
Alexander memandang Yoana, merasa kalau gadis yang menjadi asisten pribadinya, dan sekaligus gadis yang diam-diam telah mencuri hatinya itu, memiliki sebuah rahasia yang tidak ingin di beritahukan kepadanya.
Yoana tampak memandang sepupu Alexander dengan tatapan : 'benarkan apa yang kukatakan?'
Sepupu Alexander menelan ludahnya, dia merasa Yoana mengetahui sesuatu tentang dirinya.
"Aku tidak membutuhkan Sekretaris!" jawab sepupu Alexander kemudian.
"Kalau anda tidak butuh, jadi jangan ikut campur dengan urusan Mansion Tuan Alexander, anda hanya sebatas sepupunya saja, untuk apa anda membela wanita itu, atau..jangan-jangan dia orang suruhan anda?" tanya Yoana dengan santainya.
Dan, pertanyaan Yoana itu membuat sepupu Alexander membeku ditempatnya, matanya terpaku memandang Yoana.
"Anda jangan sembarangan bicara Nona!" sahut sepupu Alexander dengan dingin.
Yoana hanya angkat bahu saja menanggapi perkataan sepupu Alexander tersebut.
"Jadi, diam lah jangan membuat suasana menjadi kacau karena anda sok jadi pahlawan untuk membela wanita itu, dia sudah berusaha untuk mencelakai Alexander, dia tidak bisa dimaafkan!" sahut Yoana dengan berani, dan dengan suara yang tegas.
Lalu Yoana berbalik kembali menuju pintu keluar.
"Ayo!" Tangan Yoana menarik tangan Alexander untuk keluar dari ruangan tersebut.
Alexander menatap tangan kecil Yoana yang menarik tangannya, lalu menatap Yoana yang berjalan dengan cepat menarik dirinya keluar dari ruang kerjanya tersebut.
Sepanjang jalan di koridor Mansion, mata Alexander tidak pernah teralihkan menatap tubuh Yoana yang menarik tangannya.
Yoana membawa Alexander ke taman belakang Mansion yang luas, mereka perlu udara segar.
Keadaan didalam Mansion terasa menyesakkan dengan masalah yang selalu datang menghampiri Alexander.
__ADS_1
Yoana baru melepaskan tangannya dari memegang lengan Alexander, saat mereka masuk ke dalam rumah kaca taman belakang Mansion.
Rumah kaca milik Ibu Alexander, taman bunga dalam rumah kaca yang selalu dirawat oleh Ibu Alexander sebelum trauma pasca kecelakaan mobil yang dialami mereka.
Ibu Alexander suka sekali berada di dalam rumah kaca yang penuh dengan berbagai macam bunga kesukaannya.
Yoana hanya ingat dalam plot cerita aslinya, kalau ini adalah rumah kaca favorit Ibu Alexander, dan sering menghabiskan waktunya merawat bunga didalam rumah kaca sembari menunggu suaminya pulang dari kantor.
Yoana meletakkan bokongnya di kursi putih yang ada dalam rumah kaca tersebut, lalu menghela nafas dengan lega.
Sementara Alexander menatap Yoana tidak berkedip, dia merasa Yoana selalu mengejutkannya dengan tidak terduga.
"Kenapa kau tahu arah rumah kaca tanpa tersesat sedikitpun?" tanya Alexander dengan tatapan penasaran.
Yoana tersentak dengan pertanyaan Alexander, dia tidak sadar telah membuat Alexander terkejut dengan apa yang telah dilakukannya.
Dengan cepat Yoana berdiri.
Yoana merasa sangat bersalah karena membuat Alexander jadi terkejut dengan tindakannya.
Melihat Yoana merasa bersalah, Alexander jadi serba salah, dia merasa kalau sudah merusak suasana Yoana yang tenang setelah membawa dirinya ke dalam rumah kaca tersebut.
"Bu..bukan begitu, a..aku merasa kaget saja kenapa kau bisa membawaku seolah-olah sudah pernah datang ke sini!" sahut Alexander jadi gelagapan melihat sikap Yoana yang terasa canggung padanya.
Alexander sudah menyukai sikap Yoana beberapa hari ini yang tidak canggung padanya, dan sudah tidak berbicara formal lagi padanya.
Karena sikapnya yang tiba-tiba curiga, membuat Yoana sepertinya jadi menjaga jarak padanya.
Alexander tidak menyukai itu, dia ingin Yoana tidak canggung padanya, dan bicara apa adanya padanya.
__ADS_1
Alexander mendekati Yoana, lalu memegang tangan Yoana dan menggenggam nya.
"Maaf, aku hanya kaget saja kau mengetahui rumah kaca Mamaku!" ucap Alexander.
"A..apa? ini rumah kaca Mama mu? maaf aku sudah lancang!" sahut Yoana merasa bersalah.
Aduhh! kenapa aku merasa tidak enak hati telah berbohong padanya? kesayanganku tentu saja curiga padaku, bisik hati Yoana semakin merasa bersalah pada Alexander.
Dia terpaksa berakting pura-pura kaget tentang rumah kaca, agar dirinya tidak ketahuan kalau sebenarnya mengetahui rumah kaca ini adalah tempat favorit Ibu Alexander.
Mereka kemudian berdiri saling diam satu sama lain, berhadapan dengan tangan Alexander menggenggam tangan Yoana dalam tangannya.
Yoana menatap tangannya yang digenggam Alexander, tangan besar itu terasa hangat menggenggam tangannya.
Tanpa sadar Yoana membalas genggaman tangan Alexander, dan itu membuat Alexander senang.
Perlahan Alexander menarik Yoana mendekat padanya, dan tubuh Yoana masuk kedalam dekapan Alexander.
"Terimakasih sudah datang ke dalam hidupku Yoana, aku merasa sangat senang kau adalah seseorang yang perduli dan perhatian padaku!" ucap Alexander mendekap tubuh Yoana dengan erat.
Yoana merasa familiar dengan kata-kata ini.
Ini kata-kata yang diucapkan Alexander pada pemeran utama wanita pada alur cerita aslinya, kepada Lili yang telah berhasil mengambil perhatian dan cinta Alexander.
Dan, sekarang kata-kata itu ditujukan padanya, tanpa sadar Yoana membalas pelukan Alexander dengan erat juga.
Merasakan Yoana membalas pelukannya, senyuman bahagia tersungging disudut bibir Alexander.
Alexander mengecup puncak kepala Yoana dengan perasaan yang begitu bahagia.
__ADS_1
Bersambung......