
Esok paginya badan Yoana terasa penat sekali, tubuhnya sepanjang malam di peluk Alexander tanpa melepaskannya.
Dan, herannya Yoana merasakan kalau Alexander benar-benar tertidur dengan nyenyak sekali tanpa melakukan apapun padanya.
Memeluk pinggangnya dengan erat, dan pagi ini Yoana terbangun, dengkuran halus Alexander masih terdengar keluar dari kerongkongan nya.
"Dia benar-benar tidur dengan nyenyak, sesuai apa yang diinginkan nya, menemaninya tidur dapat membuatnya tidur dengan nyenyak" gumam Yoana menatap wajah Alexander, mata pria itu tertutup dengan rapat.
Bulu mata Alexander terlihat panjang, menambah wajah Alexander semakin tampan saja.
Tangan Yoana dengan pelan menyentuh pipi Alexander di bagian luka, mengelusnya dengan lembut.
Jadi suatu kebiasaan bagi Yoana ingin selalu menyentuh wajah Alexander.
Setelah mengelus pipi Alexander, perlahan Yoana melepaskan tangan Alexander dari pinggangnya.
Dia ingin menyiapkan segala sesuatunya untuk Alexander sebelum berangkat ke kantor.
Dengan pelan Yoana turun dari tempat tidur, meninggalkan Alexander yang masih tidur nyenyak.
Yoana melakukan pekerjaan nya sebagai pembantu pribadi Alexander, membuat sarapan Alexander dan dirinya.
__ADS_1
Jam tujuh pagi Alexander sudah selesai berpakaian dengan rapi, dan bersiap akan sarapan bersama Yoana.
Setelah kamar Alexander selesai dibersihkan Yoana, mereka pun turun untuk sarapan.
Di meja makan Yoana telah menghidangkan sarapan mereka sedari tadi.
Saat mereka sedang menikmati sarapan mereka, Ibu Alexander muncul di ambang pintu ruang makan tersebut.
"Apakah pantas, seorang pembantu sarapan bersama dengan majikannya?" sahut Ibu Alexander sarkas.
Alexander dan Yoana mendadak menghentikan sarapan mereka, dan menoleh memandang pada wanita paruh baya yang memasuki ruang makan dengan wajah masam.
"Mama, aku sudah katakan Yoana bukan pembantu yang seperti biasanya seorang pembantu, dia adalah kekasihku dan juga calon istriku!" sahut Alexander dengan datar.
"Mama! cukup! kau sudah di hasut seseorang Mama, apakah kau masih ingin di permainan oleh orang lain lagi?" sahut Alexander dengan suara kencang, dia sudah tidak tahan lagi dengan sikap Ibunya.
Ibu Alexander terdiam, dia berdiri membeku ditempatnya mendengar apa yang di katakan Alexander.
Alexander dan Yoana buru-buru menyelesaikan sarapan mereka, dan bergerak meninggalkan ruang makan dengan suasana masam.
Ibu Alexander masih berdiri ditempatnya, tidak bergerak melihat putranya yang tidak memperdulikan dirinya.
__ADS_1
Alexander dan Yoana berangkat ke kantor lebih awal karena suasana Mansion yang terasa tidak menyenangkan.
"Yoana, jangan terlalu pikirkan tentang sikap Mamaku, sepertinya dia belum menyadari apa yang telah dilakukannya, padaku juga dia selalu ketus!" kata Alexander dengan nada hati-hati pada Yoana.
Yoana tersenyum mendengar perkataan Alexander, dia sendiri juga heran dengan sikap Ibu Alexander.
Pada plot aslinya, tidak ada diceritakan Ibu Alexander yang bersikap kasar pada Lili.
Peran wanita paruh baya itu tidak terlalu banyak dalam plot aslinya.
Apakah karena dia telah mengubah cerita aslinya, peran Ibu Alexander menjadi suatu penghalang bagi Yoana untuk dekat dengan pemeran utama pria?
Bisa jadi! pikir Yoana merenung.
Berarti dia harus punya bukti yang lebih dalam lagi untuk meyakinkan Ibu Alexander, agar wanita paruh baya itu juga menyayangi kembali Alexander.
Seingat Yoana pada plot aslinya, Alexander dari hari ke hari memiliki tubuh yang semakin lemah karena obat yang selalu diberikan Lili ke dalam makanannya.
Ibu Alexander menganggap kalau lemahnya tubuh Alexander karena trauma yang di alaminya.
Dan, didalam plot aslinya wanita paruh baya itu lebih mempercayai Lili.
__ADS_1
Yoana menghela nafas, dia akan meminta bantuan Nick lagi untuk menyelidiki apa motif Lili selain ingin menguasai harta Alexander.
Bersambung.....