Yolanda

Yolanda
Bab 23


__ADS_3

" Assalamualaikum." ucap Ola saat baru melangkah kan kaki masuk ke dalam rumah.


" Wa alaikum salam Non,udah pulang Non?" Jawab Bi Yeni dan Bi Ayuk secara bersamaan.kebetulan mereka berdua sedang membereskan ruang depan yang sedikit berdebu karena jarang di tempati.


" Mau Bibi siapkan minum Non?" tanya Bi Yeni mendekat.


" Nggak perlu Bi,Ola belum haus.nanti saja." Ola malah membenarkan posisi kaki nya setengah bersandar di sofa yang sudah selesai di rapikan.


" Mas Rendi belum pulang ya Bi?" tanya nya dengan kedua mata yang sengaja di pejam.


" Belum Non,mungkin Tuan langsung ke kantor." jawab Bi Yeni lagi.


" Capek banget kaki Ola mutar-mutar mall tadi ,mana di luar sana panas banget lagi! Huft..." Ola merentangkan kedua tangan nya merebahkan tubuh mungil nya di atas sofa dengan satu tangan menjadi bantal.


" Mau Bibi pijitin nggak Non?" tanya Bi Ayuk yang memang pandai dalam hal memijit.


" Nggak perlu Bi! Ola mau tidur saja ,Bibi lanjut kan aja pekerjaan nya dan tolong bilangin Pak Zen untuk membawakan semua belanjaan Ola ke kamar ya Bi." ujar Ola sebelum masuk ke alam mimpi nya.


Rupa nya wanita ini memang kelelahan sekali.dalam hitungan detik sudah terdengar bunyi dengkuran halus di sertai wajah imut Ola yang begitu lucu kalau di pandang.


" Capek banget kayak nya si Non!" seru Bi Yeni mengarahkan dagu nya ke arah sofa panjang yang di tempati Ola.


"Iya tuh Bi,udah Aku tinggal sebentar ya mau panggil Pak Zen sesuai yang Non Ola perintah kan tadi." Bi Ayuk bergegas ke teras depan menemui sopir pribadi Ola dan ikut membantu membawakan beberapa tas belanjaan yang terisi penuh.


Jam sudah menunjukkan pukul 17.30 WIB itu arti nya baru 1 jam setengah Ola menyelam di alam mimpi nya yang begitu tenang tanpa ada kebisingan yang mengganggu.beruntung nya cara tidur Ola sangat kalem sehingga tubuh nya tidak sampai jatuh mencium lantai.


" Non! Non bangun Non." panggil Bi Murni ketika mendengar suara ponsel Ola tidak berhenti berdering.


Ola melenguh dan perlahan membuka kedua mata nya.


" Ada apa Bi?" tanya Ola merentangkan kedua tangan di atas kepala.


" Itu Non! Dari tadi ponsel Non Ola bunyi terus,Bibi takut ada yang penting gitu maka nya yang menelpon tidak berhenti menghubungi Non." ujar Bi Murni menjelaskan.


" Oh Iya Bi! Makasih ya Bi." jawab Ola nyengir ketika kesadaran nya mulai muncul dan dia pun bisa mendengar dengan jelas bunyi deringan ponsel dari tas Tote bag yang dia pakai tadi.


Sangking nyenyak nya tidur wanita ini sampai-sampai ponsel yang berbunyi di samping nya saja tidak terdengar lagi oleh telinga nya.beruntung nya ada art yang mendengar dan membangun kan nya untuk menerima telepon yang ternyata dari sang suami yang datar nya mirip papan triplek.


" Mas Rendi!" seru Ola masih bisa di dengar oleh Bi Murni yang berdiri di sampingnya.


" Ya angkat Non! Bibi mau kebelakang dulu ya Non mau nyiapin makan malam.kalau Non Ola butuh sesuatu panggil saja Bibi ya Non." pamit Bi Murni kembali ke habitat nya karena mereka memang sedang sibuk mengolah makanan lezat yang akan di jadikan santapan makan malam.


Ola mengangguk kan kepala nya seraya membenarkan posisi tidur nya supaya mudah meletakkan ponsel di telinga.


" Ya Assalamualaikum Mas!" jawab Ola.


" Kamu dari mana sih La! Dari tadi Aku telpon kenapa baru di angkat sekarang?" bukan nya menjawab salam yang di ucap kan oleh Ola.Rendi malah menyerang nya dengan pertanyaan yang terdengar sedikit ketus.


