Aku, Kamu Dan Suami Kita

Aku, Kamu Dan Suami Kita
Boy dan dokter Amel


__ADS_3

Anisa masih berjongkok meminta maaf sama Oma sampai mamih Aditya mengajak nya bangun"Nis,sudahlah kami gak menyalahkan kamu ini murni kecelakaan dan syukurlah Aditya pun baik-baik aja."


Anisa duduk di samping mamih Aditya sedangkan Monica masih menatap kesal ke arah Anisa.Mereka kini berkumpul di ruang keluarga menunggu Aditya selesai di pijat.


"Assalamualaikum"


"walaikumsallam"jawab semua orang yang ada di ruang keluarga.


"Selamat pagi semuanya apa kabar?"ucap seorang laki-laki.


"Hei..Angga,selamat pagi"jawab Mamih dan papih Aditya.


laki-laki yang baru datang ke kediaman Pratama adalah Angga sahabatnya Aditya dan di belakangnya Boy pun masuk.


Anggapun menyalami Oma,mamih dan papihnya Aditya,lalu dia melirik ke kedua perempuan di samping mamih Aditya.


"Hai Mon",sapa Angga.


"Hai,"jawab Monica singkat.


"Hai.. cantik kok ada di sini,"sapa Angga sambil tersenyum ke arah Anisa.


"Hai..Ga,aku lagi main,"jawab Anisa.


"Kamu juga kenal Anisa?"tanya mamih Aditya.


"Ya mam,Anisa kan istrinya sahabat Angga,"jawab Angga namun tiba-tiba di sikut Boy yang berada di sampingnya.


waduh gue hampir keceplosan Aditya sama Anisa kan merahasiakan pernikahannya dari keluarganya gumam Angga dalam hati


"o..kamu juga kenal suaminya Anisa,"mamih Aditya bertanya lagi.


"eh...iya mam,"jawab Angga sedikit gugup takut mamih Aditya bertanya lebih.


"Ga,sudah lama gak main kesini?"tanya papih Aditya.


"ya pap,Angga menetap di Bali kebetulan lagi ada kerjaan di Jakarta jadi sempetin main ke sini terus denger dari Boy katanya Aditya sakit sekalian mau nengok dia,"jawab Angga.


"Ga,kapan mamih dapat undangan dari kamu?"tanya mamih Aditya.


"undangan apa mam?"Angga malah balik bertanya.


"Undangan nikah dong,"jawab Mamih Aditya sambil tersenyum.


"pacar aja belum punya,jomblo akut dia mam,"tiba-tiba Aditya menjawab sambil berjalan menuju ruang keluarga,Aditya keluar kamarnya di ikuti oleh terapis pijat di belakangnya karena dia sudah selesai di pijat.


"Hei pak Aditya jangan sembarang ngomong banyak cewek-cewek ngantri, "jawab Angga


"Dit...kenapa kamu keluar kamar apa badannya sudah enakkan?"Mamih Aditya berdiri menghampiri Aditya.


"Mam,aku sudah baikan,nih badanku gak apa-apa kan?"Aditya menggerak-gerakkan badannya.


"Sayangku...kasian banget sih kamu,"Monica bergelayut mesra di tangan Aditya.


Anisa memandang suaminya dengan tatapan sendu, Adityapun melihat ke arah Anisa lalu dia melepaskan pegangan Monica dari tangannya dan langsung duduk di samping Angga berhadapan langsung dengan Anisa.


"Hai..bro apa yang terjadi?masa jagoan jatuh dari pohon ha...ha..,"Angga menepuk-nepuk bahu Aditya.


"sialan lu,"jawab Aditya menyikut Angga.


"Bos,anda baik-baik aja kan?"tanya Boy mengkhawatirkan atasannya.


"saya baik-baik aja Boy,"jawab Aditya.


"pa...pak..Aditya sudah ba..baikan?"tanya Anisa terbata-bata menghilangkan kegugupannya takut pertanyaannya memancing kecurigaan mereka yang belum mengetahui status dirinya.


"Saya sudah baikan,"jawab Aditya sambil tersenyum.


Kalau saja keadaannya bukan seperti ini pastinya Aditya sudah memeluk Anisa untuk sekedar menenangkan kekhawatiran istrinya itu, karena Aditya tau kalau Anisa kini sedang mengkhawatirkannya.


"Ini gara-gara dia,kamu jadi begini sayang,"ucap Monica.


"Gak usah di bahas,"Aditya melotot ke arah Monica.


