
Alexander menunjukkan wajah yang tidak begitu berminat dengan apa yang dikatakan Ibunya tersebut.
Jadi sebelum Ibunya terlebih dahulu mengenalkan wanita yang di bawa Ibunya itu kepadanya, Alexander membuat suatu kejutan terlebih dahulu pada Ibunya.
"Aku juga punya kejutan yang ingin ku sampaikan pada Mama!" sahut Alexander menanggapi perkataan Ibunya.
"Kejutan?" kening Ibu Alexander berkedut.
"Iya, benar sekali!" Alexander menganggukkan kepalanya.
Alexander meraih tangan Yoana, dan melingkarkan tangannya memeluk pinggang Yoana dengan mesra.
"Kenalkan Ma, ini kekasihku, calon istriku!" ujar Alexander mengenalkan Yoana kepada Ibunya.
Wajah Ibu Alexander tampak terkejut melihat Yoana. Matanya tajam menatap Yoana.
Tangan Alexander tetap merangkul pinggang Yoana dengan mesra, tidak memperdulikan tatapan mata Ibunya yang memandang Yoana dengan tajam.
"Alexander, kau tidak boleh mengenal wanita tanpa mengetahui latar belakangnya, apa kau yakin wanita ini cocok untuk kau jadikan istrimu?" tanya Ibu Alexander dengan nada tidak suka.
"Ya, aku sudah mengenal siapa dia, dan juga keluarganya!" sahut Alexander semakin erat merangkul pinggang Yoana.
"Aku rasa kau jangan mengambil keputusan terlalu cepat untuk menikah dengannya, ini kenalkan Selena, dia putri rekan mantan bisnis Papamu!" kata Ibu Alexander mengenalkan wanita cantik yang di bawanya itu untuk di kenalkan kepada Alexander.
"Senang berkenalan denganmu Alex, ternyata kau terlihat lebih tampan dari pada di fotomu!" ujar wanita cantik itu tersenyum memandang Alexander.
Wajah Alexander biasa saja mendengar sapaan wanita itu, tangannya masih terus merangkul pinggang Yoana.
Alexander tidak menjawab sapaan wanita itu.
Sikap dingin Alexander itu membuat Ibunya jadi kesal.
"Aku tidak menyukai seorang wanita yang bukan pilihanku menjadi menantuku, kau sebagai lelaki harus memiliki beberapa kekasih untuk di seleksi menjadi calon istrimu Alex!" sahut Ibunya dengan nada dingin memandang Yoana.
"Maaf Ma, aku tidak menginginkan wanita mana pun selain Yoana, dia gadis yang ku inginkan menjadi istriku!" ujar Alexander menolak saran Ibunya itu.
"Alexander, aku tidak mau tahu, kau penerus Alva Group, jadi jangan buat perusahaan Papamu bangkrut, hanya pernikahan bisnis yang cocok untuk mu, agar perusahaan tetap aman!" ujar Ibu Alexander.
"Maaf Ma, aku hanya ingin menikah dengan Yoana saja, apa itu pernikahan bisnis, aku tidak tertarik, Mama tenang saja, soal perusahaan aku pasti akan menjaganya dengan baik!" sahut Alexander cuek.
"Permisi, kami ingin berkeliling dulu menikmati pesta!" kata Alexander lagi, lalu membawa Yoana dari hadapan Ibunya.
"Tunggu!" sahut Ibu Alexander dengan tajam.
__ADS_1
Alexander dan Yoana menghentikan langkah mereka, lalu berbalik memandang wanita setengah baya tersebut.
"Kau telah melakukan apa pada putraku, apakah kau menjebaknya agar terikat padamu?" ujar Ibu Alexander kepada Yoana dengan sarkas.
"Mama! kau sungguh keterlaluan, aku mencintai Yoana, Mama jangan mengatakan sesuatu yang tidak masuk akal, aku dan Yoana saling mencintai, dan menerima aku apa adanya!" sahut Alexander marah pada Ibunya.
"Apa adanya? apa maksud mu Alex, bukankah itu kata-kata yang seharusnya kau ucapkan untuknya, dia hanya seorang wanita miskin!" ujar Ibu Alexander tidak mau kalah marah juga.
"Apa Mama lupa kalau aku memiliki cacat di wajahku?" tanya Alexander dengan tajam.
Ibu Alexander sontak terdiam begitu mendengar apa yang di katakan Alexander, tanpa sadar wanita itu menelan ludahnya.
"Apa? cacat?" wanita cantik yang sedari tadi diam saja melihat pertengkaran Ibu dan anak itu bersuara.
