
Yoana menatap kartu nama itu tidak berkedip, dia masih tidak percaya membaca nama dan juga telah melihat si empunya kartu nama tersebut.
Sekarang gadis itu duduk di kursi yang sama saat dia tertidur, dan masuk ke dalam novel favoritnya.
Menatap kartu nama di atas meja belajarnya, di mana saat terakhir dia meletakkan novel yang sedang dibacanya.
Yoana seakan bermimpi menatap kartu nama tersebut, bayangan wajah Alexander saat akan naik ke mobil terlintas lagi di kepalanya.
Wajah itu begitu tampan tanpa adanya cacat dan tidak memakai topeng.
Yoana memejamkan matanya, dalam kepalanya dia membayangkan Alexander yang dicintainya.
Alexander yang cacat mengenakan topeng, Alexander yang berbinar-binar saat menatapnya.
Ya, Yoana hanya menginginkan Alexander yang memakai topeng, pria yang tulus dicintainya, bukan Alexander yang tadi dilihatnya.
Perlahan Yoana membuka matanya, dan kembali menatap kartu nama itu.
Yoana menatap nomor ponsel dibawah nama si empunya kartu nama, dia merasa heran kenapa orang itu memberikan nomor ponselnya.
Yoana mengabaikan nomor tersebut, perlahan tangannya menarik laci meja belajarnya, lalu meletakkan kartu nama tersebut ke dalam laci.
Kemudian Yoana mencari buku novel favoritnya, yang dari kemarin tidak dapat ditemukannya.
Yoana mencari di setiap sudut kamarnya, dan bahkan ke dalam lemari pakaiannya, novel tersebut tidak ketemu juga.
Kemana perginya? pikir Yoana tidak habis pikir.
Dia ingat saat terakhir membaca novel tersebut, dia ketiduran, dan masuk kedalam novel.
Dan, saat dia tertabrak mobil dalam dunia novel, dia terbaring di lantai kamarnya, dan novel tersebut tidak kelihatan lagi setelah dia terbangun.
Yoana menghela nafas dengan berat, dia pun tidak memperdulikan lagi novel tersebut.
Bisa jadi novel itu menghilang begitu saja, setelah dia mengubah jalan cerita aslinya, menyelamatkan pemeran utama pria, dan mengorbankan dirinya.
Tok! tok! tok!
Terdengar suara ketukan dipintu kamarnya.
Perlahan Yoana membuka pintu. Hendrik tampak berdiri didepan pintu kamarnya.
"Yoana, barusan ada pelanggan cafe kita menelepon Papa, minta pesanan kopi besok pagi jam sembilan begitu, dan dia ingin kau yang mengantarkan ke kantornya besok pagi!" kata Hendrik begitu Yoana membuka pintu kamarnya.
Yoana terdiam sebentar mendengar apa yang dikatakan kakaknya itu, dia merasa heran kenapa harus dia yang mengantar.
Karena pikiran Yoana lebih fokus memikirkan masalahnya, ia hanya menyetujui saja apa yang dikatakan oleh kakaknya itu.
__ADS_1
"Baiklah!" jawab Yoana.
"Ini alamat kantornya, simpanlah! besok dia menginginkan tiga pesanan kopi dan Dessert cake coklat tapioka kacang hazel madu, sama dia minta tiga juga!" Hendrik menyerahkan secarik kertas alamat pelanggan yang memesan kopi dan Dessert tersebut.
"Oke!" jawab Yoana menerima alamat pelanggan tersebut, tanpa perduli untuk membaca alamat pelanggan tersebut.
Yoana menutup kembali pintu kamarnya, lalu meletakkan alamat tersebut di atas meja belajarnya.
Yoana kemudian merebahkan tubuhnya ke atas tempat tidur, dia sudah mulai mengantuk, dia ingin tidur lebih awal.
Besoknya, Yoana bangun lebih awal mengingat tugasnya untuk mengantar pesanan pelanggan di jam sembilan pagi.
Jam delapan pagi Yoana sudah berada di cafe, membuat Karyawan mereka terheran-heran melihat Yoana sudah muncul dipagi hari.
Biasanya Yoana datang disaat mulai jam makan siang untuk membantu di cafe.
Yoana telah menyiapkan pesanan yang akan dibawanya ke pelanggan.
Dengan menggunakan sepeda motor, Yoana membawa pesanan pelanggan ke alamat yang diberikan kakaknya.
Yoana perlahan menghentikan sepeda motornya di alamat yang ditujunya, membuka kaca helm untuk memastikan alamat yang ada di selembar kertas yang dia pegang.
Tubuh Yoana membeku, dia merasa familiar dengan gedung perkantoran yang ada didepannya tersebut.
