
Karena masih merasakan kejadian di dalam novel terasa begitu nyata, suasana perasaan Yoana masih sangat sedih.
Pikirannya membayangkan Alexander yang menangis dan menjerit memanggil namanya, membuat hati Yoana begitu sakit.
Apakah dia bisa kembali lagi ke dunia novel?
Pikiran Yoana sangat gelisah, membayangkan Alexander yang akhirnya dibunuh juga oleh musuh yang menginginkan kekayaan Alexander.
"Ayo, sini makan!" panggil suara Ibu Yoana saat gadis itu memasuki ruang makan mereka.
"Kita menggantikan Papa di cafe siang ini, hari ini pelanggan kita lumayan banyak juga yang berkunjung, Papa sampai kewalahan!" sahut Hendrik, yang terlihat sudah menikmati makan siangnya.
Keluarga Yoana memiliki sebuah cafe siap saji, cafe yang menyediakan varian kopi buatan tangan, dan berbagai Dessert yang lezat.
Dari sejak pemuda Ayah Yoana seorang Barista, pembuat kopi yang handal.
Dan keahliannya, dia turun kan kepada putra dan putrinya tersebut.
Cafe kopi mereka sudah terkenal sangat enak di kota mereka, banyak pelanggan yang mampir untuk menikmati secangkir kopi dengan Dessert yang lezat.
Saat Yoana masih kuliah, dia sesekali membantu Ayah dan Kakaknya di cafe.
Dan, setelah dia lulus kuliah, Yoana jadi sepenuhnya membantu Ayah dan Kakaknya sebelum dia menemukan pekerjaan.
Yoana memakan makan siangnya dengan perasaan yang masih sedih, di kepalanya hanya ada bayangan Alexander.
Setelah selesai makan siang, Yoana dan Hendrik berangkat ke cafe mereka.
"Hai sayang, bagaimana keadaan mu? tadi Mama menelepon Papa, katanya kau tidak membuka pintu kamarmu sampai setengah jam lamanya!" sahut seorang pria enam puluh tahunan, saat mereka sampai di cafe.
Pria itu mendekati putrinya tersebut, lalu menempelkan tangannya ke kening Yoana.
"Tidak demam kok!" ucapnya setelah menyentuh kening Yoana.
"Aku tertidur di tepi meja belajar, jadi tidak sadar terjatuh dari kursi Pa!" kata Yoana menjelaskan.
"Iya Pa, lihat!" Hendrik menyingkapkan rambut yang menutupi pelipis Yoana.
"Kau terluka?" tanya pria itu, yang tidak lain adalah Ayah Yoana.
"Lain kali kalau mengantuk, tidurlah di tempat tidur putriku!" sahut Ayah Yoana.
"Iya Pa!" jawab Yoana dengan nada tidak bersemangat.
Yoana masuk kedalam ruang ganti pakaian.
Cafe mereka memakai seragam kalau melayani pelanggan.
Yoana mengganti pakaiannya dengan seragamnya, topi dan celemek.
__ADS_1
"Sudah hampir satu minggu ini dia selalu datang kemari untuk menikmati secangkir kopi dan Dessert, dia selalu duduk di sudut sana sambil mengerjakan sesuatu di laptopnya!" terdengar Karyawan Ayahnya bergosip, membicarakan seseorang saat Yoana keluar dari ruang ganti.
Karena cafe mereka pelanggan nya semakin banyak, Ayahnya mempekerjakan beberapa Pelayan untuk menyajikan kopi dan Dessert kepada para pelanggan.
"Dia selalu fokus menatap laptopnya kalau aku membawa kopi pesanannya, dia begitu tampan di lihat dari dekat, aku tidak menyangka ternyata ada lelaki setampan itu di kota kita, rasanya meleleh saat matanya melihat padaku sekilas!" ujar Pelayan Ayah Yoana yang lain.
"Hari ini apakah dia datang lagi?" tanya yang lain.
"Biasanya dia datang jam setengah empat sore begitu, untuk menikmati secangkir kopi dan Dessert!" kata Pelayan Ayah Yoana yang pertama tadi berbicara, saat Yoana keluar dari ruang ganti.
"Sepertinya sebentar lagi dia datang!"
"Iya!"
"Aku sudah tidak sabar untuk melihatnya lagi!"
Yoana tidak memperdulikan perbincangan para Karyawan Ayahnya itu, Yoana melewati mereka saja untuk melakukan tugasnya sebagai Barista.
Saat Yoana masuk ke dapur Cafe, di depan meja bar, Hendrik sudah melakukan tugasnya sebagai Barista.