"Iya benar, aku memiliki cacat yang sangat mengerikan!" sahut Alexander menoleh memandang wanita itu dengan tatapan datar.
"Aku tidak melihat cacat apa pun padamu!" sahut wanita melihat Alexander dari atas sampai ke bawah.
Alexander memandang Ibunya dengan tatapan kesal, lalu berbalik membawa Yoana dari sana yang diam saja melihat aksi Ibu Alexander yang marah pada Alexander.
Yoana merasa tidak perlu melawan kata-kata Ibu Alexander, karena mereka baru berkenalan, kalau Yoana ikut campur, Ibu Alexander akan semakin membencinya.
Wanita tua itu belum melakukan sesuatu yang mempermalukan Alexander, jadi dia merasa tidak perlu ikut campur.
"Tante, apa maksud Alexander, cacat apa yang dimilikinya?" tanya wanita cantik yang bernama Selena itu.
"Dia memiliki bekas luka di bagian pelipis sampai rahangnya!" sahut Ibu Alexander menjawab pertanyaan Selena.
"Apa?!" wanita cantik itu terkejut, tapi dia tadi tidak melihat luka apa pun di wajah Alexander.
"Kenapa? kau berubah pikiran?"
"Apa benar yang Tante katakan, tapi aku tidak melihat bekas luka apa pun pada wajahnya tadi!"
"Dia menutupinya dengan mengaplikasikan foundation di bagian bekas luka itu!"
"Oh, pantas saja tidak terlihat!" dengan nada tidak bersemangat.
Ibu Alexander merasakan perubahan dalam nada suara Selena, dia merasa Selena tidak bisa menerima Alexander karena memiliki luka cacat di wajahnya.
Ibu Alexander memberi kode pada seseorang.
Tampak pengawalnya mendekat pada Ibu Alexander.
__ADS_1
"Berikan ini pada minuman Alexander, pastikan dia meminum minuman yang telah kau berikan obat ini!" ujar wanita itu berbisik.
"Baik Nyonya!" angguk pria itu.
Lelaki itu mengambil gelas minuman anggur yang berada di atas meja prasmanan.
Lalu diam-diam melakukan apa yang dikatakan Ibu Alexander, dan setelah itu memerintahkan seseorang memberikan minuman itu kepada Alexander.
Tanpa curiga Alexander menerima minuman yang di tawarkan seorang pelayan padanya.
Sementara Ibu Alexander memberikan satu gelas jus pada Selena, dan setelah itu menyuruh seseorang untuk membawa Selena masuk ke salah satu kamar di Hotel tersebut.
Yoana yang baru selesai mengambil makanan dari meja prasmanan, merasa heran melihat Alexander tidak berdiri lagi di tempat dia meninggalkan kekasihnya itu.
Mata Yoana mencari sosok Alexander di antara undangan, sambil membawa piring berisi makanan yang akan dia makan bersama dengan Alexander.
Yoana kehilangan Alexander, gadis itu terus saja mencari kekasihnya itu.
Setelah berputar mencari, Yoana melihat Alexander menuju lift Hotel.
"Mau kemana dia?" pikir Yoana bingung melihat Alexander yang berjalan seperti sempoyongan.
Pikiran Yoana langsung mengingat kejadian di dalam novel yang dimasukinya.
Dengan cepat Yoana meletakkan piring yang dipegangnya, lalu berlari mengejar Alexander.
Kejadian itu terulang kembali.
Dengan cepat tangan Yoana menahan pintu lift yang hampir saja tertutup.
"Maaf, kekasihku mabuk, dia salah masuk ke dalam lift!" sahut Yoana pada seseorang yang ada di dalam lift tersebut.
"Yoana!" panggil Alexander dengan suara serak begitu mendengar suara Yoana.
"Iya sayang, Ayo kita pulang kau sudah mabuk!" kata Yoana memapah Alexander keluar dari dalam lift.
Yoana melihat sekilas pria yang ada dalam lift tersebut, seperti panik karena dia membawa Alexander keluar dari dalam lift.
Gadis itu langsung waspada, Alexander dalam bahaya.
Dengan cepat Yoana menelepon Nick.
Yoana membawa Alexander ke antara undangan pesta, agar seseorang yang telah membuat Alexander seperti itu tidak melihat kekasihnya itu.
__ADS_1
Untung saja Yoana cepat mencari Alexander, kalau tidak, entah apa yang akan di lakukan orang itu pada Alexander.
Bersambung.....