Yolanda

Yolanda
Bab 62


__ADS_3

" Mas anak kita?" tanya Ola begitu tersadar dari pingsan nya.


" Dia terlalu kuat melewati semua ini sayang,jangan terlalu banyak pikiran karena semua nya baik-baik saja." ucap Rendi lembut masih betah duduk di samping istri nya meskipun kedua ibu nya meminta dia untuk kembali ke kantor saja.


Ola beralih menatap kedua orang tua nya mencari jawaban dari rasa khawatirnya.kedua wanita paruh baya itu malah mengangguk kan kepala seolah membenarkan ucapan suami nya.


" Cucu Bunda sama Mama Nala baik-baik saja sayang! Kamu nggak perlu khawatir lagi.sekarang fokus saja sama kesehatan Kamu ya." ucap Bu Yesi memperingati anak nya.


" Maafkan Ola yang sudah merepotkan kalian semua!" ucap Ola dengan wajah sendu nya.


" Tidak ada yang merasa di repot kan sayang! Ini semua salah Aku yang tidak becus menjaga Kamu dan anak kita." jawab Rendi lagi.


" Aku pasti kan pelaku nya akan segera mendapatkan balasan yang setimpal atas apa yang sudah di lakukan kepada Kamu dan anak kita." imbuh Rendi dalam hati karena tidak ingin membuat istri nya semakin kepikiran.


Bu Yesi dan Bu Nala langsung mendekat sambil membawa nampan berisi makanan beserta baju ganti yang sudah di antar oleh anak buah Rendi.


" Maaf Bos! Ada Ammar yang ingin berbicara dengan Bos di luar." ucap anak buah nya ketika hendak keluar.


" Baiklah." Rendi lantas mengikuti langkah kaki pria tersebut dan sebelum nya menitipkan istri nya kepada Bu Yesi dan juga Bu Nala.


Ammar menunduk hormat ketika melihat Rendi sudah berdiri di depan nya.


" Maaf atas kelalaian anak buah Saya, Bos!" ucap nya memulai pembicaraan.


" Hmm." Rendi berdehem dengan wajah tegas nya.


" Apa kalian sudah menemukan sesuatu?" tanya nya penuh intimidasi.


" Sudah Bos." jawab Ammar singkat.


" Katakan apa yang kalian temukan?" cecar Rendi tidak sabaran.


" Para bodyguard menemukan bukti bahwa kecelakaan nyonya ada kaitannya dengan masa lalu Bos." ujar Ammar yang juga ikut terlibat langsung dalam misi penting tersebut.


" Masa lalu Aku? Siapa?" tanya Rendi gagal paham.


" Nona Alina dan juga musuh bebuyutan Bos yang bernama Yugo."kedua bola mata Rendi membulat sempurna ketika mendengar kedua manusia itu bersekongkol untuk mengganggu ketenangan hidup nya.tidak pernah terpikirkan sedikit pun oleh Rendi jika mereka bisa melakukan itu semua kepada dia yang jelas-jelas tidak pernah mau lagi bersentuhan langsung dengan kedua manusia tersebut.


" Bajingan! Mereka harus merasakan pembalasan ku. Aku tidak akan membiarkan mereka hidup dengan tenang." sorot mata Rendi memancarkan amarah yang begitu mengerikan dan bersiap akan membunuh musuh nya dengan tangan nya sendiri.


" Apa Saya harus menelpon pihak Pengacara untuk mengurus semua nya Bos?" tanya Ammar meminta persetujuan.


" Nanti dulu." tegur Rendi yang berniat menemui Yugo secara pribadi dan melampiaskan amarahnya kepada pria tersebut.

__ADS_1


Belum sempat Rendi memikirkan cara bagaimana berpamitan kepada istri nya.sebuah pesan masuk yang tertulis nama sang ayah di depan nya membuat Rendi terpaksa mengalihkan atensi nya.


" Jangan gegabah! Serahkan semua nya kepada pihak pengacara dan utus anak buah mu untuk menyerah kan semua bukti nya.ingat Rendi! Istri mu sedang hamil dan sedang berjuang mempertahankan anak kalian.jangan tambah lagi beban pikiran nya dengan masalah baru.Kamu harus menjaga lebih gesit lagi istri mu dari orang-orang yang ingin melihat Kamu hancur." Papa.


Pesan singkat sekaligus petuah yang di berikan oleh Papa nya membuat Rendi terpaku di tempat dengan sekelumit beban pikiran yang menyiksa batin nya.


" Lakukan sesuai yang Kamu bilang tadi! Jangan biarkan mereka berdua lolos begitu saja atas apa yang sudah mereka lakukan kepada istri ku.sekarang juga temui pengacara dan jangan lupa bawa bukti-bukti yang kalian temukan.kirim anak buah kita untuk menyelediki keberadaan mereka agar kedua bajingan itu tidak bisa lari kemana pun."titah Rendi dengan wajah datar nya.