" Bukan nya menjawab salam malah marah-marah! Mending sekalian aja nggak usah Aku angkat tadi telepon nya." batin Ola mengomel layak nya emak-emak yang gagal mendapatkan diskon murah.


" Ya maaf Mas! Aku tadi ketiduran jadi nggak denger kalau ada yang nelpon, memang nya ada apa sih? Tumben amat nelpon Aku?" sergah Ola sedikit menyindir.


" Maka nya lain kali ponsel nya jangan di simpan di tempat yang jauh dari tempat tidur mu!" balas Rendi ikut komat-kamit karena sudah puluhan kali dia mencoba menghubungi baru sekarang sambungan telepon nya di terima.


" Iya...Iya kan udah minta maaf.cepetan! Kalau nggak ada yang penting Aku matikan ya." jawab Ola semakin kesal karena Rendi malah mengomeli nya tiada henti.

__ADS_1


" Eitttt! Ja-ngan di matikan dulu!" seru Rendi sebelum wanita cerewet ini benar-benar memutuskan sambungan telepon mereka.


" Ya maka nya buruan ngomong nya! Mending Aku tidur lagi dari pada mendengar ocehan mu yang nggak bakal ada habis nya." berulang kali Ola merubah posisi tidur menjadi duduk sambil menahan kantuk yang masih amat kentara.


" Yolanda!" hardik Rendi tegas dan terdengar sangat menusuk di telinga.


" Iya..Maaf." jika Rendi sudah memanggil dengan nama lengkap itu tanda nya dia sedang marah dan serius.


" Aku mau minta tolong sama Kamu bisa kan?" tanya Rendi lagi.


" Minta tolong? Memang nya apa?" ujar Ola penasaran.


" Sekarang juga Kamu masuk ke ruang kerja Aku dan tolong ambil berkas yang ada di map biru langit sekalian sama Flashdisk yang berwarna serupa.tolong antarkan ke kantor ku sekarang juga karena Aku butuh cepat.nggak boleh di titip ke sembarang orang karena itu berkas penting." tadi pagi Rendi lupa memasukkan kembali berkas itu ke dalam tas kerja nya setelah dia selesai membaca dan memahami isi berkas nya.alhasil sore menuju senja ini terpaksa mengganggu istri kecil nya yang rupa nya sedang terlelap indah di alam mimpi.


" Baiklah,tapi Aku boleh mandi dulu kan Mas! Gerah." rengek Ola yang memang merasa nggak nyaman dengan badan yang penuh keringat.


" Ya sudah sana cepat.jangan lama- lama mandi nya.setengah jam lagi Aku ada meeting dan berkas itu harus Aku bawa ke ruang meeting." ujar Rendi lalu memutuskan sambungan telepon karena ada banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan.


Ola berlari menuju lantai atas dengan menenteng Tote bag nya.para Art yang melihat tingkah lucu Ola hanya bisa tersenyum tipis.


Ola melempar asal Tote bag yang berisi laptop dan buku kuliah lain nya.wanita ini segera masuk ke kamar mandi untuk menyegarkan tubuh nya yang terasa lengket.sebenar nya dia ingin sekali berendam dengan air hangat untuk menghilangkan rasa lelah di kedua kaki nya.tapi apa boleh buat karena dia sudah terlanjur mendapatkan perintah untuk segera ke kantor sang suami.dia tidak berani membantah karena takut di beri hukuman oleh manusia datar dan sangat dingin itu.


Cukup 5 menit saja dia bermain dengan air dan setelah itu mengenakan baju MIDI dress putih model Sabrina dan di padukan dengan flatshoes warna abu-abu senada dengan tas selempang yang dia keluarkan dari lemari kaca.penampilan Ola kali ini sangat cantik sekali seperti ABG yang masih duduk di bangku sekolah dan tidak kelihatan sudah menikah.rambut hitam nya di Curly sehingga menambah kesan manis untuk wajah imut dengan pipi tirus nya.


Semua yang di butuhkan oleh suami nya sudah di masukkan ke dalam sebuah tas kecil yang cukup untuk dua berkas saja.


Ola berangkat menuju kantor suami nya dengan di antar oleh Pak Zen.jalanan yang tidak terlalu macet membuat dia dengan mudah sampai di depan gedung pencakar langit dengan banyak nya penjagaan di segala sisi.


"Permisi Mbak! Mas Rendi ada di lantai berapa ya?" tanya Ola kepada petugas receptionist yang berdiri di meja nya.


" Belum sih,tapi Saya kesini karena di minta oleh suami Saya." jawab Ola singkat.


