
Yoana perlahan mengecup pipi Alexander di bagian cacatnya, gadis itu merasa ada sesuatu yang menarik perasaannya ingin melakukan itu.
Memberikan kecupan lembut pada Alexander untuk membuat pria itu merasa di perhatikan dan di perdulikan.
Senyuman bahagia terlihat merekah di bibir Alexander, membuat pria itu semakin erat memeluk pinggang Yoana.
"Yoana" gumam Alexander menatap mata Yoana dengan lekat.
"Ya" jawab Yoana dengan lembut dengan nafas yang masih sedikit memburu.
"Jangan pernah mengabaikan ku, itu sangat menyakitkan Yoana, aku hanya memiliki satu gadis yang aku percayai, yaitu dirimu...jadi jangan pernah tidak mempercayai ku, apa pun yang kau dengar dari orang lain, kau harus tanyakan padaku tentang kebenarannya, oke?" kata Alexander dengan suara mengiba.
Kata-kata Alexander hampir sama saat mereka bertemu di dunia novel, kata-kata yang membuat Yoana sangat tersentuh.
Gadis itu merasakan pinggangnya di belai Alexander dengan lembut, sepertinya mencoba membuat gadis itu agar mengiyakan apa yang dikatakannya tadi.
Elusan tangan Alexander membuat tubuh gadis itu meremang, dan merasa kalau itu semacam kode untuk Yoana.
"I..iya, aku..tentu saja percaya padamu!" ujar Yoana dengan suara parau.
"Bagus!" ucap Alexander puas, dia tersenyum senang.
"Kalau begitu, Ayo kita membersihkan diri, tubuhmu masih lemah, harus istirahat banyak agar pengaruh obatnya cepat hilang!" Yoana melepaskan rangkulan tangannya pada leher Alexander.
"Baiklah!" jawab Alexander melepaskan tangannya dari memeluk pinggang Yoana.
__ADS_1
Yoana melepaskan kemeja Alexander yang sudah terlepas sebagian dari tubuh pria itu.
"Aku keluar dulu, pergilah mandi!" kata Yoana meletakkan kemeja kotor Alexander ke dalam ke ranjang pakaian kotor.
"Kau juga perlu mandi, bagaimana kalau kita mandi sama saja?" tanya Alexander dengan wajah pura-pura polosnya.
Mata Yoana langsung membulat menatap Alexander dengan tajam.
Melihat mata Yoana yang tidak setuju dengan usulnya itu, Alexander pura-pura menghela nafas sedih.
"Baiklah, aku mandi sendiri!" sahutnya lirih.
Astaga! Yoana semakin tidak percaya melihat tingkah Alexander yang seperti anak kecil.
Bagaikan anjing kecil yang tidak berdaya.
Lalu meletakkan handuk itu di pinggiran meja wastafel yang kering.
Setelah itu Yoana keluar dari kamar mandi.
Gadis itu pergi untuk mengambil pakaian kakaknya untuk dikenakan Alexander.
Yoana mengetuk pintu kamar mandi setelah mengambil pakaian tidur kakaknya untuk dipakai Alexander.
"Alex, aku letakkan pakaian bersih untuk mu ditempat tidur ya!" sahut Yoana.
__ADS_1
"Iya!" jawab Alexander dari dalam kamar mandi.
Setelah meletakkan pakaian untuk di pakai Alexander, gadis itu kemudian pergi ke dapur untuk mengambil makan malamnya yang sudah di panaskan Ibunya.
"Ma, aku makan di kamar ya, aku ada pekerjaan yang ingin ku selesaikan!" sahut Yoana berbohong pada Ibunya yang tengah masih membuat olahan dessert untuk di bawa besok pagi ke cafe mereka.
"Iya!" jawab Ibu Yoana tanpa menoleh dari apa yang dikerjakannya.
Yoana membawa dua porsi nasi dalam satu wadah, lalu meletakkannya ke atas nampan beserta lauk dan sayur yang sudah di sediakan Ibunya di atas meja.
Yoana membawa makanan itu ke dalam kamarnya.
Saat membuka pintu kamar, Yoana melihat Alexander sudah selesai mandi dan memakai pakaian kakaknya yang dia letakkan tadi ditempat tidur.
Yoana berjalan menuju meja belajarlah, dan meletakkan nampan besar itu ke atas meja belajarnya.
"Mari sini, makanlah dulu!" panggil Yoana pada Alexander, lalu menarik satu kursi untuk Alexander.
Yoana kemudian mengambil piring bersih dari atas nampan, lalu menyendok nasi ke dalam piring.
Meletakkannya ke depan Alexander yang sudah duduk di kursi.
"Aku akan mandi dulu, kau makanlah duluan, tubuhmu perlu makan, agar tidak lemas!"
Yoana menuang air minum ke dalam gelas untuk Alexander.
__ADS_1
Setelah itu Yoana meninggalkan Alexander makan malam terlebih dahulu, lalu dia pergi masuk ke kamar mandi, tubuhnya terasa lengket sekali.
Bersambung.....