
Alexander tidak ingin makan malam mereka jadi tidak nyaman, karena Ibunya begitu kesal Yoana makan bersama satu meja dengannya.
Dengan terpaksa Alexander membawa Yoana ke luar makan malam, membiarkan teriakan Ibunya yang marah karena meninggalkannya makan sendirian diruang makan.
Dia tahu salah karena mengabaikan Ibunya, tetapi Ibunya juga pasti tidak nyaman dengan dirinya yang tidak memakai topeng.
Alexander akan mengalami iritasi kalau terlalu lama memakai topeng untuk menutupi luka di wajahnya.
Pernah Alexander memakai topengnya dari sejak bangun pagi sampai malam hari saat akan tidur malam, bekas lukanya memerah dan terasa gatal.
Ada bintik-bintik merah disekitar lukanya, mungkin keringatan karena ditutup oleh topeng.
Karena gatal, Alexander menggaruknya, dan merahnya semakin parah.
Besoknya luka cacat diwajahnya membengkak, dan butuh satu minggu untuk mengembalikan bengkak itu normal kembali.
Dan dalam satu minggu, Alexander tidak menampakkan diri di sekitar Mansion.
Alexander mengurung diri dikamar, agar tidak menakuti orang-orang di dalam Mansion nya.
Nick dengan setia mengurus Alexander, dan membawa Dokter untuk mengobati bengkak diwajahnya.
"Alexander...kau tidak menghormati orang tuamu lagi karena gadis itu, siapa yang lebih berharga, dia atau orang tuamu! Alexander! kembali!" teriak Angeline melihat Alexander keluar dari ruang makan sambil menggenggam tangan Yoana dengan erat.
Pemandangan itu begitu mesra, dan perhatian Alexander pada Yoana, membuat Angeline begitu murka.
Dadanya terasa terbakar melihat putranya, anak lelaki satu-satunya miliknya dan suaminya, lebih memperdulikan gadis asing yang tidak diketahui asal-usulnya, dan bahkan hanya seorang pembantu.
Angeline membanting sendok makan yang di pegangnya ke meja.
Ruang makan yang luas terasa hening.
Meja panjang dengan sepuluh kursi sofa dalam ruang makan itu, tampak terlihat begitu suram.
Makan malam yang sudah tersedia di atas meja makan, terlihat menyedihkan karena tidak disentuh sedikitpun.
Dua Pelayan di sudut dekat pintu menuju ruang dapur Mansion, berdiri tidak bergerak ditempatnya melihat ke dua majikannya bertengkar.
Angeline menghentakkan bokongnya ke kursi dengan kesal.
Kenapa bisa begini! pikirnya.
Angeline tidak tahu entah sejak kapan mulai ada perasaan yang begitu kesal kalau berhadapan dengan putranya tersebut.
Yang dia ingat itu dimulai saat kecelakaan yang membuat mereka mengalami trauma.
Angeline menghela nafas panjang, lalu perlahan dengan tidak bernafsu, dia pun mulai memakan makan malamnya dalam diam.
Sementara itu di sebuah restoran termahal di kota itu, tampak Alexander dan Yoana menikmati makan malam mereka di salah satu ruang VIP restoran tersebut.
"Bagaimana makanannya, apakah sesuai dengan seleramu?" tanya Alexander memandang Yoana menikmati makan malamnya.
"Iya, enak...aku suka!" jawab Yoana mengangguk.
"Baguslah, aku senang mendengarnya!" ujar Alexander tersenyum senang.
Merekapun menikmati makan malam mereka dengan tenang, sesekali Alexander melirik Yoana sambil tersenyum bahagia.
"Yoana, mengenai Mamaku, tolong jangan masukkan ke hati, dia belum mengenalmu dengan baik, sepertinya dia cemburu padamu, semoga seraya waktu berjalan, dia akan menerima mu sebagai menantunya!" Alexander dengan nada yang hati-hati, memohon pada Yoana agar tidak kecil hati atas sikap Ibunya.
