yah, tempat kematianmu adalah di sini. Kami akan membunuhmu dan membuatmu menyesalinya atas semua perbuatan yang telah kamu perbuat sehingga mengacaukan semua rencana kami. Tapi, sebelum itu, akan sangat tidak sopan bagi kami jika belum memperkenalkan diri kami yang sebenarnya." Dan memberikan senyum kecil yang menyimpan sebuah makna.



"Memperkenalkan diri yang sebenarnya? Apa maksudmu?"



Lalu tiba-tiba mereka mulai berubah wujud. Ada awan hitam yang mengepul mereka diikuti dengan perubahan pakaian yang mereka kenakan. Pakaian bangsawan yang mereka kenakan lenyap seketika tergantikan dengan pakaian jas hitam. Dan perubahan wajah mereka sudah mulai terlihat dan menunjukkan hal yang buruk.



Lyon melihat perubahan mereka langsung dikejutkan dengan dua panel layar yang muncul di hadapannya. Itu adalah panel yang berisikan status, yang tentunya berasal dari mereka. Tapi, yang membuatnya terkejut ialah status tersebut telah mengungkapkan sejauh kebenaran yang mengerikan. Ancaman besar sudah berdiri di degannya. Kedua matanya melotot dengan begitu lebar diikuti keringat yang mengalir deras memenuhi dahi serta punggungnya.



I-ini tidak mungkin! Mereka?!


Dibalik kedua status yang telah Lyon lihat adalah.



...Status :...


...The Vampire King of Blood (Emertas)...


...Peringkat : Legendary...


...Level : 447...


...Kesehatan : [ 41.500.750 / 41.500.750]...


...Mana : [39.770.655 / 39.770.655]...


...[Raja dari segala Vampir yang memimpin kerajaan Invredart, kerajaan Vampir yang berada jauh di bawah permukaan bumi. Setelah perang besar berakhir, para vampir mulai menyembunyikan dirinya dari manusia. Tapi, sepertinya sekarang mereka akan kembali bangkit, entah akan membawa sebuah berkah ataukah bencana.]...



...Status :...


...The Queen Vampir of Blood (Selestical)...


...Peringkat : Legendary...


...Level : 445...


...Kesehatan : [ 40.200.750/ 40.200.750]...


...Mana : [38.950.675/ 38.950.675]...

__ADS_1


...[Kekasih dari Raja Vampir, Emertas yang telah diangkat menjadi Ratu dari segala Vampir. Kekuatannya, tidak beda jauh dengan kekasihnya, ditambah dengan pesona yang mematikan, yang dapat membuat lawan tidak berdaya dalam menghadapinya.]...


__ADS_2