Aku Ada Untukmu

Aku Ada Untukmu
50. Alexander.


__ADS_3

Yoana merasa kalau dirinya sudah kelamaan berada di dalam toilet, bergegas dia bangkit dan mengelap wajahnya yang basah karena air matanya.


Yoana membuka bilik toilet, lalu memandang wajahnya ke cermin.


Terlihat matanya membengkak, dan hidungnya memerah.


Yoana membuka air kran di wastafel, lalu membasuh wajahnya yang kusam.


Setelah itu Yoana membetulkan tatanan rambut dan pakaiannya.


Barulah Yoana keluar dari dalam toilet.


"Kenapa lama sekali? tadi ada pelanggan yang mencarimu, dia sangat menyukai kopi buatanmu, katanya ingin berkenalan denganmu, rasa kopi dan Dessert yang kau buat, sama seperti buatan kekasihnya!" sahut Hendrik saat Yoana kembali lagi dari toilet.


Yoana tersenyum mendengar perkataan kakaknya itu, baru kali ini ada orang yang memuji kopi buatannya.


Padahal menurutnya sama saja seperti buatan kakak nya juga, karena mereka sama-sama belajar jadi Barista dari Ayah mereka.


"Nih, dia meninggalkan kartu namanya, tadi dia menunggu mu sebentar untuk memberikan kartu nama, tapi ada telepon yang dia terima, jadi buru-buru pergi!" kata Hendrik lagi.


Yoana menatap kartu nama yang diberikan kakaknya itu, lalu membaca nama yang ada di kartu nama tersebut dengan cuek, tidak ada minat sedikitpun untuk berkenalan dengan pelanggan tersebut.


 Alexander Alvaro, Ceo Alva Group.


Dan dibawah nama tersebut ada nomor ponsel yang ditulis, dengan tulisan tangan.


Mata Yoana sesaat tidak berkedip membaca nama yang ada di kartu nama tersebut.


Nama itu sama persis dengan nama lelaki yang dicintainya dalam dunia novel yang dimasukinya, dan juga nama Group perusahaan pria itu, sama persis.


Perasaan Yoana tiba-tiba bergemuruh merasa shock, dengan cepat dia bertanya pada kakaknya mengenai pria tersebut.


"Apakah dia sudah lama pergi kak?"


"Baru saja pergi!" jawab Hendrik.


Dengan cepat, Yoana berlari menuju pintu cafe, dadanya berdegup kencang.


Dia harus memastikan dengan matanya sendiri, apakah lelaki itu pemeran utama pria dalam novel yang dibacanya?

__ADS_1


Sesampainya diluar, mata Yoana mencari sosok Alexander.


Fokus Yoana melihat setiap mobil, terutama mencari mobil yang paling mewah.


Kalau memang pria itu seorang Ceo, tentu saja yang dia pakai mobil mewah.


Tepat sekali, Yoana melihat mobil mewah berhenti tidak jauh dari area parkiran cafe mereka.


Dan Yoana mematung di tempatnya, rasanya dunia disekitarnya berhenti bergerak.


Mata Yoana tajam dan tidak berkedip sedikitpun, memandang sosok lelaki yang akan menaiki mobil mewah di pinggir jalan tersebut.


Alexander! jantung Yoana hampir berhenti berdetak, dia merasa tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


Itu Alexander!


Pria itu bersama, Lili?


Mata Yoana berkedip, Lili?


Tubuh Yoana membeku, jadi Lili kekasih Alexander di dunia nyata.


Tampak Lili membuka pintu untuk Alexander, dan begitu Alexander masuk kedalam mobil, Lili pun menyusul masuk ke dalam mobil.


Yoana masih mematung ditempatnya berdiri, lututnya terasa lemas, rasanya dia akan pingsan.


Dia benar-benar melihat pemeran utama pria ada di kotanya, dan juga pemeran utama wanita.


Mereka sepertinya pasangan yang sebenarnya di dunia nyata, bukan seperti cerita di dalam novel.


Dan pria itu, lelaki yang dicintainya yang ada di dunia novel, lelaki yang tidak bisa ia gapai di dunia nyata.


Yoana memegang dadanya, rasanya sakit sekali.


Air matanya tanpa ia sadari mengalir disudut matanya.


Dia melihat Alexander di dunia nyata, tapi bukan pria seperti didalam novel yang biasa dia baca.


Perlahan tubuh Yoana merosot ke tanah, tubuhnya lemas, merasa tidak percaya apa yang baru saja dia lihat.

__ADS_1


"Yoana! kau kenapa?" suara Hendrik dengan langkah cepat menghampiri Yoana yang terduduk ditanah.


"Kakkk!" Yoana tiba-tiba menangis dengan kencang seraya memeluk Hendrik.


"Ada apa? siapa yang menindasmu?" tanya Hendrik membalas pelukan adiknya itu, lalu mengelus punggung Yoana dengan lembut untuk memenangkan perasaan Yoana.


"Ayo masuk! kita dilihatin sama orang, Ayo!" Hendrik membantu adiknya itu untuk berdiri.


Hendrik membawa Yoana duduk diruang kantor cafe mereka.


"Ada apa?" tanya Hendrik dengan pelan memandang Yoana yang menundukkan wajahnya.


Yoana menggeleng, dia tidak mungkin cerita pada kakaknya itu, bahwa dia pernah masuk ke dalam novel yang sering dia baca.


"Jadi, kenapa kau menangis sampai terduduk ditanah, apakah pria tadi menyakitimu?" tanya Hendrik dengan nada yang mulia emosi.


Kalau benar pria tadi menyakiti adiknya, dia akan buat perhitungan.


"Tidak kak!" Yoana kembali menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Jadi, kenapa kau menangis?"


"Kak, aku akan ceritakan nanti kalau aku sudah tenang ya!" kata Yoana memandang Hendrik, matanya terlihat memohon.


Hendrik menatap adiknya itu dengan lekat.


"Baiklah!" akhirnya dia pun mengalah, "Ayo, kita kerja lagi, pelanggan sudah menunggu kita untuk minum kopi!"


Yoana menganggukkan kepalanya.


Jujur perasaan Yoana masih tidak tenang, bayangan Alexander dan Lili tadi masuk ke dalam mobil masih jelas terlintas di kepala Yoana.


Yoana menghela nafas panjang, dia harus sadar diri, Alexander bukan jodohnya.


Pria itu hanya sebatas pemeran utama pria yang dibacanya didalam novel, yang di kaguminya karena memiliki kehidupan yang begitu tragis.


Membuat hati kecilnya terbawa perasaan mengikuti alur ceritanya, hingga dia begitu mengagumi sosok Alexander yang malang.


Sekali lagi Yoana menghela nafas dengan panjang, dia harus membuang bayangan Alexander dari pikirannya.

__ADS_1


Yoana kembali fokus membuat kopi pesanan pelanggan yang sudah dari tadi menunggu kopi pesanan mereka.


Bersambung.....


__ADS_2