" Baik Bos.akan Saya laksanakan." jawab Ammar mengerti.


" Kamu boleh pergi sekarang juga.jangan lupa untuk melaporkan semua nya kepada Aku setiap waktu." Rendi langsung masuk ke dalam ruangan VVIP yang di tempati oleh istri nya.dia mengambil paper bag yang ada di atas meja lalu masuk ke kamar mandi untuk berganti pakaian yang sudah kotor akibat darah yang keluar dari kening istri nya.


Meski sedang marah dan juga kesal,tapi Rendi berusaha terlihat santai di depan kedua orang nya dan tidak berniat membahas sedikit pun masalah kecelakaan tadi di depan para wanita yang mungkin akan bereaksi berlebihan nanti nya.


" Ada apa Ammar mengajak Kamu berbicara di luar Ren?" tanya Bu Nala kepo.


" Bukan hal penting Ma! Titip Ola lagi ya Ma! Aku mau beli kopi ke bawah dulu." ucap nya agar Bu Nala tak lagi memaksa dia untuk berbicara jujur.


" Mas!" panggil Ola yang sudah sempat memejamkan mata namun ketika mendengar suami nya ingin pergi dia bergegas membuka lebar-lebar kedua bola mata nya.


" Ada apa sayang? Kamu belum tidur?" tanya nya mendekat ke arah ranjang.


Ola menggeleng kan kepala dengan wajah imut nya.sehingga membuat keluarga nya tersenyum dengan rasa gemas.tidak ada yang menyangka jika wanita imut ini sebentar lagi akan menjadi seorang ibu dari bayi mungil yang tak kalah menggemaskan dari wajah ibu nya.


" Apa sayang! Asalkan tidak berbahaya untuk Kamu dan anak kita,Aku akan mewujudkan untuk Kamu." ucap nya merapikan rambut Ola yang menutupi wajah cantik nya.


" Aku pengen pentol yang ada di tempat tadi,sama martabak mini nya juga." ucap Ola dengan wajah berbinar.membayangkan kedua makanan itu saja sudah membuat saliva Ola tercekat dan tidak sabar lagi ingin menikmati makanan tersebut.


" Baiklah! Aku beli dulu ya.nggak papa kan Kamu di sini dulu sama Mama dan juga Bunda." sebenarnya Rendi tidak tega meninggalkan istri nya terlalu lama, terlebih lagi tempat tadi sangat jauh dari posisi mereka saat ini.tapi dia juga tidak bisa mempercayai sembarang orang untuk mewujudkan permintaan istri nya setelah kejadian naas yang mereka hadapi pagi tadi.


" Suruh Ammar atau Pak Zen saja Mas! Kamu di sini saja." tolak Ola karena memang tidak mau berjauhan dengan suami nya.


" Pak Zen sudah pulang ke rumah sayang,Aku pergi nya cuman sebentar saja.di sini ada Bunda dan Mama yang akan mengajak Kamu bercerita.mau ya?" tawar Rendi sedikit memaksa.


" Kata nya Kamu mau pentol! Nanti keburu habis loh sayang." sahut Bu Yesi ikut mencair kan keras nya hati Ola yang sedang manja.


" Tapi nggak boleh lama-lama ya Mas! Setelah mendapatkan makanan itu Kamu harus segera kembali ke rumah sakit." Ola memasang wajah cemberutnya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


" Iya sayang,Aku pergi dulu ya! Nanti makanan yang Kamu pengen keburu habis dan tutup lagi." Rendi mengulur kan tangan kanan di depan wajah istri nya.meskipun tak rela di tinggal pergi oleh suami nya.tapi Ola menyambut baik dan mengecup punggung tangan suami nya dengan patuh.tidak lupa Rendi mengecup kening Ola membuat kedua orang tua mereka tersenyum gembira.


Setelah mendapatkan izin dari Ola,Rendi bergegas menuju parkiran khusus rumah sakit dan melajukan mobil nya dengan cepat agar sampai lebih awal lagi.


Sedangkan di sebuah apartemen tempat tinggal Yugo.sejumlah polisi sudah datang menjemput dia yang sedang merayakan keberhasilan nya dengan berolahraga ganas bersama Alina yang merupakan pencetus ide gila tersebut.sangking asyik nya mereka mengerang di tengah terik nya matahari yang menyinari bumi ini.puluhan kali bel berbunyi tidak terdengar lagi oleh kedua nya yang begitu menikmati hentakan demi hentakan yang mereka ciptakan sendiri. Di atas meja terdapat dua botol minuman beralkohol yang sudah kosong dan di teguk habis oleh Yugo,Alina dan dua orang anak buah Yugo lain nya.

