
ahhh...
"masss...."
"Astaghfirullah,"Anisa terbangun dengan nafas memburu merasakan sesak di dadanya mengingat mimpi barusan terlihat nyata.
"Nis,lu gak apa-apa,"Tari memegang pundak sahabatnya itu.
"Gue mimpi mas Aditya melompat dari ketinggian,"Anisa menangis lalu memeluk Tari.
"Istighfar Nis,lu cuma mimpi,"ucap Tari.
"Astaghfirullah,lindungi suami hamba ya Allah,"Anisa mengusap air matanya.
Perasaan Anisa masih saja tidak enak seperti ada sesuatu yang hilang dari hidupnya.
Ya Allah kenapa perasaanku,ada apa dengan mas Aditya gumam Anisa dalam hati
Untuk membuang kecemasan Anisa menelpon ke ponsel suaminya namun nihil, ponsel Aditya tidak aktif.Anisa terus menghubungi sahabat-sahabat Aditya ,menciba menghubungi Monica bahkan sampai menelpon ke kediaman pak Pratama semua tidak ada yang tau keberadaan Aditya.
Waktu menunjukkan pukul 03.00 dini hari,Anisa tidak bisa lagi memejamkan matanya setelah mimpi buruk tadi,dia terus mengkhuatirkan suaminya yang belum ada kabarnya.
Anisapun bangun dan masuk kamar mandi mengambil air wudhu untuk sholat malam, selesai shalat dia berdoa untuk menenangkan hatinya yang sedang gundah memikirkan suaminya.
"Nis...Nis... bangun,"Tari membangunkan Anisa yang ketiduran di sajadah.
Anisa mengerjapkan matanya lalu mendongakan wajahnya terlihat sahabatnya yang membungkuk membangunkannya.
"Tari..ini udah jam berapa?"tanya Anisa lalu merapikan mukenanya.
"Nis,ini udah jam enam lu kenapa tidur di sini,"ucap Tari.
"ya..tadi habis sholat shubuh aku ketiduran di sini,apa ada telepon dari mas Aditya?"Anisa berdiri lalu menaruh mukenanya di atas nakas.
"gue gak dengar ponsel lu berbunyi,"ucap Tari.
Anisapun mengambil ponselnya lalu mencoba menghubungi Aditya namun masih sama ponsel Aditya tidak aktif.
"Nis, sarapan dulu,gue udah bikin nasi goreng buat kita sarapan,"ajak Tari.
"makasih Tar,tapi gue belum lapar,"jawab Anisa.
"Nis,lu harus makan kasihan anak dalam perut lu,"ucap Tari sambil menarik tangan Anisa ke luar kamar.
Anisa dan Tari duduk di meja makan lalu mereka mulai sarapan.Anisa sebenarnya enggan untuk makan namun dia mengingat ada kehidupan lain dalam perutnya akhirnya sedikit demi sedikit dia memasukkan nasi goreng ke mulutnya.
"Nis,hari ini lu gak usah kerja, istirahat aja dulu,gue juga takut kalau para wartawan masih akan mencari-cari lu,"ucap Tari.
Anisa dan Tari sudah selesai sarapan lalu mereka duduk di ruang tv sambil berbincang-bincang.Anisa menyalakan tv berharap ada acara yang dapat menghibur hatinya yang sedang gundah gulana.
""Nis,lihat banyak gosip tentang pak Aditya sama lu,"Tari menunjuk ke arah televisi.
Anisa membulatkan matanya melihat berita di acara gosip selebritis yang mengatakan bahwa Aditya mempunyai selingkuhan,Aditya bermain dengan bawahannya,ataupun memberitakan pelakor yang masuk di kehidupan rumah tangga seorang model terkenal dengan CEO PRATAMA GROUP bahkan kejadian saat Aditya membopong Anisapun ada di berita.
Di sana diberitakan bahwa Anisa seorang pelakor,simpanan CEO ataupun di bilang perempuan perusak rumah tangga.
Anisa menangis melihat berita gosip tersebut, hatinya yang gundah kini di tambah dengan tuduhan dari media kepadanya menambah luka dalam hatinya.
Mas,kamu di mana Nisa butuh kamu saat ini,Nisa gak sanggup kalau harus hadapi semua ini sendiri gumam Anisa dalam hati
"Nis,lu yang sabar ya,"Tari mendekati sahabatnya itu lalu memeluknya.
hiks...hiks...
