
Akhirnya Alexander bernafas lega, setelah orang tua Yoana merestui hubungan mereka, dan lamaran Alexander, walau belum memberikan sesuatu untuk ke dua orang tua Yoana.
"Pa, bagaimana menurut Papa calon suami Yoana itu, apakah Papa memang tulus?" tanya Hendrik setelah mereka selesai sarapan, dan Alexander permisi untuk pergi ke kantor membawa Yoana.
"Ya, Papa melihat dia begitu tulus ingin menikahi Yoana, tentu saja Papa setuju!" jawab Ayah Hendrik setelah merenungkan pertanyaan Hendrik.
"Tidak masalah kalau dia cacat?" tanya Hendrik.
"Cacat? Papa tidak melihat dia cacat, memangnya dia cacat?" tanya Ayah Hendrik jadi panik, memberikan putrinya pada pria cacat.
"Apa Papa tidak melihat luka di sisi pipinya dekat pelipis sampai rahang nya?"
"Tidak! Papa tidak melihat apapun, yang Papa lihat pria yang sangat tampan!" jawab Ayah Hendrik.
"Syukurlah kalau begitu, tidak perlu melihat cacatnya, yang penting Yoana dan Alexander saling mencintai, dan pria itu menyayangi adikku!" ujar Hendrik senang, ternyata Ayahnya tidak melihat cacat Alexander.
"Memangnya kenapa? kau takut Papa tidak merestui hubungan mereka?" tanya Ayah Yoana memandang putranya itu dengan mata menyipit, dia merasa Hendrik menyimpan sesuatu tentang Yoana dengan kekasihnya itu.
"Iya, tentu saja! apa Papa tidak tahu, kekasih Yoana itu Ceo Alva Group, orang kaya di kota kita ini!" sahut Hendrik dengan bersemangat.
"Dari mana kau tahu dia seorang Ceo, jangan sembarangan bicara, mana mungkin Yoana bisa berkenalan dengan seorang Ceo!" sahut Ayah Hendrik terkekeh lucu.
"Tadi dia menyanggupi semua yang Papa inginkan, mana ada seorang pria berpenghasilan menengah ke bawah menyanggupi pesta pernikahan yang begitu mewah, apa Papa tidak berpikir, itu menghabiskan biaya berapa?" tanya Hendrik menekankan pertanyaannya pada Ayahnya.
Iya juga ya? pikir Ayah Hendrik, tadi saat Alexander permisi ingin segera pergi bekerja, meminta ijin ingin membawa Yoana ke kantornya.
"Aduh! apa tadi Papa sudah keterlaluan ya, sebagai seorang Papa, aku terlihat sombong sekali ya, baru memiliki putri yang tidak seberapa cantik begitu, sudah jual mahal dan arogan, jangan-jangan nanti pria itu membatalkan pernikahannya dengan adikmu!" ujar Ayah Hendrik panik.
"Mudah-mudahan tidak Pa, jangan terlalu berpikiran yang tidak-tidak, Ayo kita ke cafe, waktunya bekerja!" sahut Hendrik.
Mereka pun bergegas pergi ke cafe, sementara Ibu Yoana sebagai ibu rumah tangga, hanya tinggal di rumah dan sesekali pergi ke cafe untuk membantu.
Sementara itu, Alexander membawa Yoana ke kantornya.
Gadis itu sudah tidak asing lagi dengan kantor Alexander, sudah berapa kali dia datang ke kantor itu, setiap sudut kantor Alexander sudah di hapalnya.
__ADS_1
Begitu Alexander membuka pintu kantornya, tampak Lili duduk di kursi Alexander sedang membuka komputer Alexander.
"Apa yang kau lakukan?!" bentak Alexander dengan lantang.
"Alexander, ka..kau sudah datang? bukankah kau sedang di luar kota?" Lili sontak terkejut melihat Alexander.
"Lancang sekali kau duduk di kursiku, kau hanya sebatas asistenku saja, sungguh berani kau, dan aku adalah atasanmu, memanggil namaku seperti memanggil temanmu saja!" hardik Alexander berang.
"Saya..saya hanya mau membantu saja, dan bukankah kita memang sudah akrab?" sahut Lili gugup.