__ADS_1


Brak...Dua orang polisi terpaksa mendobrak pintu apartemen tersebut dengan kasar ketika tak mendapatkan sambutan dari pemilik nya.


Suara laknat milik kedua insan ini bisa terdengar oleh polisi dan juga anak buah Rendi yang ikut serta mengintai apartemen mewah ini.


" Silahkan henti kan permainan kalian itu dan segera kenakan pakaian." titah polisi berdiri di ujung pintu.tatapan mata polisi mengarah ke arah luar karena tidak ingin mengotori mata nya dengan hal kotor.


" Sial!" umpat Yugo berdecak kesal ketika dia hendak menuntaskan permainan nya tiba-tiba saja ada seorang polisi yang berdiri di pintu kamar nya.


" Polisi." gumam Alina lirih segera berjongkok meraih baju yang berserakan di atas lantai.


Jika bukan polisi yang datang mengganggu kesenangan nya, mungkin sudah sejak tadi Yugo membunuh pengganggu tersebut yang berhasil membuat kepala nya berdenyut nyeri karena tidak berhasil mendapatkan pelepasan setelah kelelahan bergoyang anarkis.


" Lakukan dengan cepat! Kami tidak punya banyak waktu lagi." titah polisi dengan suara tegas nya sehingga membuat Alina meringis ketakutan.ingin rasa nya dia berlari sejauh mungkin.tapi apartemen Yugo tidak memiliki akses kecuali pintu utama yang sudah di kepung oleh sejumlah polisi berseragam lengkap.


"Bagaimana ini Yugo?" bisik Alina dengan suara bergetar.Yugo hanya mengedikkan bahu nya dengan begitu santai seolah-olah tidak merasa takut sedikitpun dengan ancaman yang ada di depan mata nya.


Setelah memberikan waktu yang lumayan lama,4 orang polisi akhirnya menerobos masuk setelah mendapatkan perintah dari sang ketua.


" Apa-apaan ini?" tanya Alina memberontak.


" Kalian berdua harus ikut kami ke kantor polisi sekarang juga! Kalian di tangkap karena kasus tabrak lari sekaligus rencana pembunuhan terhadap istri dari tuan Rendi Irawan." ucap Polisi tersebut dengan sangat cepat.


" Percobaan pembunuhan? Apa istri bajingan itu masih hidup?" tanya Yugo menerka-nerka.


" Nyonya muda kami tidak selemah yang kalian pikirkan.sekarang waktu nya kalian menebus apa yang sudah kalian rencanakan dengan begitu hina nya." sahut Ammar berdiri di samping komandan pasukan penangkapan Yugo.


" Sial! Aku pikir wanita itu sudah meninggal dunia dan Rendi pasti sedang berduka saat ini." geram Yugo yang tidak bisa terlihat santai lagi dan seolah menyiratkan sebuah bara dendam yang begitu besar terhadap Rendi.


" Bawa mereka berdua sekarang juga." titah seorang polisi kepada anak buah nya.


Dengan wajah kusut dan keringat yang membasahi tubuh lemas nya,Alina berusaha memberontak tapi sayang nya kedua tangan nya sudah terlebih dahulu di borgol dan di paksa masuk ke dalam mobil yang memiliki sirine khusus.


Yugo yang awal nya terlihat bahagia setelah mengetahui jika anak buah nya berhasil melumpuhkan istri Rendi,harus kembali kecewa mendengar fakta bahwa istri dari musuh nya masih selamat tanpa mengalami cacat sedikitpun.


Pak Dion yang sedang mengganti posisi Rendi di ruang kerja nya, langsung menghubungi orang kepercayaan nya untuk menggulung perusahaan orang tua Yugo beserta perusahaan milik Yugo sendiri.dalam sekejap mata saja,kedua perusahaan tersebut langsung jatuh tak bersisa dengan saham yang sangat anjlok di pasaran.


" Siapa suruh berani bermain dengan Irawan! Sekarang rasakan pembalasan ku." gumam Pak Dion membuat Fadel dan Bella bergidik ngeri melihat keganasan CEO utama perusahaan besar ini.


" Sekarang tugas Kamu lagi! Beli semua saham tersebut sehingga tidak ada satu pun yang bisa meloloskan bajingan itu dari jeratan hukum." titah Pak Dion kepada Fadel.


" Siap Tuan Besar." jawab Fadel langsung pamit menjalankan tugas.


" Untuk Kamu! Urus semua pengalihan saham itu menjadi milik cabang perusahaan Rendi.dan kirim bukti akurat yang akan membuat dunia wanita gila itu hancur termasuk keluarga nya di kampung." Pak Dion kembali memberikan tugas berat kepada Bella yang ternyata langsung di sanggupi oleh Bella yang tidak ingin kehilangan pekerjaan nya.

__ADS_1


Jangan lupa Like, Vote dan Komen ya guys 😍🥰🥰


__ADS_2