"Tar,gue butuh dia, kenapa saat gue membutuhkannya dia gak ada?Tar,gue sadar kalau gue hanyalah istri keduanya mungkin dia akan lebih memilih menemani istri pertamanya hiks...hiks.."Anisa terus menangis di pelukan Tari.
"Nis,sudah ya.. jangan nangis terus kasihan baby dalam perut lu entar ikut sedih,"ucap Tari.
__ADS_1
hiks...hiks..
"Tar,apa gue lebih baik pergi dari kehidupan mas Aditya ya?biar gue gak semakin terluka,"ucap Anisa pelan sambil menahan tangisnya.
"Nis,lu jangan gegabah ngambil keputusan,pak Aditya aja gak tau kabarnya sekarang entah dimana?"Tari mengelus-ngelus punggung Anisa.
Anisa terdiam memikirkan ucapan Tari,memang benar kalau suaminya belum mengabarinya sampai sekarang bahkan semua orang yang dia hubungi dari mulai sahabatnya Aditya sampai orang-orang yang ada di rumah kediaman Pratama pun tidak ada yang tau keberadaan Aditya mereka hanya menjawab Aditya sedang menenangkan diri tapi di mana keberadaannya merekapun tidak mengetahuinya.
**Kediaman Pratama**
"Pih,Aditya belum pulang dari semalam,mamih takut kenapa-napa sama dia,"ucap mamih Aditya sambil memberikan roti pada suaminya.
"Mungkin dia masih butuh waktu menerima kenyataan ini, biarkan dia sendiri dulu,"jawab pak Pratama kemudian dia menyeruput kopi di cangkirnya.
"Memangnya kemana cucuku,"tanya Omanya Aditya.
"Bu, semalam dia pergi setelah mendengar cerita papihnya tentang hubungannya dengan Anisa,"jawab Mamih Aditya.
"Maksudnya cerita apa?"Oma meninggikan suaranya.
"Bu,mas Pratama menceritakan masa lalunya sama ibunya Anisa dan setelah Aditya tau kalau dia sama Anisa saudara,anak itu langsung pergi dengan penuh kekecewaan,"jawab mamih Aditya.
"Memangnya apa hubungan Aditya sama si Anisa itu?"tanya Oma yang memang belum tau kalau Anisa adalah istri Aditya.
Mamih Aditya menceritakan semuanya pada mertuanya.
"kamu tau dari mana kalau si Anisa anaknya si Andini sama suamimu?"tanya Omanya Aditya.
"Kami sudah tes DNA bu dan hasilnya positif,Anisa anak kandung mas Pratama,"jawab Mamih Aditya.
"Ga..gak mungkin ahh..."ucap Oma sambil menahan dadanya lalu dia tidak sadarkan diri.
"ibu..."teriak mamih dan papihnya Aditya serempak kaget melihat Oma tidak sadarkan diri.
"Mas...cepat panggil dokter,"mamih Aditya menahan tubuh mertuanya yang terkulai lemas di kursi makan.
"Bu ..Bu..."pak Pratama menepuk-nepuk pipi ibunya lalu memberikan minyak kayu putih di depan hidung Oma agar segera sadar namun Oma belum juga sadar.
Pak Pratama mondar-mandir menunggu dokter Zein tiba sedangkan istrinya terus mengusap-ngusap tangan mertuanya.
"Tuan dokter Zein sudah tiba"ucap Bu Jum yang diikuti dokter Zein di belakangnya.
"Zein,cepatlah periksa Oma,"ucap Pak Pratama.
Dokter Zein mulai memeriksa Oma dengan sigap.Tidak lama Oma membuka matanya perlahan.
"ibu..."ucap pak Pratama.
"Syukurlah ibu sudah sadar,"mamih Aditya mendekati mertuanya.
"Aaa..it..uu.can..."ucap Oma terbata-bata dan terlihat bibirnya miring sebelah.
"Zein kenapa sama ibu,"pak Pratama panik melihat keadaan ibunya.
"Pak Pratama sepertinya Oma kena... stroke,"jawab dokter Zein.
"Apa??"pak Pratama tambah kaget mendengar jawaban dokter Zein.
Mamih Adityapun sama terkejutnya"gak mungkin tadi baik-baik aja."
"Aa...u...kan..."ucap Oma lagi.
