Aku Ada Untukmu

Aku Ada Untukmu
73. Ruang musik.


__ADS_3

Alexander dan Yoana beberapa saat saling diam begitu terkejut dengan apa yang mereka alami.


Novel milik Yoana ada pada Alexander, tapi memiliki isi cerita yang berbeda.


"Novel yang aku baca bukan seperti ini jalan ceritanya, tapi ini adalah novel yang selalu ku baca!" ujar Yoana menatap novel itu tidak percaya.


"Apa perbedaannya dengan yang kau baca?" tanya Alexander penasaran.


"Pemeran utama wanita nya adalah Lili, dia menjadi istri yang begitu kau cintai, tujuan dia menikhimu ingin menguasai harta kekayaan mu, dan kemudian membunuhmu!" jawab Yoana menatap Alexander.


Alexander terhenyak mendengar Yoana menjelaskan alur cerita yang berbeda dengan novel yang ada padanya.


"Ke..kenapa bisa berbeda?" tanya Alexander bingung.


"Novel yang biasa aku baca membuat diriku selalu tidak terima kalau Alexander di bunuh oleh istrinya, bukankah mereka saling mencintai, dan Alexander begitu menyayanginya, sehingga aku begitu tertekan dengan alur cerita itu, dan membuatku selalu menangis selesai membaca buku tersebut, sampai suatu hari aku tertidur selesai membaca novel itu, dan tiba-tiba terbangun, aku sudah berada di Mansion milikmu di dalam novel!" kata Yoana menjelaskan apa yang di alaminya.


"Dan, itulah hari pertama kau datang melamar jadi pembantuku?" tanya Alexander memastikan dengan perasaan dag! dig! dug!


Alexander tidak menyangka, pertemuan mereka sungguh aneh dan sangat di luar nalar orang pada umumnya.


Tapi, mereka mengalaminya, pertemuan yang tidak masuk akal.


"Iya, benar sekali! seperti novel yang ada padamu ini, sesuai apa yang ku alami saat berada di dunia novel!" jawab Yoana menatap Alexander dengan lekat, "Begitu tahu aku bertemu dengan mu, aku bertekad akan membantumu untuk menyingkirkan siapa pun yang mencoba ingin membunuhmu!"


"Sayang, jadi itu kau, semuanya telah kau ketahui begitu tahu apa yang telah ku alami, pantas saja aku merasa kalau kau di kirim seseorang untuk melindungiku!" Alexander menggenggam dengan erat tangan Yoana.


"Ya, sesuai jalan ceritanya, aku mengetahui di mana dan kapan kau akan di celakai, sepertinya ada semacam sistem untuk mencegah pembunuhan yang terjadi padamu!" Yoana membalas remasan tangan Alexander pada tangannya.


"Ya, kau benar sayang, aku merasa kita bukan sengaja bertemu, tetapi di sengajakan untuk bertemu!" ujar Alexander sembari mengangguk.


"Coba sini, kita lihat siapa penulis novelnya!" Yoana meraih buku novel tersebut, lalu mencari penulis asli novel tersebut.


Pada lembar pertama biasanya di tulis siapa nama penulis novel tersebut, dan memang ada, tapi Yoana hanya melihat huruf 'R' saja.


"Hanya huruf R saja, tidak ada tanggal selesai di tulis dan nama kota penulis!" sahut Yoana menunjukkannya pada Alexander.


"Kau benar sayang!" Alexander membaca nama penulis tersebut, tidak ada petunjuk lainnya untuk mengetahui identitas penulis novel itu.

__ADS_1


"Kita tidak akan menemukan siapa yang telah menulis novel ini!" ujar Yoana menghela nafas menyerah.


"Tidak apa-apa sayang, yang penting sekarang kita sudah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada kita, jodohku adalah dirimu, dan juga penolongku, terimakasih sayang!" Alexander kemudian memeluk Yoana dengan erat.


