Aku Ada Untukmu

Aku Ada Untukmu
32. Wanita yang kucintai.


__ADS_3

Sepupu Alexander kemudian berdiri setelah tersadar dari kagetnya mendengar apa yang dikatakan Yoana.


"Apa maksudmu, dari mana anda tahu Perusahaan keluargaku akan bangkrut, anda jangan sembarangan bicara!" sahut sepupu Alexander tidak senang.


Yoana angkat bahu cuek, Yoana tidak takut dengan nada tidak senang sepupu Alexander tersebut.


"Bukankah seperti itu, anda selalu menghabiskan waktu ke club malam dan tidur dengan wanita-wanita penghibur, mengambil uang perusahaan untuk bersenang-senang!" sahut Yoana.


Sepupu Alexander terdiam ditempatnya.


"Karena itulah Kakek Alexander tidak memberikan Perusahaannya yang telah dikelolanya dengan susah payah jatuh ke tangan yang salah, karena itulah perusahaan itu diberikan kepada Papa Alexander!" sahut Yoana memandang sepupu Alexander dengan pandangan tidak suka pada pria itu.


"Hei! dengar Alexander, aku kan hanya ingin membantumu untuk mengelola perusahaan Kakek agar tidak hancur, karena kau mengalami penyakit trauma!" sahut pria itu memandang Alexander.


"Adanya akan menjadi bangkrut kalau anda ikut mengelola perusahaan Alexander!" kata Yoana masih mode tidak senang.


"Tidak, dengar aku Alexander...!"


"Sudah! cukup! anda pergilah, jangan mengemis hak yang bukan milik anda, keluar!" sahut Yoana tidak sabar dengan permintaan pria itu, Yoana harus mencegah pria itu mengemis.


Alexander tidak boleh tersentuh dengan kebohongan sepupunya yang bicara tidak masuk akal itu.


Yoana membuka pintu ruang baca lebar-lebar.


Pria itu memandang Alexander, dan di balas Alexander dengan mengangkat bahunya tidak perduli.


"Pergilah! bukankah Asisten ku sudah menyuruhmu untuk pergi?" sahut Alexander cuek.


"Alexander, kau akan menyesal telah menolak pertolonganku!" sahut pria itu sebelum keluar dari ruang baca Alexander.


Yoana dengan cepat menutup pintu setelah pria itu keluar, suara hempasannya terdengar sedikit kencang.


Alexander memandang Yoana di kursinya tidak bergerak, dia melihat Yoana lebih emosi ketimbang dirinya yang seharusnya marah dengan permintaan sepupunya tadi.


Belum lagi Alexander membuka mulut untuk bertanya pada Yoana, pintu ruang baca tiba-tiba dibuka dengan kencang oleh seseorang.


Seorang wanita umur enam puluhan masuk kedalam ruang baca Alexander, walau sudah lanjut usia, tapi raut wajahnya masih terlihat cantik dan elegant.


"Mama!" Alexander spontan berdiri melihat siapa yang masuk ke dalam ruang bacanya.


Yoana sontak tidak bergerak ditempatnya berdiri, begitu mendengar Alexander memanggil wanita yang masuk itu dengan panggilan 'Mama'.

__ADS_1


"Sudah lama Nak, apa kabarmu putraku?" tanya wanita itu perlahan berjalan mendekati Alexander.


"A..aku baik-baik Ma, kenapa kau datang sendiri, di mana Papa?" tanya Alexander bangkit dari duduknya, dia terlihat senang melihat Ibunya datang melihat dirinya.


Alexander menghampiri Ibunya yang berjalan menuju ke arahnya, dia ingin memeluk Ibunya.


Alexander sangat rindu pada Ibunya, sudah lama mereka berpisah semenjak ke dua orang tuanya mengasingkan diri ke pulau.


Tapi, mendadak Ibu Alexander berhenti melangkah, dan tiba-tiba dia mundur dua langkah saat Alexander sudah mendekat padanya.


"Berhenti, jangan lagi melangkah!" sahut Ibu Alexander sedikit panik.


Alexander menghentikan langkahnya, memandang Ibunya dengan tatapan heran.


Sudah lama mereka tidak bertemu, lima belas tahun.


Trauma yang dialami orang tuanya membuat mereka berpisah begitu lama, hari-hari Alexander yang begitu sepi tanpa orang tuanya, merelakan orang tuanya meninggalkan nya sendirian mengurus Mansion dan Perusahaan Ayahnya.