"Sudah Bu,jangan paksakan untuk berbicara,"Pak Pratama menggemgam tangan ibunya.
Oma pun berhenti berkata namun terlihat di ujung matanya bulir bening menetes.
aku harus ceritakan kalau Aditya dan Anisa bukanlah saudara tapi bagaimana caranya ngomong saja aku gak bisa dan tanganpun susah di gerakan gumam Oma Aditya dalam hati
__ADS_1
"Zein,apa ibu harus di rawat di rumah sakit?"tanya pak Pratama.
"ya..kita harus segera bawa Oma ke rumah sakit agar lebih di tangani secara intensif,"jawab dokter Zein.
Pak Pratama membawa ibunya ke rumah sakit, setelah sampai mereka langsung cepat-cepat menuju UGD namun saat perjalanan menuju kamar mereka terhenti karena ada pasien kecelakaan yang baru masuk.
Para perawat mendorong brankar dengan cepat tiba di samping pak Pratama brankar yang membawa korban kecelakaan tersebut menyenggol pinggang pak Pratama sontak pak Pratama melihat ke arahnya dan sangat terkejut saat melihat korban kecelakaan itu penuh darah di wajahnya namun bukan itu yang mengagetkan pak Pratama melainkan orang tersebut adalah anaknya.
"Aditya..."teriak pak Pratama melotot melihat korban kecelakaan tersebut lalu menghampirinya.
"Pih,mana Aditya,"tanya mamih Aditya yang berada agak jauh di depan suaminya.
Mamih Aditya melihat suaminya sedang menangisi korban kecelakaan itu sambil berkata"Dit...bangun..Dit".
"Aditya..."mamih menjerit lalu dia menghampiri suaminya.
"Pak, maaf kami akan segera membawa pasien ke UGD,"ucap perawat yang tadi mendorong brankar.
"iya...cepat sus,tolong anak saya,"ucap pak Pratama sambil mengusap air matanya.
Akhirnya brankar yang membawa Oma dan Aditya masuk ke ruangan UGD.
Pak Pratama mondar-mandir di depan ruangan sedangkan mamih Aditya duduk lemas di kursi tunggu.
Boy terlihat berjalan tergopoh-gopoh sampai di rumah sakit,dia tau kalau bosnya kecelakaan dari pak Pratama yang menghubunginya tadi.
"Assalamualaikum,mamih,"Boy langsung mencium tangan ibu dari bos sekaligus sahabatnya itu.
"Boy...Aditya..."ucap mamih menangis.
"Mih,sabar pasti Aditya akan baik-baik aja,"Boy memeluk mamihnya Aditya.
Pak Pratama masih saja mondar-mandir di depan ruangan menunggu kabar dari anak dan ibunya yang sudah hampir satu jam di dalam ruangan UGD.
Pintu ruangan terbuka terlihat Oma yang akan dipindahkan ke ruang rawat lalu pak Pratama menyuruh istrinya dan Boy mengikuti ibunya ke ruang rawat sedangkan dia tetap berjaga di depan ruangan Aditya.
Cklek...
Pintu ruangan UGD terbuka lalu keluar seorang dokter.
"Dokter gimana keadaan anak saya?"tanya pak Pratama cemas.
"Pak Pratama,anak anda harus di operasi karena luka di bagian kepala yang cukup parah,"jawab dokter.
"Lakukan segera dok,tolong anak saya,"ucap pak Pratama.
Adityapun di pindahkan ke ruang operasi.
Setelah menunggu berjam-jam, akhirnya lampu di atas pintu ruang operasi mati berarti operasi telah selesai.
Keluarlah salah seorang dokter dari ruang operasi tersebut.
Sontak yang ada di luar ruangan semua berdiri di sana ada pak Pratama,Boy,mamih,Angga dan Riko.
"Dok,gimana anak saya?"tanya mamih dan papihnya Aditya bersamaan.
Dokter menarik nafas dalam-dalam sebelum menjelaskan keadaan Aditya.
"Pak Pratama operasi nya sudah berhasil tapi sekarang pak Aditya...dia koma,"jawab dokter tersebut.
"Apa...koma??"ucap semua yang ada di situ kaget mendengar perkataan dokter.
Semua nampak terkejut dan tubuh mereka mendadak lemas bagai tak bertulang.
"Aditya...."
*Bersambung**
__ADS_1