"Iya!" Yoana membalas pelukan Alexander dengan erat juga.


Beberapa detik mereka saling berpelukan, dan setelah itu Alexander melepaskan pelukannya.


Alexander kemudian mengecup bibir Yoana sekilas, dia merasa bahagia sekali, dia merasa sangat beruntung bertemu dengan Yoana.


Yoana seseorang yang tulus mencintainya, walau dia memiliki cacat pada wajahnya,Yoana tidak merasa takut atau jijik padanya.


Yang pada awalnya, Yoana merasa simpatik, kasihan, dan kemudian menjadi jatuh cinta pada dirinya.


"Ayo kita ke ruang kerjaku, Nick sudah mendapatkan bukti mengenai siapa pelakunya!"


"Oh iya, Ayo!" Yoana pun bangkit berdiri dari tepi tempat tidur Alexander.


"Apakah masih sakit?" tanya Alexander hati-hati, karena perbuatannya tadi malam pada Yoana pasti masih terasa sakit.


"Apa perlu aku gendong lagi!"


"Enggak usah, aku bisa jalan sendiri!" ujar Yoana sembari berjalan menuju pintu.


Alexander tersenyum melihat Yoana yang tidak pernah mengeluh dengan keadaannya.


Mereka pun kemudian ke ruang kerja Alexander, dan ternyata di sana Nick sudah menunggu mereka.


"Aku akan ambil teh dulu untuk kita, aku tidak akan lama!" sahut Yoana begitu Alexander masuk ke dalam ruang kerjanya.


"Baik, jangan lama sayang!" ujar Alexander.


"Iya!" jawab Yoana, lalu berbalik menuju dapur.


Dia sudah tahu setiap ruangan dan lokasi dapur Mansion, karena Mansion tersebut adalah Mansion yang sama dengan yang berada di dunia novel.


"Jangan biarkan dia pergi! tahan dia! aku akan membunuh kalian kalau dia melarikan diri!"

__ADS_1


Yoana terkejut mendengar suara seorang wanita dari dalam sebuah ruangan yang dia lewati.


Yoana tahu ruangan itu adalah ruang musik, di mana Alexander sewaktu kecil melatih keterampilannya untuk mengenal alat musik.


Ruangan itu tidak pernah di kunjungi Alexander setelah dia memasuki Universitas.


Tubuh Yoana menegang mendengar suara wanita itu, sangat jelas sekali Yoana mengenal suara itu.


Itu Ibunya Alexander.


Gadis itu tidak percaya dengan apa yang di dengarnya, tubuh Yoana bergetar saking tidak percayanya.


Pintu ruangan itu terbuka sedikit, dan suara Ibu Alexander jelas sekali terdengar karena dia bicara dengan kencang karena marah.


Yoana membalikkan badannya, dia tidak jadi pergi ke dapur untuk mengambil teh.


Dengan langkah cepat, dan tidak menimbulkan suara, Yoana kembali menuju ruang kantor Alexander.


Yoana mengunci pintu ruang kerja Alexander, begitu gadis itu masuk ke dalam.


"Yoana, ada apa?" tanya Alexander heran melihat wajah Yoana yang terlihat panik.


Yoana memegang dadanya yang berdebar dengan kencang, keringat dingin mengucur di dahinya.


Gadis itu merasa masih tidak percaya dengan apa yang didengarkannya tadi, Ibu Alexander bisa mengeluarkan kata-kata 'membunuh'.


Apa dia pernah membunuh orang? pikir Yoana semakin panik.


"Sayang!" sahut Alexander menjadi cemas melihat Yoana tidak menjawab pertanyaannya.


Nick terperanjat mendengar Alexander memanggil Yoana dengan sebutan 'sayang'.


Asisten sekaligus pengawal Alexander itu memandang Alexander dan Yoana bergantian.


Sejak kapan mereka menjadi sepasang kekasih? pikir pria itu kebingungan.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2