__ADS_1
"Jangan khawatir Alex, aku tidak akan berhenti mencintaimu, hanya karena Mamamu tidak menyukaiku...aku akan selalu ada untukmu!" ujar Yoana tersenyum, tangannya menyentuh tangan Alexander dengan lembut.
Yoana mencoba untuk menghibur Alexander juga, karena Yoana tahu, pria itu pasti begitu risau karena sikap Ibunya terhadap calon istrinya begitu kasar.
Seorang pria yang mencintai gadis pilihannya, tapi Ibunya tidak menyukainya, pasti rasanya sangat sakit.
Sakit karena merasa Ibunya terlalu memandang rendah gadis pilihan hatinya, di sebabkan masalah status tentang bibit dan bobot yang membuat sakit kepala.
"Terimakasih sayang!" ucap Alexander membalas sentuhan tangan Yoana.
Jemari Alexander meremas dengan lembut jemari tangan Yoana, matanya terlihat berbinar karena bahagia.
Di mata Alexander, pribadi Yoana adalah seorang gadis yang sempurna, dia berjanji dalam hati akan membahagiakan Yoana dan memanjakan calon istrinya itu.
Alexander akan mengurus secepatnya pernikahan mereka, dia takut Yoana akan berubah pikiran.
Besoknya Alexander menugaskan Nick untuk mengurus tempat resepsi pernikahannya.
Alexander ingin pesta yang meriah, membuat momen paling berkesan untuk Yoana.
Yoana ingat dalam cerita aslinya, Alexander juga membuat pernikahannya dengan Lili, pernikahan yang paling mewah.
Dan sekarang dia akan merasakan momen itu, tapi kali ini dia menjadi pemeran utama wanita yang benar-benar tulus mencintai pemeran utama pria, bukan seorang gadis yang ingin mencelakai pemeran utama pria.
Alexander merentangkan tangannya memandang Yoana, yang sedari tadi diam saja melihat Alexander berbicara pada Nick.
Setelah selesai memberikan arahan untuk pesta pernikahan mereka, sekarang tinggal mereka berdua di ruang baca Alexander tersebut.
Senyuman Yoana merekah melihat tangan Alexander yang terentang lebar.
Dengan langkah cepat Yoana menghamburkan tubuhnya ke dekapan Alexander, dan disambut Alexander dengan pelukan erat, sampai tubuh Yoana terangkat hingga kakinya tidak menginjak lantai lagi.
"Mari kita pergi fitting gaun pengantin sayang, aku sudah memesan gaun pengantin untuk mu!" kata Alexander, lalu menurunkan Yoana dari dekapannya.
Yoana tersenyum senang mendengar ajakan Alexander, dengan cepat kepalanya mengangguk.
"Baik, Ayo!" sahutnya bersemangat.
Mereka kemudian keluar dari ruang baca Alexander dengan wajah yang terlihat begitu bahagia.
Sepasang calon pengantin baru itu sekarang terlihat sedang menuju sebuah butik gaun pengantin ternama di kota tersebut.
Wajah mereka dari tadi terlihat selalu tersenyum bahagia.
Setelah mobil terparkir dengan benar, Alexander turun terlebih dahulu dari dalam mobil, lalu berputar akan membuka pintu mobil untuk Yoana.
Yoana mengulurkan tangannya menerima tangan Alexander yang terulur untuk membantunya turun.
Setelah Yoana turun, Alexander menutup kembali pintu mobil.
Mereka pun berjalan menuju butik.
Tidak tahu dari mana datangnya, sebuah mobil tiba-tiba dengan kecepatan tinggi memasuki area parkir.
Tentu saja Yoana begitu terkejut melihat mobil tersebut, dan mengarah pada Alexander yang berjalan lebih dulu didepannya.
Sepertinya mobil itu memang sengaja ingin melukai Alexander.
