
Alexander mengecup jemari Yoana yang menempel di pipinya, sementara matanya terlihat begitu berbinar menatap Yoana.
"Kau tahu, hampir satu tahun aku selalu melamunkan gadis yang ada dalam mimpiku, dan mencari gadis yang mirip dengannya di kota ini!" ucap Alexander dengan suara yang masih lemah.
Apa? hampir satu tahun? Yoana menatap Alexander begitu bingung dengan kisah mereka berdua.
Kalau dia sendiri, baru beberapa hari yang lalu masuk ke dalam dunia novel.
Apakah ada tenggang waktu antara mereka berdua berada dalam dunia halusinasi?
Dan, kenapa mereka bisa bertemu dalam dunia halusinasi yang terasa begitu nyata?
Apakah mereka sebelumnya ada hubungan pada suatu waktu tertentu, yang mereka tidak sadari?
Banyak pertanyaan yang membuat Yoana tidak habis pikir dengan pertemuan mereka, yang menurutnya tidak masuk akal.
Dia menyukai sebuah novel yang begitu menguras emosi, dan menyukai pemeran utama pria dalam novel itu, karena hidupnya yang begitu tragis.
Pemeran utama pria yang begitu mencintai kekasihnya dengan tulus, melakukan apapun untuk menyenangkan hati pemeran utama wanita yang sangat di percayanya.
Itu sangat menyentuh hati Yoana, karena dia juga ingin memiliki kekasih seperti si pemeran utama pria.
Alexander mengatakan hampir satu tahun dirinya dengan Alexander tidak pernah masuk lagi ke dalam mimpi pria itu, sementara dirinya baru beberapa hari yang lalu keluar dari dunia novel.
Yoana mengerjapkan matanya, dia semakin bingung untuk mengurai hubungan antara mereka berdua.
"Apa maksudmu satu tahun?" tanya Yoana tidak mengerti kalau semakin dipikirkannya.
"Ya, hampir satu tahun kami tidak bertemu lagi dalam mimpi ku, semenjak sebuah mobil menabraknya, dan meninggal dalam pangkuanku" kata Alexander menjelaskan.
"A..apa?" mata Yoana terbelalak mendengar perkataan Alexander, tubuhnya membeku ditempatnya.
Kejadian di tabrak mobil, itu baru beberapa hari yang lalu, tenggang waktu yang begitu jauh berbeda.
"Gadis itu persis mirip dengan mu, sangat mirip sekali! wajahmu, suaramu, matamu, cara berbicaramu, semuanya sama seperti kekasihku di dalam mimpi ku!"
Mata Yoana berkedip mendengarkan Alexander menceritakan, mengenai gadis yang membuat pria itu jatuh cinta.
Itu adalah dirinya, bukan gadis lain!
Tapi bagaimana dia akan menceritakan tentang dirinya yang masuk ke dalam dunia novel, apakah Alexander percaya? pikir Yoana menatap wajah Alexander dengan lekat
"Yoana! kau sudah pulang?"
Tiba-tiba terdengar suara wanita dari luar pintu kamarnya, di barengi suara ketukan di pintu kamar nya.
Sontak Yoana terkejut, gadis itu langsung reflek bangkit dari lantai.
__ADS_1
"Iya Ma!" sahut Yoana.
"Sudah makan malam? kalau belum Mama panasin lagi makanannya ya?"
"Iya Ma, aku mau mandi dulu!" sahut Yoana menjawab.
Sesaat Yoana mendengarkan suara di luar pintu, sepertinya Ibunya sudah pergi dari depan pintu.
"Ayo, bersihkan dirimu, lihat sangat kotor!" ujar Yoana mengulurkan tangannya untuk membantu Alexander untuk berdiri.
Alexander baru menyadari pakaiannya begitu kusut dan kotor.
Perlahan tangannya memegang tangan Yoana yang terulur, dan tubuh besar itu pun bangkit dari lantai.
Karena sisa-sisa obat bius yang belum sepenuhnya hilang, Alexander merangkulkan lengannya ke leher Yoana.
Pria itu dengan langkah perlahan, mengimbangi langkah kecil Yoana menuju kamar mandi.
Yoana membuka pintu kamar mandi, dan membawa Alexander masuk ke dalam.
"Duduk di sini!" Yoana menyuruh Alexander untuk duduk di sebuah kursi platik berkaki tinggi, yang sengaja Yoana taruh di dalam kamar mandi.
Perlahan tubuh Alexander duduk pada kursi itu.