"Urus surat pengunduran dirimu di bagian HRD, aku tidak menginginkan mu lagi sebagai asisten ku!" ujar Alexander dengan tajam.
"Tuan, Alex...!" panggil Lili panik.
Mata Alexander tajam menatap Lili dengan marah, terlihat begitu menakutkan.
Lili langsung menciut melihat tatapan mata Alexander yang begitu tajam, seolah-olah ingin melemparkan dirinya ke luar ruangan itu.
Saat Lili akan melangkah menuju pintu, tiba-tiba dia terkejut melihat Yoana entah sejak kapan ada di ruang kantor Alexander.
"Tutup mulutmu!" Alexander langsung memotong perkataan Lili, "Siapa kau berani sekali memarahi calon istriku!" hardik Alexander marah.
Yoana tersenyum miring menatap Lili, ternyata cerita novel yang sering di bacanya itu kisah nyata.
Orang di balik semua ini harus di temukan, orang itu lah yang menginginkan Alexander mati, dan Lili adalah kaki tangannya.
Yoana melihat Lili semakin terkejut mendengar perkataan Alexander, matanya memandang Yoana dengan tatapan bermusuhan.
"Ternyata dia asisten mu, tapi perasaan kemarin dia memarahi aku, mengatakan kalau kau tunangan asisten mu ini, Alex!" sahut Yoana dengan nada mengejek Lili.
Ini ke dua kalinya Yoana bertemu lagi dengan Lili, tentu saja Yoana akan membantu Alexander dengan lebih keras lagi di dunia nyata ini, untuk menumpas orang-orang yang ingin melenyapkan nyawa Alexander.
"Tidak tahu malu, kau pikir layak menjadi tunangan ku!" sahut Alexander dengan tajamnya.
"Bu..bukan begitu, a..aku hanya ingin melindungi mu dari orang-orang yang ingin memanfaatkan mu!" kata Lili membela diri.
__ADS_1
"Justru aku yang harus melindungi diriku dari dirimu, dari awal kau bekerja padaku, aku sudah curiga padamu!" sahut Alexander dengan dingin.
Lili tanpa sadar menelan ludahnya, tubuhnya gemetar merasa takut dengan tatapan sinis Alexander.
"Katakan padanya, jangan coba-coba memprovokasi ku siapapun dia, aku akan membuat dia menyesali apa yang telah dia perbuat padaku!" sahut Alexander lagi dengan nada yang tajam dan tegas.
Lutut Lili gemetar mendengar perkataan Alexander, rencana yang baru saja akan mereka mulai sudah di ketahui Alexander.
Siapa yang memberitahukan pada lelaki cacat ini rencana kami! pikir Lili kesal.
"Pergi! urus surat pengunduran dirimu, mulai dari sekarang jangan pernah lagi ku lihat wajahmu di manapun!" ujar Alexander memandang Lili dengan tatapan datar.
"Ba...baik Tuan, permisi!" ucap Lili dengan gugup, lalu cepat-cepat keluar dari ruang kantor Alexander.
"Masih ada masalah lain yang menantimu Alex!" sahut Yoana mendekati Alexander yang telah menghempaskan bokongnya ke kursinya.
"Iya, kau benar sayang, tapi aku tidak akan takut, ada seseorang yang menemani ku menghadapi masalah yang datang mengincar ku!" kata Alexander meraih tangan Yoana begitu gadis itu mendekat padanya.
Alexander membawa Yoana ke atas pangkuannya, lalu memeluk pinggang ramping Yoana dengan erat.
"Maukah kau menjadi asisten pribadi ku sayang, aku akan membayar gajimu tiga kali lipat!" bisik Alexander di telinga Yoana.
Yoana tersenyum mendengar tawaran Alexander tersebut, tidak disangka-sangka akhirnya Yoana mendapat pekerjaan dengan gaji fantastis.
Tentu saja dia mau dengan tawaran Alexander, walau tidak dengan di gaji pun Yoana tetap mau membantu Alexander menjadi asistennya.
Karena selalu dekat dengan Alexander, gadis itu bisa memantau Alexander baik-baik saja.
"Iya, aku mau!" jawab Yoana dengan cepat.
"Terimakasih sayang!" ucap Alexander begitu bahagia mendengar jawaban Yoana.
"Iya!" jawab Yoana tersenyum.
Bersambung.....
__ADS_1