Gedung pencakar langit yang di masukinya di dunia novel bersama Alexander.
Yoana merasa tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, kenapa selama ini dia tidak pernah melihat gedung ini.
Yoana perlahan memarkirkan sepeda motornya, lalu mengambil pesanan pelanggan yang telah dipesan.
Dengan langkah serasa seperti mimpi, Yoana memasuki pintu lobby utama gedung tersebut.
Perlahan pintu kaca itu terbuka saat dia akan melangkah memasuki lobby.
Yoana menuju meja Resepsionis, lalu mengatakan maksud tujuannya datang untuk mengantarkan pesanan.
"Silahkan lewat disebelah sana Nona, naik lift yang disana saja!" ujar Resepsionis tersebut, sembari menunjuk lift yang dimaksudnya.
"Terimakasih kak!" ucap Yoana sembari membungkukkan sedikit tubuhnya dengan sopan.
Pintu lift terbuka, lalu Yoana menekan lift menuju alamat lantai yang akan dia tuju.
Sesaat Yoana kembali terpaku ditempatnya, dia merasa sudah pernah ke lantai yang ditujunya tersebut saat lift terbuka.
Dengan langkah seperti orang linglung, Yoana keluar dari lift.
Dan, tanpa perlu lagi dia melihat alamat dikertas yang dia pegang, kakinya perlahan melangkah menuju ruang kantor yang sangat dia tahu di mana letaknya.
__ADS_1
Benar saja, Yoana melihat sosok yang mirip dengan Alexander, pria yang dicintainya di dunia novel.
Tapi pria ini tidak memiliki cacat seperti kekasihnya Alexander dalam dunia novel.
Karena pintu kantor pria itu terbuka, Yoana dapat melihat pria itu duduk di kursinya sedang melihat berkas yang ditumpuk di atas meja kerjanya.
Dan wanita yang dilihatnya kemarin, Lili.
Tubuh Yoana kembali menegang, ada perasaan sakit di hatinya melihat Lili berdiri di samping pria itu sambil berbicara dengan senyuman manisnya.
Mereka terlihat begitu akrab dan mesra, tanpa sadar Yoana menelan ludahnya merasa sakit.
Tidak! dia bukan Alexander yang dia cintai! Yoana mengerjapkan matanya.
Yoana merasa terbawa suasana hati yang tidak semestinya, yang menurutnya tidak masuk akal.
Yoana menghampiri meja dekat pintu kantor pria itu, yang Yoana tahu itu adalah meja Sekretaris pria itu.
"Permisi!" sahut Yoana pada wanita yang tengah menunduk, sepertinya sedang memeriksa sesuatu.
"Ya!" jawab wanita itu sembari mengangkat kepalanya, seorang wanita cantik dengan pakaian seksi yang sangat familiar.
Yoana hampir jatuh terduduk begitu melihat wanita cantik itu, Sekretaris Alexander dalam dunia novel.
Ada apa ini semua? apa yang sebenarnya terjadi? pikir Yoana tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Ya, ada apa? anda siapa?" tanya wanita cantik itu menatap Yoana dengan lekat.
Yoana dengan cepat mengerjapkan matanya, menyadarkan dirinya ke dunia nyata.
"Ini...semalam ada yang memesan kopi untuk di antar jam sembilan pagi!" Yoana meletakkan pesanan yang di bawanya ke atas meja Sekretaris cantik tersebut.
"Oh, iya! Tuan Alexander sudah mengatakan padaku tadi, akan ada kopi langganannya diantar ke kantor, katanya bawa masuk saja ke....."
"Maaf, saya antar di sini saja, saya buru-buru mau mengantar pesanan yang lain lagi, permisi!" Yoana memotong perkataan Sekretaris pria itu, dia tidak ingin masuk ke dalam ruang kantor pria itu.
Itu akan membuat Yoana jadi serba salah, dan tidak bisa mengontrol dirinya melihat dua orang yang mirip dalam dunia novel yang sangat dikenalnya.
Hatinya akan sakit menyaksikan kemesraan ke dua orang itu, yang pernah dekat dengannya, walau itu bukan didunia nyata.
Tapi Yoana merasakan begitu nyata, bahkan terasa sangat nyata sekali, bahkan menguras emosi dan air mata.
Mereka berdua sangat mirip sekali dengan pemeran utama pria dan pemeran utama wanita dalam novel yang sering dibacanya.
Jadi, dia tidak sanggup untuk melihat secara langsung kemesraan mereka didepan hidungnya.
Yoana bergegas dengan langkah cepat menuju lift.
__ADS_1
Di dalam lift air mata Yoana tanpa sadar mengalir, hatinya terasa sakit sekali.
Bersambung.......