Yolanda

Yolanda
Bab 26


__ADS_3

" Kenapa Kamu belum tidur sayang?" tanya Rendi berusaha menjadi sosok suami yang di idamkan Ola dan wanita lain nya.penuh perhatian dan berkata dengan sangat lembut.


" Ah..Mmm Aku mau mengerjakan tugas dulu Mas! Kan besok pagi batas waktu yang di beri kan oleh dosen killer tapi masih saja di gandrungi cewek-cewek kampus." sindir Ola cukup keras.dia mengabaikan jantung nya yang kembali mengajak ber disco karena tidak kuat mendengar kata sayang yang di ucapkan oleh suami nya.meski ini adalah untuk yang ke sekian kalinya tapi masih saja membuat Ola grogi layak nya ABG yang baru jadian dengan pasangan nya.


Rendi melempar asal handuk kecil yang dia pakai tadi.lalu tertarik mendekat ke arah sang istri yang duduk di balkon kamar sambil mengetik sesuatu di layar laptop nya.


" Benarkah seperti itu? Termasuk Kamu juga kan?" goda Rendi mengecup kening Ola karena tidak bisa menjangkau bibir tipis yang sedikit ke menunduk.


" Nggak! Terkecuali Aku." bantah Ola menatap sekilas sang suami yang masih betah berdiri di samping nya.


" Yakin? Kalau Aku di ambil cewek lain Kamu jangan marah ya." bisik Rendi dengan sengaja menggigit telinga Ola.


" Mas! Udah sana menjauh dulu! Aku nggak bisa konsentrasi kalau Kamu ganggu terus,bantuin kek atau bikinin minum kek yang bisa membuat Aku merasa tertolong." keluh Ola merasa jengkel karena konsentrasi nya tiba-tiba saja buyar dengan ulah sang suami.padahal sejak tadi sudah tertanam dengan pasti di otak nya apa yang harus dia ketik di laptop.namun kedatangan Rendi membuat semua nya kacau tanpa bisa dia cegah lagi.


" Kamu kalau lagi marah kayak gitu tambah cantik loh sayang! Aku sangat suka melihat nya." dengan usil nya Rendi kembali membisikkan rayuan maut yang entah dari mana dia belajar nya.


" Mas! Stop seperti itu,nggak cocok sama muka mu yang terlalu datar itu." Ola mendorong wajah Rendi agar menjauh dari nya dan kembali berusaha fokus menatap layar laptop yang masih menyala.


Hahahaha...


Tawa Rendi pecah mendengar ucapan Ola yang selalu membuat perut nya merasa di gelitik hebat.


" Mau di bantuin apa nggak nih?" tawar Rendi pura-pura bertanya.


" Boleh... Kalau Kamu nggak keberatan! Tapi awas ya kalau Kamu berani ngerjain Aku lagi." ancam Ola menatap waspada lelaki yang punya hobi baru dalam hidup nya yaitu membuat dia kesal dan marah.


" Jangan berburuk sangka dulu sama suami nya,awas geser dikit dong sayang." Rendi mengambil posisi duduk tepat di samping Ola karena kursi santai yang tersedia di balkon kamar mereka tidak terlalu besar dan hanya cukup untuk dua orang saja.


Ola dengan bersemangat menggeser tubuh nya sampai membuat bokong Rendi bisa duduk manis untuk membantu dia.


" Tapi ingat ya sayang! Ini semua nggak gratis dan ada harga mahal yang harus Kamu bayar nanti." ucap Rendi lirih.


" Karena yang membantu Kamu saat ini bukan lah orang sembarangan dan merupakan dosen terbaik yang ada di kota ini." imbuh Rendi tersenyum sejuta makna.


Ola membulatkan mata mendengar setiap kata yang di keluarkan oleh mulut kaku suami nya.sejak kemarin selalu saja kata harga mahal yang harus di bayar yang keluar dari mulut suami nya sampai membuat dia malas dan bergidik ngeri.


" Udah nggak usah aja Mas! Lebih baik Kamu tidur saja sana dari pada Aku terlalu banyak berhutang budi kepada mu." sergah Ola melanjutkan pekerjaan nya dan berusaha mengacuhkan keberadaan Rendi yang masih berada di samping nya.


" Benaran nggak mau nih?" tawar Rendi memastikan.namun tidak mendapatkan jawaban dari Ola yang terlanjur kesal.


" Sayang.."


" Sayang..." panggil Rendi lagi dan dengan nakal nya melingkar kan kedua tangan di perut tipis Ola.

__ADS_1


Ola menatap tajam sosok suami yang menghangat dan menghantui nya malam ini.