" Suami ?" petugas Receptionist itu menatap bergantian kedua teman yang sedang berdiri di dekat meja nya.karena setahu mereka Rendi Irawan pemilik perusahaan besar dan beberapa perusahaan lain nya belum menikah dan tidak pernah terdengar kabar tentang berita itu.


" Ya suami Saya,Rendi Irawan anak nya Papa Dion Irawan." balas Ola secara lengkap karena merasa takut suami nya di rebut oleh karyawan wanita yang berpenampilan begitu seksi dengan tubuh yang sangat ideal sekali sebagai seorang wanita.sehingga membuat dia harus memperjelas status nya.


" Cepat kasih tahu di lantai berapa Mbak! Ini berkas penting loh Mbak dan harus segera sampai ke tangan suami Saya." imbuh nya lagi karena gregetan tidak kunjung mendapat kan di mana letak ruangan suami nya.Ola mengeluarkan ponsel menelpon sang suami sekalian pamer kepada ketiga wanita yang memandang remeh diri nya.


Ketiga wanita ini terdiam menunggu apa yang akan di lakukan oleh wanita yang mengaku sebagai istri dari pemilik perusahaan tempat mereka bekerja.


" Halo Mas! Aku ada di bawah dan nggak boleh masuk sama petugas receptionist nya.Kamu jemput Aku di sini ya." ucap nya mengadu setelah sambungan telepon tersambung.


Dalam hitungan menit saja.turun lah Fadel sang asisten Presdir yang menjemput Ola.Ketiga wanita ini ketar-ketir dengan keringat yang bercucuran di sekujur tubuh mereka.tatapan mata tajam dari Fadel membuat mereka menundukkan kepala dengan bungkam seribu kata.


" Mari Nyonya ikut Saya ke lantai 21." ajak Fadel ramah dengan sedikit membungkuk kan badan nya.


" Iya." jawab Ola singkat lalu beralih menatap ketiga wanita itu dengan gerakan mengejek.


" Dan untuk kalian bertiga! Saya peringat kan sekali lagi.kalau ada Nyonya datang kesini lagi langsung di antar saja keruangan Tuan dan tidak perlu kalian tahan seperti tadi lagi jika kalian masih mau bekerja di sini." intonasi suara Fadel terdengar begitu tegas sama persis seperti sang Tuan.tatapan mata nya seolah ingin menguliti habis lawan bicara nya saat ini.


" Iya Asisten Fadel! Maafkan kami yang sudah melakukan kesalahan fatal." jawab mereka mengangkat sedikit wajah supaya di beri kata maaf.


" Jangan sama Saya minta maaf nya.minta maaf lah yang benar kepada Nyonya Ola yang sudah kalian ejek seperti tadi.Saya tidak bisa menolong apa-apa jika Nyonya sampai mengadukan semua perlakuan buruk kalian kepada Tuan.jadi persiapkan saja diri kalian bertiga untuk kemungkinan buruk yang akan terjadi nanti." Fadel berlari mengejar langkah kaki Ola yang sedang menunggu di depan lift yang masih tertutup.


Fadel menekan angka 21 pada lift khusus Presdir.Ola yang melihat pintu lift sudah terbuka langsung masuk dan di ikuti oleh Fadel dari belakang.

__ADS_1


Tidak ada percakapan yang terjadi di antara mereka berdua sepanjang lift ini bergerak.Ola menyibukkan dirinya dengan ponsel yang ada di tangan nya.sedangkan Asisten Fadel memandang lurus ke depan dan sesekali melirik sang Nyonya yang selalu terlihat cantik.


Ting....Bunyi pintu lift terbuka membuat Ola menyimpan kembali ponsel nya ke dalam tas selempang abu-abu dengan brand ternama.


" Pak Fadel! Boleh saya minta tolong?" Ola menghentikan langkah kaki nya sebelum mereka masuk ke dalam ruangan Rendi.


" Boleh Nyonya! Apa yang bisa Saya bantu." jawab Fadel patuh.


" Tolong pesan kan Saya makanan dari restoran kinozo ya Pak.pesan kan juga untuk Pak Fadel.untuk pembayaran nya nanti kirim kan saja ke nomer ponsel suami Saya." ucap Ola yang mulai terasa lapar.


" Siap Nyonya." Fadel segera mengeluarkan ponsel nya mengetik sesuatu dan mengirim ke email restoran yang di sebut kan oleh Sang Nyonya tadi.


