
Lift dengan cepat turun ke lantai satu, dengan langkah tidak bersemangat, Yoana keluar dari lobby gedung tersebut.
Yoana perlahan menarik motornya dari parkiran, lalu dengan pikiran yang masih terbayang sosok pria yang mirip dengan Alexander dan wanita yang mirip dengan Lili, motornya perlahan dia kemudikan meninggalkan gedung pencakar langit itu.
Perasaan Yoana begitu hampa dan kosong, dia merindukan Alexander yang memakai topeng, kekasih yang dicintainya.
Dengan hati yang sedih Yoana mengendarai sepeda motornya meluncur ke jalan raya.
"Tunggu!" Yoana samar-samar mendengar teriakan seseorang di belakangnya.
Karena jalanan yang ramai, Yoana merasa teriakan itu bukan untuk dirinya.
"Tunggu!" suara itu semakin tidak terdengar.
Yoana mengendarai sepeda motornya ke pinggiran kota menuju tepi laut, dia ingin menenangkan diri.
Sebuah tempat favoritnya kalau sedang banyak beban pikiran. Biasanya saat kuliah dulu dia sering ke sana untuk menenangkan pikirannya yang stres memikirkan skripsinya.
Yoana memarkirkan sepeda motornya, lalu melepaskan helmnya.
Perlahan gadis itu berjalan menuju tempat biasa dia duduk, di bawah sebuah pohon ketapang yang rindang tidak jauh dari tepi pantai.
Yoana mengambil sapu tangannya dari saku celana jeans nya, lalu mengelap air matanya yang membasahi pipinya.
"Apa sebenarnya yang terjadi? kenapa dia begitu mirip dengan Alexander?" gumam Yoana memandang lautan luas.
Yoana memejamkan matanya, mencoba membayangkan bayangan pria tadi dengan sosok Alexander yang dia kenal, yang memakai topeng.
"Alex.." gumam Yoana lirih.
Yoana perlahan menghela nafasnya, dia harus menghapus bayangan Alexander.
Bagaimanapun Alexander yang dicintainya tidak nyata, mulai hari ini dia harus bisa mengontrol emosinya.
Suatu saat kalau dia bertemu dengan Alexander yang berada di dunia nyata di kotanya itu, dia harus bisa bersikap tenang dan tidak terpengaruh dengan sosok pria itu.
Umurnya masih muda, masih ada waktu untuk memulihkan diri agar dapat move on dari Alexander yang dicintainya.
Suatu saat tidak tahu berapa tahun ke depan, dia pasti akan dapat menghapus cintanya dari Alexander dalam dunia novel favoritnya.
Sekali lagi Yoana menghela nafasnya dengan panjang, dia sudah merasa tenang.
Sekarang dia sudah memantapkan hatinya, tidak akan terpengaruh dengan sosok Alexander yang sangat mirip dengan Alexander yang dia kenal di dunia novel.
Perlahan Yoana merentangkan tangannya lebar-lebar, menghirup angin laut yang bertiup menerpa wajahnya.
Yoana berjanji dalam hatinya mulai saat ini, saat dia melangkah meninggalkan pantai, dia akan menutup perasaannya pada siapapun untuk sementara.
Dan tidak akan terpengaruh dengan sosok pria yang mirip dengan Alexander yang dikenalnya.
__ADS_1
Yoana berjalan menuju sepeda motornya, lalu menaiki motornya, dan perlahan meninggalkan pantai meluncur kembali ke kota.
"Dari mana saja kau?" itu pertanyaan yang di lontarkan kakaknya Hendrik, saat Yoana sampai di cafe Ayahnya.
"Jalan-jalan tadi sebentar, melepaskan penat!" sahut Yoana cuek, lalu pergi menuju ruang ganti tidak memperdulikan kakaknya yang terlihat khawatir.
"Tadi pelanggan yang memesan kopi, yang kau antarkan ke kantornya datang mencarimu!" sahut Hendrik saat Yoana melangkah menuju ruang ganti.
"Oh, untuk apa mencariku, bukankah aku sudah mengantar pesanannya sesuai dengan apa yang diinginkan nya?" tanya Yoana menghentikan langkahnya.
"Kau mengantar pesanannya, tapi dia tidak bertemu denganmu!"
"Terus...?" tanya Yoana mengerutkan keningnya.
"Dia sebenarnya sengaja memesan kopi karena ingin mengenalmu!"
"Oh!" ucap Yoana terlihat tidak berminat.
Hendrik jadi terdiam melihat adiknya yang terlihat cuek, acuh tak acuh mendengar tentang pelanggan mereka yang sangat ingin bertemu dengan dirinya.