Dan, kedatangan Ibunya yang tiba-tiba tanpa pemberitahuan, tentu saja membuat dia begitu terkejut dan sangat bahagia.


Alexander memandang Ibunya yang terlihat panik memandangnya.


"Ma..ada apa?" tanyanya bingung.


Alexander membeku di tempatnya memandang Ibunya merasa tidak percaya dengan pendengarannya, Ibunya sepertinya takut padanya.


Yoana juga membeku ditempatnya berdiri, tidak mempercayai apa yang dilihatnya.


Ibu Alexander panik melihat Alexander mendekat padanya, sepertinya ketakutan melihat wajah Alexander.


Tanpa sadar tangan Yoana memegang dadanya, Yoana merasakan ada rasa sakit yang begitu pedih di dadanya.


"Ke..kenapa kau terlalu arogan mengurus Mansion, beberapa Pelayan kau pecat dengan sesuka hatimu!" sahut Ibu Alexander mengeluh tidak senang.


Sepertinya ada seseorang yang menghasut orang tua Alexander.


"Apa maksud Mama?" tanya Alexander mengerutkan keningnya.


"Kau harus menikah, kau perlu pendamping agar tidak terlalu arogan, dan kenapa kau tidak memakai topengmu, itu sangat tidak nyaman dipandang!" sahut Ibu Alexander dengan nada tidak senang.


Alexander memegang wajahnya yang cacat.

__ADS_1


"Aku memakainya saat keluar rumah, sangat tidak nyaman selalu memakainya, kulitku mengalami iritasi kalau terus memakai topeng!" kata Alexander dengan nada pelan.


"Itu lebih baik, dari pada kau menunjukkan nya kepada orang lain, sungguh tidak nyaman!" sahut Ibu Alexander dingin.


"Mama?" Alexander memandang Ibunya dengan pandangan terluka.


Tidak! Yoana semakin merasakan dadanya begitu sakit melihat Alexander merasa sedih dengan perkataan Ibunya.


"Kau menikahlah dengan Selena, putri dari rekan bisnis Papa, kami sudah mengaturnya untuk dipertemukan denganmu malam ini!" sahut Ibu Alexander dengan datar, matanya selalu menghindar untuk menatap Alexander.


"Tidak! aku tidak mau! aku sudah menyukai seseorang, aku sudah memiliki wanita yang aku cintai!" sahut Alexander menolak tawaran Ibunya untuk dikenalkan dengan putri rekan bisnis Ayahnya.


"Siapa yang mau denganmu, sudah lama tidak ada wanita yang mau dekat denganmu dengan wajah cacat seperti itu!" sahut Ibu Alexander dengan nada tidak senang.


Kembali Yoana merasakan dadanya sakit, lututnya terasa gemetar tidak senang dengan perkataan Ibu Alexander.


Yoana ingin mengeluarkan suaranya untuk membalas semua perkataan Ibu Alexander yang begitu menyakitkan, Yoana tahu Alexander dalam plot aslinya begitu menyayangi Ibunya.


Tapi, tidak diceritakan dalam plot aslinya kalau Ibu Alexander tidak begitu menyayangi Alexander.


Tangan Yoana terkepal dengan erat, telapak tangannya terasa berkeringat dingin menahan perasaannya yang tidak terima Ibu Alexander menyinggung cacat di wajah Alexander.


"Dia wanita yang aku cintai!" sahut Alexander menunjuk Yoana.


Spontan Ibu Alexander memandang Yoana yang berdiri didekat pintu, matanya nanar memandang Yoana.


Lalu melirik Yoana dari atas kepala sampai bawah kaki, ada semacam tatapan tidak yakin dalam tatapan mata Ibu Alexander.


"Bukankah dia...!" Ibu Alexander menggantung perkataannya.


"Ya, dia Asisten pribadiku, dia yang mengurusku, dan menyelamatkan hidupku, aku sangat mencintai nya!" sahut Alexander, lalu berjalan ke arah Yoana.


Alexander memeluk pinggang Yoana tanpa rasa sungkan lagi didepan Ibunya.


"Kau yakin, dia bukan wanita yang ada maunya?" tanya Ibu Alexander dengan nada tidak suka memandang Yoana.


"Ya, dia wanita yang sangat baik dan lembut, dia segalanya bagiku!" kata Alexander dengan nada yang datar, memandang Ibunya yang sepertinya menatap Yoana dengan pandangan meremehkan.


Tangan Alexander semakin erat memeluk pinggang Yoana.


Suasana ruang baca terasa hening beberapa saat, mereka bertiga saling pandang tanpa bersuara.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2