Rendi yang berada di ruangan nya mengernyit heran melihat ada sebuah pesan yang berisikan angka yang di kirim oleh sang Asisten.


" Mas!" sapa Ola begitu masuk ke dalam ruangan suami nya.


" Mana berkas nya?" tanya Rendi langsung.


" Sabar dong Mas,kenapa Kamu nggak ada manis-manis nya sih.tanya kek Kamu capek nggak? Kesini di antar siapa? Maaf ya sudah merepotkan Kamu?" ucap Ola menye-menye dengan bibir yang sengaja di majuin.


Fadel yang berdiri tidak jauh dari posisi Ola hanya mampu menahan tawa dalam hati nya melihat tingkah lucu Ola yang begitu absurd.baru kali ini dia melihat ada wanita yang berani memarahi sang Tuan yang terkenal tegas dalam segala hal dan tidak mentolerir sedikit pun kesalahan.


" Ola! Aku lagi serius dan 5 menit lagi harus masuk ke ruang meeting." Rendi menatap tajam Ola yang sedang duduk di sofa.


" Ya Aku juga serius Mas! O..iya jangan lupa bayar tagihan makanan yang Aku pesan . seperti nya tagihan itu sudah masuk ke dalam ponsel mu Mas." Ola seolah tidak merasa takut lagi dengan wajah datar dan garang milik suami nya.wanita ini malah dengan santai nya meminta Rendi membayar kan semua pesanan nya.


" Sudah! Mana berkas nya ?" tanya Rendi lagi setelah selesai mengirim sejumlah uang untuk membayar tagihan makanan sang istri.dia tidak punya banyak waktu lagi untuk berdebat karena sedang di kejar meeting penting.


" Ini di dalam tas ini." jawab Ola mengulur kan tas tipis kepada sang suami yang sudah berjalan mendekati nya.


" Hm.." jawab Rendi berdehem dan membuka semua berkas yang di bawakan oleh sang istri untuk memastikan bahwa itu benar berkas yang dia minta .


" Ham Hem Ham Hem...Hadehhh.terimakasih kek.susah amat menikah sama pria datar plus kaku." Ola memainkan ponsel nya menunggu makanan nya datang.


" Iya terima kasih.Kamu mau langsung pulang atau gimana?" tanya Rendi ketika melihat Ola malah membenarkan posisi duduk nya dan bukan berdiri menyiapkan diri untuk pulang.


" Aku pulang bareng Kamu aja.lagian makanan nya juga akan di kirim ke sini." jawab Ola cuek.


" Ya sudah.Aku tinggal meeting sebentar ya.nanti kalau butuh sesuatu panggil OB aja.dan jangan keluyuran di lantai bawah! Paham!" titah Rendi yang tidak ingin kecantikan sang istri menjadi konsumsi para karyawan lelaki nya.


" Iya Tuan Rendi! Udah sana keluar,Aku pusing kalau dengar Kamu ngomel terus." Ola mengibaskan tangan nya supaya Rendi segera menjauh dari hadapan nya.


Lagi dan lagi Fadel di buat tercengang dengan perlakuan Ola yang begitu berani menentang suami nya.ingin menatap lama-lama dengan penampilan indah di depan mata nya.namun sayang nya Fadel tidak ingin membuat Rendi salah paham dan mengusir nya dari perusahaan raksasa ini.Fadel cukup tahu diri tentang siapa lah diri nya yang hanya sampah kulit kuaci yang ketika isi nya di makan dan kulit nya malah di buang begitu saja.


Ketika Rendi sedang sibuk meeting.Ola malah sibuk menghabiskan makanan yang sudah datang 5 menit yang lalu.dan dia sengaja menyisakan beberapa macam makanan untuk suami dan juga Asisten pribadi nya.


" Enak banget makanan nya!" gumam Ola setelah selesai mengisi perut dan berjalan ke arah kursi kebesaran milik sang suami.


"Ini kan foto nikah kami." batin Ola dengan tangan bergetar menyentuh pigura dengan berhias bingkai kecil.


Tanpa di sadari ada sebuah senyum hangat yang muncul di bibir tipis nya mengetahui sang suami diam-diam memajang foto pernikahan mereka di meja kerja nya.itu berarti ada beberapa orang yang sudah melihat termasuk OB yang sering membersihkan ruangan besar ini.


" Bagus lah! Setidak nya dia tidak menyembunyikan pernikahan ini dari karyawan nya." batin Ola meletakkan kembali foto penuh sejarah ini di tempat semula.


Jangan lupa Like,Vote dan Komen ya guys 😍🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2