Aku Ada Untukmu

Aku Ada Untukmu
40. Tidak bisa tidur.


__ADS_3

Yoana menutup pintu kamar Alexander.


Punggungnya dia sandarkan ke daun pintu untuk menormalkan kembali perasaannya yang tadi campur aduk, karena sikap Ibu Alexander dan sepupu Alexander.


Yoana menekan dadanya, dan kemudian menghela nafas dengan panjang.


Dia merasakan jemarinya di remas dengan lembut.


Yoana mengangkat wajahnya, ia lupa kalau sekarang berada di dalam kamar Alexander, dan masih memegang tangan Alexander.


Alexander menatap Yoana dengan lekat, matanya terlihat berbinar karena semakin mengagumi Yoana.


"Terimakasih Yoana, kau sungguh hebat dapat untuk meyakinkan Mamaku, kalau kau tidak ada, Mamaku tidak akan pernah mau mendengarkan aku!" Alexander menarik Yoana ke dalam pelukannya.


Memeluk tubuh Yoana dengan erat, Alexander sangat terharu, ia sekarang telah memiliki seseorang yang peduli padanya.


Yoana membalas pelukan Alexander, ia tersenyum mendengar perkataan Alexander.


Tentu saja dia akan membantu Alexander dengan suka rela, pria itu adalah seseorang yang dikaguminya sejak lama.


Pemeran utama pria dalam novel 'Aku ada Untukmu' yang disukainya.


Judul novel yang tidak sesuai dengan isi ceritanya, pemeran utama wanita 'ada' hanya ingin membunuh pemeran utama pria saja.


"Yoana, maukah kau menemaniku malam ini?" tanya Alexander hati-hati.


Tangan Yoana yang tengah menepuk-nepuk punggung Alexander dengan lembut, mendadak berhenti begitu mendengar apa yang di katakan Alexander.


Yoana melepaskan pelukannya, lalu menatap Alexander yang memandangnya dengan tatapan memohon.


"Sepertinya aku tidak bisa Alex, kita harus tidur di kamar masing-masing!" jawab Yoana.


"Baiklah, aku hanya merasa kesepian saja, aku merasa tidak tenang tidur sendiri!" kata Alexander dengan nada yang sedikit sedih.


Yoana ingat dalam cerita aslinya, Alexander selalu minum obat tidur kalau sulit untuk tidur di malam hari, karena memikirkan keadaannya, dan trauma yang terkadang muncul dalam pikirannya.


Alexander melepaskan tangan Yoana.


"Sudah malam, pergilah beristirahat, aku juga akan beristirahat, malam ini banyak masalah yang membuatmu jadi lelah!" Alexander mundur satu langkah untuk memberi ruang pada Yoana.


Pikiran Yoana jadi bimbang, melihat Alexander yang merasa kecewa dengan penolakannya untuk menemani pria itu.


Dengan sedikit ragu, Yoana membuka pintu kamar Alexander.


"Selamat tidur Alex, istirahat lah!" sahut Yoana saat akan menutup pintu kamar Alexander.


"Iya, kau juga selamat tidur!" sahut Alexander dengan nada pelan.


Perlahan pintu pun tertutup.


Yoana dengan langkah setengah berat berjalan menuju kamarnya, ada semacam perasaan tidak tega meninggalkan Alexander tidur sendirian malam ini.


Lelaki yang terlihat kuat itu memiliki perasaan yang sensitif, karena keadaannya lah yang mengubah dirinya seperti itu.


Setelah membersihkan diri, Yoana naik ke atas tempat tidur nya.


Menarik selimut menutupi tubuhnya, lalu memejamkan matanya.

__ADS_1


Baru lima detik dia menutup matanya, tapi kemudian terbuka kembali.


Yoana tidak bisa tidur, bayangan Alexander terpampang di depan matanya.


Wajah sedih Alexander, dan perkataannya yang hati-hati untuk ditemani Yoana.


Yoana jadi tidak bisa tidur, dan perasaannya tidak tenang.


Tangan Yoana dengan kencang menyingkirkan selimut yang menutupi tubuhnya, lalu turun dari tempat tidur.


Yoana memakai sandal kamarnya, lalu berjalan ke pintu kamar.


Langkah kaki Yoana menuju kamar Alexander.


Yoana menghela nafas sebelum membuka pintu kamar Alexander.


Dengan pelan Yoana menutup kembali pintu kamar Alexander.


Yoana melihat kamar Alexander yang temaram, karena hanya lampu tidur yang menyala.


Mata gadis itu memandang ke tempat tidur, tampak tempat tidur kosong dan masih rapi.