Rasa nya ingin sekali dia melempar vas bunga kecil yang ada di samping nya ke kepala pria ini supaya dia kembali ke habitat dan bersikap seperti biasa nya.


" Sini ikut Aku." ajak Rendi masih tetap memeluk pinggang Ola.


" Nggak mau." tolak Ola cepat.


" Mau di bantuin apa nggak?" goda Rendi lagi sengaja menarik ulur waktu agar bisa menatap Ola lebih lama lagi.


" Pak Rendi Irawan yang terhormat,lebih baik anda menjauh dari hadapan Saya sebelum Saya yang keluar dari kamar ini." ucap Ola tegas dengan ancang-ancang ingin keluar mengangkut laptop dan segala perlengkapan lain nya.


Happ...


Rendi menahan pergelangan tangan Ola sehingga membuat sang wanita terjatuh di pangkuan nya berikut dengan laptop yang mendarat tepat di wajah Ola.sontak saja Ola mengaduh memegang dagu yang terasa perih di sertai ada gumpalan kristal yang siap menetes keluar dari ujung mata nya.


" Maaf sayang! Aku nggak sengaja." ucap Rendi merasa bersalah.


" Huft...Huft...Huft..." Rendi terus meniup seluruh wajah Ola sudah terlihat merah menahan rasa sakit.tangan nya juga ikut membelai supaya rasa sakit itu segera pergi dari wajah sang istri.


" Maka nya bercanda nya jangan kelewatan Mas! Sakit tau." rengek Ola dengan wajah kesal nya.


" Iya maaf sayang,Aku nggak sengaja! Sini Aku bantu Kamu ngerjain tugas nya di ruang kerja aja,kalau di sini susah ngetik nya selain itu angin malam juga nggak bagus buat kesehatan." tutur Rendi menuntun pelan tangan Ola sampai masuk ke dalam ruangan kerja nya.Ola yang tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan emas ini memilih ikut karena otak nya yang sudah tidak bisa berpikir jernih lagi.


Rendi membawa Ola duduk di sofa dan membantu mengerjakan tugas Ola sampai selesai.Ola bersorak gembira melihat hasil kerja keras nya bersama sang suami dan dia juga merupakan orang pertama yang mengumpulkan tugas yang begitu berat ini.


Suara deringan ponsel milik Ola yang berbunyi di samping tempat duduk nya membuat Rendi yang sedang menyelesaikan pekerjaan kantor nya menoleh penasaran.


" Siapa yang menelpon Kamu malam-malam begini?" tanya Rendi penuh selidik.


Ola mengangkat bahu nya karena dia juga tidak tahu siapa yang selancang itu mengganggu waktu istirahat nya.Ola menutup kembali buku milik Rendi yang dia pinjam lalu meraih ponsel yang terus berbunyi tanpa henti.


" Kenapa Ris? Kamu belum tidur ya?" tanya Ola sengaja mengeras kan suara nya saat melihat sorot mata Rendi penuh tanya.


" Tugas Aku belum siap La! Tolong bujuk suami mu dong supaya di mundurkan lagi." rengek Risa yang ternyata di samping nya ada Meri yang juga belum menyiapkan makalah yang Rendi minta.


" Lah terus gimana dong? Doi nggak bakal mau karena dia orang yang sangat disiplin dan on time.udah mending Kamu kerjain dulu aja semampu yang Kamu bisa Ris." ujar Ola memberi nasehat,karena jujur saja dia tidak tahu bagaimana cara menjelaskan nya kepada sang suami yang terkenal begitu disiplin.


" Plis bantuin kita berdua dong Ola sayang! Aku nggak mau kalau sampai harus mengulang kembali kelas calon suami ku! Mau ya La, kali ini aja." pinta Meri dengan nada suara memohon.


" Meri nginap di tempat Kamu, Ris?" tanya Ola kala menyadari bahwa yang bicara barusan adalah sosok Meri si pengagum suami nya.


Risa mengangguk kan kepala meskipun Ola tidak bisa melihat nya.

__ADS_1


" Iya kita lagi kerja kelompok tapi tetap aja nggak selesai! Stress banget deh." sahut Meri terdengar putus asa.


" Ya gimana dong! Kalian tahu sendiri gimana si do'i! Udah sana kerjain dulu yang penting tugas nya ada." ucap Ola pelan karena merasa takut sejak tadi Rendi selalu mengawasi nya.


" Iya udah deh! Kita berdua coba dulu." Meri mematikan sambungan telepon dan mencoba kembali berusaha dengan kemampuan di bawah rata-rata yang dia miliki.