Spontan Yoana berteriak pada Alexander.
__ADS_1
"Alex!! awasss!!" jeritnya dengan kencang.
Mobil itu dengan cepat melaju menghantam tubuh Alexander, dengan sekali lompat karena jarak mereka yang tidak begitu jauh, Yoana mendorong tubuh Alexander dengan kuat hingga terpental ke seberang jalan parkir.
Alhasil tubuh Yoana yang dihantam oleh mobil tersebut.
Brukkk!
Terdengar suara yang begitu keras mengenai tubuh Yoana, dan terjatuh dengan cepat ke pelataran parkiran.
Dan ban belakang mobil itu menggilas tubuh Yoana yang terjatuh.
Yoana merasakan tubuhnya sakit luar biasa, benar-benar sakit sekali.
Apakah aku yang mati dalam dunia kertas ini? pikir Yoana tidak bergerak tergeletak di tanah.
Terdengar dentuman keras menghantam mobil lainnya yang terparkir di tabrak mobil yang menabrak Yoana.
Yoana mendengar suara jeritan beberapa orang di area parkiran tersebut, dan Yoana melihat tubuh Alexander bangkit dari jatuhnya, karena didorong dengan keras oleh Yoana.
Mata Yoana berkedip melihat Alexander menjerit memanggil namanya, dan kemudian Alexander berlari menuju ke arahnya.
Tubuh Yoana semakin terasa sakit saat Alexander mengangkat tubuhnya kepangkuan pria yang dicintainya itu, dan dengan histeris terus memanggil-manggil namanya.
"Alex..." gumam Yoana dengan suara pelan, rasanya dia tidak mampu lagi untuk membuka kerongkongannya.
Semua tubuhnya sakit sekali, dan pandangannya mulai memudar.
"Yoana, bertahanlah sayang...aku mohon bertahanlah!" jerit Alexander histeris dan tangisannya meledak dengan kencang.
"Alex...jangan menangis!" gumam Yoana melihat air mata Alexander yang mengalir.
Oh, sakit sekali! aku tidak tahan, tubuhku sudah hancur, jantungku sakit sekali, tanganku tidak bisa ku gerakkan, sakit sekali! bisik hati Yoana.
Aku tidak sanggup lagi, aku tidak bisa bergerak! bisik hati Yoana lagi, saat mencoba untuk mengangkat tangannya untuk menyentuh wajah Alexander yang menangis.
Yoana merasakan sakit yang amat mengigit di seluruh tubuhnya, pandangan matanya sudah semakin mengabur.
Apakah ini timbal balik yang akan di alaminya, karena telah menyelamatkan pemeran utama pria dalam cerita novel yang dibacanya.
Dirinya yang akan menjadi korban.
Tapi, ini tidak adil! dia menginginkan pemeran utama pria selamat dari kematian dan hidup berbahagia dengan wanita yang dicintainya.
Tapi, wanita yang dicintai pemeran utama pria sekarang adalah dirinya.
Sungguh tidak adil! itu sama saja pemeran utama pria hidup sengsara lagi, karena wanita yang di cintainya meninggal dalam dekapannya.
Ini tidak adil! sungguh tidak adil! aku tidak terima! batin Yoana menjerit semakin sedih memikirkan pemeran utama pria tetap saja menderita.
Yoana merasakan tubuhnya mati rasa, pandangan matanya sudah mulai tidak terlihat lagi, suara tangis dan jeritan Alexander semakin terdengar jauh, dan jauh sekali.
Mata Yoana perlahan tertutup, air matanya mengalir dari sudut matanya.
Dia tidak mendengar apa pun lagi, semua menghilang, dan sunyi.
Alexander menjerit merasakan denyut jantung Yoana berhenti, dan nafas Yoana juga tidak ada lagi.
Kepala Yoana terkulai di pangkuan Alexander.
__ADS_1
Bersambung......