Yoana membantu Alexander membuka kemeja Alexander yang terlihat begitu kotor dan kusut.
Memikirkan kejadian tadi tubuh Yoana kembali bergetar. Kalau saja dia tidak melihat kejadian tadi, Alexander sekarang pasti sudah tidak bernyawa lagi.
Dan Yoana tidak akan pernah bertemu dengan pria yang telah mencuri hatinya.
Tanpa sadar Yoana memeluk Alexander, yang baru saja meloloskan lengan kemejanya dari satu lengannya.
Tangis Yoana meledak, dia sangat bersyukur sekali bisa menolong Alexander, sungguh suatu kebetulan yang tidak di sangka.
Alexander merasa seperti ada kontak bathin dengan Yoana, tanpa sadar pria itu pun memeluk Yoana dengan erat juga.
Dari kemarin saat melihat Yoana di cafe, inilah yang ingin dilakukannya.
Memeluk Yoana dengan erat, dan tidak ingin melepaskan nya sampai kapan pun.
Ternyata kekasih hatinya tidak meninggal, gadis itu sehat dan masih energik seperti biasanya, saat dia bertemu dengan Yoana di dalam mimpinya.
Dan, tubuh gadis itu begitu nyata sekarang dalam pelukannya, aromanya juga sama dengan terakhir kali dia memeluk tubuh sekarat Yoana dalam pangkuannya.
Alexander juga menangis, menumpahkan rasa sengsaranya yang hampir satu tahun ini di pendamnya.
Sekarang dia sangat bahagia, sampai tidak tahu bagaimana untuk mengungkapkan perasaan bahagianya.
__ADS_1
Mereka saling berpelukan dengan eratnya, sambil menangis terisak.
Sampai akhirnya tangis mereka berhenti dengan sendirinya, tapi masih tetap saling berpelukan dengan eratnya.
Setelah merasa puas, mereka pun melepaskan pelukan mereka.
Wajah mereka tampak sembab, dan basah oleh air mata.
Jemari Alexander dengan lembut mengelap pipi Yoana yang basah oleh air mata gadis itu.
Yoana juga berbuat yang sama, dengan lembut jemarinya mengelap air mata Alexander yang membasahi pipi kesayangannya itu.
Rindu Alexander yang rasanya seperti berpuluh-puluh tahun, akhirnya terbayar juga.
Tangan Alexander menarik tengkuk Yoana, dan perlahan memiringkan sedikit kepalanya.
Yoana diam saja apa yang dilakukan Alexander, dan Yoana merasakan bibir Alexander menempel di bibirnya.
Jantung Yoana tiba-tiba berdegup kencang, Alexander mencium bibirnya.
Mata Alexander perlahan terpejam merasakan lembutnya bibir Yoana, akhirnya dia dapat merasakan lagi lembutnya bibir Yoana, seperti di dalam mimpinya yang terasa begitu nyata.
Dengan pelan dan perlahan Alexander mulai mengulum bibir Yoana, merasakan lembutnya tekstur bibir Yoana pada bibirnya.
Yoana terbuai dengan ciuman Alexander, perlahan matanya terpejam juga, menikmati ciuman Alexander yang terasa lembut dan terasa memabukkan.
Yoana merindukan ciuman Alexander, dia begitu terbuai dengan ritme ciuman Alexander yang begitu manis.
Tangan Yoana perlahan melingkar pada leher Alexander, dan mengalungkan lengannya untuk memperdalam ciuman Alexander.
Perlahan lidah Alexander menyusup masuk ke sela-sela gigi Yoana, dan masuk ke dalam mencari lidah Yoana.
Dan, Yoana perlahan membuka bibirnya, memberi akses pada lidah Alexander untuk mengulum lidahnya.
Mereka berciuman melepaskan rindu mereka, menikmati kemesraan mereka yang hilang beberapa waktu lalu, karena suatu sistem atau sesuatu yang mereka tidak ketahui memisahkan mereka untuk sementara.
Tanpa sadar suara mendesah keluar dari bibir gadis itu, dia begitu terhanyut dengan ciuman Alexander yang begitu lembut.
Sampai mereka kehabisan nafas, barulah mereka melepaskan ciuman mereka.
Wajah mereka tampak merona, dengan nafas yang memburu.
Yoana masih mengalungkan tangannya pada leher Alexander, dan Alexander masih memeluk pinggang Yoana dengan erat.
Mereka saling menatap satu sama lain.
Bersambung......
__ADS_1