"cucuku emang baik pada semua orang, termasuk karyawannya jadi jangan di salah artikan atau berharap lebih,"ucap Oma dengan nada ketus.


Deg..

__ADS_1


Kata-kata Omanya Aditya cukup menohok di hati Anisa.


*aku tau hal ini pasti terjadi dalam hubungan aku sama mas Aditya ,selalu beri kesabaran dan keikhlasan dalam hati ini ya Allah gumam Anisa dalam hati**


**baru kali ini gue setuju dengan kata-kata nenek peot,rasain lu perempuan kampung ucap Monica dalam hati**


"Ibu...,"Mamih Aditya melirik ke arah mertuanya.


"Sudahlah Aditya kan baik-baik aja jangan terus menyalahkan dia,"ucap pak Pratama sambil melihat ke arah Anisa.


"Ya...mamih setuju kata papih,"Mamih tersenyum ke arah suaminya.


"Pratama lagi-lagi kamu tertipu wajah perempuan sok polos,tidak ingat dul...,"Oma tidak melanjutkan ucapannya dia berdiri lalu meninggalkan ruang keluarga.


"Maksud Oma apa sih pap?"tanya Aditya heran.


"sudahlah sayang...Oma hanya mengkuatirkan kamu,"ucap mamih Aditya.


"Bro,gue ke sini ada yang ingin di omongin bisa kita bicara berdua,"ucap Angga.


"Kita ke kamar atas,sekalian Boy kamu ikut,"Aditya melirik ke arah Boy.


"Baik bos,"Boy langsung bangun dari duduknya.


"Mam,Pap,Aku pamit ijin ke kamar atas dulu ada sedikit urusan sama ini jomblo dan Anisa kamu istirahat aja di kamar jangan kelelahan dan banyak pikiran kasihan bayinya,"ucap Aditya.


"ok..kalau begitu mamih juga mau mandi dulu terus mau nyiapin buat kita makan pagi, untuk Anisa sama Monica kalian istirahat ya.."ucap mamih Aditya,lalu dia berjalan menuju kamarnya dengan pak Pratama di sampingnya.


Aditya, Angga dan Boy berjalan menuju lantai atas sementara Anisa dan Monica mereka ke kamarnya masing-masing.


**Kamar Aditya***


"Ada apa bro?"tanya Aditya.


Angga mengeluarkan sebuah map coklat dari dalam tasnya.


"Nih,hasil investigasi gue mengenai istri lu selagi tinggal di Paris,"Angga meletakkan map coklat di pangkuan Aditya.


Aditya membuka amplop lalu dia melihatnya banyak lembaran foto di dalamnya,sedetik matanya melotot dia mengeratkan giginya dan nafasnya mulai naik turun melihat foto-foto tersebut.


"Sialan mereka bermain di belakang gue,"ucap Aditya meremas salah satu foto tersebut.


Lalu Boy pun mengeluarkan sebuah map dan dia berkata"bos ini hasil pemeriksaan kehamilan nyonya Monica, ternyata kandungannya baru menginjak dua minggu ini saya dapatkan dari dokter Amel,"ucap Boy.


"apa dua Minggu? bukannya Monica bilang satu bulan,"Aditya semakin tidak bisa membendung amarahnya.


"saya sudah menanyakan langsung pada dokter Amel dan itu hasilnya,"ucap Boy sambil mengingat bagaimana cara dia mendapatkan salinan hasil pemeriksaan kandungan Monica dari dokter Amel.


*Flashback on**


Di sebuah rumah sakit**


"Boy..ada apa ke sini, kangen sama aku ya?"sapa dokter Amel ketika Boy masuk ke dalam ruangannya.


"langsung aja,berapa usia kandungan Monica?"tanya Boy dengan nada dan wajah datarnya.


"Maksud kamu apa?"tanya dokter Amel sedikit takut.


"Tinggal jawab saja,"ucap Boy berdiri tepat di depan dokter Amel sehingga deru nafasnya bisa terdengar dan wangi mint dari dalam mulutnya menusuk hidung dokter Amel.


"Satu bulan,"jawab dokter Amel.


"Berapa?"tanya Boy lagi dengan nada sedikit keras sambil mencengkram tangan dokter Amel.


"ya..segitu,"jawab dokter Amel sedikit ketakutan melihat sorot mata tajam Boy.


"Jangan main-main Amel,"Boy lebih dekat sama dokter Amel lalu lebih mengencangkan cengkramannya ke tangan dokter Amel.