Alexander ternyata belum tidur.


Kemana dia? pikir Yoana jadi khawatir.


Yoana melihat pintu kamar mandi terbuka sedikit, dan Yoana melangkah untuk memeriksa kamar mandi.


Yoana membuka pintu kamar mandi lebar-lebar, dan masuk kedalam.


Yoana tiba-tiba jadi cemas, dengan langkah cepat gadis itu memeriksa seisi kamar Alexander.


Masuk ke dalam walk in closet, kamar pakaian itu juga kosong tidak tampak sosok Alexander di sana.


Yoana jadi semakin cemas.


Kemana Alexander? pikirnya lagi semakin tidak tenang.


Mata Yoana melihat tirai jendela balkon tertiup angin dari luar, dengan langkah cepat Yoana memeriksa balkon.


Yoana membuka tirai jendela balkon, dan tampaklah Alexander di balkon duduk di sebuah kursi sambil menyesap segelas anggur.


Dengan langkah pelan Yoana membuka jendela balkon, dan perlahan mendekati Alexander yang tengah menatap langit malam.


"Alex" panggil Yoana pelan.


Spontan Alexander menoleh ke arah Yoana.


"Yoana" gumamnya dengan suara parau, sepertinya dia sudah mulai mabuk.


Yoana melihat satu botol anggur di meja kecil disamping kursi Alexander.


Jadi dia bergadang untuk menenangkan pikirannya? pikir Yoana, bukankah itu malah akan membuat kesehatan Alexander jadi menurun?


Yoana mendekati Alexander, lalu meraih gelas yang dipegang Alexander.


"Bukankah seharusnya kau tidur? kenapa di sini minum sampai mabuk, kau bisa sakit!" kata Yoana meletakkan gelas itu ke atas meja.

__ADS_1


"Aku tidak bisa tidur" gumam Alexander membiarkan Yoana meraih gelas dalam genggaman nya.


"Ini sudah cukup larut malam, kau harus istirahat Alex!" kata Yoana, lalu meraih lengan Alexander agar berdiri dari duduknya.


"Aku tidak bisa tidur" gumam Alexander lagi, suaranya sudah terdengar semakin parau.


Yoana tidak mempedulikan perkataan Alexander, dia harus membawa Alexander beristirahat.


Lelaki sekuat apapun, bisa jatuh sakit kalau tidak menjaga pola istirahat nya.


Yoana menutup jendela balkon dengan rapat, setelah mereka masuk kembali ke dalam kamar.


Dengan sedikit terhuyung, Alexander mengikuti langkah Yoana yang pendek ke arah tempat tidurnya.


Yoana memapah Alexander untuk duduk di tepi tempat tidur, lalu dengan pelan mendorong tubuh Alexander untuk berbaring.


"Aku tidak bisa tidur Yoana" gumam Alexander lagi.


"Aku akan menemani mu tidur malam ini" kata Yoana menarik selimut untuk menutupi tubuh Alexander.


"Benarkah?" suara Alexander terdengar gembira mendengar apa yang dikatakan Yoana.


"Iya!" jawab Yoana.


"Aku senang, akhirnya aku bisa tidur" kata Alexander, lalu menarik tangan Yoana.


"Eh, tunggu!"


Brukk!


Tubuh Yoana terjerembab ke atas tubuh Alexander, dan langsung di peluk Alexander dengan erat.


"Aku senang sekali, kau mau menemani aku tidur Yoana" bisik Alexander ditelinga Yoana.


Alexander membalikkan tubuhnya, dan membuat tubuh Yoana berada di bawah Alexander.


"Kita mau tidur, kenapa kau menindih ku!" ujar Yoana merasa sesak.


"Oh iya, maaf Yoana, aku terlalu senang" kata Alexander tersenyum, lalu tertawa lucu.


Dengan gerakan lamban tubuhnya yang sudah mabuk, perlahan menyingkir dari atas tubuh Yoana.


Dan ambruk kesamping dengan posisi telentang.


Yoana menarik nafas setelah Alexander menyingkir dari atas tubuhnya.


Perlahan tubuh Alexander berbalik miring menghadap pada Yoana, lalu menarik tubuh Yoana merapat padanya.


"Yoana" gumamnya, lalu mendekap tubuh Yoana kedalam pelukannya.


"Ayo, kita tidur!" kata Yoana menepuk pelan lengan Alexander yang mendekap tubuhnya.


"Iya" bisik Alexander tersenyum senang.


Alexander menaruh lengannya untuk jadi bantal Yoana, kemudian memejamkan matanya.


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2