
Ayah Yoana mengerjapkan matanya, lalu berdehem.
"Ehem...apa maksud mu obat bius? apa dia menggunakan obat terlarang?" sahut Ayah Yoana tajam.
"Bukan Pa, ada seseorang mencoba ingin membunuh Alexander!" ujar Yoana dengan cepat.
Kemudian gadis itu menceritakan apa yang di alami Alexander, dan cara dia menolong Alexander.
Ayah dan Ibu Yoana diam mendengarkan, dan menatap putri mereka itu tidak berkedip.
Mereka merasa tidak percaya Yoana bisa menumbangkan empat orang pria, dan membawa Alexander dengan selamat.
"Aduh nak...kau bikin Mama lemas saja, untung kau tidak kenapa-kenapa, lain kali kalau melihat ada tindak kejahatan, cari pertolongan saja, jangan melakukannya sendirian, kan bahaya!" sahut Ibu Yoana, lalu memeluk Yoana dengan erat.
Ibu Yoana merasa jantungnya hampir copot mendengarkan cerita Yoana tersebut.
Sangat mengerikan, dan beresiko.
"Iya Ma!" jawab Yoana membalas pelukan Ibunya.
"Dan kau, kenapa bisa mengenal putriku?" tanya Ayah Yoana menunjuk Alexander, dan memberikan Alexander tatapan tajam.
Alexander tanpa sadar menelan ludahnya, ada rasa gugup saat calon mertuanya itu menegurnya dengan nada tanjam, dan menatapnya dengan tajam juga.
"Itu...kami sudah lama saling mengenal, hanya saja karena dia seseorang yang tidak mungkin bisa bersama denganku, jadi...."
"Siapa bilang kita tidak bersama, aku hanya ingin kalau kau yang menjadi istriku!" sahut Alexander dengan cepat memotong perkataan Yoana.
Pria itu tidak senang mendengar kata 'tidak mungkin bersama' yang di ucapkan Yoana.
"Aku belum selesai bicara, kenapa di potong?" bisik Yoana tajam, Alexander salah paham dengan perkataannya yang belum selesai.
"Papa mertua, tolong restui hubungan kami, aku ingin melamar Yoana, dan ingin menikahinya!" tiba-tiba Alexander berlutut di lantai menghadap pada Ayah Yoana.
Yoana terbelalak kaget melihat Alexander yang tiba-tiba berlutut di lantai, begitu juga dengan Ayah dan Ibu Yoana.
__ADS_1
Mereka sampai tersentak di kursinya melihat Alexander tiba-tiba berlutut.
"Ku mohon Papa mertua, aku mencintai Yoana, hanya dia gadis yang ku inginkan menjadi istri masa depanku, berikanlah restumu!" ucap Alexander membungkukkan tubuhnya meminta restu.
Ke dua orang tua Yoana tidak bergerak di tempatnya, mereka tidak menyangka pria yang di bawa putri mereka pulang kerumah mereka, ternyata benar-benar serius pada Yoana.
"Papa, Mama...tolonglah restui mereka!" sahut Hendrik yang tiba-tiba ikut juga berlutut di samping Alexander.
Hendrik takut Ayahnya tidak merestui hubungan adiknya dengan pria pembawa jackpot tersebut, dia harus ikut meyakinkan Ayahnya untuk merestui hubungan adiknya, dan menerima lamaran Alexander.
"Ka..kau, kenapa pula kau ikut-ikutan?" sahut Ayah Yoana dengan galak, menatap putranya yang membungkuk di lantai di samping Alexander.
Apa-apaan ini? pikir orang tua itu melotot tidak percaya melihat putranya yang berlutut dan membungkuk memohon padanya.
Kenapa Hendrik begitu yakin sekali kalau pria ini pantas untuk jadi suami Yoana? bisik hatinya menyipitkan matanya menatap tajam Hendrik, dia sedikit curiga.
Alexander dan Yoana terkejut juga melihat Hendrik berlutut membantu Alexander meminta restu.