"aw..sakit Boy,dokter Amel mencoba melepaskan cengkraman Boy.


"Makanya jawab yang benar,"ucap Boy.


"ok..aku jawab tapi dengan satu syarat,"dokter Amel mendekatkan wajahnya ke wajah Boy hampir hidung mancung mereka bersentuhan.


"Beraninya kau mengajukan syarat padaku,"Boy mencoba membuang muka.


"Kalau tidak mau ya sudah,"dokter Amel mencoba melepaskan cengkraman tangan Boy.

__ADS_1


"Katakan syaratnya,"ucap Boy.


"Jadikan aku kekasihmu,"jawab Amel mendekatkan tubuhnya pada Boy dan dengan cepat Boy mundur namun menabrak meja.


"gimana?kamu setuju?kalau tidak aku gak mau ceritain rahasia Monica,"dokter Amel semakin mendekatkan tubuhnya pada Boy kini tubuh mereka menempel.


Seketika keringat mulai muncul di pelipis Boy hawa panas mulai menjalari tubuh Boy namun dia mampu menguasai tubuhnya yang mulai tegang.


"ok,"jawab Boy singkat.


Kalau bukan demi bos, rasanya aku malas deket-deket sama ini cewek dari dulu masih saja seperti ini sifatnya gumam Boy dalam hati


"kamu setuju Boy,Yee...,"teriak dokter Amel lalu memeluk Boy.


"Berapa usia kandungannya dan beri aku laporan pemeriksaannya,"ucap Boy.


"ok,aku kasih kamu laporannya,terus apa buktinya aku sama kamu sekarang pacaran?"tanya dokter Amel.


Tanpa menjawab Boy langsung merengkuh tubuh dokter Amel lalu dia mencium bibir dokter Amel.


Flashback off**


Wajah Boy mendadak merah mengingat kejadian di rumah sakit bersama dokter Amel,dia menggelengkan kepalanya sendiri.


"Hei Dit,lihat si Boy pasti dia memaksa Amel memberikan laporan kehamilan Monica tapi pasti dia yang kena batunya he..he..,"ucap Angga yang tahu sifat Amel dari dulu mengejar-ngejar Boy namun belum juga Boy menerimanya jadi kekasih.


"Sialan lu Ga, kalau bukan demi bos,aku gak mau,"jawab Boy dengan muka kesal.


"Makasih Boy,kamu memang bisa di andalkan,"ucap Aditya.


"Dit, kemungkinan besar anak yang di kandung Monica bukan anak lu,"ucap Angga.


"ya,mungkin gue harus tes DNA untuk memastikannya,"Aditya berdiri berjalan menuju balkon.


Karena dari balkon kamarnya bisa melihat ke arah kamar tamu yang berada di lantai utama,Aditya melihat Anisa di depan jendela kamar dia sedang melamun menatap ke arah luar dengan pandangan kosong.



Aditya melihat istrinya sedang melamun ingin rasanya dia menghampiri dan memeluknya.


Drettt... pesan masuk ke ponsel Anisa.


✉️ Aditya:"sayang kok melamun?"


✉️Anisa:"mas kok tau?"


✉️ Aditya: "lihatlah ke atas"


Anisa mendongakkan wajahnya melihat ke arah balkon kamar atas terlihat Aditya melambaikan tangannya.


✉️Anisa:"Mas,Nisa kangen"


✉️ Aditya:"Mas juga,naiklah ke atas"


✉️Anisa:"takut ketahuan"


✉️ Aditya:"ambilah cemilan di dapur bawa ke sini, bilang sama mamih kamu mau ngobrol sama Angga dan Boy"


✉️Anisa:"bohong dong"


✉️ Aditya:"sedikit"


✉️Anisa:"ya sudah Nisa ke atas"


✉️ Aditya:"cepetan,mas gak tahan pengen meluk kamu


✉️Anisa:"mesum:"


✉️ Aditya:"😄😄😘


tok..tok..


"Boy,biar saya yang buka pintunya,"Aditya dengan cepat berjalan dan langsung membuka pintunya dengan wajah berseri-seri dan langsung memeluk seseorang yang ada di depan pintu.


"sayang..aku kangen,"ucap Aditya memeluk perempuan yang berada di depannya.


"Aku juga...."jawab perempuan itu.

__ADS_1


"Kau...."Aditya melepaskan pelukannya.


**kok wajah Aditya berubah saat lihat orang yang ada di hadapannya, kira-kira siapa ya???


__ADS_2