Membuat kopi kepada pelanggan yang memesan kopi, dan di antar oleh Pelayan mereka ke meja pelanggan.
Hendrik tersenyum melihat Yoana datang mulai melakukan tugasnya sebagai Barista.
"Ini pesanan kopi yang akan kita buat!" Hendrik menunjuk beberapa kertas pesanan yang di tempel dekat meja bar.
Yoana menarik satu kertas tersebut, setelah membaca kopi apa yang diinginkan pelanggan pada nomor meja yang tertera dalam kertas pesanan itu, Yoana mulai membuat kopi yang diinginkan pelanggan tersebut.
Dan kemudian menempelkan kertas pesanan tersebut di dekat kasir.
Saat pelanggan selesai menikmati pesanannya, bagian kasir lebih gampang langsung menuliskan total harga pesanan kopi yang sudah dinikmati oleh pelanggan tersebut.
"Hei..hei, lihat dia sudah datang! dia duduk di tempat biasanya!"
Yoana mendengar suara Karyawan Ayahnya ribut berbisik satu sama lain.
Yoana diam saja tidak begitu perduli dengan Pelayan mereka karena mengagumi pelanggan mereka.
Wajar bagi para wanita yang masih jomblo, mengagumi seorang pria yang menurut mereka tampan dalam pandangan mereka.
"Ayo, sana pergi, tanyakan hari ini dia mau pesan kopi apa, apakah sama seperti biasanya?" mereka saling dorong untuk pergi melayani pelanggan yang mereka kagumi tersebut.
"Baiklah, biar aku saja!" kata salah satu Pelayan Ayah Yoana tersebut.
Yoana tidak terlalu memperhatikan mereka, dia sibuk membuat pesanan para pelanggan lainnya.
Tidak berapa lama Pelayan tadi sudah kembali membawa kertas pesanan pelanggan yang mereka bicarakan.
"Nona, ini pesanan pelanggan yang duduk di sudut sana!" sahut Pelayan itu pada Yoana.
__ADS_1
"Oke, baik, aku buat yang ini dulu!" sahut Yoana menjawab.
"Baik Nona!" sahut si Pelayan.
Yoana meletakkan kopi yang baru dia buat ke atas nampan, lalu mengambil Dessert yang diinginkan pelanggan tersebut, lalu meletakkan nya di sebelah cangkir kopi.
"Selesai meja lima belas!" sahut Yoana.
"Baik!" jawab Pelayan, lalu meraih nampan yang diberikan Yoana.
Yoana kemudian menempelkan kertas pesanan di dekat meja kasir.
Lalu Yoana menarik kertas pesanan pelanggan di sudut cafe yang disebutkan Pelayannya tadi.
Yoana membaca pesanan kopi beserta Dessert yang diinginkan pelanggan tersebut.
Sesaat Yoana terdiam menatap kertas di tangannya, dia terlihat melamun beberapa detik.
Dan matanya terasa panas, Yoana mengerutkan keningnya menahan air matanya yang ingin keluar.
Yoana teringat pada Alexander, pemeran utama pria yang tidak akan pernah ditemuinya lagi, pria yang sangat dicintainya.
Pesanan kopi yang ditatapnya itu sama seperti kopi hasil racikannya saat berada di dunia novel, kopi yang dia sajikan untuk Alexander.
Pria itu sangat menyukai kopi buatannya, hingga selalu minta dibuatkan untuk di menikmatinya saat santai di sore hari, di ruang bacanya.
Dan Dessert yang dia buat selalu menggugah selera Alexander, membuat pria itu sangat menikmati dengan perasaan senang.
Perlahan dengan perasaan yang terbawa suasana, karena teringat pada Alexander, Yoana mulai membuat kopi pesanan pelanggan tersebut sambil melamun.
Persis seperti apa yang dia buat pada Alexander, kopi itu selesai Yoana buat, lalu mengambil Dessert yang biasa dia buat untuk Alexander, sesuai pesanan pelanggan tersebut.
Meletakkan keduanya ke atas nampan.
Yoana kemudian menekan bel diatas meja bar.
"Selesai meja sudut!" sahut Yoana.
"Baik!" sahut Pelayan yang tadi memberikan pesanan tersebut pada Yoana.
Perasaan Yoana sangat sedih, dia ingin menangis.
"Kak, aku ke toilet dulu sebentar!" sahut Yoana, lalu meninggalkan dapur cafe.
"Ya, pergilah!" jawab Hendrik mengangguk.
Yoana masuk ke dalam bilik toilet, menguncinya, lalu kemudian duduk diatas toilet.
Yoana menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, dia pun menangis.
__ADS_1
Yoana sangat merindukan Alexander.
Bersambung......