"Kak...terimakasih!" ucap Alexander menoleh memandang Hendrik yang berlutut di sampingnya.
Alexander sempat terkejut melihat mata Hendrik yang mengedip padanya, otaknya hampir saja salah paham pada kakak Yoana tersebut.
Tiba-tiba Alexander merasakan ada angin bertiup di sampingnya di sisi satu lagi.
"Papa, aku mencintai Alexander, aku sangat menyayanginya, bahkan sangat takut untuk menyakitinya, tolong restui hubungan kami Pa...dia pria yang baik dan penyayang, aku mengenal dirinya melebihi dirinya sendiri!" sahut Yoana tiba-tiba ikut juga berlutut di lantai, di samping Alexander.
Ayah Yoana sontak berdiri dari duduknya melihat Yoana ikut juga berlutut, orang tua itu tidak bisa berkata-kata lagi.
Kalau sudah melihat putrinya ikut memohon, sampai mengatakan kalau pria yang disukainya itu baik, terpaksa dia harus merestui hubungan mereka.
"Baiklah, aku merestui hubungan kalian, tapi ada syaratnya!" ujar Ayah Yoana akhirnya.
Ke tiga orang yang berlutut di lantai tersebut, dengan cepat mengangkat kepala mereka, dan memandang pria tua yang berdiri menjulang tidak jauh dari tempat mereka berlutut.
"Terimakasih Papa mertua, syarat apa yang anda inginkan, semoga saya bisa mengabulkannya!" sahut Alexander dengan semangat, matanya terlihat berbinar-binar.
__ADS_1
"Kau harus benar-benar membahagiakan putriku, dan mengadakan pesta pernikahan yang sangat di impikan semua gadis, pernikahan yang meriah, karena ini sekali seumur hidup, jadi sebagai orang tuanya...aku menginginkan putriku memiliki pesta pernikahan yang membuat setiap gadis sangat iri!" sahut Ayah Yoana tanpa merasa sungkan dengan persyaratannya itu.
"Pap!" sahut Yoana marah setelah mendengar apa yang di inginkan oleh Ayahnya tersebut.
"Apakah kau bisa menyanggupi permintaan Papa ku?" tanya Hendrik memandang Alexander.
"Tidak! aku mau yang biasa saja, tidak mau yang terlalu mewah!" ujar Yoana tidak menyetujui apa yang di katakan Ayahnya.
"Aku setuju!" sahut Alexander dengan cepat sembari menegakkan tubuhnya.
"Hah!!" semua orang yang berada di ruang makan itu terkejut dengan perkataan Alexander barusan.
"Kau yakin?" bisik Hendrik.
"Iya!" jawab Alexander dengan yakin, memang itu yang akan dilakukannya kalau menikahi Yoana.
Sebelum mobil menabrak Yoana di dalam bagian mimpinya, Alexander sudah mempersiapkan pernikahan yang spektakuler untuk Yoana.
Dan, di dunia nyata ini, itu impian yang akan di buatnya menjadi nyata.
Apa pun yang di inginkan Yoana, akan dia berikan, walau sekalipun Yoana meminta sebuah kapal pesiar, dia pasti akan membelikannya.
Mereka telah di pertemukan kembali, tentu saja Alexander akan membuat permintaan Yoana menjadi yang nomor satu.
"Tidak! aku tidak setuju! aku mau pesta yang biasa saja!" kembali Yoana berteriak menyerukan protesnya.
"Sayang, aku ingin membuat pernikahan kita yang termewah, Papa mertua katakan itu memang benar, pernikahan impian setiap gadis, aku akan wujudkan untuk mu!" sahut Alexander menggenggam tangan Yoana tanpa sungkan lagi di hadapan ke-dua orang tua Yoana.
"Ya sudah, terserahlah!" akhirnya Yoana mengalah.
Alexander tersenyum senang, dan tanpa sadar memeluk tubuh Yoana dengan erat.
Ke tiga orang yang memandang mereka, hanya bisa diam saja melihat betapa mesranya ke dua orang yang sedang di mabuk cinta itu.
Bersambung.....
__ADS_1