
Alexander tertegun dengan penampilan Yoana yang terlihat berbeda, gadis itu tampak begitu mempesona bagaikan putri seorang bangsawan yang elegant.
Yoana terlihat malu dipandang Alexander dengan lekat, membuat rona merah di pipinya, dan itu membuat dada Alexander berdebar-debar.
Perasaan yang begitu kuat ingin meraih Yoana kedalam pelukannya, menyerang hati nurani Alexander, dia tidak ingin gadis itu dilirik oleh pria lain.
Alexander tidak tahu entah kenapa semenjak bertemu dan pertama kali melihat Yoana diruang kerjanya, pesona Yoana telah mencuri hatinya.
Tanpa sadar kaki Alexander melangkah mendekati Yoana, tangannya terangkat ingin menyentuh pipi Yoana.
"Tuan!" panggil Yoana.
Suara Yoana menyadarkan lamunan Alexander, dan Alexander tersadar kalau tangannya sedikit lagi akan menyentuh pipi Yoana.
Alexander mengedipkan matanya, dengan cepat menurunkan tangannya, dan berdehem untuk menghilangkan rasa malunya.
"Ehem..Ayo kita pergi!" kata Alexander, lalu berbalik.
"Tuan!" panggil Yoana lagi.
Alexander menghentikan langkahnya, lalu kembali menghadap Yoana.
__ADS_1
"Ada apa?" tanyanya.
"Apakah anda akan pergi dengan penampilan seperti itu saja? tidak mengenakan topeng anda Tuan?" tanya Yoana hati-hati.
Tangan Alexander spontan memegang wajahnya, dia tidak sadar telah melupakan topengnya.
Kenyamanan yang diberikan Yoana, membuat Alexander lupa dengan cacat diwajahnya, dia tidak ingat kalau memiliki luka yang mengerikan diwajahnya.
"Apakah kau malu jalan denganku karena luka ini?" tanya Alexander menatap Yoana.
"Tidak!" jawab Yoana menggelengkan kepalanya dengan cepat, "Bukankah biasanya anda memakai topeng kalau keluar rumah?"
"Oh, iya! kau benar, aku jadi lupa memiliki cacat di wajahku, ini karena aku merasa nyaman dekat dengan mu!" kata Alexander, lalu mengambil topengnya, memang lukanya tidak masalah dengan Yoana, tapi akan masalah kalau didepan banyak orang.
Alexander terdiam ditempatnya, Yoana semakin membuat jantungnya tidak aman, dia merasa kalau perasaannya semakin kuat ingin memiliki Yoana hanya untuk dirinya sendiri.
Tangan Alexander terulur tanpa sadar menyerahkan topeng tersebut ke tangan Yoana, dan tubuh mungil Yoana berjinjit untuk memakaikan topeng tersebut ke wajah Alexander.
Jemari lembut Yoana terasa menyentuh kulit wajah Alexander, dan itu membuat hati Alexander semakin berdesir tidak menentu, dia ingin merasakan jemari itu lebih lama menyentuh kulit wajahnya.
"Sudah!" kata Yoana lembut, tampak senyuman manisnya tersungging di bibirnya, membuat Yoana semakin cantik saja.
__ADS_1
Alexander tidak berkedip menatap wajah Yoana, rasanya Alexander ingin mengecup bibir itu, bagaimana rasanya, apakah lembut juga seperti jemarinya menyentuh kulit wajahnya? pikiran Alexander berkecamuk dalam otaknya.
"Ayo Tuan, kita pergi!" sahut Yoana membuyarkan lamunan Alexander.
"I..iya, ayo!" Alexander mengedipkan matanya, dia benar-benar terhipnotis oleh pesona Yoana.
Nick perlahan membawa mobil keluar dari pelataran halaman Mansion Alexander, membawa Alexander dan Yoana ke pesta pertunangan rekan bisnis Alexander.
Tidak berapa lama mobil pun sampai ditempat tujuan, Alexander memberikan lengannya untuk dirangkul Yoana.
Sebagai pasangan Alexander untuk menghadiri pesta itu, Yoana dengan senang hati merangkul lengan Alexander.
Mereka berjalan diatas red carpet memasuki aula Hotel tempat pesta pertunangan di adakan.
Semua mata nyaris menatap kearah mereka, melihat Alexander menggandeng seorang wanita yang begitu cantik dan terlihat masih muda.
Mata para wanita tidak mempercayai Alexander yang cacat terlihat begitu tampan malam ini, dan terlihat begitu berbeda.
Alexander yang dikenal dingin dan pendiam, terlihat begitu hangat dengan auranya yang maskulin, sungguh Alexander yang berbeda.
Membuat para wanita itu berdebar-debar memandang sosok Alexander, pria dewasa yang penyendiri ternyata seorang pria yang sangat tampan.
__ADS_1
Dan, ada rasa yang kuat ingin mendapatkan perhatian dari Alexander, ingin berdekatan dengan pria tampan bertopeng tersebut.
Bersambung.....