Sedang kan di dalam ruangan kerja Rendi,Ola kembali merebahkan tubuhnya dengan berpura-pura fokus menghindari tatapan mata penuh intimidasi dari sosok dosen sekaligus suami nya.


" Mau apa mereka menelpon Kamu malam-malam begini sayang?" tanya Rendi tegas.


" Nanyain tugas yang Kamu berikan kemarin,dan seperti nya mereka sedang kesusahan untuk mengerjakan nya." jawab Ola singkat tanpa membuka semua isi pembicaraan mereka tadi.


"Ya biar kan saja,jangan di bantu dan biar kan mereka berusaha sendiri,lain kali Aku nggak mau lagi melihat hasil ujian mu sama persis seperti ketiga sahabat mu itu! Kalau sampai Kamu membagi kan kembali lembar jawaban kepada mereka,jangan salah kan Aku kalau sampai mereka Aku pindahkan ke kelas lain." ancam Rendi yang merasa kaget saat mengoreksi hasil ujian istri nya tidak ada beda nya dengan ketiga sahabat dekat nya.


" I-iya Mas! Maaf." ucap Ola merasa malu karena ketahuan berbohong.


" Tidak untuk besok dan mata pelajaran lain nya." bukannya Rendi tidak suka istri nya menolong teman,tapi Ola juga harus tahu batasan mana yang boleh dan mana yang tidak boleh untuk di bagi secara suka rela.apalagi ini menyangkut urusan nilai semester.


Setelah pekerjaan Rendi selesai,pasangan suami istri ini beranjak dari ruang kerja dan masuk ke dalam kamar pribadi yang berukuran sangat luas.Ola yang sudah sangat mengantuk langsung berbaring meninggalkan suami nya yang masih sibuk di dalam kamar mandi.


Pagi ini Ola di antar ke kampus oleh sopir pribadi dan satu bodyguard yang duduk di kursi depan.sedangkan Rendi pagi-pagi sekali tadi sudah berangkat ke kantor tanpa membangun kan diri nya terlebih dahulu.menurut pesan yang dia baca di ponsel nya bahwa saat ini ada meeting penting yang harus di hadiri Rendi dan nggak boleh terlambat datang walau hanya satu menit saja.


Risa dan Meri menghela nafas panjang secara bersamaan.kedua nya kompak menatap Ola yang baru saja datang dengan wajah cantik dan juga bersih.


" Nanti si do'i masuk nggak La?" tanya Meri saat Ola sudah duduk di samping nya.


Ola mengedikkan bahu sebagai jawaban tidak tahu atas pertanyaan yang di lemparkan oleh kedua sahabat nya.


" Nggak tahu,soal nya tadi doi berangkat pagi-pagi dan nggak bilang apa-apa sama Aku.pagi ini aja Aku di antar sama sopir." jawab Ola apa ada nya.


" Udah di kerjain belum tugas nya?" tanya Ola lagi.


" Udah tapi kayak nya nggak ada yang benar dan salah deh! Kita nyontek dikit dong La!" rengek Meri dengan suara cempreng nya.


" No! Makalah ini nggak boleh sama dan tadi malam kalian tahu nggak bagaimana marah nya doi pas tahu jawaban ujian kita selalu sama dan parah nya lagi dia ngancam bakal pisahin kita berempat kalau semua jawaban ujian mata kuliah kita masih tetap sama dan nggak ada beda." ujar Ola menjelaskan.


Kedua wanita yang tertunduk lesu langsung mengambil posisi tegak lurus karena kaget mendengar berita buruk yang di sampaikan oleh Ola.


" Serius Kamu,La! Jangan bercanda deh." tanya Risa dengan wajah pucat.


" Seribu rius malah!" Ola mengangkat dua jari nya karena tidak ingin di anggap berbohong.


" Wah gawat ini! Jangan sampai ucapan dosen tampan itu benar-benar menjadi kenyataan dan Aku belum siap berpisah dari kalian semua." ucap Risa merasa bersalah karena memanfaatkan sang sahabat yang pintar demi membantu dia yang memiliki otak pas-pasan.

__ADS_1


" Ya semoga aja! Maka nya lain kali jangan lupa belajar supaya bisa mandiri." Ola mengeluarkan ponsel nya berselancar di dunia Maya sambil menunggu Dosen datang menghampiri kelas mereka .sedangkan Risa dan Meri terlihat tidak bersemangat merasa frustasi tidak punya tongkat pegangan lagi.berbeda dengan Dini yang terlihat kalem karena punya pacar yang bisa membantu dia mengerjakan tugas.


Jangan lupa Like,Vote dan Komen ya guys 😍🥰🥰


__ADS_2