"Aku ganti baju dulu ya, apa kakak membawa makan siangku?" tanya Yoana pada kakaknya itu.
"Iya ada, itu!" tunjuk Hendrik pada rantang bekal yang dia bawa dari rumah.
"Terimakasih kak!" sahut Yoana, lalu melanjutkan langkahnya untuk pergi ke ruang ganti.
Hendrik heran dengan sikap adiknya yang dingin.
Hendrik kemudian angkat bahu cuek juga, lalu melanjutkan kembali tugasnya sebagai Barista.
Setelah berganti baju dengan seragam, Yoana memakan makan siang yang dibawa Hendrik.
Selesai makan siang, Yoana kemudian bergabung dengan kakaknya bertugas sebagai Barista.
Pelanggan siang ini banyak juga yang datang untuk menikmati secangkir kopi ke cafe mereka.
Yoana tidak lagi memikirkan Alexander, dia terlihat bersemangat melakukan tugasnya membuat kopi.
Gadis itu terlalu fokus, sehingga tidak memperhatikan seseorang memperhatikan dirinya dari tadi, tidak jauh dari meja bar.
"Meja delapan selesai!" sahut Yoana meletakkan nampan ke atas meja bar berisi secangkir kopi dan Dessert.
Yoana membunyikan bel di atas meja bar.
"Baik!" sahut Pelayan dengan semangat, lalu meraih nampan tersebut.
"Astaga, jam segini kenapa dia sudah datang!"
Yoana mendengar bisikan-bisikan Karyawan mereka.
__ADS_1
"Apa dia sebegitu sukanya dengan kopi buatan Nona Yoana!"
"Bisa jadi!"
"Lihat, dia memandang ke arah Nona Yoana dari tadi!"
Bisikan-bisikan itu membuat Yoana jadi ingin melihat apa yang di maksudkan oleh Karyawan mereka tersebut.
Yoana memandang ke arah pandangan para wanita jomblo tersebut, dan tampaklah objek yang dari tadi jadi pusat perhatian para Karyawan cafe mereka.
Sosok pria yang mirip Alexander, tampak menatap ke arahnya dengan tatapan yang begitu lekat.
Mereka saling menatap sesaat satu sama lain.
Yoana sempat terkejut melihat lelaki itu menatapnya begitu lekat, dan membuat jantung Yoana berdegup kencang.
Tapi kemudian dengan cepat Yoana membuat dirinya setenang mungkin, dengan wajah yang terlihat biasa saja Yoana membalas tatapan pria itu.
"Apakah anda ingin memesan kopi?" tanya Yoana dengan nada yang ramah dan sangat tenang.
Pria itu diam tidak menjawab, matanya masih saja terus menatap Yoana dengan lekat.
"Alex...!" tiba-tiba terdengar suara wanita memanggil pria itu.
Yoana melihat Lili masuk ke dalam cafe dengan wajah yang panik.
Dengan tenang Yoana kembali membuat kopi pelanggan, tidak berminat untuk melihat adegan selanjutnya pada dua orang tersebut.
"Meja sepuluh!" sahut Yoana meletakkan nampan berisi kopi dan Dessert ke atas meja bar.
"Baik!" sahut salah satu Pelayan yang berdiri tidak jauh dari meja bar.
"saya mau kopi yang biasa saya pesan!" tiba-tiba pria yang mirip Alexander tersebut bicara pada Naomi.
Yoana sesaat sempat membeku ditempatnya, suara itu benar-benar sangat mirip dengan pria yang ada di di dunia novel yang dimasukinya.
Tapi, dengan cepat Yoana membuat dirinya kembali tenang.
"Maaf kopi yang mana ya, saya rasanya belum pernah membuat kopi yang anda pesan!" sahut Yoana dengan tenangnya.
Matanya menatap mata pria itu saat berbicara, dan tidak menoleh memandang Lili yang berdiri di samping pria itu.
Yoana dapat melihat wajah pria itu berubah beberapa detik, tapi kemudian kembali normal.
Dia pun menyebutkan kopi yang biasa diminumnya, beserta Dessert yang biasa di makannya.
Yoana menulis pesanan pria itu pada kertas pesanan, setelah itu menempelkannya di dekat meja bar.
"Tunggu sebentar lagi Tuan, menunggu giliran, silahkan anda mengambil tempat duduk dahulu, Pelayan saya akan mengantanrakan pesanan anda kalau sudah selesai saya buat!" sahut Yoana, lalu kembali sibuk membuat kopi.
__ADS_1
Pria itu tidak beranjak dari tempatnya, dan wanita yang mirip Lili itu tetap berdiri disamping pria itu.
Bersambung......